Home / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 23 Rutinitas dan Pertemuan Tak di Sengaja

Share

BAB 23 Rutinitas dan Pertemuan Tak di Sengaja

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-23 23:26:48

Hari-hari Hazel berjalan monoton. Pagi, siang, sore, kelas, tugas dan praktikum. Ia datang paling pagi ke kampus dan pulang saat langit mulai jingga atau gelap. Bukan karena rajin, tapi karena ia tidak ingin terlalu lama berada di kos dengan pikirannya sendiri.

Di ruang kuliah, Hazel duduk di pojok dekat jendela. Tempat yang tidak terlalu mencolok dan cukup jauh dari keramaian. Ia lebih sering menunduk, pura-pura sibuk menulis atau membuka laptop meski kadang layar itu hanya menampilkan halam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 126 Untuk Hazel

    Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkir rumah sakit. Suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat dari sekolah tadi. Leyan yang biasanya paling ribut sekarang duduk diam sambil memeluk tas sekolahnya. Sesekali anak itu melirik ke arah gedung rumah sakit dengan wajah cemas. Sedangkan Liana terlihat menggigit bibir kecilnya pelan sejak tadi. Matanya beberapa kali berkaca-kaca meski dirinya berusaha terlihat kuat. Dan Lintang kecil, anak itu justru paling diam. Tatapannya kosong mengarah keluar jendela mobil. Jemarinya menggenggam kuat tali tas di pangkuannya sampai buku-buku jarinya sedikit memutih. Lintang memperhatikan semuanya diam-diam dari kaca tengah. Melihat reaksi tiga anak itu, dadanya terasa makin berat. Dia sadar Hazel benar-benar pusat dunia mereka. Mobil akhirnya berhenti. “Ayo…” Suara Lintang terdengar pelan sekarang. Jauh lebih lembut dibanding biasanya. Leyan langsung turun cepat lebih dulu. Diikuti Liana, sedangkan Lintang kecil keluar paling

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 125 Karena Ada Ayah

    Pintu ruang rawat sebenarnya sudah tertutup sejak Lintang pamit tadi. Laki-laki itu juga sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari ruangan. Namun tepat saat dirinya hendak benar-benar pergi menuju lift langkahnya perlahan berhenti. Suara tangisan pelan dari dalam ruangan masih samar terdengar. Lintang langsung diam di tempat. Tangannya yang tadi hendak memasukkan ponsel ke saku perlahan turun lagi. Tanpa sadar kakinya justru kembali bergerak pelan mendekati pintu ruang rawat itu. Bukan untuk masuk, hanya dirinya tidak sanggup benar-benar pergi dalam keadaan Hazel seperti itu. Lintang berdiri diam di dekat pintu. Tatapannya kosong mengarah ke lantai koridor rumah sakit. Lalu suara Miranti terdengar lirih dari dalam. “Apa sebenarnya yang terjadi nak…” Beberapa detik kemudian, suara tangis Hazel mulai terdengar pecah. “Aku capek bu…” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang terasa seperti diremas keras. Tangannya perlahan mengepal di samping tubuh. Sedangkan dari dalam suara Ha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 124 Semua Luka

    Suasana di dalam ruang rawat itu perlahan mulai lebih tenang. Meski mata Hazel masih terlihat sembab, napas perempuan itu sudah jauh lebih stabil dibanding tadi. Sedangkan Lintang masih berdiri di dekat ranjang sambil memegang ponsel Hazel di tangannya. Tatapan laki-laki itu sesekali jatuh pada layar ponsel yang terus dipenuhi panggilan dan pesan dari Rehan Pratama. Namun untuk sementara Lintang memilih mengabaikannya dulu. Fokusnya sekarang hanya satu, Hazel. Laki-laki itu akhirnya kembali duduk di kursi dekat ranjang. Tatapannya mengarah pada Hazel yang terlihat masih sangat lelah. “Anak-anak pulang jam berapa?” Hazel yang tadi sedang menunduk perlahan mengangkat wajah. “Jam sepuluh biasanya…” Suaranya masih terdengar pelan dan lemas. Lintang langsung melirik jam di tangannya. Pukul 09.40 pagi. Berarti sekitar dua puluh menit lagi anak-anak akan selesai sekolah. Lintang mengangguk kecil pelan. “Ya udah.” Nada suaranya tetap tenang. “Nanti kalau ibu datang… aku yang jemput anak-

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 123 Password

    Ruangan rawat itu kembali dipenuhi sunyi setelah pertanyaan kecil dari Hazel tadi. Perempuan itu masih menunduk, jemarinya menggenggam pelan ujung selimut rumah sakit di atas tubuhnya. Sedangkan Lintang duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel tanpa berkedip. Dia tau perempuan itu menahan semua lukanya sendiri, sangat teringat jelas dikepalanya. Sulit baginya untuk mengabaikan. Memar di lengan, bekas cengkeraman, luka di leher dan sudut bibir yang pecah. Lintang mengusap wajahnya kasar pelan. Lalu akhirnya menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Hazel…” Suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya terlihat lelah. Sedangkan Lintang menatapnya lurus, sorot matanya serius sekali. “Kamu mau nunggu apa lagi sekarang?” Hazel langsung diam. “Kamu masih mau mikirin apa?” Nada suara Lintang mulai terdengar lebih tegas sekarang. Dia tidak sedang membentak. Namun jelas sekali emosinya sedang ditahan kuat-kuat. “Sem

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 122 Rapuh

    Ruangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi. Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutupinya tadi dibersihkan. Sudut bibirnya juga tampak sedikit bengkak. Sedangkan Lintang berdiri tidak jauh dari ranjang. Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Hazel. Semakin lama dirinya memperhatikan perempuan itu semakin sesak dadanya terasa. Dokter yang tadi menangani Hazel akhirnya menutup map hasil pemeriksaan pelan. Lalu menoleh pada Lintang. “Secara fisik pasien memang kelelahan.” Nada suara dokter itu terdengar tenang dan profesional. “Tensi juga sempat turun cukup j

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 121 Pingsan

    Udara pagi Bandung mulai terasa sedikit hangat. Matahari perlahan naik lebih tinggi meski angin masih cukup sejuk berembus di sekitar jalan dekat sekolah TK itu. Hazel masih duduk cukup lama di bawah pohon dekat taman kecil sekolah. Ponselnya tetap dalam keadaan bisu. Beberapa notifikasi dari Rehan Pratama terus masuk sejak tadi. Namun Hazel bahkan sudah tidak punya tenaga mental untuk membukanya lagi. Tatapannya kosong, pikirannya penuh dan dadanya masih terasa sesak setelah percakapan dan pesan-pesan tadi pagi. Dirinya lelah, benar-benar lelah dan mungkin karena terlalu banyak memikirkan semuanya kepalanya mulai terasa berat sejak tadi. Hazel mengusap pelan pelipisnya, lalu perlahan berdiri dari bangku semen itu. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.47 pagi. Masih cukup lama sebelum jam pulang anak-anaknya nanti. Maka Hazel berniat berjalan ke toko bunga milik Miranti sambil menunggu waktu. Perempuan itu mulai melangkah pelan meninggalkan area sekolah. Tas kecilnya tergantung d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 27 Menyampaikan Kebenaran

    Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 22 Mata yang Memperhatikan

    Keesokan harinya, Kevin sengaja menghindari kantin fakultasnya sendiri, terlalu ramai dan terlalu berisik. Dan akhir-akhir ini, ia semakin malas mendengar obrolan teman-temannya yang entah kenapa selalu berakhir membahas Hazel, tentang tubuhnya, tentang malam itu dan tentang hal-hal yang semakin me

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 21 Di Antara Dua Pria

    Di luar café, malam mulai beranjak. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dan menuju parkiran. Lintang menggenggam tangan Melisa sepanjang jalan menuju mobilnya. Tatapan matanya pada perempuan itu terlihat begitu lembut. “Besok aku jemput kamu ke kampus”, ucap Lintang. Senyum di wajah Melisa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status