LOGINKeesokan paginya, sinar matahari menyelusup malu-malu melalui celah tirai apartemen, membawa kehangatan baru setelah badai semalam menyapu bersih kota. Meja makan itu sudah tertata rapi oleh Marie, sang pengasuh setia yang cekatan menyiapkan segala keperluan pagi.Adeline duduk di kursi utamanya, menemani Leo dan Aurelie yang sedang menikmati sarapan sereal hangat mereka dengan lahap. Di usia mereka yang hampir menginjak empat tahun, si kembar tumbuh menjadi anak-anak yang sangat aktif, cerdas, dan peka terhadap perubahan kecil di sekitar mereka—terutama pada sosok ibu yang sangat mereka cintai.Leo, dengan sepasang mata bulat yang sangat mirip dengan milik Adeline tapi menyuarakan ketajaman yang diam-diam begitu mirip dengan sang ayah, menatap lekat wajah ibunya dari seberang meja. Sendok di tangan bocah laki-laki itu perlahan terhenti, makanannya terabaikan.“Mommy ....” panggil Leo dengan suara kecilnya yang khas anak-anak, memecah keheningan pagi di ruang makan.Adeline, yang seda
Malam merayap lambat di kota New York dengan sisa-sisa keheningan yang begitu pekat. Hujan besar yang sempat melumpuhkan aktivitas kota beberapa jam lalu kini perlahan-lahan surut, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan tetesan air hujan yang masih sesekali jatuh dari ambang jendela kaca. Tampak di dalam apartemen mewah yang hangat, suasana terasa kontras dengan kekacauan cuaca di luar. Namun, keheningan itu sama sekali tidak membawa ketenangan bagi isi kepala Adeline.Dengan langkah pelan, tanpa suara, Adeline mendorong pintu kamar tidur anak kembar yang tidak tertutup rapat. Cahaya lampu tidur temaram berwarna kuning keemasan menyambut retinanya, memperlihatkan pemandangan paling menenangkan di dunia yang selalu berhasil meredakan sesak di dadanya, Aurelie dan Leo, si kembar tengah tidur pulas dalam pelukan mimpi masing-masing.Adeline mendekati ranjang anak-anaknya dengan hati-hati. Da duduk bersimpuh di sisi tempat tidur, menatap wajah polos kedua malaikat kecilnya yang ber
“Jadi, Asher Lennox tadi membawamu pergi?” Nora menyodorkan secangkir teh hangat madu pada Adeline, menatap sahabatnya itu dengan sorot mata penuh ketenangan yang menyembunyikan kekhawatiran mendalam. Di luar jendela apartemen, deru hujan New York masih menderu lebat, menyisakan sisa-sisa hawa dingin yang menusuk tulang.Mereka baru saja tiba di apartemen setelah perjalanan yang melelahkan di tengah badai. Sebelum naik ke kamar, Nora bahkan harus memastikan Marie langsung membawa anak kembar ke kamar tidur mereka agar anak-anak tidak ikut menyaksikan ketegangan yang merambat sore ini.Beberapa menit sebelumnya, di kamar mandi, keduanya sempat terdiam dalam keheningan yang panjang. Bajunya basah kuyup akibat terjebak guyuran hujan deras saat perjalanan pulang, melekat erat di kulit dan membawa gigil yang tak kunjung reda. Nora bergerak sigap mengambilkan dua helai pakaian ganti yang hangat—piyama katun lembut berwarna pastel—serta sebuah selimut kasmir tebal berukuran besar.Dengan gera
Adeline berlari tergesa-gesa meninggalkan lobi apartemen, mengabaikan tatapan heran dari beberapa orang yang berpapasan dengannya di bawah terangnya lampu kota. Tangannya yang gemetar meremas ponselnya, lalu segera mencegat taksi kosong yang kebetulan melintas di tepi jalan raya. Begitu pintu taksi terbuka dan tertutup rapat di belakangnya, pertahanan wanita itu runtuh sepenuhnya. Dia ambruk di kursi belakang, membiarkan isak tangis yang sedari tadi ditahannya pecah begitu saja bersamaan dengan napasnya yang memburu.Saat isak tangisnya begitu pilu, tiba-tiba saja ponsel berdering nyaring, menggetarkan jok mobil. Layar ponsel menyala, menampilkan nama Nora. Adeline lantas mengusap kasar air matanya. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, dia menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Suaranya terdengar begitu serak dan parah.“Adeline? Kau di mana? Kru sudah siap semua, syuting lanjutan akan segera dimulai, tapi kau belum juga muncul,” tanya Nora langsung
Brakkk!Suara hantaman keras itu menggema di lorong kesunyian apartemen. Adeline dihempaskan kasar ke permukaan sofa empuk yang berada di ruang tengah apartemen Asher. Keheningan langsung menyambut mereka—tidak ada suara lain, tidak ada siapa pun di sana. Begitu Adeline berhasil melewati ambang pintu, kenyataan pahit langsung menghantam; hanya ada dirinya dan mantan suami sialan yang dengan lancang kembali menculiknya secara paksa.Detik itu juga, napas Adeline memburu hebat. Dadanya naik-turun menahan sisa-sisa keterkejutan. Sorot matanya terhunus tajam, penuh kebencian membara pada sosok Asher yang kini berdiri tegak di hadapannya. Pria itu tampak tenang di permukaan, tetapi auranya bagai predator yang siap menerkam mangsa tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Asher! Kau sudah tidak waras! Apa maumu, hah?!” bentak Adeline dengan suara bergetar karena amarah yang meluap, sementara napasnya kian memburu. Perlahan, dia mulai bangkit berdiri, menahan rasa nyeri akibat hantaman paksa di sofa
“Asher! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah tidak waras, hah?!” bentak Adeline dengan napas memburu, dan menatap tajam Asher yang mengemudi mobil seperti orang tak memiliki akal sehat. Bayangkan saja, dia sampai harus mencengkeram sabuk pengaman, akibat mantan suaminya itu melaju dengan kecepatan penuh tanpa memikirkan keselamatan.Asher sama sekali tidak menggubris bentakan itu. Pria di balik kemudi tersebut justru semakin menancap gas, seolah sengaja menantang maut. Namun, Adeline tahu betul—meskipun Asher sedang dikuasai amarah, pria itu bukan pengemudi bodoh. Dia sangat menguasai kendali, yang justru membuat Adeline makin frustrasi karena merasa dipermainkan dalam situasi berbahaya ini.Mata Adeline menyalang tajam, dadanya naik-turun menahan gejolak emosi. Seandainya saja bisa, detik ini juga ia akan melompat keluar dari mobil. Namun akal sehatnya menahan, dalam kecepatan setinggi ini, tindakan nekat itu justru menjadi tiket langsung menuju maut. Bukan karena dia tidak takut mati, m
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng







