LOGIN"Bagus kalau suami kamu selingkuh!"
Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami. Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam. "Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap. Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku. "Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya." "Tidak akan semudah itu." "Kenapa, Rania?" "Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan membiarkan dia pergi dengan kepala tegak." Aku menelan ludah, menahan getir kesakitan. "Buat apa kamu menyakiti diri sendiri lebih dalam lagi dengan menyelidiki ini?" Zayyan menghela napas berat. "Bantu aku, Zay." Aku menatapnya penuh keputusasaan. Zayyan terdiam lama. Guratan keraguan terlihat jelas di keningnya. Melacak suamiku tentu membawa risiko besar. Namun pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menangkup kedua tanganku. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tanganku. "Baik. Aku rela mengikuti apa pun rencanamu demi kamu." Ia mengangguk pelan. Dua hari kemudian. Matahari bersinar terik menyengat aspal jalanan kota. Aku duduk di kursi depan mobil Zayyan yang terparkir agak jauh di seberang gedung kantor Mas Elvino. Zayyan memegang kemudi di depan. Di belakangnya duduk Vito, kaki tangannya yang paling ia andalkan. "Berapa lama perkiraan waktunya?" tanyaku memecah hening. "Tergantung seberapa lama Pak Elvino membaca kontrak kerjanya, Nyonya," jawab Vito tenang. Aku terus menggigit bibir bawahku dengan keras. Mataku sama sekali tidak berkedip menatap lobi gedung kaca di seberang jalan. Tanganku meremas tali tas di pangkuanku. Ketegangan merambat pelan mengisi ruang sempit di dalam mobil ini. ‘Kita buktikan siapa yang lebih dulu berkhianat, Elvino.’ gumamku. Zayyan menoleh ke belakang saat mendengar suaraku. Kami berdua bertatapan tajam dalam diam. Ada sebuah pemahaman kelam yang mengalir di antara kami berdua hari ini. "Vito, turun sekarang," ucap Zayyan. "Gunakan penawaran terbaik yang tidak bisa dia tolak." "Baik, Pak Zayyan." Vito mengangguk. Pria itu membuka pintu mobil dan keluar. Langkahnya tenang menyusuri jalan masuk ke dalam lobi gedung. Zayyan sengaja mengutus Vito ke kantor Elvino untuk mengajukan proyek kerja sama bisnis. Beberapa jam terlewat begitu saja. Aku memeluk dadaku sendiri menahan hawa dingin yang menusuk. Akhirnya sosok Vito terlihat keluar dari balik pintu putar kaca itu. Ia berjalan mendekati mobil dan masuk. "Bagaimana hasilnya, Vito?" tanya Zayyan cepat. "Sesuai dugaan kita, Pak." Vito meletakkan tasnya di pangkuan. "Dia tidak curiga?" tanyaku ikut bersuara dengan jantung berdebar. "Sama sekali tidak, Nyonya. Perusahaan Pak Elvino tidak mungkin menolak proyek kerja sama yang saya tawarkan tadi." Vito menatap kami bergantian dengan penuh keyakinan. "Saya pastikan Pak Elvino esok datang untuk mengkonfirmasi proyek ini." "Pastikan besok dia menemui saya," perintah Zayyan pelan. "Sudah saya atur semuanya, Pak." Keesokan harinya. Ruangan privat restoran mewah itu terasa sangat dingin. Aku duduk menyudut di balik batas tirai, mematung dalam diam memandangi sisa ruangan. Aku memeluk tubuhku yang bergetar. "Kamu tidak apa-apa menunggu di sana, Rania?" tanya Zayyan yang sudah berdiri rapi dengan setelan jas mahal di tengah ruangan. Aku memanggut. "Aku baik. Lakukan tugasmu, Zay," jawabku pelan. Zayyan mengangguk tegas. Ia duduk di kursi utama yang kebesaran, lalu sengaja memutar kursinya hingga membelakangi pintu masuk menghadap kaca jendela. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Jantungku seketika berdetak kencang memukul tulang rusuk. Pintu kayu berukir itu terbuka pelan. "Maaf, Pak Zayyan. Ada tamu yang ingin bertemu." Suara Dewi, sekretaris yang sengaja ditunjuk Vito untuk mengarahkan Elvino ke Zayyan. Langkah kaki dua orang terdengar melangkah masuk. Aku menahan napas sekuat tenaga saat mengintip dari celah tirai yang terbuka sedikit. Mas Elvino melangkah tegap bersama sekretaris wanitanya. Kursi besar yang diduduki Zayyan memutar perlahan. Ia menyilangkan kakinya, menatap Elvino dengan senyum sinis yang belum pernah kulihat sebelumnya."Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi
POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik
"Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem
"Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada
"Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.
"Kamu seharian ngapain aja di rumah?" Suara Elvino memecah kesunyian dengan nada datar. Ia menunjuk majalah dan beberapa buku yang berserakan di atas meja ruang keluarga. "Rumah berantakan begini nggak dirapikan. Makanan juga belum siap di meja makan.""Aku tadi agak pusing, Mas. Habis minum obat terus ketiduran sebentar di kamar." Rania menjawab pelan. Ia melangkah mendekati meja untuk merapikan tumpukan buku itu."Pusing terus alasanmu. Aku yang banting tulang mati-matian di luar aja nggak pernah ngeluh pusing." Elvino melonggarkan dasinya dengan kasar, menariknya lepas, lalu melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa."Aku cuma belum sempat beresin, Mas. Ini juga mau aku rapikan sekarang. Sebentar lagi aku panaskan makanan buat kamu." Rania mencoba menahan nada suaranya agar tidak ikut meninggi. "Belum sempat gimana maksudnya? Kerja kamu cuma di rumah tiap hari. Harusnya rumah bersih, makanan siap, baju disetrika. Bukan malah kayak kapal pecah begini. Apa sih susahnya ngur







