MasukSky Eirlys terbiasa diabaikan keluarganya. Di mata Sang Papa, adiknya selalu lebih diprioritaskan. Di mata Sang tunangan, Sky bahkan tidak cukup penting dibandingkan pekerjaannya. Sampai suatu ketika, sebuah kejadian hampir merenggut nyawanya. Saat orang-orang yang Sky harapkan tidak datang, Rex Vaughn, pengawal pribadi yang ditugaskan untuk menjaganya, menjadi orang yang menyelamatkannya. Kehadiran Rex perlahan membuat Sky merasa dihargai, didengarkan, dan dianggap penting. Lantas, apa yang akan terjadi jika perhatian yang selama ini Sky cari dari keluarganya dan calon suaminya malah dia dapatkan dari pria yang baru hadir dalam hidupnya tanpa permisi?
Lihat lebih banyak“Okay, guys …. Cukup buat hari ini. Thank you sudah bersedia jadi bridesmaid Sky Eirlys, yaa!”
Di ujung kalimatnya, Sky tak lupa memamerkan senyum anggunnya ke arah kamera yang masih merekamnya, sementara di belakangnya, ketujuh temannya turut melambai ke arah kamera.
Sky kemudian maju untuk mematikan rekaman video.
“Akhirnya selesai juga, ya! Coba lihat videonya atau kirim foto-fotonya di grup.”
Formasi yang mengelilingi Sky akhirnya membubarkan diri. Sebagian dari mereka langsung turun dari ranjang tidur untuk mengambil ponsel masing-masing, sebagiannya lagi tampak melepas aksesori dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Suasana heboh dan ramai sebelumnya langsung berubah hening. Senyum Sky yang sebelumnya merekah lebar perlahan luntur dari bibirnya seiring kepergian teman-temannya satu per satu.
Sejak tiga jam yang lalu, senyum itu sama sekali tidak lepas dari bibirnya, memastikan dirinya terlihat bahagia di depan kamera. Ingin memperlihatkan bahwa persiapan pernikahannya sempurna kepada para pengikutnya di sosial media.
Hidup mewah dan penuh cinta. Itulah yang ditunjukkan oleh Sky pada orang-orang di luaran sana.
Nyatanya….
“Kenapa calon pengantin justru terlihat sedih begitu?”
Sky berkedip sekali, lalu menoleh pada temannya. Auryn, salah satu teman influencernya. Berbeda dengan kebanyakan teman influencernya yang lain, hubungan keduanya bisa dibilang dekat.
Melihat kekhawatiran temannya, Sky kembali menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum kecil.
Dia membalas sesantai mungkin, “Enggak kok!” bantahnya sambil mengibaskan satu tangan ke udara. “Mana ada sedih? Aku senang sekali malam ini.”
“Jangan bohong.” Auryn merengut. “Kalau ada sesuatu yang terjadi, jangan ragu untuk cerita, Sky. Aku nggak mau kamu stress selama mempersiapkan pernikahanmu.”
Mendengar perhatian kecil itu, Sky sempat terdiam.
“Ada apa, Sky?”
Sesaat setelah menghela napas dan mengembuskannya, Sky pun berkata, “Semua persiapanku sebenarnya hampir selesai. Tapi, ada beberapa hal yang belum disiapkan, seperti fitting gaun dan … uhm, foto prewedding.”
“Lho? Kenapa yang itu justru belum?” Auryn terdengar terkejut. “Masa kamu sudah menyiapkan kain buat para bridesmaid, tapi kamu sebagai pengantinnya belum fitting gaun?”
Sky tahu, kedengarannya memang agak lain.
Ia sendiri tahu, Baik fitting gaun maupun foto prewedding seharusnya menjadi salah satu hal yang sudah dilakukan jauh-jauh hari--bahkan di awal proses menyiapkan pernikahan. Apalagi waktu pernikahan yang tersisa hanya kurang lebih satu bulan lagi.
Tapi itu di luar kuasanya.
“Aric masih sibuk dengan pekerjaannya,” ucap Sky. “Aku masih menunggu waktu luangnya.”
“Hal yang seperti ini nggak seharusnya ditunggu luang. Justru, seharusnya Aric meluangkan waktunya buatmu. Kan kalian mau menikah!”
“Kalau bisa, Aric juga akan melakukan itu, Ryn. Tapi urusan kantor–”
“Menurutku, itu nggak bisa dijadikan alasan!”
Sky menepuk lengan Auryn beberapa kali sembari tersenyum, menenangkan temannya itu.
Auryn menghela napas. “Aku tahu kamu dijodohkan dengan Aric, tapi bukan berarti usaha yang dikeluarkan lebih kecil. Kalau sekarang aja Aric nggak ada bahkan susah meluangkan waktu untukmu, bagaimana nanti setelah menikah?”
Perkataan itu terngiang di kepala Sky, bahkan hingga akhirnya Auryn izin pulang. Bahkan sampai Sky dalam perjalanan ke rumah sakit.
Sejak dua hari terakhir, sebagian waktunya memang lebih banyak dihabiskan untuk menemani Jiya yang sedang menjalani perawatan. Adik perempuan Sky yang terpaut usia dua tahun lebih muda darinya itu sedang sakit.
Sebelum pergi menghadiri acara malam ini, Sky meminta asisten pribadinya untuk tetap berada di rumah sakit dan menemani Jiya. Dia tidak ingin meninggalkan adiknya begitu saja. Kalau sampai ibu dan ayahnya tahu Sky lalai dengan tanggung jawabnya, yang ada hanya akan menambah beban masalah untuk dirinya sendiri.
Namun, begitu sampai di depan kamar rawat inap VIP Jiya, langkah Sky terhenti sebelum membuka pintu. Pintu itu sedikit terbuka sehingga membuat suara dari dalam terdengar cukup jelas.
“Aku makan sendiri saja, Kak. Kalau Kak Sky tiba-tiba datang dan melihat Kakak menyuapiku, nanti yang ada dia bisa salah paham.”
Mendengar suara adik perempuannya dari balik pintu, tangan Sky yang hendak meraih gagang pintu tertahan di udara, terlebih setelah disusul mendengar suara pria yang menyahuti ucapan Jiya dari dalam.
“Salah paham bagaimana? Aku cuma menyuapimu kok.”
Sky sangat familier dengan suara pria tersebut. Tanpa memastikan melihat wajah lebih dulu, Sky sangat sangat mengenalinya.
“Kak Sky nanti cemburu, Kak Aric.”
Begitu nama pria itu disebut, Sky tidak segera membuka pintu dan melihat apa yang terjadi di dalam. Sekon berikutnya, dia masih berdiri diam di depan ruangan dengan ekspresi wajah yang suram.
Benar. Pria itu Aric. Sky tidak mungkin salah mengenali suara calon suaminya sendiri.
Aric Adam mengaku pada Sky bahwa dia sedang sibuk.
Bahkan sejak kemarin, Aric sulit memberinya kabar. Pesan-pesan Sky tidak dibalas, teleponnya pun tidak diangkat. Sky sampai harus menghubungi sekretaris Aric lebih dulu sebelum akhinya bisa bicara dengan pria itu. Ketika Sky mengajak Aric untuk fiting gaun dan foto prewedding mereka, pria tersebut selalu mengatakan sedang sibuk dan meminta Sky menunggu.
Namun, sekarang … kenapa suara Aric terdengar dari dalam kamar rawat inap Jiya?
Sky memejamkan matanya sebentar, mencoba menenangkan isi pikirannya yang mulai ribut. Apalagi ucapan salah satu temannya tadi kembali terlintas di kepalanya.
“Kalau sekarang aja Aric nggak ada bahkan susah meluangkan waktu untukmu, bagaimana nanti setelah menikah?”
Sky ingin menepis ucapan tersebut. Tapi, bagaimana mungkin Sky tidak memikirkannya ketika sekarang dia mendapati Aric malah datang menjenguk Jiya?
Ditambah, ini bukan yang pertama kali.
Maksud Sky, semenjak tiga tahun lalu dia dan Aric bertunangan, pria itu memang menjadi lebih dekat dengan anggota keluarganya. Mengetahui kondisi tubuh Jiya, adik tiri Sky yang bertubuh lemah dan tak jarang harus menjalani rawat inap di rumah sakit membuat Aric sering datang untuk menjenguknya.
Dan itu beberapa kali terjadi di belakang, tanpa sepengetahuan Sky.
Pernah waktu itu Sky menanyakan alasan Aric datang menjenguk Jiya tanpa memberitahunya lebih dulu dan begini jawaban Aric, “Bukankah sudah bagus aku datang menjenguk adikmu? Kalau kita menikah nanti, Jiya juga akan jadi adikku, Sky. Berhenti menanyakan sesuatu yang tidak perlu.”
Sky masih mengingat jelas jawaban itu sampai sekarang.
Fitting gaun pernikahan mereka sudah beberapa kali tertunda karena Aric tidak memiliki waktu. Foto prewedding yang seharusnya mereka lakukan bersama juga belum terlaksana karena alasan yang sama: sibuk, sibuk, dan selalu sibuk.
Padahal waktu pernikahan mereka tinggal sebentar lagi. Sky tidak meminta Aric menghabiskan waktu seharian bersamanya. Dia hanya membutuhkan beberapa jam untuk fitting gaun dan melakukan sesi foto yang nantinya akan menjadi kenangan pernikahan mereka.
Hanya saja … untuk melakukan hal sesederhana itu saja Aric tidak bisa?
Dulu Sky pernah menjalani rawat inap cukup lama karena kelelahan bekerja. Tapi, alih-alih datang menjenguknya atau menanyakan kondisinya, Aric malah memarahinya lewat sambungan telepon. Pria itu bilang, “Salahmu sendiri yang keras kepala bekerja sampai tidak tahu waktu istirahat.”
Mungkin benar. Bisa saja Sky salah paham kalau sudah seperti ini.
Namun, apakah Sky akan mengamuk atau membuat drama?
Tanpa membuang waktu lagi, Sky mendorong pintu secara perlahan dan melangkah masuk tanpa suara. Napasnya tercekat saat mendapati pemandangan di hadapannya.
Aric tengah menyeka sudut bibir Jiya dengan ibu jarinya, sementara ada garpu yang menyelip di tangan pria itu.
“K–Kak Sky!”
Jiya tersentak saat melihat kedatangan kakaknya. Gadis itu buru-buru menepis tangan Aric dari bibirnya lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam seakan takut untuk sekadar menatap Sky.
“Oh, sudah selesai dengan acara bridal showermu, Sky?” Pria itu menatapnya dengan tenang seakan-akan tidak ada yang aneh dengan situasi mereka saat ini.
“Rupanya kamu di sini.” Sky meresponsnya dengan datar.
Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak ada tanda-tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan orang lain selain Aric dan Jiya.
“Di mana asistenku?” tanya Sky sambil menatap Aric dan Jiya bergantian.
“Aku menyuruhnya pulang.”
Jawaban Aric saat itu membuat Sky memicingkan matanya, menatap Aric tidak percaya. “Kenapa?”
Aric tampak mengedikkan bahunya dengan santai. “Ya, karena aku di sini, aku menyuruh asistenmu untuk pulang.”
Tatapan tajam pria itu menatap lurus-lurus Sky. “Kakak macam apa yang tetap lebih memilih pergi merayakan acara bersama teman-temannya dibandingkan menemani adiknya yang sakit?”
“Nona Sky.”Dalam mimpinya, samar-samar telinga Sky berdenging mendengar suara seorang pria yang berkali-kali memanggil namanya.Sky kesulitan membuka mata. Kelopak matanya terasa berat seakan ditimpa batu besar. Namun, Sky tampak memaksakan diri untuk melihat sosok yang sejak tadi memanggilnya.Saat mata monolidnya terbuka sedikit, Sky dengan pandangannya yang buram menangkap bayangan seseorang yang berlutut di hadapannya. Dan Sky bisa merasakan jari-jari panjang itu menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.“Nona Sky, bangun.”Namun, sebelum Sky sempat melihat wajah pria tersebut dengan jelas, kesadarannya lebih dulu tenggelam dalam kegelapan. Sky … jatuh tidak sadarkan diri.“Sky.”“Sky.”Suara seseorang terdengar di telinga Sky, memanggil-manggil namanya hingga gadis itu sontak membuka mata monolidnya lebar-lebar.Napasnya terdengar berat.Sekon berikutnya, samar-samar … bayangan seorang pria yang berlutut memanggil namanya masih membekas di kepala Sky.Sambil mengernyitkan dahi, gadis
“Cepat singkirkan dia!!”Sekon berikutnya, tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari kegelapan. Disusul suara benturan ringan dan erangan pendek yang terdengar tipis di telinga.BRUKPria penculik pertama refleks menoleh. Begitu pula Sky.Mata monolidnya membesar ketika tahu-tahu saja mendapati pria yang bicara barusan, yang sejak tadi berjaga di sekitar mereka sudah tergeletak tak bergerak di lantai.“Sial!” Pria itu mengumpat.Pandangannya bergantian menatap ke arah rekannya yang tumbang dan ke sekitar dengan perasaan waspada. Dia menebak, dalam hitungan detik, siapa pun yang baru melumpuhkan rekannya itu akan segera mengejarnya.Tanpa membuang waktu lagi, pria tersebut akhirnya mendorong tubuh Sky ke depan.Ya, ke arah dalam kolam renang.Mata monolid Sky terbelalak.“Berbahagialah di surga, Sky.”BYURRRTubuh Sky jatuh ke dalam kolam.Air dingin langsung membungkus seluruh tubuhnya yang terus tenggelam.Tangan dan kakinya yang terikat membuat Sky tidak mampu mengendalikan tubuh
Setelah Sky membaca pesan itu sebanyak dua kali, mendadak perasaannya terasa kosong.Dia ditinggalkan sendiri …?Setelah dua hari menjagai Jiya siang dan malam, dirinya sama sekali tidak mendapatkan apresiasi?Segera Sky menurunkan ponselnya dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.Dia tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh. Karena semakin jauh Sky memikirkannya, semakin banyak hal yang membuatnya kembali teringat pada bagaimana perlakukan keluarganya yang selalu lebih dulu memberikan perhatian pada Jiya.Kondisi Jiya yang lemah membuat Papa dan Mama Erna lebih berhati-hati padanya. Sementara Sky yang dianggap sehat dan mampu mengurus dirinya sendiri sering kali dibiarkan begitu saja.Dengan pola asuh demikian, Sky terbiasa berusaha mandiri agar orang tuanya tidak kelelahan karena harus mengurus dirinya juga. Mungkin, oleh karena itulah, dari sudut pandang mereka, Sky memang terlihat seperti seseorang yang tidak membutuhkan peran orang tua.Namun … bukankah Sky juga tetap anak mereka
“Kak Aric, tolong jangan marah ke Kak Sky.”Belum sempat Sky menyahut, Jiya langsung menyambar.Sekilas Jiya melempar pandangannya ke arah Sky sesaat sebelum beralih menatap Aric. “Seperti yang sempat kuceritakan tadi, Kak Sky sudah dua hari kemarin menjagaku. Rasanya Kak Aric keterlaluan kalau sampai mengatakan Kak Sky tega meninggalkanku cuma karena pergi bersenang-senang sebentar.”Jiya tersenyum lemah sebelum melanjutkan, “Lagi pula, itu acara bridal shower untuk pernikahan kalian. Kalau sampai Kak Sky tidak jadi pergi cuma karena harus menemaniku di sini, aku merasa sudah berbuat jahat padanya.”Mendengar pembelaan yang diberikan Jiya, Sky menoleh pada sang adik.Mereka sebenarnya tidak cukup dekat sebagai kakak dan adik pada umumnya. Keduanya berbagi ayah yang sama, tetapi lahir dari rahim ibu yang berbeda, sehingga meski tumbuh sedari kecil tidak membuat keduanya benar-benar berkembang menjadi kedekatan seperti saudara pada umumnya.Akan tetapi, meski begitu, Jiya cukup sering












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.