Share

5. Semakin cemas

Penulis: DOMINO
last update Tanggal publikasi: 2025-10-05 17:03:00

Dari kejauhan, Amel merasakan ada tatapan kearahnya. Sesekali, Alex mengangkat matanya dan melirik ke arah amel.

Tatapan itu bukan lagi marah, tapi lebih seperti... menilai. Meneliti. Seakan ia mencoba memahami siapa sebenarnya perempuan yang baru muncul di bar miliknya.

Joni mendekat ke arah Amel, wajahnya masih tegang. “Lo jangan bikin masalah,” bisiknya. “Bos Alex udah kasih kesempatan. Kalau lo nggak bisa kerja, bukan cuma lo... gue juga yang akan kena marah.”

Amel hanya mengangguk. Lidahnya kelu, tak berani membalas. Rani melirik sinis, menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Hoki banget lo hari ini,” gumamnya kesal. “Coba kalau Bos nggak dateng... entah jadi apa lo.” Ia tersenyum tipis, tapi matanya penuh peringatan.

Amel menunduk makin dalam. Kata-kata Rani itu menempel erat di kepalanya, membuat perasaannya semakin kesal.

Beberapa menit kemudian, Alex berdiri. Kursinya berderit, cukup untuk membuat ruangan kembali menegang. Ia berjalan ke arah pintu keluar, namun ketika melewati Amel, langkahnya melambat.

Amel membeku. Ia menunduk, jantungnya seperti ingin pecah. “Besok pagi kamu mulai kerja jam tujuh. Jangan telat,” ucap Alex singkat tanpa menoleh, lalu berjalan keluar.

Amel masih terpaku di tempat, matanya mengikuti langkah Alex yang baru saja lewat. Bayangan tubuh tegap itu menghilang di balik pintu, tapi gema otoritasnya masih menggantung di udara.

Nafas Amel tersengal, dan ia mengusap keringat di pelipisnya sambil bergumam dalam hati, untung aja ada Bos Alex... aku bisa sedikit terbebas dari tugas kotor ini. Perasaan lega dan ngeri berbaur jadi satu.

Rani mendekat, menyenggol lengannya ringan. Bibirnya melengkung nakal, seolah baru saja menonton pertunjukan menarik.

“Beruntung banget lo, Mel hari ini,” katanya setengah berbisik, nada suaranya menyimpan cemburu samar. Ia pun berlalu dengan ayunan pinggul santai, meninggalkan aroma parfum yang menusuk hidungnya.

Di sudut lain, Joni menatap punggung sahabatnya yang juga bosnya itu dengan dahi berkerut. Ia menggaruk tengkuknya gelisah, seolah mencoba merangkai kepingan teka-teki.

Gerakan kecilnya memainkan kunci di saku, bibir yang berulang kali digigit—membocorkan kebingungan yang tak sanggup ia ucapkan.

Amel akhirnya melangkah keluar dari bar. Namun, baru beberapa langkah, sebuah tangan mencengkeram lengannya.

Ia menoleh cepat—Joni berdiri di sana, wajahnya tegang, alisnya berkerut seolah menahan ribuan pertanyaan.

“Tunggu,” suaranya parau, sedikit tercekat. “Lo ada hubungan apa sama Alex? Atau sebelumnya lo dan Alex saling kenal?”

Amel terdiam. Matanya membesar, lalu cepat-cepat menggeleng. Ujung rambutnya yang basah keringat menempel di pelipis. Ia sendiri tak tahu kenapa nama Alex tiba-tiba menyeretnya ke pusaran yang asing.

Namun, Joni tidak segera melepaskannya. Tatapannya menusuk, seperti ingin menyingkap lapisan yang Amel sembunyikan.

Rahangnya mengeras, bibirnya setengah terbuka tapi urung mengeluarkan kata. Hanya sorot mata yang bicara bercampur curiga, bingung, dan takut kalau sahabat sekaligus bosnya itu melihat sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.

Amel masih terdiam, menunduk agar Joni tak bisa membaca matanya. Lengan yang ditahan terasa dingin, jantungnya berdebar makin kencang.

“Saya tidak mengerti maksud kamu,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. "Mengapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu.”

Namun, Joni tetap menatapnya tanpa bergeming. Nafasnya berat, seperti ada sesuatu yang ingin di ucapkan tapi terhenti di tenggorokan.

Suasana mendadak berubah ketika suara langkah berat menggema di lorong belakang bar. Langkah itu mantap, tidak terburu-buru, tapi setiap dentumannya membuat udara seperti mengeras.

Joni langsung melepas cengkeramannya, tubuhnya menegang. Ia menoleh, dan benar saja—Alex muncul dari balik kegelapan, siluetnya tegak dengan tatapan dingin.

“Sedang apa kalian di sini?” suara Alex rendah, tapi cukup membuat bulu kuduk Amel meremang.

Joni buru-buru menunduk, suaranya gugup. “B-bukan apa-apa, Bos. Gue cuma jelasin tugas dia besok.”

Tatapan Alex beralih pada Amel. Sorot matanya dalam, menelusuri wajahnya seakan mencari sesuatu yang tersembunyi.

Sekilas, ia mengangkat alis, lalu menyunggingkan senyum samar—senyum yang entah berarti ancaman atau perlindungan.

Tatapan Alex bertahan beberapa detik, cukup lama untuk membuat Amel menahan napas. Senyum samar itu masih melekat di wajahnya, lalu ia menghela napas pelan dan berbalik pergi.

Suara langkahnya kembali menggema, semakin menjauh hingga tertelan oleh denting musik dari dalam bar.

Namun, bukannya lega, Amel justru merasa dadanya kian sesak. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu, seperti janji tak terucap bahwa pertemuan ini belum berakhir.

Rasa dingin menjalari tulang belakangnya, seolah Alex meninggalkan bayangan yang tak bisa diusir meski tubuhnya sudah tak terlihat lagi.

Joni mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke Amel dengan sorot panik yang ia coba sembunyikan.

"Mending lo balik ke kamar lo, jangan berdiri di sini, lo tau kan gimana seremnya si Bos," ketusnya.

Amel menggigit bibirnya, tak sanggup menjawab. Setiap suara derit pintu bar, tawa samar para tamu, bahkan angin yang berdesir, seakan mengingatkannya pada satu hal: Alex masih ada di sini, meski tak tampak.

Amel melangkah pelan meninggalkan lorong itu, seolah setiap ubin lantai yang ia injak bisa meledak kapan saja.

Nafasnya masih belum teratur, dada naik-turun cepat. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Alex benar-benar sudah pergi.

Tapi rasa was-was itu tak juga hilang... bayangan pria itu seakan masih menempel di dinding, mengawasi dari balik gelap.

Saat tiba di kamar kecil yang diberikan Joni, Amel mendorong pintu kayu berderit itu dengan hati-hati.

Begitu pintu menutup, ia bersandar lemah, menekan dada dengan telapak tangan, berusaha menenangkan diri. Lampu redup di langit-langit bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang bergerak di dinding.

Ia meraih segelas air di meja kecil, meneguknya cepat, tapi rasa hausnya tak kunjung hilang. Pikiran Amel penuh oleh satu nama—Alex. Sosok itu menakutkan sekaligus menyelamatkan.

“Kenapa dia ngeliatin aku begitu?” gumamnya lirih, nyaris tak percaya pada dirinya sendiri.

Di luar kamar, langkah orang berlalu-lalang masih terdengar samar. Sesekali ada tawa kasar, dentingan botol, atau kursi yang terseret lantai.

Namun bagi Amel, semua itu terdengar jauh—yang dekat hanyalah debar jantungnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya di samping anaknya yang masih tertidur pulas, ia menatap langit-langit dengan pikiran yang berputar.

Ada rasa syukur ia tak perlu lagi menjalani tugas kotor hari ini. Tapi bersamaan dengan itu, rasa was-was semakin kuat. Seakan keesokan pagi bukan sekedar pekerjaan biasa yang menunggunya, melainkan awal dari sesuatu yang lebih rumit.

Kelopak matanya mulai berat, tapi sebelum benar-benar tertidur, satu bayangan muncul lagi di kepalanya: senyum samar Alex.

Senyum yang membuatnya bertanya-tanya, apakah itu isyarat bahaya, atau justru tali takdir yang akan menyeretnya lebih dalam ke dunia bar itu?

Amel mencoba untuk memejamkan matanya, dia mulai tertidur sambil memeluk anaknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 119 Bersembunyi

    Lampu jalan berderet memanjang, cahaya kuningnya memotong hujan menjadi garis-garis patah. Mobil melaju lebih stabil sekarang, tapi keheningan di dalamnya masih berat, bukan canggung, melainkan penuh sisa-sisa emosi yang belum sempat diurai. Amel menatap jari-jari mereka yang saling menggenggam. Kulitnya masih dingin, tapi tangan Alex hangat, nyata. Ia menarik napas dalam-dalam. “Kamu kelihatan… berbeda,” katanya pelan. “Seperti orang yang baru saja memutus sesuatu.” Alex tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Karena memang begitu.” Ia memelankan laju mobil, menepi di bawah kanopi sebuah minimarket yang sudah tutup. Mesin dimatikan. Hujan masih jatuh, tapi kini terasa jauh. Alex menoleh sepenuhnya. “Dengar,” katanya, suaranya rendah tapi mantap. “Ayahku tidak pernah benar-benar melepas apa pun. Termasuk aku. Malam ini… itu pertama kalinya aku mengambil keputusan.” Amel mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Alex... lelah, tapi jujur. Ada sesuatu di sana yang belum p

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 118 Keputusan Alex

    Langkah kaki itu makin dekat, menggema tanpa ragu. Suara Alex memantul di dinding-dinding tinggi mansion, memecah keheningan yang selama ini berkuasa. “Di mana dia?” ulangnya, lebih keras. Ada sesuatu yang retak di balik ketegasan itu. Felix membuka pintu kamar sebelum Alex sempat mencapainya. Gerakannya tenang, terukur. Seolah ini semua sudah ia perhitungkan. Alex berhenti tepat di depan ayahnya. Dua pasang mata saling menatap. Sama-sama dingin. Sama-sama keras. Tapi hanya satu yang bergetar oleh emosi yang belum selesai. “Ayah,” kata Alex, suaranya rendah, tertahan. “Apa yang kau lakukan?” Felix melipat tangannya di dada. “Mendidikmu.” Di balik tubuh Felix, Alex melihatnya. Amel. Duduk setengah di ranjang, wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Matanya membesar saat tatapan mereka bertemu. Bibirnya bergerak, seolah ingin memanggil namanya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Mel…” Alex melangkah maju satu langkah. Felix menggeser tubuhnya, cukup untuk menghalangi

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 117 Alex dan Tuan Felix

    Nama itu menggantung di udara, berat, menekan dada. Amel menatap gadis di hadapannya, napasnya memburu. “Tuan Felix…?” Ia menggeleng cepat, seolah berharap itu hanya kebetulan. “Ayahnya Alex?” Gadis itu tidak menyangkal. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangannya. “Tuan Felix tidak suka dengan wanita sepertimu,” katanya. “Apalagi kau sudah mendekati putranya.” Amel menegakkan tubuh meski rasa pusing masih terasa di pelipisnya. “Aku tidak berusaha mendekati Alex. Aku hanya...” “tidak perlu menjelaskan padaku,” potong si gadis. Senyumnya kembali menipis. "Aku tidak peduli itu.” Ia melangkah ke meja, mengambil sesuatu dari dalam kantong belanja. Bunyi logam kecil beradu. Sebuah ponsel diletakkan di atas meja, layarnya mati. “Ponselmu,” katanya. “Sepertinya, habis batrai. Amel menelan ludah. “Aku harus menghubungi Alex.” “Tidak malam ini," katanya datar. Hening menyusup di sela detik jam. Di luar, hujan kembali terdengar, lebih deras dari sebelumnya. “Berapa lama aku di si

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 116 Siapa Dia?

    Mobil Alex melesat membelah malam. Di balik kaca depan, kota tampak seperti garis-garis cahaya yang kabur. Tangannya mencengkeram setir lagi, kali ini bukan marah semata, tapi sesuatu yang lebih berbahaya... panik yang ia tekan sedalam mungkin. “Mel…” desisnya. “Kamu ada dimana sekarang, aku khawatir.” *** Sementara itu, di sisi kota yang lain, hujan tipis mulai turun, jatuh beruntun di aspal dan memantul menjadi kilau samar di bawah lampu jalan. Seorang gadis cantik berdiri di bawah kanopi minimarket yang hampir tutup. Ia berdiri sedikit menepi, seolah takut menghalangi jalan, bahunya condong ke depan menahan dingin. Jaket tipis yang ia kenakan sudah basah di bagian bahu dan lengan. Setiap kali angin berembus, kain itu menempel di kulitnya. Pandangan gadis itu menyusuri jalan di depannya, lampu mobil yang lewat, genangan air, bayangan orang-orang yang bergegas pulang. Kakinya melangkah setengah inci ke depan, lalu berhenti lagi. Tangannya mengepal, kemudian mengendur. Anta

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 115 Rani Kesal

    Gudang itu kembali sunyi setelah deru mesin menghilang di kejauhan. Lampu neon berkedip sekali… lalu stabil. Martin berdiri sendirian di tengah ruangan. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ia menunduk, memungut ponselnya dari lantai. “Alex… Alex,” gumamnya pelan. “Ternyata lo lemah cuma karena perempuan.” *** Di sepanjang jalan, Alex mencengkeram setir begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih. Lampu jalan melintas cepat di kaca mobil, tak satu pun benar-benar ia lihat. Rahangnya mengeras, napasnya berat. “Akh… sial,” gumamnya, menekan pedal gas lebih dalam. “Ke mana sih lo, Mel… gue udah bilang jangan keluar mansion tanpa izin.” Ia membanting setir saat melihat persimpangan. Mobil berbelok tajam menuju arah bar. Ban sedikit berdecit sebelum kembali melaju stabil. Beberapa menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di depan bangunan bercahaya redup. Alex keluar tanpa menutup pintu dengan hati-hati. Bam. Pintu mobil terhempas. Begitu ia melangkah masuk, su

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 114 Ke Markas Black Dragon

    Gudang tua itu berdiri seperti bangkai besi di pinggir kota. Lampu-lampu jalan berkedip malas, menyisakan bayangan panjang yang merayap di dinding retak. Mobil hitam Alex berhenti mendadak. Pintu terbuka sebelum mesin benar-benar mati.Alex turun lebih dulu. Wajahnya dingin, matanya tajam, aura berbahaya menyelimuti langkahnya.Dua mobil pengawal menyusul, membentuk setengah lingkaran. Senjata sudah siap, tangan di pelatuk.“Masuk,” perintah Alex singkat.Pintu gudang didobrak. Suara besi beradu menggema keras, memecah keheningan malam.Di dalam... kosong.Hanya bau debu, oli lama, dan cahaya lampu neon yang berkedip setengah mati.“Martin!” suara Alex menggema. “Keluar lo!”Beberapa detik berlalu.Lalu terdengar suara langkah santai dari balik tumpukan peti kayu.“Sepertinya gue kedatangan tamu tak di undang nih,” suara itu muncul, datar tapi menyimpan ejekan tipis. “Mau ngapain lo kesini.”Martin keluar ke cahaya. Jaket kulitnya kusam, rambutnya sedikit berantakan, tapi sorot matan

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   73. Kehilangan Jejak

    Alex muncul di teras. Jaketnya setengah terbuka, bahu tegap. Di sisinya, anak kecil itu Lily... berlari kecil, tertawa menabrak udara. Alex menurunkan langkah, ia menoleh ke belakang sekali. Dua kali. Lalu... pandangan itu jatuh ke Amel. Amel berdiri di ambang pintu kaca. Rambutnya tergerai, waja

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   72. Pengintaian

    Markas Black Dragon tenggelam dalam cahaya redup. Lampu neon tua berdengung pelan di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di dinding beton yang berbau asap rokok dan oli. Di tengah ruangan, Martin duduk santai di kursi kulit hitamnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran. Pintu besi berdeci

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   71. Pagi yang romantis

    Dari kejauhan, Maria berdiri di bawah bayang pohon flamboyan. Tangannya terlipat di depan tubuh, sikapnya seperti biasa—tenang, menjaga jarak. Namun matanya tak lepas dari tiga sosok yang berjalan perlahan di tengah taman. Lily mengayun tangan mereka, tertawa kecil setiap kali langkahnya meloncat

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   70. Kenapa terasa hangat

    Amel melangkah pelan ke ruang makan. Dress sederhana berwarna ungu bunga-bunga membingkai tubuhnya tanpa berusaha mencuri perhatian. Rambutnya terikat rapi, menyisakan beberapa helai halus di pelipis. Ia berhenti sejenak, memastikan napasnya kembali teratur, lalu maju.Alex sudah duduk. Entah sejak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status