Mag-log in“Jadi, Asher Lennox tadi membawamu pergi?” Nora menyodorkan secangkir teh hangat madu pada Adeline, menatap sahabatnya itu dengan sorot mata penuh ketenangan yang menyembunyikan kekhawatiran mendalam. Di luar jendela apartemen, deru hujan New York masih menderu lebat, menyisakan sisa-sisa hawa dingin yang menusuk tulang.Mereka baru saja tiba di apartemen setelah perjalanan yang melelahkan di tengah badai. Sebelum naik ke kamar, Nora bahkan harus memastikan Marie langsung membawa anak kembar ke kamar tidur mereka agar anak-anak tidak ikut menyaksikan ketegangan yang merambat sore ini.Beberapa menit sebelumnya, di kamar mandi, keduanya sempat terdiam dalam keheningan yang panjang. Bajunya basah kuyup akibat terjebak guyuran hujan deras saat perjalanan pulang, melekat erat di kulit dan membawa gigil yang tak kunjung reda. Nora bergerak sigap mengambilkan dua helai pakaian ganti yang hangat—piyama katun lembut berwarna pastel—serta sebuah selimut kasmir tebal berukuran besar.Dengan ger
“Jadi, Asher Lennox tadi membawamu pergi?” Nora menyodorkan secangkir teh hangat madu pada Adeline, menatap sahabatnya itu dengan sorot mata penuh ketenangan yang menyembunyikan kekhawatiran mendalam. Di luar jendela apartemen, deru hujan New York masih menderu lebat, menyisakan sisa-sisa hawa dingin yang menusuk tulang.Mereka baru saja tiba di apartemen setelah perjalanan yang melelahkan di tengah badai. Sebelum naik ke kamar, Nora bahkan harus memastikan Marie langsung membawa anak kembar ke kamar tidur mereka agar anak-anak tidak ikut menyaksikan ketegangan yang merambat sore ini.Beberapa menit sebelumnya, di kamar mandi, keduanya sempat terdiam dalam keheningan yang panjang. Bajunya basah kuyup akibat terjebak guyuran hujan deras saat perjalanan pulang, melekat erat di kulit dan membawa gigil yang tak kunjung reda. Nora bergerak sigap mengambilkan dua helai pakaian ganti yang hangat—piyama katun lembut berwarna pastel—serta sebuah selimut kasmir tebal berukuran besar.Dengan gera
Adeline berlari tergesa-gesa meninggalkan lobi apartemen, mengabaikan tatapan heran dari beberapa orang yang berpapasan dengannya di bawah terangnya lampu kota. Tangannya yang gemetar meremas ponselnya, lalu segera mencegat taksi kosong yang kebetulan melintas di tepi jalan raya. Begitu pintu taksi terbuka dan tertutup rapat di belakangnya, pertahanan wanita itu runtuh sepenuhnya. Dia ambruk di kursi belakang, membiarkan isak tangis yang sedari tadi ditahannya pecah begitu saja bersamaan dengan napasnya yang memburu.Saat isak tangisnya begitu pilu, tiba-tiba saja ponsel berdering nyaring, menggetarkan jok mobil. Layar ponsel menyala, menampilkan nama Nora. Adeline lantas mengusap kasar air matanya. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, dia menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Suaranya terdengar begitu serak dan parah.“Adeline? Kau di mana? Kru sudah siap semua, syuting lanjutan akan segera dimulai, tapi kau belum juga muncul,” tanya Nora langsung
Brakkk!Suara hantaman keras itu menggema di lorong kesunyian apartemen. Adeline dihempaskan kasar ke permukaan sofa empuk yang berada di ruang tengah apartemen Asher. Keheningan langsung menyambut mereka—tidak ada suara lain, tidak ada siapa pun di sana. Begitu Adeline berhasil melewati ambang pintu, kenyataan pahit langsung menghantam; hanya ada dirinya dan mantan suami sialan yang dengan lancang kembali menculiknya secara paksa.Detik itu juga, napas Adeline memburu hebat. Dadanya naik-turun menahan sisa-sisa keterkejutan. Sorot matanya terhunus tajam, penuh kebencian membara pada sosok Asher yang kini berdiri tegak di hadapannya. Pria itu tampak tenang di permukaan, tetapi auranya bagai predator yang siap menerkam mangsa tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Asher! Kau sudah tidak waras! Apa maumu, hah?!” bentak Adeline dengan suara bergetar karena amarah yang meluap, sementara napasnya kian memburu. Perlahan, dia mulai bangkit berdiri, menahan rasa nyeri akibat hantaman paksa di sofa
“Asher! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah tidak waras, hah?!” bentak Adeline dengan napas memburu, dan menatap tajam Asher yang mengemudi mobil seperti orang tak memiliki akal sehat. Bayangkan saja, dia sampai harus mencengkeram sabuk pengaman, akibat mantan suaminya itu melaju dengan kecepatan penuh tanpa memikirkan keselamatan.Asher sama sekali tidak menggubris bentakan itu. Pria di balik kemudi tersebut justru semakin menancap gas, seolah sengaja menantang maut. Namun, Adeline tahu betul—meskipun Asher sedang dikuasai amarah, pria itu bukan pengemudi bodoh. Dia sangat menguasai kendali, yang justru membuat Adeline makin frustrasi karena merasa dipermainkan dalam situasi berbahaya ini.Mata Adeline menyalang tajam, dadanya naik-turun menahan gejolak emosi. Seandainya saja bisa, detik ini juga ia akan melompat keluar dari mobil. Namun akal sehatnya menahan, dalam kecepatan setinggi ini, tindakan nekat itu justru menjadi tiket langsung menuju maut. Bukan karena dia tidak takut mati, m
“Nora, aku ingin mencari udara sebentar. Syuting dilanjut sekitar dua jam lagi, kan? Aku masih ada waktu bersantai. Aku ingin jalan-jalan keluar,” kata Adeline sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada waktu luang, dan dia memutuskan ingin keluar mencari udara segar. Siapa tahu, berjalan-jalan sebentar di luar bisa menjernihkan kepalanya dan memberikan ide cemerlang.“Adeline, tapi aku tidak bisa menemanimu sekarang. Sebentar lagi aku ada telepon penting. Ada beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama denganmu, dan aku harus segera bernegosiasi. Kau tahu sendiri, kan? Tidak mungkin aku melepas kesempatan emas ini begitu saja,” ucap Nora sambil menatap layar ponselnya, sangat sadar bahwa sebagai seorang manajer, prioritas utamanya saat ini harus mengurus tawaran kerja sama pada Adeline.Adeline tersenyum maklum. “Kau kerjakan saja pekerjaanmu, Nora. Aku hanya jalan-jalan sebentar. Mungkin nanti aku akan mampir ke minimarket seberang untuk membeli es kri
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m







