LOGIN“Bagaimana keadaanmu, Adeline?” tanya Raphael, sembari memberikan teh madu pada Adeline. Pria tampan itu duduk tepat di samping Adeline yang kebetulan sedang berada di bangku kayu taman dekat lokasi syuting, mencoba mencari udara segar demi meredakan kepalanya yang sempat pening. Suasana sore itu cukup tenang, ditemani desir angin yang berembus pelan di antara rerimbunan pohon.Adeline menerima teh madu pemberian Raphael dengan kedua tangan. Uap tipis mengepul dari cangkir tersebut, memberikan kehangatan di tengah cuaca yang mulai mendingin. “Ya, aku sudah membaik, thanks untuk tehnya,” jawabnya hangat dan ramah, mencoba menampilkan gestur senormal mungkin.Raphael menghela napas pelan, tatapannya menyendu penuh perhatian ke arah wanita di sebelah kanannya. “Jujur saja, aku sempat khawatir kemarin. Kau tiba-tiba langsung pergi begitu saja tanpa pamit, dan posisi syuting belum sepenuhnya berakhir.”Adeline meremas cangkir kertas di tangannya, rasa bersalah langsung menyergap seketika.
Suasana di dalam apartemen milik Asher terasa kian pekat dan menyesakkan, berbalut aroma alkohol yang tajam menguar dari botol vodka di atas meja rendah. Cairan bening itu telah berkurang lebih dari setengahnya, menemani dalam keheningan yang tegang. Tampak di sudut ruangan, Paul berdiri dengan postur kaku dan penuh siaga, mengamati setiap gerak-gerik tuannya yang dilanda kegelisahan akut sejak kepulangan mereka dari kunjungan singkat ke taman publik tadi.Asher menuangkan sisa vodka ke dalam gelas kristalnya, meneguknya dalam sekali gerakan tanpa mempedulikan sensasi terbakar yang merambat di kerongkongannya. Gelas itu dia letakkan kembali ke atas meja dengan bantingan kasar yang memecah sunyi. Manik matanya menatap hampa ke dinding seberang, seolah tengah meresapi gejolak batin yang menolak untuk tenang.“Paul,” panggil Asher dengan suara berat nan serak, memecah keheningan yang mencengkeram. “Saat tadi aku menemui kembar di taman tadi, aku merasa ada yang janggal.”Paul mengerjap
“CUT!” Suara seruan Adam memecah keheningan di dalam studio yang dipenuhi lampu sorot panas dan kabel-kabel yang melintang di lantai. Sutradara muda itu menghentikan set yang sejak tadi terus-menerus diulang akibat kesalahan kecil. Tampak Adam berdecak kesal, napasnya memburu frustrasi. Dia bangkit berdiri dari kursi sutradaranya, lalu menatap Adeline dengan tatapan tajam dan penuh tuntutan.“Adeline, fokus. Ada apa denganmu hari ini? Kau masih belum pulih?” keluh Adam dengan nada suara yang sengaja tidak dia rendahkan, membuat beberapa kru yang sibuk di sudut ruangan sontak melirik ke arah mereka.Adeline memejamkan matanya sejenak, berusaha meredam rasa pening yang berdenyut di pelipisnya. Dia mengatur napasnya yang terasa berat, mencoba tetap tenang di bawah tekanan. “Sorry, Adam. Sepertinya aku masih agak kurang enak badan. Tenggorokanku agak sakit sejak pagi,” jawabnya mencari alasan.Adam mengembuskan napas kasar sambil melipat tangan di dada. “Fine, kita ulangi sekali lagi dari
“Aurelie, kau tadi sangat tidak sopan.” Leo menegur saudara kembarnya dengan suara rendah dan tegas, memberikan tatapan dingin di kala dia dan Aurelie baru saja tiba di kamar. Pengasuh mereka sedang berada di luar kamar, meracik dan menyiapkan puding hangat untuk camilan sore. Ya, mereka baru saja kembali dari kunjungan singkat ke taman, dan Leo merasa perlu memberikan teguran pada Aurelie yang tadi sempat-sempatnya menunjukkan sifat ketus dan tidak sopan pada ayah Alyssa.Bibir Aurelie menekuk dalam-dalam di kala sang kakak melayangkan teguran padanya. Gadis kecil cantik itu melipat kedua tangannya di depan dada, dengan raut wajah yang jelas menunjukkan rasa kesal dan tak terima. Sebab, menurut nurani kecilnya, apa yang dia lakukan sama sekali tidak salah.“Aku seperti tadi karena si pirang itu menyebalkan,” ucap Aurelie ketus.Bayang-bayang Alyssa, yang kerap dipanggil Aurelie sebagai sebutan si pirang jelas membuatnya sangat kesal. Bayangkan saja, terakhir Leo dibawa pergi, dan mem
Tanah taman yang basah akibat guyuran hujan semalam memantulkan cahaya matahari pagi yang hangat, menciptakan uap tipis yang menyejukkan. Tampak di dekat area bermain anak-anak, Marie mengawasi Leo dan Aurelie—tengah berdiri sambil melipat tangan di dada, memastikan kedua anak asuhnya tidak berlarian terlalu jauh ke area yang licin.Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh kedatangan sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir agak jauh di sudut jalan. Dari dalam kendaraan berbanderol fantastis itu, Paul menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri sebelum menjalankan instruksi dari tuannya.Dengan langkah terukur dan setelan jas rapi yang melekat sempurna, Paul turun dari mobil. Dia berjalan mendekati area taman, menghampiri Marie dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat panik dan kebingungan.“Permisi, Nyonya—atau Nona?” sapa Paul ramah, sengaja memasang gestur tubuh yang sopan untuk mencuri perhatian Marie. “Maaf mengganggu waktu Anda, tapi bolehkah saya bertanya? Saya sedang
Pikiran Adeline melayang jauh, mengabaikan pemandangan ibu kota yang mulai sibuk bergeser di balik kaca jendela mobil. Wanita itu tak benar-benar fokus. Sepanjang perjalanan menuju lokasi syuting, dia terus melamun, membiarkan bayang-bayang kejadian kemarin malam kembali berputar di kepalanya. Sementara itu, Nora yang sedang memegang kendali setir, beberapa kali melirik Adeline lewat ekor matanya. Tatapan itu menyiratkan pemahaman yang mendalam—Nora sangat tahu persis ada beban berat yang tengah menghimpit pikiran sahabatnya itu.Suara deru mesin mobil berpadu dengan keheningan sesaat di kabin, sebelum akhirnya Nora membuka suara.“Kemarin kau sudah beristirahat cukup lama. Tolong hari ini kau fokus, Adeline. Aku tidak mau sampai orang-orang di lokasi syuting, terutama kru dan sutradara, menyadari ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu,” ucap Nora mengingatkan, nada suaranya tegas tapi menyiratkan kepedulian.Mendengar itu, Adeline menarik napas dalam-dalam, meresapi udara sejuk
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m







