Share

Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling
Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling
Penulis: Duyla

Bab 1

Penulis: Duyla
Demi menyelamatkan kakaknya yang sakit-sakitan, Valeria Aryaka masuk kamp pelatihan pembunuh Keluarga Linggar secara sukarela, saat dia baru berusia tujuh tahun.

Pada usia sembilan tahun, Valeria sudah mahir menggunakan berbagai jenis senjata.

Pada usia enam belas tahun, dari seratus gadis di kamp pelatihan tersebut, hanya dia satu-satunya yang berhasil keluar hidup-hidup. Valeria pun berhak berdiri di hadapan Calvin Linggar dan menjadi pengawal pribadinya.

Sejak hari itu, Valeria menjadi senjata terbaik milik Calvin.

Kekuasaan Keluarga Linggar begitu rumit, saling terkait dan penuh konflik kepentingan. Demi membantu Calvin merebut kekuasaan dengan sukses, tangan Valeria pun berlumuran darah.

Pada usia delapan belas tahun, dalam sebuah insiden tak terduga, mereka dikepung oleh pengkhianat. Pada saat itulah, Calvin mengadang peluru demi melindungi dan menyelamatkan nyawa Valeria.

Sejak saat itu, Valeria pun mulai jatuh cinta.

Selama tiga tahun terakhir, di siang hari, mereka adalah rekan yang saling mempertaruhkan nyawa. Namun, di malam hari, mereka adalah sepasang kekasih yang terikat dalam gairah yang dalam.

Dalam malam-malam yang tak terhitung jumlahnya, mereka tidur saling berpelukan dan Calvin akan berbisik di telinga Valeria, "Valeria, aku nggak bisa hidup tanpamu."

Valeria benar-benar mengira bahwa mereka akan bersama selamanya.

Hingga pada kejadian kali ini, saat Calvin menjadi incaran musuhnya. Mereka bertarung sengit selama berjam-jam, sampai akhirnya menemukan kesempatan untuk meloloskan diri.

Valeria berjuang mati-matian melindungi Calvin agar bisa pergi. Namun, tepat di saat Calvin memungut pistol yang terjatuh, terdengar suara tembakan.

Tanpa ragu sedikit pun, Valeria pasang badan di depan pria itu. Tiga peluru pun bersarang di perutnya.

Saat maut menjemput, Valeria melihat mata Calvin memerah karena tangis. Dengan suara serak dan tenaga yang tersisa, pria itu meneriakkan namanya di telinga Valeria, "Valeria!"

Valeria menghabiskan sisa tenaga terakhirnya untuk menghapus air mata di sudut mata Calvin, lalu berbisik, "Nggak apa-apa, aku nggak sakit." Sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Entah berapa lama waktu berlalu, Valeria terbangun dari komanya. Yang pertama terlihat oleh matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat.

Valeria merasa seluruh tubuhnya lemas tidak bertenaga. Baru saja Valeria hendak memanggil seseorang, tiba-tiba terdengar suara dingin Calvin dari kejauhan.

"Gimana Tania? Taruhan ini, akulah pemenangnya. Sudah kubilang, meski aku sengaja mengulur waktu lebih lama, aku nggak bakal mati. Valeria pasti akan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkanku."

Tania Damira menyahut dengan suara yang manis, "Oke, karena kamu sudah melakukan apa yang kuminta dan berhasil bertahan hidup, katakan, hadiah apa yang kamu mau?"

"Menurutmu?" Suara pria itu kini terdengar penuh gairah.

Valeria menolehkan kepalanya dengan kaku. Dia pun melihat bayangan pria dan wanita yang saling berpaut di balik tirai tipis.

Valeria ingin angkat bicara, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar.

Ternyata, semua ini hanyalah sebuah taruhan.

Rasa sakitnya sama sekali tidak berharga di mata pria itu. Bahkan, nyawanya juga tega dijadikan Calvin sebagai bahan taruhan!

Melalui tirai tipis itu, Valeria melihat jelas Calvin menindih Tania di bawah tubuhnya dan menciumnya dengan begitu dalam.

"Calvin, dia masih ada di samping kita …."

"Abaikan saja dia." Suara Calvin terdengar berat dan serak. "Memangnya kamu nggak mau?"

Tania tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan lenguhan pelan.

Seketika, seluruh aliran darah Valeria terasa membeku. Detak jantung Valeria seolah terhenti dan otaknya langsung menjadi kosong.

Empat tahun lalu, saat Calvin belum memegang kekuasaan, Tania yang merupakan kekasih masa kecilnya, dipaksa orang tuanya untuk menikah dan pindah ke luar negeri.

Sebulan yang lalu, Tania baru saja bercerai dan kembali ke tanah air.

Valeria tiba-tiba teringat saat pertama kalinya dirinya dan Calvin berhubungan, yang ternyata tepat pada hari pernikahan Tania.

Saat itu, Calvin mabuk berat. Sambil memeluknya, Calvin berbisik di telinga Valeria, "Jangan pergi. Tetaplah di sini menemaniku, ya?"

Valeria tidak mampu menolak dan membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan itu.

Setelah malam penuh gairah itu, Valeria pun resmi menjadi kekasih gelap Calvin yang tidak boleh diketahui orang lain.

Di siang hari, Calvin selalu bersikap dingin kepadanya. Namun, saat malam tiba, Calvin menjadi begitu bergairah hingga nyaris gila, menuntut tanpa henti ….

Hingga detik ini, Valeria baru menyadari bahwa dirinya hanyalah alat pelampiasan bagi Calvin.

Hati Valeria seakan tercabik-cabik hingga tak bersisa.

Setelah mereka selesai bercinta, Valeria mendengar Tania bertanya, "Calvin, karena kamu mau menikahiku, lalu bagaimana dengan Valeria ke depannya?"

Suara Calvin terdengar berat. "Dia sudah menemaniku selama tiga tahun. Aku akan cari cara untuk kasih dia kompensasi. Lagi pula, sebagai pengawal, dia memang sangat berguna. Aku akan biarkan dia tetap berada di sisiku …."

"Valeria punya kepribadian yang keras dan harga diri yang tinggi. Dia kayaknya nggak bakal mau." Tania bertanya dengan nada menyelidik.

"Dia bakalan mau," sahut Calvin dengan nada santai, penuh dengan percaya diri, seakan sudah menguasai penuh wanita itu. "Kakaknya masih ada di tanganku …."

Tatapan mata Valeria menjadi kosong. Tenggorokannya terasa begitu pahit.

Ternyata, kakaknya sendiri juga hanya alat untuk mengendalikan dirinya.

Wajah Valeria menjadi pucat pasi. Jari-jarinya tanpa sadar mengepal erat hingga kuku-kukunya nyaris menancap ke dalam daging. Akan tetapi, Valeria tidak merasakan sakit sedikit pun.

Mendengar gerak-gerik Calvin yang beranjak bangun, Valeria langsung memalingkan wajahnya, berpura-pura masih tertidur lelap.

Setelah beberapa menit berlalu, Valeria pun berakting seolah-olah baru saja terbangun.

Menyadari Valeria sudah membuka mata, Calvin mengusap pipinya dengan telapak tangannya yang besar, lalu bertanya dengan penuh perhatian, "Gimana Valeria? Apa ada bagian yang nggak nyaman?"

Valeria menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tenang.

"Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Kamu boleh minta apa pun yang kamu mau …."

Calvin mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sorot matanya memancarkan rasa iba.

Valeria pun bertanya, "Apa pun boleh?"

"Tentu saja."

"Aku mau ketemu kakakku, bolehkah?"

Setelah Valeria selesai bicara, kilatan emosi yang rumit melintas di mata Calvin. Calvin terdiam sejenak, lalu menarik kembali tangannya.

Valeria dengan peka menangkap ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa?"

Tania yang berdiri di samping tiba-tiba angkat bicara. "Belakangan ini, Devan menemani kakakku berlibur. Baru bisa pulang sebulan lagi."

Mata Valeria langsung melotot. Dia berusaha keras untuk bangkit berdiri. "Apa?"

Di seluruh Kota Jalida, siapa yang tidak tahu bahwa Felix Damira, kakak Tania, adalah seorang pria yang menyimpang?

Felix tidak hanya menyukai laki-laki maupun perempuan, tetapi juga gemar menyiksa orang. Siapa pun yang pernah naik ke tempat tidurnya, jika tidak mati, pasti akan terluka parah.

Devan terlahir dengan penyakit genetik dan fisiknya selalu lemah. Membayangkan apa yang mungkin menimpa kakaknya, Valeria pun tidak kuasa menahan tangis hingga matanya memerah.

"Calvin, barusan kamu janji padaku kalau aku boleh minta apa pun! Aku mau kamu kirim orang untuk menjemput kakakku pulang sekarang juga!"

Belum sempat Calvin bicara, Tania sudah terlebih dahulu menyela, "Valeria, perhatikan posisimu! Kamu itu cuma pengawal. Berani-beraninya mengajukan tuntutan pada majikanmu?"

"Kakakmu yang penyakitan itu sudah menghabiskan begitu banyak uang Keluarga Linggar. Apa salahnya dia pergi menemani kakakku bermain sebentar? Kakakku nggak bakal berbuat macam-macam padanya."

Suara Valeria terdengar sedikit bergetar. "Tania, itu kakakku! Bukan mainan yang bisa kalian tukar-tukar sesuka hati!"

Calvin memicingkan matanya, menatap Valeria dengan tatapan yang dalam. Kemudian, dia berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah, "Cukup! Masalah ini nggak perlu dibahas lagi. Kamu dan Devan orang-orang Keluarga Linggar. Keputusanku bukan urusanmu."

"Fokuslah pada pemulihanmu dulu. Setelah kamu sembuh, baru ajukan permintaan lain padaku." Setelah mengatakan itu, Calvin langsung membawa Tania pergi bersamanya.

Pria itu jelas-jelas tahu bahwa Devan adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki Valeria di dunia ini!

Sadar jika memohon kepada mereka tidak akan ada gunanya, Valeria pun menekan rasa panik di hatinya.

Setelah mereka pergi, Valeria menghubungi sebuah nomor. "Kamu pernah bilang kalau kamu berutang nyawa padaku. Aku ingin memintamu menyelamatkan kakakku dari tangan Felix, lalu bantu kami pergi dari Keluarga Linggar."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 21

    Di kediaman lama Keluarga Aryaka.Valeria menyeduh secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Dia berharap kepulan uapnya bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya.Baru saja, saat dia melihat Calvin, bayangan kematian tragis kakaknya langsung terlintas di depan mata.Kenangan masa lalu itu masih terekam jelas, menyisakan kebencian yang sulit hilang di dasar hati Valeria."Valeria, Paman bilang Bi Salma baru saja membuat kue stroberi. Kamu mau coba sedikit?"Valeria tidak menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Bayu, menurutmu aku ini begitu nggak berguna, ya? Jelas-jelas dialah pelaku utama yang menyebabkan kematian kakakku. Tapi, waktu melihatnya, instingku justru ingin bersembunyi.""Selama sepuluh tahun terakhir, tiap hari aku dicuci otak untuk setia kepadanya. Sampai hari ini pun, tubuhku masih menyisakan insting-insting itu ….""Dulu, aku benar-benar mengira kalau di mana pun ada dia, di situlah rumahku."Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, Bay

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 20

    Calvin menahan beberapa hantaman tongkat itu tanpa mengelak sedikit pun dan tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.Para pengawal di sampingnya berniat maju untuk melindunginya. Akan tetapi, Calvin menghentikan mereka. "Kalian semua berdiri di sana. Jangan ada yang bergerak!"Calvin tahu betul bahwa tanpa pengampunan dari Pak Teja, dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Valeria.Dialah yang sudah menyebabkan kematian Devan dan dia juga yang dengan tangannya sendiri melepaskan tembakan yang nyaris menewaskan Valeria.Jangankan dipukuli, sekalipun harus menghadapi penderitaan atau bahaya ekstrem demi menebus kesalahan, Calvin akan menjalaninya dengan rela hati.Pak Teja memukul belasan kali hingga dia terengah-engah karena kelelahan."Pergi kamu dari sini!""Bajingan sepertimu nggak pantas menginjakkan kaki di kediaman Keluarga Aryaka!"Ekspresi wajah Calvin tidak berubah sedikit pun. Dengan suara gedebuk, Calvin langsung berlutut di tanah."Semua ini salahku! Selama Anda mengizin

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 19

    Vila Keluarga Linggar.Tania dibuang ke area penangkaran anjing selama tiga hari. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bergerak sedikit saja sudah cukup untuk membuat Tania merasakan sakit yang menyayat ke sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu begitu hebat hingga Tania tidak sanggup lagi meneteskan air mata. Dia hanya bisa memohon dengan suara lirih, "Calvin, aku benar-benar menyadari kesalahanku …."Suara Calvin terdengar dingin. "Cukup. Lemparkan dia ke kamp pelatihan. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.""Jangan! Tolong jangan!"Tania tahu betapa mengerikannya kamp pelatihan Keluarga Linggar. Dia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak histeris.Dibandingkan kamp pelatihan itu, Tania jauh lebih memilih dibuang ke penangkaran anjing."Tahu rasanya takut sekarang?" Calvin menatap Tania dengan wajah tanpa ekspresi. "Valeria masuk ke kamp itu saat berusia tujuh tahun. Begitu banyak bahaya yang sudah dia lalui hingga akhirnya bisa berdiri hidup-hidup di hadapanku. Kamulah yang su

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 18

    Kota Padma.Saat ini, Valeria sedang menatap hidangan dan suplemen makanan di atas meja makan. Dia terdiam lama tanpa menggerakkan sendoknya.Sejak dia diselamatkan oleh Bayu Yoganta dan dibawa kembali ke kediaman Keluarga Yoganta, pria itu tidak hanya mendatangkan spesialis untuk memeriksa kesehatannya, tetapi juga mengutus seorang ahli gizi untuk memulihkan kondisi fisiknya.Satu bulan berlalu. Tubuh Valeria sudah pulih dengan sangat baik dan berat badannya juga bertambah cukup banyak."Bayu, aku sudah nggak sanggup makan lagi."Bayu mengambil sayuran dan meletakkannya ke dalam piring Valeria. "Menurutku, kamu masih terlalu kurus. Makan yang banyak."Valeria teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, pria di hadapannya yang kini tampak tenang dan elegan ini masih seorang remaja, yang tanpa sengaja dia selamatkan.Waktu itu, usia Bayu mungkin baru sekitar sepuluh tahun. Dia terluka parah dan terbaring di tengah guyuran hujan, tampak seperti orang yang hampir mati.Saat pasu

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 17

    Mata Calvin merah padam. Tangannya mencengkeram erat buku catatan itu dan menggumamkan nama "Valeria" berulang kali.Setiap kata di dalamnya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya sedikit demi sedikit dan mencabik-cabik seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping.Wajah keras kepala Valeria terbayang di depan mata Calvin, menyebabkan rasa sakit yang membuat Calvin sesak napas.Gadis itu selalu menjadi yang pertama melindunginya di saat bahaya dan tetap diam meski dirinya sendiri terluka.Saat dipersulit oleh Tania, Valeria menerima semua tatapan dingin dan ejekan itu tanpa mau membela diri.Valeria mencintainya.Valeria benar-benar mencintainya.Namun, pria itu?Dialah yang dengan tangannya sendiri mendorong Valeria ke dalam kehancuran ….Calvin berlutut di lantai, menangis hingga hatinya terasa hancur berkeping-keping.Hingga embusan angin sepoi-sepoi lewat, barulah Calvin tersadar sepenuhnya.Calvin membuka mata, sorot matanya kini sedingin es.Dia akan membuat Tania men

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 16

    Di Kantor Polisi.Wajah Calvin tampak pucat pasi. Ujung jarinya gemetar hebat.Calvin memejamkan matanya sejenak, lalu menyibak kain putih yang menutupi ranjang jenazah.Valeria terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya tampak pucat dan membengkak karena terendam air laut.Namun, hanya dengan sekali lihat, Calvin langsung bisa mengenali bahwa itu adalah Valeria.Pergelangan tangan Valeria tampak ramping dan pucat, masih menyisakan bekas luka kemerahan akibat jeratan tali.Calvin teringat hari itu. Dia sendirilah yang memerintahkan orang-orang untuk menggantung Valeria di tepi laut semalaman ….Tato bertuliskan CL di pergelangan tangan itu seakan sedang mentertawakannya.Mata Calvin memerah, ujung jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valeria.Dahulu, dia memaksa Valeria mentato inisial namanya. Calvin menganggap bahwa dengan cara itu, Valeria akan menjadi miliknya seutuhnya.Tidak akan ada yang bisa merebut Valeria.Setetes air mata jatuh, membasahi punggung tangan Valeria.C

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 7

    Calvin memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Valeria, lalu memerintahkan agar Valeria diawasi dengan ketat.Tania terbangun dari pingsannya. Dia merasa terkejut sekaligus ketakutan. "Calvin, dia ingin membunuhku!"Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa,

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 6

    Tengah malam, angin dingin di tepi pantai berembus makin kencang, membuat tali yang mengikat Valeria nyaris putus ….Setelah semalam berlalu, barulah Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Valeria ke atas.Valeria dilemparkan ke kaki Calvin. Calvin berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya ta

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 5

    Saat Valeria terbangun dan mencium bau disinfektan, rasa sakit yang hebat di lengannya langsung membuatnya tersadar sepenuhnya.Detik berikutnya, Valeria mendengar suara Tania. "Kalau bukan karena aku ingin pergi ke sana, Valeria nggak akan terluka parah begini …."Calvin menenangkan Tania dengan le

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 4

    Ketika Valeria dibawa ke rumah sakit dan melihat betapa hancurnya hati Calvin saat mengkhawatirkan Tania, Valeria pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis.Calvin menatap Valeria dengan tatapan yang dingin. "Minta maaf.""Bukan aku yang melakukannya. Calvin, kamu benar-benar nggak bis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status