LOGINKenshi menempelkan es yang telah dilapisi tissu ke kening Mayang yang sedikit bengkak. "Maaf, aku mengagetkanmu! Aku pikir, kamu mungkin butuh sesuatu," tutur Kenshi, menahan geli saat melihat Mayang meringis sambil sesekali melirik. Wajah Mayang kembali menekuk dan sengaja menghindari tatapan Kenshi. Ia masih tak berani atau lebih tepatnya, ia masih merasa malu menatap wajah yang semalam berada di atas tubuhnya itu. "Aku, hanya cari minuman segar," ungkapnya sambil memalingkan pandangan ke arah taman sambil memainkan jemarinya di atas meja. Kenshi menyodorkan sesuatu ke hadapan Mayang. Ternyata Kenshi membawa sebuah tote bag berisi beberapa gelas minuman dingin."Coffee, cappuccino or milk tea?" tanya Kenshi sambil memiringkan wajah dengan tetap menempelkan kompresan ke kening Mayang. Mata Mayang langsung berbinar saat melihat minuman-minuman dingin di depannya. Ia melihat-lihat label yang tertera dan mengambil gelas cappuccino lalu menunjukkannya pada Kenshi yang hanya tersenyu
Kenshi berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya, meninggalkan Mayang yang masih tertelungkup lemah dengan sebagian tubuh polosnya tertutupi selimut.Setelah membasahi seluruh tubuhnya dengan air hangat dan membalut tubuhnya dengan bathrobe, Kenshi langsung mengambil ponselnya dan menyingkap salah satu gorden, hingga ia bisa melihat suasana malam yang kelam dari balik kaca jendela.“Hirata, bagaimana kabar mereka di Indonesia? Apakah sudah ada kabar?” tanya Kenshi dalam bahasa Jepang sambil tetap berjaga agar Mayang tak mengetahui obrolannya."Tuan masih di kantor polisi. Tapi tim kita sudah ke sana untuk membantu memberikan keterangan. Sedangkan Nyonya sudah pindah ke apartemen." Terang Hirata di ujung telepon. “Tolong dampingi mereka sebisa mungkin! Aku masih harus melihat situasi di sini.”"Baik, tuan! Saya mengerti. Tim pengacara dari perusahaan kita di Indonesia juga sudah kita kerahkan untuk membantu Tuan Hadiwijaya."“Baiklah, aku percaya padamu.”Kenshi segera mematik
Mayang terkejut saat bahunya tersingkap dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya merona saat mata Kenshi mulai berkabut ketika memandangi tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis.“Hey, kenapa kamu menutupinya?” Kenshi menepis kedua tangan Mayang yang gugup dan menarik lembaran kimono Mayang hingga terlepas. “Aku, aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Tapi hari ini terlalu gerah, aku mencoba memakai salah satu pakaian tidur yang berjajar di dalam lemari," terang Mayang gelagapan sambil bergerak mundur. Tatapan lekat Kenshi yang tanpa ekspresi malah membuat sebagian bulu kuduknya berdiri."Aku pikir kamu tidak akan suka, jadi aku melapisinya dengan kimono,” sambung Mayang, makin salah tingkah, terlebih Kenshi menelusuri tubuhnya dari atas hingga ke bawah.Lelaki itu mulai tersenyum dan tertawa pelan, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Ia tak menyangka jika Mayang mau mengenakan deretan lingerie yang memang ia siapkan sejak awal pernikahan mereka
Kenshi tampak gusar di dalam mobilnya. Baru saja ia mendengar kabar buruk dari rekanannya di Indonesia."Daiguchi telah memulai aksinya. Jebakan mereka terhadap Tuan Hadiwijaya saat pernikahan bukan sekadar ancaman belaka. Mereka menggunakan pihak ketiga untuk melaporkan Hadiwijaya atas penggelapan bea cukai penjualan alat berat. Saat ini perusahaan keluarga Hadiwijaya terancam Tax Amnesty dan tindak pidana kontrak ilegal.""Bagaimana dengan pihak bank? Apa mereka juga mengincar aset tetap?""Per hari ini, pihak bank langsung menutup akun Tuan Hadiwijaya dan Nyonya Kori, karena mereka adalah pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan. Kinerja perusahaan sudah goyah. Ancaman mogok kerja para pegawai juga sudah mulai bergulir. Perusahaan terancam gulung tikar beberapa waktu ke depan."Hal yang membuatnya gusar, beberapa aset keluarga Hadiwijaya telah disita oleh pihak bank, dan salah satunya adalah tempat kediaman Mayang. Tempat yang belum pernah ia datangi. Kenshi merasa kesal terha
Hari ini sudah beberapa hari, suhu udara di Tokyo mencapai 35 derajat Celcius, yang merupakan puncak musim panas tahun ini di jepang.Semalaman Kenshi memperhatikan Mayang yang gelisah dalam tidurnya. Mungkin ia kegerahan dan tak terbiasa dengan musim panas di negeri ini. Bisa juga ia belum sepenuhnya nyaman tidur sekamar dengannya yang notabene telah menjadi suaminya. Kenshi sendiri tak mau memaksakan diri. Perkenalan dan kedekatannya dengan Mayang masih tergolong singkat. Ia membiarkan perasaan di antara dirinya dan gadis itu terjalin secara alami dan mengalir seperti air.Saat ini ia berharap, istrinya itu menemukan kebahagiaan bersamanya, bukan kegelisahan karena keadaan keluarga dan perusahaan ayahnya di Indonesia yang baru-baru ini mungkin belum ia dengar.Berita kemerosotan tajam perusahaan Hadiwijaya baru ia terima pagi ini. Kabar yang tak mengenakkan tentang penyegelan rumah dan aset Hadiwijaya sudah pasti akan mempengaruhi keadaan perusahaan Tanaka."Edo sudah bergerak. Had
“Kamu jahil!” Mayang mencubit gemas dada lelaki di hadapannya yang masih berbalut kemeja kerja dan dasi yang sudah miring tak karuan.Mayang merapikan dasi dan hendak beranjak turun dari pangkuan Kenshi, namun lelaki itu kembali menarik pinggang rampingnya seraya mendekatkan mulutnya ke telinga Mayang. “Mayang-san, apakah kamu tahu? Yang barusan kamu sentuh itu bagian sensitifku?"Mayang lantas menjauhkan diri dan melirik Kenshi tak mengerti."Kalau kamu menginginkanku, kamu bisa menyentuh area itu, sesuka hati kamu. Itu salah satu rahasiaku!” Jelas Kenshi membuat wajah Mayang langsung matang merona. Tak ayal ia pun segera melompat turun diiringi tatapan sayu Kenshi yang tersenyum menyeringai. “Ayo, aku...aku sudah lapar!” Ucapannya terbata sambil berusaha mengaitkan kancing bra-nya. Namun, nyatanya tak berhenti di situ. Kenshi dengan sigap menarik pinggang istrinya lalu sengaja membenamkan wajahnya di perut wanita yang gelagapan. “Kamu masih lapar setelah ini?” Ungkapnya manja.
“Are you OK?” Tanya Kenshi cemas ketika memapah gadis disisinya ke salah satu kursi kosong di luar wahana gondola.Wajah Mayang masih pias setelah tubuhnya hampir terjungkal. Beruntung tadi Kenshi sigap menangkap tubuhnya. Kenshi menduga, gadis itu ada phobia dengan ketinggian atau permainan pemic
"Tunggu disini!" Kenshi menuju meja konter tiket meninggalkan Mayang yang masih terkesan dengan rupa Tokyo Dome.Sudah lama sekali ia tidak pernah mengunjungi taman hiburan seperti ini. Mungkin terakhir kali sejak SMP dan setelah kedua orang tuanya mulai bepergian keluar negeri menjalankan bisnisny
Pagi harinya, Mayang kembali harus bangun dan sarapan sendiri di kamarnya. "Maaf, sayang! Besok mama papa harus pergi pagi-pagi sekali. Ada beberapa relasi bisnis yang belum kami temui. Mereka juga akan kami undang ke acara pernikahan kamu." Ujar sang mama semalam. “Huuuh, kenapa dengan orang-o
Malam itu, tampak Aryo Hadiwijaya dan Kori, istrinya, turun dari taksi dan berjalan tergesa memasuki sebuah kawasan bernama Taito yang masih berada di kota Tokyo, dimana berjajar restoran dan kedai di kedua sisi jalannya.“Wagyu Panga? Disini ma, kita sudah sampai.” Sahut Aryo lalu menarik lengan sa







