LOGINSuasana ruang rawat itu benar-benar berubah jauh lebih hidup sejak kedatangan. Kalau sebelumnya ruangan dipenuhi ketegangan dan percakapan berat, sekarang justru sesekali terdengar tawa kecil. Bahkan Hazel yang tadi masih terlihat pucat dan murung, perlahan mulai lebih rileks. Sedangkan Lintang terlihat semakin pasrah menghadapi tingkah kakaknya. Semakin lama Levian justru semakin nyaman duduk di ruangan itu. Laki-laki tersebut bahkan sudah makan tempe goreng entah berapa potong sambil sesekali mengomentari rasa masakan Miranti. “Ini enak banget tante serius.” Miranti sampai tertawa kecil. “Kalau suka nanti saya bawain lagi.” Levian langsung menunjuk dirinya sendiri penuh semangat. “Nah ini baru tante idaman.” Lintang langsung melirik tajam. “Lo niat pindah keluarga ya?” Levian malah santai menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau makanannya enak kenapa enggak.” Lintang benar-benar menghela napas pasrah sekarang. Sedangkan beberapa detik kemudian, Levian tiba-tiba mendekat sedik
Suasana ruangan yang tadi tenang perlahan berubah lebih hangat setelah Hazel bangun. Miranti langsung duduk lebih dekat di sisi ranjang sambil mengusap pelan kepala Hazel yang masih sedikit berantakan karena tidur. “Ibu bawain sarapan…” Suaranya lembut sekali. Hazel yang masih setengah sadar mengangguk kecil pelan. Tatapannya sesekali bergerak ke arah Lintang yang masih duduk di sofa sambil memegang piring makan. Melihat laki-laki itu masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin Hazel langsung sadar. Lintang benar-benar belum pulang. Belum istirahat dengan layak, bahkan mungkin belum mandi sejak kemarin sore. Hal itu membuat dada Hazel terasa sedikit tidak enak. Sedangkan Lintang sendiri pura-pura biasa saja sambil melanjutkan makan. “Pusingnya masih?” Hazel menggeleng pelan. “Udah agak mendingan…” Baru saja suasana mulai terasa tenang, tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Tok. Tok. Lintang otomatis mengangkat wajah. “Masuk.” Pintu ruangan terbuka, dan detik berikutnya masukl
Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Miranti tadi selesai. Pagi semakin naik, cahaya matahari perlahan memenuhi sudut ruangan. Namun suasana di dalam sana justru terasa semakin berat. Di atas ranjang, Hazel masih tertidur tenang. Perempuan itu sama sekali tidak tahu bahwa masa lalunya sedang dibicarakan begitu dalam beberapa meter dari tempatnya berbaring. Sedangkan di sofa dekat jendela Lintang masih duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke lantai. Setelah semua pengakuan tadi, rasanya dadanya justru semakin sesak. Sekarang tidak ada lagi yang ditutupi dari Miranti. Laki-laki itu akhirnya menarik napas panjang pelan sebelum kembali bicara. “Saya sekarang cuma nunggu kesiapan Hazel.” Tatapannya perlahan bergerak ke arah ranjang. “Kalau dia udah siap semuanya tinggal jalan aja dari sini.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun dari cara laki-laki itu bicara jelas terlihat dirinya sudah mempersiapkan semuanya. Bukti, pengacara, visum dan pengawa
Ruangan VVIP itu terasa begitu sunyi setelah pengakuan Lintang tadi. Cahaya matahari pagi masih masuk samar dari balik tirai putih. Suara monitor detak jantung terdengar pelan di dekat ranjang tempat Hazel tertidur. Sedangkan di sofa dekat jendela Miranti masih duduk membeku. Wajah perempuan paruh baya itu pucat. Tatapannya tidak lepas dari Lintang sedikit pun. Otaknya masih berusaha mencerna semua pengakuan laki-laki di depannya sekarang. Sedangkan Lintang duduk dengan kepala sedikit menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat. Air mata yang tadi jatuh masih menyisakan bekas merah di matanya. Namun laki-laki itu tetap melanjutkan semuanya. Dia sadar kalau pagi ini dirinya berhenti, mungkin dirinya tidak akan pernah punya keberanian lagi untuk bicara. “Kehidupan saya juga gak baik setelah kejadian malam itu…” Suaranya rendah dan serak. Miranti perlahan menahan napas. Sedangkan Lintang kembali bicara sambil menatap kosong ke arah lantai. “Saya juga kehilangan banyak hal.” Tatapann
Ruangan VVIP itu kembali dipenuhi suasana tenang setelah cerita panjang Miranti tadi. Di atas ranjang— Hazel masih tertidur lelap karena pengaruh obat. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Sedangkan di sofa dekat jendela, Lintang duduk diam sambil mendengarkan setiap cerita Miranti tanpa memotong sedikit pun. Tatapan laki-laki itu semakin lama semakin berat. Miranti sendiri sempat diam beberapa detik. Tangannya meremas pelan ujung jilbab yang dikenakannya. Lalu perempuan itu kembali bicara pelan. “Untungnya… orang tua Hazel dari awal memang udah nyiapin semuanya buat masa depan dia.” Lintang mengangkat wajah perlahan. Tatapannya masih fokus mendengarkan. Miranti tersenyum kecil pahit. “Hazel sebenarnya dulu gak tau apa-apa soal itu. Dia pikir setelah orang tuanya meninggal… ya hidupnya biasa aja.” Tatapan perempuan itu bergerak ke arah Hazel di ranjang. “Apalagi waktu Leyan sakit…” Nada suaranya mulai melemah lagi mengingat masa itu. “Ha
Lorong VVIP rumah sakit itu terasa semakin sunyi malam ini. Lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang tubuh Lintang dan Damar yang berdiri saling berhadapan. Di kejauhan hanya terdengar langkah pelan perawat yang sesekali lewat. Sedangkan wajah Lintang terlihat jauh lebih dingin sekarang setelah mendengar semua laporan tentang Rehan Pratama. Tangannya masih memegang map hitam itu erat. Saatembaca isi laporan semakin terasa jelas betapa menjijikkannya laki-laki itu. Memukul istri, memeras uang, berjudi dan menyewa perempuan. Ironisnya orang seperti itu justru terus menghina Hazel seakan perempuan itu paling hina di hidupnya. Lintang akhirnya mengangkat wajah pelan. Tatapannya tajam lurus ke arah Damar. “Pantau terus.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun justru karena terlalu tenang, ucapan itu terasa jauh lebih menyeramkan. Damar langsung mengangguk kecil. “Baik pak.” Lintang melanjutkan lagi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. “Kalau perlu videokan semu
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng







