Share

Chapter 5

Author: KingBee
last update publish date: 2026-09-27 21:13:14

POV Zayyan

“Ternyata kamu..” lirihku.

Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.

Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.

Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun.

Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.

Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Rania menatap pintu kayu itu tajam. Napasnya memburu tidak beraturan.

"Jadi, selingkuhan suamiku itu adalah sekretarisnya sendiri!" seru Rania. Suaranya bergetar menahan tangis yang siap meledak.

Aku menelan ludah. Rasanya sepahit empedu yang mengalir turun membasahi tenggorokan. Dadaku terasa seperti baru saja dihantam godam besi berkali-kali. Aku menatap Rania dengan perasaan hancur yang sama besarnya.

"Bukan cuma itu, Rania." Suaraku terdengar serak dan sangat berat. "Sekretarisnya itu adalah mantan istriku."

Ruangan besar ini seketika terasa kehabisan pasokan oksigen. Keterkejutan di wajah Rania perlahan bermutasi. Rania merasa dikhianati untuk kedua kalinya dalam satu hari yang sama.

"Mantan istri?" ucap Rania terbata-bata. "Apa maksud kamu, Zayyan?"

"Aku bisa jelaskan semuanya."

"Jelaskan apa? Bahwa selama ini aku menangis di depanmu meratapi nasib pernikahanku, sementara kamu sendiri menyembunyikan pernikahanmu?"

"Aku tidak bermaksud membohongi kamu, Rania."

Selama ini Rania mencurahkan segala keluh kesahnya padaku. Ia menangis di pelukanku tanpa tahu ada rahasia besar yang sengaja kusimpan rapat-rapat. Aku tidak pernah sekalipun menyinggung nama Megan di depannya. Apalagi menceritakan tentang pernikahan singkat kami yang kandas hanya dalam hitungan sembilan puluh hari.

"Kamu pembohong, Zayyan."

"Rania, tolong dengarkan aku dulu."

Air matanya akhirnya menetes membasahi pipi, meredam kemarahan yang sejak tadi tertahan. Ia mendesakku membuka seluruh rahasia yang sengaja kukubur dalam-dalam.

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dengan suara yang sarat akan penyesalan, aku mulai bercerita.

"Dua tahun lalu, keluargaku menjodohkan aku dengan Megan."

Aku menunduk dalam. Aku sama sekali tidak berani menatap sepasang mata Rania yang menyorotkan kekecewaan. Bahuku merosot turun, memikul beban masa lalu yang kembali hadir menjerat leherku.

"Lalu kenapa kalian berpisah kalau dia pilihan keluargamu?" Rania terus mencecar. "Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?"

"Karena aku malu, Rania. Aku menerima perjodohan itu murni sebagai pelarian semata." Suaraku nyaris berbisik menahan perih.

"Pelarian dari apa?"

"Pelarian karena hatiku hancur lebur melihat kamu duduk tersenyum di pelaminan bersama Elvino."

Rania terdiam. Tangisannya tertahan di kerongkongan.

"Aku pikir dengan menikahi perempuan pilihan ibuku, aku bisa melupakan kamu." Aku melanjutkan ucapanku dengan susah payah. "Aku pikir aku bisa belajar mencintai Megan seiring berjalannya waktu. Tapi aku salah."

"Berapa lama kalian menikah?" tanya Rania getir.

"Pernikahan itu hanya bertahan tiga bulan. Aku menyerah. Aku tidak pernah bisa memberikan separuh hatiku untuk Megan. Pikiranku selalu penuh dengan bayangan kamu, Rania."

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Mengingat masa lalu itu membuatku mual pada diriku sendiri.

"Lalu untuk apa kamu menikahinya sejak awal, Zayyan? Kamu hanya menghancurkan hidup perempuan lain."

"Aku tahu aku salah. Aku membiarkan wanita itu pergi membawa luka yang sangat dalam karena keegoisanku sendiri. Dan sekarang, dia muncul kembali sebagai selingkuhan suamimu."

Rania menangis dalam diam mendengar untaian masa lalu itu. Aku berdiri mematung di tempatku tanpa berani mendekat. Kebimbangan yang luar biasa besar mulai menggerogoti isi kepalaku bagai parasit. Aku sangat mencintai Rania. Aku ingin sekali menghancurkan Elvino yang sudah menyiksa batin Rania selama dua tahun terakhir. Aku ingin melihat laki-laki sombong itu hancur berkeping-keping.

Namun di sisi lain, bayangan wajah pucat Megan beberapa menit yang lalu kembali mengusik ketenanganku. Mata ketakutan wanita itu saat melihatku tadi menyisakan pedih.

Aku sudah pernah menghancurkan hidup Megan satu kali di masa lalu. Keputusanku meninggalkannya membawa aib besar bagi wanita itu. Jika aku terus membantu Rania mengumpulkan bukti perselingkuhan ini untuk menjatuhkan Elvino di pengadilan, artinya aku akan ikut menyeret nama Megan. Aku akan ikut menghancurkan hidup Megan untuk kedua kalinya.

Napas yang kutarik terasa sangat berat dan menyiksa paru-paru. Mataku memerah menahan air mata yang mendesak turun. Aku benar-benar terjebak. Terjebak di sebuah persimpangan paling gelap antara cinta matiku pada Rania dan rasa bersalahku yang tak pernah tuntas pada Megan.

Rania akhirnya bangkit berdiri. Ia mengusap air matanya kasar. Ia mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan dengan hati yang berkecamuk hebat tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku.

Aku mengusap wajahku kasar. Berusaha keras mengusir rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalaku. Dengan langkah gontai dan pikiran yang kosong, aku berjalan mendekati meja kaca di sudut ruangan untuk mengambil kunci mobil.

Baru saja ujung jariku menyentuh permukaan kunci logam itu, benda pipih di sebelahnya bergetar. Layar ponselku menyala terang. Aku menatap layar itu tanpa berkedip. Jantungku berdetak sangat kencang memukul tulang rusuk. Sebuah panggilan masuk memaksaku menahan napas seketika. Nama yang tertera jelas di layar itu menampar kewarasanku siang ini.

Megan…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 6

    "Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 5

    POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 4

    "Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 3

    "Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 2

    "Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 1

    "Kamu seharian ngapain aja di rumah?" Suara Elvino memecah kesunyian dengan nada datar. Ia menunjuk majalah dan beberapa buku yang berserakan di atas meja ruang keluarga. "Rumah berantakan begini nggak dirapikan. Makanan juga belum siap di meja makan.""Aku tadi agak pusing, Mas. Habis minum obat terus ketiduran sebentar di kamar." Rania menjawab pelan. Ia melangkah mendekati meja untuk merapikan tumpukan buku itu."Pusing terus alasanmu. Aku yang banting tulang mati-matian di luar aja nggak pernah ngeluh pusing." Elvino melonggarkan dasinya dengan kasar, menariknya lepas, lalu melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa."Aku cuma belum sempat beresin, Mas. Ini juga mau aku rapikan sekarang. Sebentar lagi aku panaskan makanan buat kamu." Rania mencoba menahan nada suaranya agar tidak ikut meninggi. "Belum sempat gimana maksudnya? Kerja kamu cuma di rumah tiap hari. Harusnya rumah bersih, makanan siap, baju disetrika. Bukan malah kayak kapal pecah begini. Apa sih susahnya ngur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status