แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Rain
Baskara meletakkan kain itu, kemudian setengah berjongkok di depanku, tangannya terulur.

“Tanganmu nggak apa-apa, ‘kan? Biar aku lihat.”

Refleks, aku menarik tanganku. Tangannya hanya menyentuh udara kosong.

Baskara terkejut menatapku. Ada getaran emosi aneh yang menggantung di udara di antara kami. Hanya tersisa sembilan hari lagi sebelum aku dan Dimas pergi.

Ya, sembilan hari lagi.

...

“Ayah?”

Suara Dimas terdengar cemas.

Aku bangkit perlahan, menggendongnya yang masih bertelanjang kaki, lalu membawanya ke ranjang.

“Dimas, tidur lagi saja,” ucapku lembut.

Dimas menggenggam tanganku tanpa bicara. Hanya mengangguk, lalu memejamkan mata.

Baskara melangkah masuk ke kamar, sorot matanya campur aduk.

“Tadi… aku nggak sengaja,” ucapnya.

“Ya,” ucapku pelan sambil menepuk-nepuk selimut dengan lembut.

Dia terdiam sejenak, lalu duduk di sampingku. Wajah tegasnya perlahan melunak.

“Aku nggak melarang Dimas pakai baju bagus. Hanya saja, dia ‘kan masih kecil… pertumbuhannya cepat. Jadi, nggak perlu mubazir...”

Tanganku berhenti seketika. Aku tak kuasa menahan diri memotong ucapannya.

“Oh, kalau beli krim perawatan kulit buat Helena nggak sia-sia, gitu?”

Baskara langsung bangkit, seolah seseorang sudah menusuk hatinya.

“Mustika! Kamu… buntuti aku?”

“Pantas saja sikapmu aneh hari ini. Ternyata cuma karena sekotak krim perawatan kulit!”

“Dasar wanita desa! Semua dipermasalahkan!”

Aku pun menoleh, senyum sinis terpancar di wajahku. Aku bersiap membalas, tapi… sudut mataku menangkap bulu mata Dimas bergetar.

Dalam sekejap, seluruh amarah dan kekesalanku menguap, layaknya balon udara yang pecah.

“Keluar! Aku nggak mau kita bertengkar!”

Baskara mendengus dingin, menahan amarah yang membara. Dia berbalik dan pergi.

Aku bersandar di ujung ranjang, menahan isak yang ingin lepas, sambil berbisik lembut menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anakku.

Enam hari lagi… aku pasti akan membawa Dimas pulang ke desa.

Beberapa hari kemudian, Baskara sama sekali tak pulang. Aku merasa lega. Selain membeli beberapa barang untuk dibawa pulang ke desa, kuhabiskan waktuku sepenuhnya untuk menjahit pakaian anakku.

Tiga hari sebelum melapor ke kantor desa, aku akhirnya selesai menjahit.

Dimas berbaring dipangkuanku, matanya berbinar-binar.

“Mama, bajunya bagus sekali!”

Aku tersenyum, membantunya berdiri.

“Baguslah kalau Dimas suka. Akhirnya, Dimas kecilku punya baju baru,” ucapku lembut.

Sambil mengatakannya, aku membuka pakaian itu dan membantunya memakainya. Dimas menyentuh baju itu dengan hati-hati, lalu tersenyum, memperlihatkan satu gigi taringnya.

“Ma… Mama begitu baik sama Dimas. Dimas akan selalu ingat ini.”

Saat kami asik mengobrol dan bercanda, Baskara tiba-tiba pulang. Helena mengikutinya di belakang.

Melihat kami berdua, ekspresi wanita itu tampak aneh.

Helena melangkah maju, tersenyum manis sambil menggandeng lengan Baskara.

“Baskara, siapa mereka?”

Dimas mencengkeram celanaku, matanya menatap Baskara penuh harap. Namun… pria itu justru terdiam, wajahnya diliputi keraguan.

“Kerabatku dari desa,” jawab Baskara singkat.

Kalimat itu memadamkan seluruh cahaya di mata Dimas. Hatiku sakit melihat kekecewaan di wajah mungilnya.

Aku hendak bicara, tapi terdengar suara kecil memecah kesunyian.

“Halo… Om.”

Dimas memaksakan senyum, meski matanya memerah. Anak sekecil itu begitu dewasa, membuat hati ini merasa iba.

“Ma, ayo keluar. Kita jangan ganggu Om.”

Seluruh emosi di dadaku seketika terhenti. Aku membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi hanya mampu mengeluarkan satu kata.

“Ya.”

Aku mengenggam tangan Dimas, melangkah keluar.

Tepat ketika kami bersebelahan, Baskara tiba-tiba menahan langkahku.

“Tunggu sebentar.”

Sikap bijak aku dan anakku sepertinya belum memuaskan Baskara. Matanya menatapku tajam, tak percaya.

“Dimas… barusan dia panggil aku apa?” tanyanya.

Aku tersenyum, bersikap lebih penurut dari biasanya.

“Om, ‘kan? Kami orang desa, nggak pantas dekat-dekat dengan Komandan Baskara.”

Baskara menatapku, sorot matanya berubah-ubah. Akhirnya, dia tetap jatuh dalam rasa bersalah.

“Hari ini temanku datang makan-makan. Tolong masak beberapa macam masakan.”

Kalimat sederhana itu membuat Helena membeku sesaat.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 10

    Perempuan yang Baron sebut sebagai sosok cerdas dan tangguh itu… benarkah Mustika?Kenapa selama ini Baskara sama sekali tak tahu?Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu pikiran Baskara, membuatnya kebingungan.“Oh iya, Mas. Omong-omong, kenapa Mbak Mustika balik lagi ke desa? Apa di kesatuan nggak nyaman?”Baskara ingin menjawab, dia membuka mulutnya, tapi tak sepatah kata pun keluar.Apa lagi yang harus dia bilang?Bilang di kesatuan tak ada yang mau mengakui Mustika dan Dimas?Bilang mereka selama ini hanya dipandang sebagai kerabat miskin yang hanya menumpang ketenaran dan selalu diremehkan?Bagaimana mungkin dia akan mengatakannya?Bagaimana mungkin dia berani mengatakan kebenarannya?Di tengah rasa malu yang menyelimuti dirinya, terdengar suara wanita dari belakang.“Baron, ayo balik ke desa.”Baron menoleh, lalu melambaikan tangannya.“Oke, Mbak! Mbak Mus, coba lihat siapa yang datang?”Baskara berbalik, wajahnya menegang.“Mustika.”Langkahku terhenti. Ada kilatan ketidaksabaran di

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 9

    Wajah perempuan itu terlihat agak tenang.“Aku nggak tahu soal orang lain, tapi suamiku bukan orang yang seperti itu,” ucapnya pelan.“Awalnya, aku juga sempat takut… takut mempermalukannya. Apalagi di desa, banyak wanita intelektual yang juga menyukai suamiku.”“Tapi…”Perempuan itu menunduk, menatap bayi di pelukannya dengan sorot mata yang begitu lembut.“Tapi suamiku pernah bilang, sejak menikahiku… dia akan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Katanya, dia adalah kepala keluarga, lahir dari tanah pedesaan, sama sepertiku. Kalau ada orang yang merendahkanku… itu karena mereka lebih dulu merendahkannya.”“Dia juga bilang… karena sering nggak di rumah karena tugas tentara, semua urusan dalam dan luar rumah, aku yang urus. Dia merasa berutang banyak padaku. Bahkan kalau nanti dia melipatgandakan kebaikannya padaku, tetap nggak akan pernah cukup untuk menebusnya.”Bayi yang sudah kenyang itu mengangkat tangan mungilnya, menggosok-gosok mata.Perempuan itu tampak dengan lembut meny

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 8

    Sementara dia… bergabung ke militer, menempuh jalan hidup yang dipilihnya sendiri.Baskara tak berani mengakui.Di balik sikap benci dan dinginnya yang selalu dia tunjukkan padaku dan Dimas… sebenarnya tersimpan rasa bersalah yang besar.Galaknya hanya topeng, tapi hatinya pengecut.Karena itulah, meski dia tahu…Bahwa aku tinggal di desa selama delapan tahun demi berbakti pada orang tuanya.Tahu aku menunggunya selama delapan tahun.Tahu betapa tulus dan tanpa pamrihnya aku.Tahu betapa sungguh-sungguhnya perasaanku padanya.Dia tetap tak mau mengakui.Dan tak berani mengakui.Setiap kali melihatku dan Dimas, yang terbayang di benaknya adalah kebobrokannya sendiri.Karena demi melarikan diri dari hidup yang tak ingin dia jalani, dia telah mengurung seorang gadis tak bersalah selama delapan tahun.Tanpa sadar, tangannya kembali terulur hendak mengambil rokok. Namun, suara seorang perempuan dari seberangnya menghentikan gerakannya.“Mas… bisa tolong ambilkan air panas?”Perempuan itu te

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 7

    Baskara tak tahu bagaimana reaksi Helena. Sekalipun tahu, dia tak akan terlalu memikirkannya.Begitu keluar dari aula, dia menyandarkan tubuhnya yang lesu ke dinding. Dia menarik sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam hingga asap memenuhi rongga dadanya.Barulah setelah menghembuskan napas panjang, dia seperti hidup kembali.Musik dari dalam aula masih terus berdentum. Baskara hanya melirik sekilas, sebelum akhirnya berbalik pergi.Dia rindu… rindu yang samar pada kampung halaman.Dia membuka pintu gerbang halaman.Malam ini, cahaya bulan begitu terang, jatuh menerangi kebun sayur yang terlihat sedikit berantakan.Dua petak tanah. Tidak besar, juga tidak kecil. Begitu melihatnya, jelas hasil tangan orang yang terbiasa bekerja di kebun. Tanahnya diratakan dengan rapi, garis-garisnya teratur.Hanya saja, beberapa tunas liar yang tumbuh sembarangan merusak harmoni itu.Tangannya yang terselip di saku kembali terasa gatal. Baskara mengeluarkan korek api, tapi tepat saa

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 6

    Komandan Imran mengerutkan keningnya, berusaha membela Baskara.“Kamu juga aneh, Baskara. Mereka itu bukan kerabat dekatmu, kenapa malah kamu bawa tinggal di kompleks keluarga.”“Menurutku, lebih baik kamu cepat suruh mereka pergi. Jangan sampai hubunganmu sama Helena terganggu.”“Kalau kamu sungkan atau nggak tega, bilang sama aku. Biar aku yang urus.”Meski Komandan Imran tampak begitu bersemangat membela, jelas sekali ada rasa bersalah melintas di wajah Baskara.Aku dan Baskaran adalah pasangan muda.Saat itu, dia baru delapan belas tahun, sementara aku tujuh belas.Hanya berjumpa satu kali dari kejauhan, kami langsung memutuskan untuk hidup bersama. Dua minggu setelah menikah, Baskara bergabung dengan militer.Di militer, dia bertemu rekan-rekan dari berbagai penjuru negeri, mendengar cerita mereka yang bermacam-macam membuatnya menyadari perbedaan nasib manusia. Pada awalnya, setiap kali sulit tidur, dia selalu memikirkan keluarganya yang berada jauh di sana.Memikirkan istri yang

  • Saat Kau Pergi Tanpa Mengucap Kata Perpisahan   Bab 5

    “Mustika! Mustika!”“Dimas!”Baskara membuka setiap pintu kamar satu per satu, memeriksa setiap sudut rumah tanpa terlewat.Kosong.Sepi.Tak ada seorang pun.Aku dan anakku benar-benar sudah pergi.Tanpa sepatah kata pun.Tanpa pamit.Baskara terduduk di sofa, suasana hatinya campur aduk.Bukankah ketenangan seperti ini yang selama ini dia inginkan?Namun entah kenapa…Justru hatinya terasa semakin tak tenang.Apa mungkin… Sebenarnya dalam seminggu terakhir, dia sudah terbiasa dengan keberadaanku dan Dimas?Namun yang dia cintai bukankah Helena?Ya, wanita yang dia cintai hanya Helena.Sosok wanita seperti Helena-lah yang pantas untuk dirinya cintai.Mustika hanyalah perempuan desa.Ya, hanya perempuan dari kampung, tak lebih.Baskara mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Dia masuk ke kamar, membuka lemari dan mengeluarkan perlengkapan tidurnya yang dulu.Di hari pertama aku dan Dimas tiba di kesatuan, Baskara berkata tegas padaku.“Mustika… kamar ini untukmu. Tapi kita nggak mungkin s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status