Home / Romansa / Saat Aku Melepasmu / Bab 55. Sebuah Sabotase

Share

Bab 55. Sebuah Sabotase

last update publish date: 2025-11-20 04:31:28

Malam makin larut. Asher yang tadi berada di kamar memilih untuk berada di ruang kerjanya. Perkataan Talia tadi berhasil memancing emosi, membuatnya enggan untuk langsung tidur. Setelah tadi dia membersihkan tubuh, dia langsung mendatangi ruang kerjanya yang ada di mansion, dan segera menenggak segelas whisky.

Pria tampan itu berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap langit yang kini sudah dihiasi oleh bulan dan bintang. Kumpulan awan gelap telah menyingkir, dan tak lagi terlihat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
pasti itu ulah si isolasi... wkwk
goodnovel comment avatar
Schaff Som
lanjutannya up kak
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
TETEP aja ga suka sama ASHER, SELINGKUH CELUP SANA SINI MAKING LOVE SAMA TALIA slma ADELINE MASIH JADI ISTRINYA...!!!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 150. Hanya Mimpi Buruk

    Malam membentang. Keheningan menyelimuti kamar apartemen Adeline. Kamar yang bisa dikatakan sederhana, tapi juga tak terlalu kecil. Cukup memberikan kenyamanan dan suasana yang hangat. Dia kini tertidur pulas, setelah kembali dari restoran bersama dengan Nora, dia langsung tidur, agar besok bangun dalam keadaan wajah yang cerah.Namun, sayang, harapan Adeline bisa tidur pulas malah pupus. Tampak Di atas ranjang ukuran king-size yang dibalut seprai sutra itu, kedamaian tergantikan oleh siksaan. Napas Adeline terdengar pendek, meranggas, dan patah-patah. Gelombang mimpi buruk sedang menggeledah alam bawah sadarnya tanpa ampun, menariknya jatuh ke dalam jurang teror yang pekat. Dahi wanita itu berkerut dalam, menahan nyeri tak kasatmata, dihiasi bulir-bulir keringat dingin yang mengilat pucat saat tertimpa bias cahaya bulan dari celah tirai. Kelopak matanya bergerak-gerak gelisah, mengurung ilusi mengerikan yang memilin dadanya hingga terasa begitu sesak, seolah ada tangan tak terlihat y

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 149. Berhasil Mendapatakan Informasi

    Mobil mewah milik Asher membelah dinginnya malam Manhattan, lalu berhenti secara mendadak di bahu jalan Manhattan Bridge yang terisolasi. Di atas struktur baja megah yang membelah Sungai East ini, deru angin malam bertiup kencang dan menggigit, beradu dengan gemuruh samar lalu lintas kota dari kejauhan.Asher keluar dari mobil, melangkah mantap menuju tepi jembatan dan menyandarkan tubuh jangkungnya pada pagar besi yang sedingin es. Kedatangan mereka ke tempat senyap ini bukan tanpa alasan. Di lokasi syuting tadi, Paul sempat menahannya karena situasi terlalu banyak pasang mata. Paul meminta tempat yang benar-benar aman dari jangkauan siapa pun agar informasi tetap terjaga.Asher menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku mantel tebal, menatap lurus pada kegelapan air sungai di bawah sana. Langkah kaki Paul mendekat tergesa-gesa, berhenti tepat di sampingnya seraya mencengkeram erat sebuah dokumen rahasia.“Kau bisa bicara sekarang,” ucap Asher dingin, tak suka basa-basi.Paul menari

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 148. Bisa Kau Bantu Aku?

    “Aku selalu bangga padamu. Aktingmu tadi luar biasa. Menjiwai sekali.” Nora tersenyum sembari menikmati steak yang ada di hadapannya. Dia dan Adeline kini berada di salah satu restoran yang tak terlalu besar di kawasan Brooklyn.Sepulang syuting, Nora mengajak Adeline makan steak di restoran. Marie melapor kembar sudah tidur. Itu kenapa Nora mengajak Adeline mampir ke restoran yang baru buka di kawasan Brooklyn. Melihat iklan di sosial media, cukup mengiyurkan, membuat Nora langsung bergegas ke sana. “Menjadi aktris adalah pekerjaanku, Nora. Bersandiwara dan menyampaikan emosi di depan kamera sudah menjadi bagian dari profesionalitasku. Jadi, aku pasti selalu berusaha memberikan yang maksimal,” jawab Adeline tenang. Tangannya sibuk menggerakkan pisau dan garpu di atas piring, namun potongan steak juicy di hadapannya justru belum tersentuh sama sekali sejak disajikan.Nora menghentikan kunyahannya, lalu menatap pisau dan garpu di tangan Adeline yang hanya bergeser ke kanan dan ke kiri

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 147. Rasa Curiga Yang Tak Bisa Ditutupi

    Plakkk Gema suara benturan keras membelah keheningan set syuting. Tamparan Adeline mendarat telak di pipi kanan Raphael, menyisakan jejak kemerahan yang mencolok di kulit pria itu. Sorot mata Adeline berkilat-kilat, memancarkan amarah yang menggulung dahsyat di balik dadanya yang naik-turun menahan sesak. Gemetar halus di jemarinya bukan sekadar akting, melainkan emosi mentah yang seolah meledak keluar dari relung terdalam.“Berani sekali kau menciumku! Jangan sentuh aku, sialan!” bentak Adeline melengking, menghayati perannya sebagai Clarissa dengan begitu sempurna.Raphael tertegun sebentar, memegangi pipinya yang berdenyut panas. “Clarissa—”“Enough!” potong Adeline cepat, menyapu habis kesempatan Raphael untuk bersuara. “Kau sendiri yang memilih berselingkuh, lalu sekarang dengan tanpa dosa datang seolah semua baik-baik saja? Aku tidak seidiot itu! Kau tahu? Pria sepertimu tidak akan pernah mengerti ketulusan cinta yang sebenarnya. Kau akan tetap menganggap dirimu layak dimaafkan

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 146. Menuntut Kepastian

    “Lepas,” bisik Adeline tegas, menyalurkan peringatan yang penuh ketegangan. Napasnya mulai memburu menahan amarah, tetapi sebisa mungkin dia menjaga kestabilan suaranya agar tidak memancing perhatian kerumunan kru di sekitarnya.Asher justru semakin memperketat cengkeramannya di lengan Adeline, seolah berniat menahannya di sana selamanya. “Aku tidak akan melepasmu,” desisnya tegas, sama sekali tidak bermain-main dengan ucapannya.Nora berdeham keras, merasa bahwa situasi sudah semakin tidak terkendali dan dia harus segera bertindak. “Tuan Lennox, mohon untuk melepaskan tangan Anda dari Adeline. Hari ini Adeline memiliki jadwal pengambilan gambar yang sangat padat. Saya harap Anda bisa bersikap profesional dan mengerti situasi ini.”Asher mendengar teguran dari Nora, tetapi pria itu hanya memberikan lirikan mata yang dingin dan tajam tanpa berniat merespons sepatah kata pun. Dia kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Adeline, mengabaikan keberadaan Nora di samping mereka.“Tuan

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 145. Menghampiri Tanpa Pikir Panjang

    Kembali lagi syuting adalah hal yang tak Adeline sangka akan terjadi dalam waktu dekat. Libur beberapa hari, lebih tepatnya harus istirahat sejenak karena kegilaan Asher, membuat Adeline setidaknya bisa berpikir jernih selama mengurung diri di apartemen. Meski hanya sebentar, tapi paling tidak pikirannya sudah jauh lebih baik. Apalagi sejak di mana kejadian di kedai es krim tempo hari.Satu-satunya hal yang Adeline inginkan saat ini hanyalah menyelesaikan proyek film ini secepat mungkin. Setelah semuanya usai, dia ingin segera terbang kembali ke Paris, melanjutkan hidup dengan tenang dan damai tanpa bayangan Asher yang terus mengintai. Namun, jauh di lubuk hatinya, Adeline ragu apakah semua rencana dan harapannya akan berjalan mulus, atau justru dirinya malah sedang melangkah masuk semakin dalam ke dalam lingkaran api yang siap membakarnya hidup-hidup.Kejadian di kedai es krim itu jelas menyisakan kepedihan dan kecemasan yang terus membayangi setiap detik perjalanannya. Sekalipun Nora

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 7. Sentuhan Liar yang Tak Seharusnya Terjadi

    Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 6. Kesialan Tanpa Habisnya

    Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 5. Berjuang Demi Kembar

    Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 4. Orang yang Sama, Tapi Semua Berubah

    Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status