Share

45

Author: Tie Sugianto
last update Last Updated: 2025-11-19 23:58:19

“Kenapa tiba-tiba kamu minta nomernya Pras? Mau buat apa? Ada keperluan apa?” tanya Mas Tris menatapku curiga, dia langsung meletakkan ponselnya di meja.

“Urusan kerjaan Mas.”

“Kerjaan apa? Kerjaan kamu dan dia itu beda loh, apa yang mau kamu bicarakan sama dia? Atau lebih baik kamu bicara sama aku biar aku yang sampaikan sama dia.”

“Mas punya nomernya apa nggak?”

“Ya punyalah tapi aneh aja kenapa kamu tiba-tiba mau menghubungi Pras padahal selama ini kamu kalau ketemu dia kan mukanya nggak enak terus.”

“Bukan aku yang mau menghubungi dia tapi Bosku. Mas tahu kan si Hendi dia temen kuliahku dan sekarang jadi Bosku di kantor?”

“Iya tahu, Hendi yang pernah suka sama kamu kan dulu tapi kenapa tiba-tiba Hendi mau menghubungi Pras? Kamu cerita apa saja ke Hendi sampai dia tertarik sama Pras?”

“Aku nggak cerita tentang Pras, aku cerita tentang Mas yang sekarang kerja ikut Pras dan gajinya lumayan terus dia tanya-tanya lagi tentang bisnis apa saja yang dipegang Pras, terus aku cerita
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SUAMI BERSAMA   78

    “Mereka semua orang-orang suruhan Seno.”Mas Tris duduk bersandar, dia mencoba bicara perlahan sambil menahan sakit, mata dan wajahnya lebam, sekujur tubuhnya pun sama. Mas Tris dikeroyok di gang sepi dekat rumah Mbak Asri, dia baru saja keluar dari rumah dan langsung diikuti oleh empat orang yang kemungkinan besar sudah menunggunya. Beruntung ada tetangga Mbak Asri yang kebetulan lewat dan melihat Mas Tris lemas tak berdaya, dia lalu membawa Mas Tris ke klinik.“Dari mana kamu tahu mereka orang suruhan Seno Mas?”“Karena aku sempat melihat mobil Seno lewat di ujung gang.”“Tapi Pras bilang, dia akan mengawasi Seno supaya dia nggak berulah lagi.”“Apa yang tidak bisa dilakukannya? Toh dia juga tidak dipenjara, dia masih bebas ke mana-mana dan masih bisa menghubungi orang-orang itu. Seno juga tidak perlu mengotori tangannya, dia bisa lakukan dari tempat mana pun yang dia suka.”“Sebaiknya kamu kembalikan apa yang sudah kamu ambil dari mereka, lebih cepat lebih baik.”“Aku sudah

  • SUAMI BERSAMA   77

    “Hen, kalau kamu mau kasih aku SP juga aku terima. Aku udah bener-bener pasrah. Pagi tadi aku udah siap-siap mau berangkat kerja tapi begitu sampai depan rumah aku balik lagi Hen.”“Aman Tar, stok cuti kamu masih ada jadi potong gajinya nggak gede-gede amat.”Siang ini Hendi datang ditemani Mira, mereka menyempatkan diri mampir ke rumah setelah acara di luar kantor untuk mengetahui keadaanku. Hendi khawatir denganku karena teleponnya tidak pernah aku angkat dan pesannya belum aku balas. Aku pun belum bisa menceritakan semuanya secara lengkap, aku memberitahu mereka garis besarnya saja dan itu pun sudah cukup mengejutkan mereka.“Besok mudah-mudahan aku sudah bisa keluar dari bayang-bayang menakutkan itu. Aku juga tidak mau terkurung terus di dalam rumah.”“Mbak, besok biar aku jemput saja ya. Kalau ada temannya kan Mbak bisa merasa lebih tenang,” kata Mira. Dia menawarkan diri untuk menemaniku karena sejak aku tidak masuk temanku menggantikan posisiku dan Mira menggantikan posisi

  • SUAMI BERSAMA   76

    “Apa-apaan kamu Seno?! Main lempar-lempar rumah orang!!”“Trisno harus tanggung jawab!!” teriak Seno. Prasetyo mengambil batu dari tangan Seno lalu membuangnya, sementara anak-anakku langsung berlari menghampiriku dan berdiri di belakangku.“Buka mata kamu lebar-lebar Seno, lihat mereka! Mereka bukan Trisno!!”“Sama saja!!”“Apanya yang sama saja hah? Mereka juga tidak tahu apa yang sudah dilakukan Trisno!!”“Tapi mereka semua bersenang-senang pakai uang kita Mas! Mereka semua sudah menikmati hasil penipuan!!”“Punya kuping nggak kamu Seno? Aku bilang apa tadi hah? Mereka tidak tahu apa-apa Seno!!”“Mas! bukan kuping saya yang bermasalah tapi otak Mas yang harus dipake buat mikir! Mereka bersekongkol Mas, mereka memang berniat merampok kita pelan-pelan!!”“Ya Allah…”Aku mulai cemas karena melihat wajah Seno yang benar-benar berubah karena amarah, saking marahnya dia sampai berani berkata kasar pada Prasetyo.“Mah, kita nggak bisa panggil Eyang Mangun, tadi kita lihat Eyang

  • SUAMI BERSAMA   75

    “Saya sebenarnya juga bingung kenapa saya datang ke sini. Di dalam hati, sebenarnya saya ingin mempercayai cerita versi Ibu, tapi ingatan saya selalu kembali pada video itu. Ibu bilang kalau Mas Tris yang sudah merubahnya menjadi seperti sekarang, Mas Tris yang lebih dulu mengajak Ibu menjalin hubungan. Mas Tris yang memanfaatkan Ibu sampai Ibu rela mengeluarkan banyak uang untuk menuruti semua permintaan Mas Tris. Bujuk rayu Mas Tris yang sudah membuat Ibu lupa daratan,” kata Seno dengan pandangan kosong jauh ke depan."Ibu tidak pernah punya niat dan pikiran jahat untuk merebut suami Mbak. Sama sekali tidak pernah Mbak. Ibu bisa sampai sejauh itu karena Mas Tris sudah melakukan pemaksaan dan juga memberi Ibu macam-macam ancaman yang membuat Ibu ketakutan. Akhirnya lbu terpaksa ikut masuk ke dalam permainan yang dibuat Mas Tris," Seno bicara dengan wajah yang mulai memerah dan tangan mengepal.“Aku juga tidak tahu awalnya gimana Seno, yang aku tahu adalah akhir ceritanya dan itu aku

  • SUAMI BERSAMA   74

    “Bapak sudah meminta maaf sama kita berdua Mah dan menyuruh kita pulang buat nemenin Mamah,” kata Aran memulai ceritanya.Siang menjelang sore sepulang sekolah mereka pulang diantar Mbak Asri setelah aku titipkan menginap beberapa hari. Saat bertemu denganku tadi Mbak Asri tidak banyak bicara, dia langsung memelukku erat dan menangis meminta maaf saat anak-anak sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun masih belum berniat menceritakan semuanya pada Mbak Asri dan dia memahami itu, dia hanya bilang kalau Mas Tris menginap di rumahnya.“Bapak bilang apa sama kalian berdua Nak?”“Bapak minta maaf karena sudah berbuat salah dan sudah mengecewakan kita berdua. Bapak juga bilang kalau tidak ada yang berubah dari Bapak, Bapak tetep sayang ke kita Mah,” jawab Aran.“Maafkan Aran Mah,” kata Aran lagi.“Maksud kamu? Kenapa kamu bilang begitu Nak?”“Sebenernya Aran sudah curiga sama Bapak dan orang itu, tapi Aran selalu meyakinkan diri Aran sendiri kalau apa yang Aran pikirkan nggak bakalan mung

  • SUAMI BERSAMA   73

    “Tari….Tari…...”Suara yang memanggil namaku sayup-sayup terdengar beberapa kali di telingaku, semakin lama semakin jelas dan ini berarti aku tidak sedang bermimpi. Aku mencoba membuka mataku, perlahan aku bisa melihat Bu Mangun sedang berdiri di pintu melihat ke arahku. Aku menjawab salamnya dengan lirih sambil berusaha bangun tapi tidak bisa, kepalaku rasanya berat sekali.“Pelan-pelan Tari, biar Ibu bantu,” kata Bu Mangun dengan kedua tangan yang membantuku bangun.“Terima kasih Bu,” kataku dengan posisi tubuh yang bersandar pada sofa.“Minum dan makanlah dulu Tari biar ada tenaga, perutmu kosong dari tadi pagi,” kata Bu Mangun memberiku segelas teh manis hangat, aku meminumnya beberapa teguk. Setelah itu dia memberiku semangkuk bubur ayam tapi aku tetap tidak bergeming.“Ayolah Nak, hari sudah sore, berikan tubuhmu haknya untuk makan! Cobalah beberapa suap saja mumpung masih hangat,” katanya dengan tangan yang siap menyuapiku. Aku pun menurutinya dengan membuka mulutku perla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status