Share

Chapter 6

Author: KingBee
last update publish date: 2026-09-27 21:14:16

"Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja."

Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika.

Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur.

Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun.

"Besok di tempat biasa," jawabku.

Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak.

Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdiri mematung di teras depan yang sepi. Garasi rumah besar itu masih kosong. Mobil sedan hitam milik Elvino belum terlihat tanda-tanda kedatangannya. Ini adalah satu-satunya kesempatan sempit yang kumiliki untuk menemui Rania dan menebus kesalahanku yang sudah membuat wanita itu hancur kemarin.

Rasa bersalah menderaku habis-habisan. Kutarik napas panjang, menenangkan debaran jantungku, sebelum akhirnya mengetuk pintu kayu itu dengan sebelah tangan yang bergetar.

Satu menit berlalu mematikan. Aku mengetuk lagi.

Terdengar suara putaran kunci dari dalam. Daun pintu terbuka perlahan.

"Rania, tolong dengarkan aku sebentar." Aku memohon. Suaraku parau dan pecah. Kutatap sepasang matanya dalam-dalam menembus pertahanannya. "Aku minta maaf. Tolong beri aku waktu lima menit saja untuk bicara."

Rania berhenti mendorong pintu. Ia menunduk menatap jari-jariku yang memerah terjepit daun pintu. Pertahanannya runtuh. Wanita itu melepaskan pegangannya pada gagang pintu.

"Kamu jahat, Zay!"

"Kamu pembohong! Kalian semua sama saja! Kalian laki-laki cuma bisa menghancurkan hidupku!"

Pukulan Rania sama sekali tidak terasa sakit di dadaku. Justru rasa perih itu menyayat hatiku saat melihatnya begitu hancur dan rapuh. Kubiarkan ia meluapkan segala tangis dan makiannya. Kutarik tubuh yang bergetar hebat itu ke dalam dekapanku. Kupeluk ia dengan sangat erat, menahan tubuhnya agar tidak luruh ke lantai teras.

Kemarahan Rania perlahan meluruh bersama air matanya yang membasahi kemejaku. Pukulannya melemah. Tangisan histeris itu berubah menjadi pelukan putus asa. Tangannya balas mencengkeram punggungku mencari tempat bersandar.

Kesedihan dan rasa sepi yang sama-sama menyiksa dada kami akhirnya membawa kami jatuh terlalu dalam sore itu. Di atas sofa ruang tamu yang sunyi, kami mencari pelarian. Kami saling ‘menyentuh’, saling memberikan sisa-sisa kehangatan layaknya sepasang suami istri yang kehilangan arah tujuan pulang. Kami menulikan telinga dari segala dosa dan kenyataan pahit yang mengintai sangat buas di luar sana. Kami hanya ingin saling menyembuhkan, meski lewat cara yang salah.

Malam makin larut menyelimuti jalanan perumahan elit yang sangat sepi. Mobilku terparkir dalam gelap di bawah pohon rindang, agak jauh di seberang rumah Rania. Aku baru saja meninggalkan wanita itu satu jam yang lalu dengan sebuah kecup sayang di keningnya. Ia tertidur pulas karena kelelahan menangis. Namun, kakiku terlampau berat untuk benar-benar menginjak pedal gas dan pergi menjauh meninggalkannya sendirian di rumah yang terasa seperti neraka itu.

Tidak lama berselang, lampu sorot mobil Elvino masuk pelan ke pekarangan rumah tersebut.

Dari kejauhan, melalui celah jendela kamarnya yang sedikit terbuka, sayup-sayup telingaku menangkap suara keributan. Suara bentakan keras Elvino pecah. Suaranya menggema penuh amarah, merendahkan Rania lagi dan lagi dengan kalimat yang sama sekali tidak pantas diucapkan oleh seorang manusia.

Tanganku mencengkeram lingkar kemudi sangat kuat. Rahangku mengeras menahan geram yang mendidih membakar kepala. Aku terjebak dalam siksaan batin yang luar biasa menyakitkan malam ini.

Pikiranku berteriak lantang menyuruhku keluar dari mobil, berlari mendobrak pintu rumah itu, dan menghajar laki-laki bedebah itu. Namun, sisa kewarasanku menahanku kuat-kuat. Aku sadar, kehadiranku di sana saat ini hanya akan mempercepat kehancuran Rania. Aku tidak punya hak apa pun untuk membelanya secara terang-terangan di depan suaminya.

Keesokan harinya, Megan duduk tenang di seberang mejaku. Ia mengenakan gaun pastel berlengan panjang yang menutupi tubuhnya dengan sangat anggun. Penampilannya masih sama persis seperti yang kuingat dua tahun lalu. Selalu terlihat lembut, keibuan, dan tenang.

Tidak ada kemarahan meledak di wajah pucatnya. Namun saat ia mengangkat wajah menatapku, sepasang matanya menyiratkan segalanya tanpa perlu banyak bicara. Ada ruang kosong di matanya yang dipenuhi oleh luka batin amat dalam. Luka membusuk yang kutorehkan dengan tanganku sendiri di masa lalu.

"Aku ingin kamu bersikap profesional, Zayyan," ucap Megan dingin, tangan mungilnya mengaduk secangkir kopi di depannya. "Tolong jangan campurkan urusan pribadi dan masa lalu kita dengan proyek besar yang sedang kamu jalankan bersama Mas Elvino."

Kata-kata Megan menohok harga diriku telak hingga jatuh ke dasar. Wanita yang pernah kuhancurkan masa depannya ini, wanita yang kuceraikan dulu, kini duduk tegak di hadapanku. Ia mencoba menjadi tameng kuat untuk melindungi laki-laki yang sudah merebut ketenangan Rania.

Didorong oleh rasa bersalah yang menggunung tinggi padanya, aku mencondongkan tubuhku ke depan mendekati meja. Aku menatap matanya sungguh-sungguh.

"Tolong jauhi Elvino, Megan. Laki-laki itu brengsek. Menjauhlah demi kebaikanmu sendiri,"

Gerakan tangan Megan seketika terhenti. Ia meletakkan sendok kecilnya di atas tatakan kaca penadah cangkir. Wanita itu mengangkat wajah dengan gerakan pelan. Ia menatapku tepat di manik mata. Tidak ada air mata setetes pun di sana. Hanya ada kepahitan pekat yang mengakar sangat kuat di dasar tatapannya.

"Kamu tidak perlu ikut campur urusanku lagi, Zayyan," desisnya amat tajam. Suaranya menyusup menusuk ulu hatiku. "Karena mencintaimu dulu, adalah sebuah kesalahan dan kesakitan terbesar di hidupku."

Kesadaran pahit itu menghantam kepalaku berulang kali, menyadarkanku bahwa dosaku pada Megan tidak akan pernah bisa dimaafkan sampai napasku berhenti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 6

    "Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 5

    POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 4

    "Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 3

    "Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 2

    "Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 1

    "Kamu seharian ngapain aja di rumah?" Suara Elvino memecah kesunyian dengan nada datar. Ia menunjuk majalah dan beberapa buku yang berserakan di atas meja ruang keluarga. "Rumah berantakan begini nggak dirapikan. Makanan juga belum siap di meja makan.""Aku tadi agak pusing, Mas. Habis minum obat terus ketiduran sebentar di kamar." Rania menjawab pelan. Ia melangkah mendekati meja untuk merapikan tumpukan buku itu."Pusing terus alasanmu. Aku yang banting tulang mati-matian di luar aja nggak pernah ngeluh pusing." Elvino melonggarkan dasinya dengan kasar, menariknya lepas, lalu melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa."Aku cuma belum sempat beresin, Mas. Ini juga mau aku rapikan sekarang. Sebentar lagi aku panaskan makanan buat kamu." Rania mencoba menahan nada suaranya agar tidak ikut meninggi. "Belum sempat gimana maksudnya? Kerja kamu cuma di rumah tiap hari. Harusnya rumah bersih, makanan siap, baju disetrika. Bukan malah kayak kapal pecah begini. Apa sih susahnya ngur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status