เข้าสู่ระบบThea tahu itu tidak sepenuhnya benar.Dia pun mengulurkan tangan dan mengelap air mata yang merembes di sudut mata ayahnya.Saat itulah dia melihat beberapa h elai rambut putih sang ayah. Hati Thea berdenyut perih. Kenapa tiba-tiba ayahnya menua mendadak?Thea tanpa sadar menoleh pada ibunya.Dia lebih terkejut lagi melihat ibunya pun sedang mengelap kedua sudut matanya.Dan ibunya pun tampak sama rentanya dengan sang ayah.---Perjalanan pulang ke rumah terasa aneh. Thea berada dalam pelukan Huggo di dalam mobil, masih dalam gaun pengantin.Untuk sementara Thea masih terlena memikirkan ayah dan ibunya, yang membuat hatinya bersedih. Dia merasa waktunya memanjakan balik orang tuanya belum dia tunaikan.Tapi sekarang, dia sudah memulai kehidupannya sendiri, membiarkan ayah dan ibunya kembali menua berdua saja.Thea sampai termenung dan ketika Huggo menanyakannya, dia menceritakan isi hatinya itu.Huggo pun menghiburnya. “Kamu harusnya bersyukur. Setidaknya orang tuamu masih memiliki sa
“Urgh ... kamu tidak bisa begini terus. Badanmu panas sekali. Seperti kompor. Aku saja sampai berkeringat. Ayo bangun dulu, minum obat.”“Tidak. Aku tidak ada tenaga.”“Kok tidak ada tenaga? Kan tadi sudah makan?”“Tetap saja tidak ada tenaga. Aku mau tidur.”“Tidak bisa! Minum obatnya dulu!”Thea mendorong tubuhnya agar bangun. Huggo sempat menahannya, tapi Thea berhasil karena dia sehat sedangkan Huggo sedang lemas.Benar Thea sudah mulai berkeringat. Tubuh Huggo benar-benar panas.Thea menyiapkan obat dan membawa ke mulut Huggo.“Ayo minum ini!”Membuka sedikit matanya, Huggo melihat sebutir obat di tangan Thea.Lalu saat menatap wajah Thea dia melihat wajah itu memelototinya.Terpaksa dia bangun dan minum.Setelah itu, Huggo kembali tidur.Thea menemaninya sepanjang malam.Esok paginya, tubuh Huggo sudah lebih baik.Dia bangun saat Thea sudah membawakannya sarapan ke tempat tidur.“Makan dulu, lalu minum obat lagi.”Huggo tidak banyak bersuara. Dia melakukan yang disuruh Thea. Tap
“Ini hari ke-30 kan kalau tak salah?”Trevor mengambil duduk di samping Thea saat mereka makan siang bersama. Kali ini hanya ada mereka bertiga saja. Ayahnya, ibunya, dan Thea.Sambil mengangguk, Thea menjawab, “Iya.”“Lalu mana dia?” tanya Trevor lagi dengan nada tak mengharapkan.“Entahlah.”“Kalian tidak saling kontak?”“Ada. Kemarin. Tapi katanya mau datang.”“Oh ...”Lalu ayahnya itu mendekatinya dan berbisik, “Jadi ... cincinnya dikembalikan atau diterima?”Thea lalu memperhatikan jari manisnya yang tersemat cincin dari Huggo.Dia memperhatikan dengan seksama lalu bertanya pada ibunya, “Menurut Mom gimana?”“Aku? Kenapa bertanya padaku? Aku kan sudah memiliki ayahmu, hahhaha.”“Yeee ... aku kan bertanya tentang pendapat.”“Ya ... kalau Mom sih terserah padamu. Huggo lumayan juga dan tidak buruk.”“Bagaimana dengan pendapatmu, Dad?”“Aku?” tanya Trevor dengan raut tak percaya.“Iya.”“Kalau aku ... lebih baik kau menemaniku saja, daripada menikah dengan dia.”“Kok begitu?”“Ya ..
‘Huh! Jangan harap!’Dengan sedikit mengentakkan sepatunya, Thea menghampiri Huggo.Kedua lengannya terlipat depan dada. Bibirnya pun merengut tak senang.Huggo menunggu dengan seksama, mengamati bagaimana penjual mengambil selapis demi selapis es krim.“Stroberi, oke?” tanyanya ketika Thea mendekatinya.Thea mendengus lagi dalam hati. ‘Sudah memesan baru bertanya. Untung benar pilihannya!’Thea pun mengangguk.Huggo pun senang dan kembali mengamati.Setelah es krim selesai, penjual menjulurkan es krim ke arah Huggo untuk diambil.Tanpa berpikiran buruk, Huggo menjulurkan tangannya, hendak mengambil, tapi eh ... penjual menggeser es krimnya.Huggo terhenyak. Keningnya berkerut kesal.Dideliknya tajam di penjual. Sedang mempermainkannya, huh?!Tapi penjual malah tersenyum kecil padanya. Oh, jelas tadi bukanlah ketidaksengajaan. Huggo pun menganggap ini sebagai tantangan.Dia pun menganggap ini semakin personal.Dengan kecepatan penuh, dia mengulurkan tangannya ke es krim yang sudah berg
“Untuk hari ini, ke mana kamu mau pergi?”Setelah mereka naik mobil, Huggo bertanya dengan sungguh-sungguh.Dia hanya ingin bersama Thea, sehingga ke mana pun mereka dia tidak peduli.Tapi Thea seringkali memprotes tempat pilihan Huggo.Jadi kali ini, sebelum diprotes, Huggo berinisiatif memberikan keputusan itu di tangan Thea.“Hmm ...” Thea berpikir keras setelah memasang seat belt. Huggo senang karena kali ini tidak perlu berpikir keras bagaimana menentukan tempat yang bisa menyenangkan hati Thea.Tiga detik kemudian, Thea memberi jawaban. “Terserah kamu deh.”Astaga!Huggo ingin menepuk jidatnya. Tapi dia masih bersabar.“Hmm, bagaimana kalau ke mall?”“Mall? Mau ngapain?”“Ya ... entah. Biasanya perempuan suka ke mall.”Thea mendengus, sambil memutar matanya. “Yang lain deh!”“Hmm ... bagaimana kalau minum saja di bar sambil mendengarkan musik? Cari yang bar nya di roof top.”“Hmm ... boleh juga sih. Tapi malas ah, ini belum malam.”Fiuuuuh ... oke!“Bagaiman kalau ke pantai?”Th
Berdasarkan kata-kata Thea, Huggo jadi gelisah.Dan karena itu juga, dia kembali mengunjungi Thea di esok harinya. Pagi-pagi dia bangun, menghubungi Lily dan memberitahu bahwa dia akan absen hari itu, lalu meminta Lily mengatur ulang jadwal pertemuannya dengan beberapa klien penting.“Anda pergi lagi, Pak?”“Iya! Ada yang sangat penting,” ujar Huggo dengan suara berat, agar Lily tidak berani bertanya lebih jauh lagi.“Oh, err, baiklah, Pak. Akan saya kabari jika sudah reschedule meeting.”“Hmm.”Setelah menelpon, Huggo bersiap berangkat. Dia minum kopi, sarapan singkat, lalu menaiki mobil.Jalanan pagi yang lengang membuat Huggo mengebut demi mencapai kota tujuan lebih cepat.Ketika dia tiba pekarangan rumah keluarga Kozlov, hari sudah hampir mencapai jam makan siang.Huggo memutuskan mencari keberadaan Thea di butik terlebih dahulu.Bell berbunyi saat pintu butik dibukanya.Pelayan datang menyambut.“Siang. Mencari siapa, Tuan?”“Aku mencari Thea.”“Oh, silakan.”Pelayan menuntun Hugg
Huggo bersikap seakan dia bekerja.Tapi nyatanya dia hanya memandangi angka jam yang bergerak setiap detiknya.Sudah pukul 08.20 tapi Thea belum datang.Dia kembali menekan tombol ponsel untuk menghubungi Thea. Tapi tetap tidak ada nada sambung.Kesabarannya semakin tipis. Dia memberi toleransi sam
“Aku ... aku ... lingerie tadi ...” Thea masih mencari-cari alasan yang tepat untuk dibeirkan pada Hudson tanpa membuat pria itu marah.Tapi Hudson langsung menimpalinya lagi, “Oh ... aku tahu ... kamu pasti ingin memberikanku surprise, kan?”“Eh? Surprise?”“Iya, kan? Kamu sering bilang kalau kamu
Hiks ...Thea cegukan untuk ke sekian kali.Delilah yang hendak menjawabnya, jadi terpaksa menahan dirinya dulu.Dia pun meminta air mineral dan memberikannya pada Thea.“Minum ini dulu, setelah itu kita pulang,” katanya seraya menyodorkan botol mineral pada Thea.“Tidak mau ...!” Thea menepis botol
Saat Thea mengangkat wajahnya dia melihat tatapan Huggo yang kelam dan penuh kemarahan tertuju padanya.Thea tidak peduli lagi. Untuk apa dia bekerja jika dia seperti tidak ada di kantor ini?Masih sambil menatap marah padanya, Huggo mengambil amplop dan membukanya.Saat itulah Thea memperhatikan b







