Home / Romansa / Saat Aku Melepasmu / Bab 55. Sebuah Sabotase

Share

Bab 55. Sebuah Sabotase

last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-20 04:31:28

Malam makin larut. Asher yang tadi berada di kamar memilih untuk berada di ruang kerjanya. Perkataan Talia tadi berhasil memancing emosi, membuatnya enggan untuk langsung tidur. Setelah tadi dia membersihkan tubuh, dia langsung mendatangi ruang kerjanya yang ada di mansion, dan segera menenggak segelas whisky.

Pria tampan itu berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap langit yang kini sudah dihiasi oleh bulan dan bintang. Kumpulan awan gelap telah menyingkir, dan tak lagi terlihat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
pasti itu ulah si isolasi... wkwk
goodnovel comment avatar
Schaff Som
lanjutannya up kak
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
TETEP aja ga suka sama ASHER, SELINGKUH CELUP SANA SINI MAKING LOVE SAMA TALIA slma ADELINE MASIH JADI ISTRINYA...!!!!
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 183. Daddy Kita Tetap Paling Tampan!

    “Aurelie, kau tadi sangat tidak sopan.” Leo menegur saudara kembarnya dengan suara rendah dan tegas, memberikan tatapan dingin di kala dia dan Aurelie baru saja tiba di kamar. Pengasuh mereka sedang berada di luar kamar, meracik dan menyiapkan puding hangat untuk camilan sore. Ya, mereka baru saja kembali dari kunjungan singkat ke taman, dan Leo merasa perlu memberikan teguran pada Aurelie yang tadi sempat-sempatnya menunjukkan sifat ketus dan tidak sopan pada ayah Alyssa.Bibir Aurelie menekuk dalam-dalam di kala sang kakak melayangkan teguran padanya. Gadis kecil cantik itu melipat kedua tangannya di depan dada, dengan raut wajah yang jelas menunjukkan rasa kesal dan tak terima. Sebab, menurut nurani kecilnya, apa yang dia lakukan sama sekali tidak salah.“Aku seperti tadi karena si pirang itu menyebalkan,” ucap Aurelie ketus.Bayang-bayang Alyssa, yang kerap dipanggil Aurelie sebagai sebutan si pirang jelas membuatnya sangat kesal. Bayangkan saja, terakhir Leo dibawa pergi, dan mem

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 182. Ikatan Yang Tak Terlihat

    Tanah taman yang basah akibat guyuran hujan semalam memantulkan cahaya matahari pagi yang hangat, menciptakan uap tipis yang menyejukkan. Tampak di dekat area bermain anak-anak, Marie mengawasi Leo dan Aurelie—tengah berdiri sambil melipat tangan di dada, memastikan kedua anak asuhnya tidak berlarian terlalu jauh ke area yang licin.Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh kedatangan sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir agak jauh di sudut jalan. Dari dalam kendaraan berbanderol fantastis itu, Paul menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri sebelum menjalankan instruksi dari tuannya.Dengan langkah terukur dan setelan jas rapi yang melekat sempurna, Paul turun dari mobil. Dia berjalan mendekati area taman, menghampiri Marie dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat panik dan kebingungan.“Permisi, Nyonya—atau Nona?” sapa Paul ramah, sengaja memasang gestur tubuh yang sopan untuk mencuri perhatian Marie. “Maaf mengganggu waktu Anda, tapi bolehkah saya bertanya? Saya sedang

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 181. Gejolak Pemikiran dan Perasaan Yang Rumir

    Pikiran Adeline melayang jauh, mengabaikan pemandangan ibu kota yang mulai sibuk bergeser di balik kaca jendela mobil. Wanita itu tak benar-benar fokus. Sepanjang perjalanan menuju lokasi syuting, dia terus melamun, membiarkan bayang-bayang kejadian kemarin malam kembali berputar di kepalanya. Sementara itu, Nora yang sedang memegang kendali setir, beberapa kali melirik Adeline lewat ekor matanya. Tatapan itu menyiratkan pemahaman yang mendalam—Nora sangat tahu persis ada beban berat yang tengah menghimpit pikiran sahabatnya itu.Suara deru mesin mobil berpadu dengan keheningan sesaat di kabin, sebelum akhirnya Nora membuka suara.“Kemarin kau sudah beristirahat cukup lama. Tolong hari ini kau fokus, Adeline. Aku tidak mau sampai orang-orang di lokasi syuting, terutama kru dan sutradara, menyadari ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu,” ucap Nora mengingatkan, nada suaranya tegas tapi menyiratkan kepedulian.Mendengar itu, Adeline menarik napas dalam-dalam, meresapi udara sejuk

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 180. Mencoba Tetap Tenang di Tengah Badai

    Keesokan paginya, sinar matahari menyelusup malu-malu melalui celah tirai apartemen, membawa kehangatan baru setelah badai semalam menyapu bersih kota. Meja makan itu sudah tertata rapi oleh Marie, sang pengasuh setia yang cekatan menyiapkan segala keperluan pagi.Adeline duduk di kursi utamanya, menemani Leo dan Aurelie yang sedang menikmati sarapan sereal hangat mereka dengan lahap. Di usia mereka yang hampir menginjak empat tahun, si kembar tumbuh menjadi anak-anak yang sangat aktif, cerdas, dan peka terhadap perubahan kecil di sekitar mereka—terutama pada sosok ibu yang sangat mereka cintai.Leo, dengan sepasang mata bulat yang sangat mirip dengan milik Adeline tapi menyuarakan ketajaman yang diam-diam begitu mirip dengan sang ayah, menatap lekat wajah ibunya dari seberang meja. Sendok di tangan bocah laki-laki itu perlahan terhenti, makanannya terabaikan.“Mommy ....” panggil Leo dengan suara kecilnya yang khas anak-anak, memecah keheningan pagi di ruang makan.Adeline, yang seda

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 179. Meyakinkan Bahwa Semua Sudah Benar Adanya

    Malam merayap lambat di kota New York dengan sisa-sisa keheningan yang begitu pekat. Hujan besar yang sempat melumpuhkan aktivitas kota beberapa jam lalu kini perlahan-lahan surut, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan tetesan air hujan yang masih sesekali jatuh dari ambang jendela kaca. Tampak di dalam apartemen mewah yang hangat, suasana terasa kontras dengan kekacauan cuaca di luar. Namun, keheningan itu sama sekali tidak membawa ketenangan bagi isi kepala Adeline.Dengan langkah pelan, tanpa suara, Adeline mendorong pintu kamar tidur anak kembar yang tidak tertutup rapat. Cahaya lampu tidur temaram berwarna kuning keemasan menyambut retinanya, memperlihatkan pemandangan paling menenangkan di dunia yang selalu berhasil meredakan sesak di dadanya, Aurelie dan Leo, si kembar tengah tidur pulas dalam pelukan mimpi masing-masing.Adeline mendekati ranjang anak-anaknya dengan hati-hati. Da duduk bersimpuh di sisi tempat tidur, menatap wajah polos kedua malaikat kecilnya yang ber

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 178. Memiliki Cara Meruntuhkan

    “Jadi, Asher Lennox tadi membawamu pergi?” Nora menyodorkan secangkir teh hangat madu pada Adeline, menatap sahabatnya itu dengan sorot mata penuh ketenangan yang menyembunyikan kekhawatiran mendalam. Di luar jendela apartemen, deru hujan New York masih menderu lebat, menyisakan sisa-sisa hawa dingin yang menusuk tulang.Mereka baru saja tiba di apartemen setelah perjalanan yang melelahkan di tengah badai. Sebelum naik ke kamar, Nora bahkan harus memastikan Marie langsung membawa anak kembar ke kamar tidur mereka agar anak-anak tidak ikut menyaksikan ketegangan yang merambat sore ini.Beberapa menit sebelumnya, di kamar mandi, keduanya sempat terdiam dalam keheningan yang panjang. Bajunya basah kuyup akibat terjebak guyuran hujan deras saat perjalanan pulang, melekat erat di kulit dan membawa gigil yang tak kunjung reda. Nora bergerak sigap mengambilkan dua helai pakaian ganti yang hangat—piyama katun lembut berwarna pastel—serta sebuah selimut kasmir tebal berukuran besar.Dengan gera

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 5. Berjuang Demi Kembar

    Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 4. Orang yang Sama, Tapi Semua Berubah

    Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 3. Semesta Mengizinkan Pertemuan

    Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 2. Resmi Berpisah

    Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status