MasukPintu tertutup pelan, menderit halus sebelum akhirnya mengunci rapat dan meredam bisingnya riuh studio utama yang masih dipenuhi teriakan kru serta dentuman peralatan syuting. Seketika, ketenangan dingin membungkus ruang istirahat khusus pemeran utama.Adeline menyandarkan punggungnya pada pintu, melepaskan napas panjang yang sejak tadi terasa bertumpuk dan tertahan di dadanya. Bau aroma terapi lavender yang samar melayang dari diffuser di sudut ruangan, sedikit mengurai ketegangan yang menumpuk di area pelipisnya. Keheningan ini adalah apa yang sangat dia butuhkan setelah berjam-jam tenggelam dalam karakter yang menguras emosi.Belum sempat dia meregangkan jemarinya yang dingin dan kaku akibat pendingin udara studio, engsel pintu kembali terdorong pelan. Tampak Nora masuk dengan langkah cepat dan tergesa, membawakan aura hangat yang seketika menghidupkan suasana ruangan yang kaku. Wajah wanita yang menjabat sebagai manajer sekaligus sahabatnya itu berbinar lega, memancarkan kepuasan
Keheningan pagi di lantai paling atas gedung perkantoran megah itu terasa begitu mencekam. Sinar matahari menerobos celah jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menyoroti garis-garis tegas wajah Asher yang tampak lelah tapi keras.“Tuan, apa Anda yakin dengan keputusan Anda?” tanya Paul menatap tuannya dengan tatapan hati-hati. Dia sudah tiba di kantor jauh lebih pagi dari biasanya. Kesadarannya sebagai orang kepercayaan membuatnya enggan tertinggal langkah, terlebih saat mengetahui bahwa tuannya telah mendarat di ruang kerja jauh sebelum para staf kebersihan mulai beraktivitas. Tak mungkin dia datang belakangan jika tuannya saja sudah terduduk di sana dengan dokumen-dokumen yang berserakan.“Kau masih bertanya?” Asher mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di atas meja, menatap dingin dan tegas ke arah Paul. Pria itu duduk tegap di kursi kebesarannya, memancarkan aura wajah dingin penuh wibawa seperti biasa.Namun, dari jarak sejarak ini, Paul bis
Keheningan yang dingin selalu menjadi ciri khas mansion mewah keluarga Lennox setiap kali Asher tidak berada di rumah. Di dalam ruang keluarga yang serba elegan—dengan lantai marmer mengilap dan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke halaman belakang yang luas—suasana terasa kian mencekam bagi Talia.“Mommy, kenapa Daddy belum juga pulang? Apa Daddy tidak merindukanku?” tanya Alyssa dengan bibir yang menekuk sebal.Gadis kecil itu melipat tangan di depan dada, memasang raut wajah yang menunjukkan kekecewaan mendalam. Jemari mungilnya meremas pinggiran gaun indahnya. Dia sudah cukup lama menunggu sang ayah di ruang tengah, menatap ke arah pintu utama setiap kali mendengar deru mesin kendaraan di luar, tetapi hingga saat ini ayahnya tak kunjung muncul.Talia menatap putrinya dengan tatapan yang berusaha untuk tenang, menelan bulat-bulat rasa panas yang mendadak membakar dadanya. Sebenarnya, bukan hanya Alyssa yang kesal, tapi dia sendiri sangat kesal. Bahkan kekesalannya sudah
Langkah Nora tak bisa tenang. Karpet tebal yang melapisi lantai ruang tamu apartemen menjadi saksi betapa langkah kakinya berulang kali bolak-balik tanpa arah yang jelas. Kepalanya seakan berputar hebat, dipenuhi oleh puluhan skenario terburuk yang mungkin saja sedang menimpa Adeline saat ini. Rasa cemas dan panik merayap cepat, membentang luas di dalam dirinya hingga rasanya tak sanggup lagi dia kendalikan.Jari-jarinya gemetar ketika memikirkan opsi untuk menghubungi kepolisian. Keinginan untuk melapor polisi bahwa Adeline menghilang begitu bergejolak di dadanya, tetapi kenyataan menahannya erat-erat. Adeline bukan lagi seorang gadis kecil, dan yang paling krusial, Adeline adalah seorang figur publik—seorang artis populer yang setiap jengkal kehidupannya dipantau media. Salah mengambil langkah sedikit saja, berita spekulatif bisa meledak di internet dan menghancurkan karier yang dibangun mati-matian. Hal itu memaksa Nora untuk memutar otak dan berpikir matang-matang sebelum melakuka
Logika Adeline seolah lumpuh total, berbenturan keras dengan kenyataan gila yang tersaji di depan matanya saat ini. Ia benar-benar tak pernah menyangka bahwa dalang di balik penculikannya malam ini adalah pria di hadapannya—Asher Lennox, mantan suaminya sendiri. Tidak pernah terbesit sedikit pun di benaknya bahwa pria dengan segala reputasi dan kekuasaan itu akan sudi bertindak sebodoh ini, jauh di luar batas akal sehat manusia pada umumnya. Sungguh, menyadari hal itu membuat emosi di dalam diri Adeline kini bagaikan bara api yang mengumpul di dasar dada, memanas, dan siap meledak menghanguskan apa saja.“Maaf, aku harus melakukan ini, agar kau mau bicara denganku,” ucap Asher dengan nada sedingin es.Pria itu bergerak lambat, tapi penuh dominasi. Tangannya dengan santai mengambil botol wine mahal yang ada di atas meja, lalu menuangkan cairan merah pekat itu ke dalam dua gelas kristal kosong di sana. Bunyi gemericik anggur yang menabrak dasar gelas mengalun memecah keheningan yang men
Pelupuk mata Adeline bergerak-gerak gelisah di kala kesadarannya perlahan mulai pulih dari kegelapan yang pekat. Sensasi berat di kepalanya membuat setiap gerakan terasa lambat dan menyiksa. Perlahan, begitu manik matanya mulai terbuka, silau cahaya lampu penerangan yang berada tepat di atasnya menjadi objek utama. Kilatan terang itu memaksa pupil matanya berkontraksi, membuatnya langsung menyipit tajam demi menghalau rasa silau yang menyengat indra penglihatannya.Mengerti bahwa memandang lurus ke atas hanya memicu rasa pening, Adeline mengalihkan pandangan ke arah lain demi menghindari pijar lampu tersebut. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan teliti. Seketika, keningnya mengerut dalam saat mendapati pemandangan yang tak familier. Dinding, furnitur, hingga nuansa interior di sekelilingnya menegaskan bahwa dia kini berada di sebuah kamar asing—sebuah tempat yang sama sekali belum pernah dia pijaki sebelumnya.Adeline terdiam membisu di atas ranjang, mencoba
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







