Mag-log in“Kau yakin ini rambut mereka?” Suara Paul memecah keheningan di area jalan yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Matanya tertuju tajam pada dua kantong plastik kecil bening yang kini berada di tangannya. Di dalamnya, masing-masing berisi beberapa helai rambut. Sebagai asisten pribadi Asher Lennox yang dituntut bekerja tanpa cela, Paul selalu dipenuhi kewaspadaan tinggi. Pria di hadapannya ini memang orang bayaran kebanggaan tuannya—seseorang dengan rekam jejak sempurna setiap kali diterjunkan ke lapangan—tetapi Paul tidak boleh menyisakan ruang sedikit pun untuk kecerobohan.Pria bayaran itu mengangguk yakin tanpa sedikit pun keraguan di matanya. “Dan ini sisir mereka. Tadi aku berhasil mengambil sisir mereka dari tas pengasuh,” jawabnya santai namun tegas, seraya menyerahkan satu plastik bening lagi yang berisi sebuah sisir kecil.Paul terdiam. Jarinya mengusap permukaan plastik bening itu, mengamati baik-baik helai demi helai rambut serta sisir yang berhasil diamankan. Ketega
Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk di antara celah-celah gorden tinggi apartemen yang disewa Adeline selama berada di New York. Sinar terang itu memantul di atas lantai parket yang mengilap, menciptakan pendar keemasan yang menenangkan. Namun, suasana tenang di ruang tengah itu seketika pecah oleh riuk-pikuk langkah kaki kecil yang berlarian penuh energi di atas karpet tipis.“Mommy ... ayolah, kita bosan sekali di dalam terus!” rengek Leo, menarik-narik ujung dress yang dikenakan Adeline dengan raut wajah memelas dan bibir dipanyunkan.“Iya, Mommy ... izinkan kami jalan-jalan sebentar saja ke taman di bawah, ya? Please?” sahut Aurelie tak mau kalah. Gadis kecil itu menangkupkan kedua tangan di depan dada, memamerkan binar mata bulatnya yang amat sulit ditolak oleh siapa pun.Adeline menghentikan gerakan jemarinya yang sedang menyusun cangkir teh di atas meja makan. Dia menghela napas pendek seraya menatap kedua buah hatinya bergantian. Rasa ragu dan cemas seketika menye
Mobil hitam mewah milik Asher meluncur perlahan, membelah hamparan halaman luas kediamannya yang megah di kawasan elite New York. Sorot lampu depannya yang tajam memotong kegelapan malam yang menggigit, menyapu permukaan jalan beraspal mulus sebelum akhirnya mobil itu berhenti sempurna tepat di depan pintu utama yang berdiri kokoh.Di dalam kabin yang senyap, Asher mengembuskan napas berat yang terdengar begitu lelah dan sarat beban. Pria itu menyandarkan kepalanya sejenak di sandaran jok kulit, memejamkan mata rapat-rapat sembari memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Rasa penat menumpuk di kepalanya, menuntut istirahat yang tak kunjung dia dapatkan. Namun, setelah beberapa detik mengumpulkan sisa-sisa tenaga, dia membulatkan tekad dan memilih keluar dari mobilnya.Jujur saja, Asher sama sekali tidak memiliki niat untuk melangkah kembali ke mansion-nya malam ini. Pikiran dan fisiknya sudah benar-benar terkuras habis oleh segala kerumitan serta benang kusut yang menyelimuti hidupnya
Pintu tertutup pelan, menderit halus sebelum akhirnya mengunci rapat dan meredam bisingnya riuh studio utama yang masih dipenuhi teriakan kru serta dentuman peralatan syuting. Seketika, ketenangan dingin membungkus ruang istirahat khusus pemeran utama.Adeline menyandarkan punggungnya pada pintu, melepaskan napas panjang yang sejak tadi terasa bertumpuk dan tertahan di dadanya. Bau aroma terapi lavender yang samar melayang dari diffuser di sudut ruangan, sedikit mengurai ketegangan yang menumpuk di area pelipisnya. Keheningan ini adalah apa yang sangat dia butuhkan setelah berjam-jam tenggelam dalam karakter yang menguras emosi.Belum sempat dia meregangkan jemarinya yang dingin dan kaku akibat pendingin udara studio, engsel pintu kembali terdorong pelan. Tampak Nora masuk dengan langkah cepat dan tergesa, membawakan aura hangat yang seketika menghidupkan suasana ruangan yang kaku. Wajah wanita yang menjabat sebagai manajer sekaligus sahabatnya itu berbinar lega, memancarkan kepuasan
Keheningan pagi di lantai paling atas gedung perkantoran megah itu terasa begitu mencekam. Sinar matahari menerobos celah jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menyoroti garis-garis tegas wajah Asher yang tampak lelah tapi keras.“Tuan, apa Anda yakin dengan keputusan Anda?” tanya Paul menatap tuannya dengan tatapan hati-hati. Dia sudah tiba di kantor jauh lebih pagi dari biasanya. Kesadarannya sebagai orang kepercayaan membuatnya enggan tertinggal langkah, terlebih saat mengetahui bahwa tuannya telah mendarat di ruang kerja jauh sebelum para staf kebersihan mulai beraktivitas. Tak mungkin dia datang belakangan jika tuannya saja sudah terduduk di sana dengan dokumen-dokumen yang berserakan.“Kau masih bertanya?” Asher mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di atas meja, menatap dingin dan tegas ke arah Paul. Pria itu duduk tegap di kursi kebesarannya, memancarkan aura wajah dingin penuh wibawa seperti biasa.Namun, dari jarak sejarak ini, Paul bis
Keheningan yang dingin selalu menjadi ciri khas mansion mewah keluarga Lennox setiap kali Asher tidak berada di rumah. Di dalam ruang keluarga yang serba elegan—dengan lantai marmer mengilap dan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke halaman belakang yang luas—suasana terasa kian mencekam bagi Talia.“Mommy, kenapa Daddy belum juga pulang? Apa Daddy tidak merindukanku?” tanya Alyssa dengan bibir yang menekuk sebal.Gadis kecil itu melipat tangan di depan dada, memasang raut wajah yang menunjukkan kekecewaan mendalam. Jemari mungilnya meremas pinggiran gaun indahnya. Dia sudah cukup lama menunggu sang ayah di ruang tengah, menatap ke arah pintu utama setiap kali mendengar deru mesin kendaraan di luar, tetapi hingga saat ini ayahnya tak kunjung muncul.Talia menatap putrinya dengan tatapan yang berusaha untuk tenang, menelan bulat-bulat rasa panas yang mendadak membakar dadanya. Sebenarnya, bukan hanya Alyssa yang kesal, tapi dia sendiri sangat kesal. Bahkan kekesalannya sudah
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







