Beranda / Mafia / SUAMIKU MANTAN GENGSTER / 63. Menginginkannya lagi.

Share

63. Menginginkannya lagi.

Penulis: DOMINO
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 07:29:28

Pintu kamar terbuka nyaris tanpa suara. Alex menahan napas, telapak tangannya masih menggenggam gagang pintu seolah sedikit tekanan saja bisa memecah keheningan.

Lampu tidur menyala redup.

Amel terbaring menyamping, bahunya sedikit naik turun mengikuti napasnya. Lengannya melingkar di tubuh sendiri, jari-jarinya mencengkeram kain piyama.

Alex melangkah mendekat. Setiap langkah terasa terlalu keras di telinganya sendiri. Ia berhenti di sisi ranjang, menatap wajah Amel yang pucat namun tenang. Ada bayangan lelah di bawah matanya.

Alex menarik selimut perlahan, hendak menutup bahu Amel yang terbuka. Jarinya baru saja menyentuh kain. Tangan Amel bergerak.

Refleks. Cepat. Menggenggam pergelangan tangannya. “Jangan pergi…” Suaranya pecah, masih terjebak di antara mimpi dan sadar. “Aku takut… aku butuh kamu di sini.”

Ada sesuatu yang mencubit dada Alex. Ia menghembuskan napas pelan, sudut bibirnya terangkat nyaris tak terlihat.

Ia duduk di tepi ranjang. Amel bergerak mendekat tanpa me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   92. Berdebar dan panik

    Mata Tuan Felix sejak tadi tidak pernah benar-benar diam. Seolah-olah setiap sudut mansion itu sedang ia periksa… setiap lorong, pintu, dan bayang-bayang yang mungkin menyembunyikan seseorang. Alex sadar, karena tatapan itu terlalu jelas untuk diabaikan. Maka sebelum ada pertanyaan yang sulit di jawab, Alex sudah lebih dulu memutus arah. “Kalau ada yang ingin Ayah bahas,” ucapnya datar, “lebih baik di ruang kerjaku.” Suaranya halus, tapi tegas. Namun Tuan Felix hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah terlihat tulus. “Apa kau tidak memperbolehkan Ayahmu ini menikmati suasana mansionmu terlebih dulu, Alex?” katanya pelan. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak berkeliling.” Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dan melangkah menuju taman belakang. Alex menghela napas singkat, lalu mengikuti dari belakang dengan langkah sedikit lebih cepat. Bahunya tetap tegap, tapi matanya awas, mengikuti setiap gerak lelaki itu. Ia tahu, ini bukan sekadar berjalan-jalan. Di taman, sinar mat

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   91. Teringat masalalu

    Koridor lantai dua masih menyimpan sisa kehangatan pagi. Bau samar teh dan roti dari ruang makan belum sepenuhnya hilang ketika Alex menutup pintu kamar Lily pelan. Ia baru saja melangkah beberapa meter, terdengar suara langkah tergesa memecah ketenangan. Sepatu Joni bergesek cepat dengan lantai marmer, napasnya sedikit terdengar berat. “Bos,” panggilnya setengah menahan suara. Alex berhenti, dan menoleh kerah Joni sesaat. “Tadi Tuan Felix telepon,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. “Beliau sedang menuju ke sini.” Alex terdiam, rahangnya mengeras sejenak, lalu ia memalingkan wajah. “Mau apalagi dia ke sini…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Joni mengangkat bahunya, “ya… mungkin ada hal penting yang mau dibicarain sama lo.” Alex menghela napas panjang, "dia selalu punya alasan buat dateng kesini,” ucapnya dingin. Lorong kembali sunyi, hanya suara jarum jam dari kejauhan yang terdengar. “Bos,” suara Joni melembut, jarang-jarang ia bicara seperti itu. “Bagaimanapun… Tu

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   90. Sebuah keyakinan

    Koridor menuju ruang makan dibalut cahaya keemasan dari jendela besar. Debu-debu kecil terlihat menari di udara, seolah pagi pun ikut menyambut langkah mereka. Amel berjalan sedikit di belakang Alex. Meski jarak mereka tak lebih dari satu lengan, rasanya seperti ada garis halus yang memisahkan… sekaligus menghubungkan. Sesekali Alex menoleh, memastikan langkah Amel tidak terlalu tertinggal. Ruang makan itu luas, namun tertata sederhana. Meja panjang dari kayu tua dipenuhi piring, roti hangat, selai, buah segar, omelet yang masih mengepulkan uap, tapi semuanya tampak rapi, tidak berlebihan. “Duduklah,” ujar Alex pelan. Amel menurut. Jantungnya belum mau tenang, tapi keheningan di antara mereka jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Alex menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia juga menuangkan teh ke cangkir Amel, mendorongnya perlahan ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Amel. Alex hanya mengangguk kecil, kini mereka mulai sarapan. Ses

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   89. Romantis nya

    Pagi merayap masuk lewat celah tirai, menorehkan garis cahaya tipis di dinding kamar. Amel membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Lalu bau kayu menguar, hamparan karpet tebal di bawah tempat tidur, dan lemari besar berwarna gelap yang asing baginya. Itu… bukan kamarnya. Ingatan semalam datang seperti arus balik... Alex, genggamannya, langkah cepat melewati lorong… dan pintu kamar itu yang tertutup pelan. “Jadi… aku benar tidur di sini,” bisiknya. Ada sesal yang tiba-tiba mencuat. “Lily…” Bayangan anak kecil itu sendirian di kamar membuat dadanya terasa berat. Ia bangkit buru-buru. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit terlonjak. Lorong Mansion itu masih sepi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar jelas, tik… tak… tik… tak… Seolah setiap detik ikut mengawasinya. “Alex?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Hanya udara kosong. Amel menggigit bibirnya... setengah ragu dan cemas, lalu ia melangkah menuju dapur. Bau tumis bawang dan

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   88. Khawatir

    Si penembak di bukit masih diam. Hujan menetes dari ujung laras, waktu berjalan perlahan… namun di dalam gudang, semuanya justru terasa semakin cepat. Alex berdiri diam di tempat. Tapi matanya... untuk pertama kalinya malam itu, tidak lagi memikirkan ruangan, senjata, atau siapa yang mengkhianati. Yang muncul justru wajah Amel dan Lily. Seketika seluruh tubuhnya menegang. “Kalau mereka berani mengincar meeting sebesar ini… berarti mereka berani menyentuh hal lain juga.” Sebuah ketakutan yang jarang ia rasakan merambat naik ke dadanya. Bukan takut pada peluru. Tapi pada kemungkinan… ada seseorang yang sudah memperhitungkan segalanya. Termasuk orang-orang yang tak seharusnya tersentuh. Termasuk Mansionnya. Alex mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Tidak. Tidak boleh ada yang mendekati Mansionku, terutama mendekati mereka. Ia menoleh cepat, menatap Joni. Tapi bukan tatapan seorang bos pada anak buahnya. Lebih mirip seseorang yang sedang mempercayakan separuh hidupnya.

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   87. Pengakuan Cinta

    Ciuman itu membuat dunia seakan menghilang, tetapi justru di tengah keheningan itulah Amel tersadar, detak jantungnya bukan hanya karena rindu, tapi juga karena takut… takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Perlahan ia menarik wajahnya, napasnya masih tersengal. “Alex…” suaranya bergetar. “Ini… kita tidak seharusnya...” Alex terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan. Matanya melembut, dan cengkeramannya di bahu Amel mengendur. “Aku tidak mau kamu merasa terpaksa,” ucapnya pelan. “Kalau kamu bilang berhenti… kita berhenti.” Kalimat itu membuat Amel justru makin sulit bernapas. Ada kehangatan yang berbeda di dada... bukan hanya rindu, tapi juga rasa aman yang selama ini jarang ia dapatkan. “Aku hanya… bingung,” bisiknya jujur. “Aku takut salah. Aku takut berharap terlalu jauh.” Alex menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangan mereka. “Aku juga takut,” katanya. “Tapi setiap hari aku pulang… yang terlintas di pikiranku selalu kamu. Bukan sebag

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status