مشاركة

Bab 4

مؤلف: Fen
Selama hari-hari di rumah sakit, perhatian Jeremy kepada Seria begitu meluap-luap hingga tak ada satu pun orang di rumah sakit yang tidak mengetahuinya.

Sementara itu, Nancy mendekam sendirian di bangsalnya. Tak ada satu pun orang yang datang menjenguk.

Seorang dokter magang mengira dia masih lajang. Suatu hari, dokter itu memberanikan diri datang untuk meminta nomor ponselnya.

Sialnya, momen itu tertangkap basah oleh Jeremy.

Pria itu hanya menatap mereka berdua dengan dingin tanpa sepatah kata pun, namun kilat di matanya tampak sangat mengerikan.

Malam harinya, Nancy menyaksikan pertunjukan kembang api yang disiapkan Jeremy untuk Seria.

Kembang api semegah itu menerangi seluruh langit malam, membuat semua orang di rumah sakit berlarian keluar untuk menonton.

Dia berdiri di bawah pendar cahaya itu, mengagumi keindahan yang mekar bukan untuk dirinya.

Kembang api mudah sirna, sama seperti kebahagiaannya.

Dokter magang yang seharusnya memeriksa kamarnya, tidak pernah muncul lagi.

Hingga hari kepulangannya dari rumah sakit, Nancy tidak pernah lagi melihat pria itu.

Pada hari dia keluar dari rumah sakit, Seria bersikeras mengajaknya pulang bersama.

"Jeremy, bawa saja Nancy bersama kita. Kasihan kalau dia harus mencari taksi sendirian, pasti dia akan kesulitan."

Jeremy menatap Nancy dengan sinis, suaranya terdengar hambar. "Seria, jangan terlalu baik padanya, atau kamu akan dimangsa sampai ke tulang-tulangnya. Lagi pula, dia sangat ahli menggoda pria. Ada banyak orang yang mengantre untuk mengantarnya pulang."

Nancy bungkam, namun akhirnya dia tetap naik ke mobil itu.

Di tengah perjalanan, Jeremy tiba-tiba menerima telepon tentang sebuah jamuan minum yang sudah lama mengundangnya.

Mendengar itu, Seria segera memohon agar mereka berdua ikut, beralasan sudah bosan berhari-hari di rumah sakit dan ingin mencari suasana baru.

Jeremy tidak menolak. Saat mereka tiba di lokasi, semua orang hanya melihatnya menggandeng tangan Seria. Mereka mengira Seria-lah istri Jeremy yang sebenarnya, sehingga tatapan mereka beralih penuh tanya pada Nancy yang mengekor di belakang.

"Pak Jeremy, nona ini siapa?"

Jeremy melirik Nancy sekilas, lalu berucap dengan nada dingin, "Dia? Dia pembantu di rumah kami. Aku membawanya untuk menjaga Seria."

Jantung Nancy terasa berhenti berdetak sesaat, namun dia tidak mengeluarkan bantahan sepatah kata pun.

Di tengah acara, seseorang mengajak Jeremy bersulang. Dia hanya melambaikan tangan dengan dingin ke arah Nancy.

"Minumlah. Aku membawamu ke sini bukan untuk bersantai. Tenang saja, uangmu nggak akan kurang."

Nancy menyunggingkan senyum tipis. Tanpa ragu, dia meraih gelas dan menandaskan isinya sekali teguk.

Melihat betapa remehnya perlakuan Jeremy padanya, orang-orang di sana mulai berani mengelilinginya dan mencekokinya dengan alkohol. Nancy menerima semuanya tanpa menolak.

Seorang pria paruh baya menggunakan dalih bersulang untuk mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan melecehkannya.

Beberapa kali dia menepis, namun pria itu kembali melingkarkan tangan di pinggangnya.

Di sudut ruangan yang remang-remang, mata Jeremy mengamati setiap pergerakan pria itu. Tatapannya semakin gelap dan berat.

Entah sudah berapa banyak gelas yang dia minum, kepala Nancy terasa berdenyut hebat. Dunianya terasa berputar.

Dia pergi ke toilet untuk membasuh wajah, namun saat keluar, pria paruh baya tadi sudah menantinya.

Firasat buruk menyergap. Nancy mencoba mundur, namun gerakan pria itu lebih cepat. Sebuah handuk yang telah dibasahi obat bius membekap mulut dan hidungnya.

Tubuhnya melemas, darahnya seolah mendidih seketika. Dia diseret menuju ujung lorong.

Tepat saat dia akan didorong masuk ke dalam kamar, dengan sisa tenaga, Nancy menendang selangkangan pria itu sekuat tenaga.

Saat pria itu mengerang kesakitan dan melepaskan dekapannya, Nancy mendorongnya dan lari terhuyung-huyung keluar.

Dia bersembunyi di sembarang ruangan. Tubuhnya terasa panas membara seolah ingin meledak.

Dia tahu ia telah dijebak dengan obat perangsang dalam handuk tadi!

Dalam kesadaran yang kabur, pintu ruangan terbuka. Seorang pria bertubuh jangkung masuk.

Karena membelakangi cahaya, Nancy tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Mengira itu adalah pelayan ruangan, dia langsung menerjang ke arah pria itu.

Dia mencengkeram tangan pria itu dengan kuat. "Carikan pria untukku, cepat!"

Suara pria itu terdengar dingin. "Kamu tahu apa yang kau katakan?"

Nancy menggigit bibirnya keras-keras, memaksakan diri untuk tetap sadar.

"Aku ... aku nggak boleh mati, aku mohon padamu ...."

Pria itu mencibir, "Kenapa harus cari pria lain, bukannya aku ada di sini?"

Suara yang sangat familier itu membuatnya tersentak sadar.

Dia membuka mata dan melihat Jeremy berdiri di depannya. Dengan sisa tenaga terakhir, dia mendorong Jeremy.

"Kamu nggak boleh ... kamu, nggak boleh ...."

Wajah Jeremy seketika menjadi sangat gelap. Dengan amarah yang meluap, dia merangsek maju dan mencekik leher Nancy kuat-kuat.

"Kenapa aku nggak boleh? Bukannya kamu bilang kamu nggak akan meninggalkanku asal aku punya uang? Sekarang aku sudah kaya raya, kenapa aku nggak boleh?"

Nancy terpaku. Sesaat kemudian, air mata yang tak terbendung jatuh membasahi pipinya. Dia berbisik gemetar, "Karena kamu adalah ... Jeremy. Kamu adalah Jeremy-ku ...."

Kalimat itu bagai memicu badai besar. Jeremy kehilangan kendali sepenuhnya. Dia menekan Nancy ke dinding dan menciumnya dengan kasar.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 26

    "Nancy ...." "Ikhlaskan dia." "Jangan terlalu sedih."Di depan makam, Nancy menatap batu nisan itu dengan pandangan kosong. Rekan-rekan sejawatnya mencoba menghiburnya. Mereka semua tahu betapa besarnya risiko menjadi polisi anti-narkotika, satu kesalahan kecil bisa berarti kehancuran seluruh keluarga.Dulu, keluarga Nancy dibantai oleh kartel narkoba. Dia datang terlambat dan tidak sempat melihat mereka untuk terakhir kalinya. Sekarang, pria yang paling dia cintai juga mati di tangan kartel yang sama. Tepat di depannya, dipukuli sampai mati demi melindunginya.Dari hasil autopsi, dokter menyatakan bahwa hampir seluruh tulang di tubuh Jeremy patah dan organ dalamnya hancur. Betapa luar biasa rasa sakit yang dia tanggung. Namun pada akhirnya, hanya karena mendengar ucapan cinta dari Nancy, Jeremy pergi dengan senyuman.Hal ini membuat Nancy sangat membenci dirinya sendiri. Dia akhirnya merasakan kepedihan yang sama dengan yang dirasakan Jeremy saat dia memalsukan kematiannya dulu.

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 25

    Tak lama kemudian, suara sirene polisi menggema di luar. Gudang itu seketika menjadi kacau balau."Ada polisi!" "Bagaimana polisi bisa menemukan tempat ini?" "Jelas-jelas nggak ada yang tahu lokasi ini, bagaimana mereka bisa sampai ke sini?"Para penjaga di sana, yang semuanya adalah orang-orang Keluarga Lumadi, panik luar biasa. Namun, karena sudah bertahun-tahun bergelut di dunia hitam, mereka langsung menaruh curiga pada Naomi."Pasti wanita ini yang membocorkannya! Belum lama dia dikurung, polisi sudah datang!" "Jalang sialan, ternyata dia bekerja sama dengan polisi!" "Kalau kami nggak bisa lari, dia juga nggak boleh hidup!"Orang yang sudah terdesak bisa melakukan apa saja, apalagi mereka yang memang terbiasa hidup dalam bahaya. Sekelompok pria dengan beringas membawa tongkat besi, berniat menghabisi Naomi sebelum polisi merangsek masuk.Mereka mengepungnya, menghujani tubuhnya dengan pukulan tongkat tanpa ampun, meluapkan amarah atas kegagalan mereka."Dasar jalang!" "Mati

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 24

    Meski sempat terjadi kekacauan karena Jeremy, pesta pertunangan itu akhirnya selesai. Naomi pun sudah menenangkan emosinya."Ayo pulang, hari ini aku akan membawamu ke rumah utama Keluarga Lumadi untuk bertemu dengan para tetua," ujar Daren dengan semangat. Dia sudah lama ingin membawa Naomi ke sana, tetapi baru sekarang dia punya alasan yang tepat. Mata pria itu berkilat penuh ketamakan."Oke. Karena kita sudah bertunangan, kapan kita akan menikah, Daren? Kamu tahu sendiri, aku nggak punya posisi kuat di Keluarga Stevina," tanya Naomi sambil merangkul lengan Daren dengan nada khawatir."Nggak perlu buru-buru. Kita sudah bertunangan, pernikahan tinggal selangkah lagi. Setelah Kakek bertemu dan menyukaimu, semuanya akan beres. Tenang saja," jawab Daren dengan nada meremehkan.Daren memilih Naomi justru karena statusnya sebagai anak angkat Keluarga Stevina yang sebatang kara. Naomi tidak punya saham besar dan saudara-saudara angkatnya justru sangat membencinya dan ingin dia menyingkir

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 23

    Harapan Jeremy pupus, Naomi menolaknya. Wajah Jeremy seketika pucat pasi. Dia menyambar tangan wanita itu dengan kuat."Nggak boleh. Kamu harus ikut denganku! Daren bukan pria baik-baik! Dia akan mencelakaimu, semua yang kukatakan ini benar, bisnisnya di luar negeri itu sebenarnya ....""Cukup, Jeremy!"Naomi mengibaskan tangan pria itu. Di matanya terdapat kekecewaan, kemarahan, dan kecaman, sama sekali tidak ada cinta. Hal itu menghunjam jantung Jeremy dengan telak."Justru bersamamu yang akan membunuhku! Kamu memaksaku mendonorkan darah untuk Seria, kamu menghinaku dengan uang berkali-kali! Kamulah bajingan yang sebenarnya! Aku sudah susah payah pergi dari kamu, kenapa kamu masih mencariku?""Aku suka Daren, aku mencintainya! Dia beda dari kamu, dia nggak akan menyakitiku! Jeremy, kamu pikir semua orang sepertimu?"Naomi berteriak dengan napas tersengal, mengerahkan seluruh tenaganya. Matanya memerah, tetapi mata Jeremy jauh lebih merah karena air mata yang mulai mengalir."Apa kam

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 22

    Beberapa hari kemudian, pesta Keluarga Lumadi berlangsung sesuai rencana. Mengingat pengaruh Keluarga Lumadi yang terbatas, tamu yang datang biasanya hanya kerabat dan teman dekat. Tidak ada yang menyangka Jeremy akan muncul di sana."Pak Jeremy, mohon maaf atas sambutan yang kurang memadai ini. Kami sungguh tidak menyangka Anda berkenan hadir di pesta kecil kami ini," ujar CEO Perusahaan Lumadi, Pak Wilbert, dengan perasaan tersanjung saat ini. Keluarga mereka tidak pernah bermimpi bisa menjalin koneksi dengan tokoh besar seperti Jeremy."Haha, istri tercintaku tertarik dengan acara ini, jadi aku datang untuk melihat apa yang sedang dia mainkan di sini," jawab Jeremy datar tanpa ekspresi."Oh, ternyata istri Anda juga hadir? Di mana beliau? Saya akan meminta anak-anak muda di keluarga kami untuk menyambutnya," sahut Pak Wilbert dengan sangat sopan.Apa pun alasannya, kehadiran Jeremy di pesta mereka hari ini memiliki arti yang luar biasa. Pak Wilbert mengabaikan tamu lain dan fokus

  • Salju Jatuh Mengucap Cinta   Bab 21

    "Apa kamu sudah tuli? Kenapa belum melakukannya?" Jeremy mengerutkan kening. Seria tidak pernah membangkang perintahnya sebelumnya."Kenapa aku harus melakukannya? Kalau ada orang yang bersalah padanya, itu adalah kamu!" Siksaan berhari-hari membuat Seria tidak sanggup lagi menahan diri. Kabar bahwa Nancy masih hidup adalah hal terakhir yang mematahkan akal sehatnya. Dia tidak percaya bahwa segala penderitaannya masih tidak bisa mengalahkan wanita jalang itu.Seria menatap Jeremy dengan penuh kebencian. "Apa Nancy sepenting bagimu? Walaupun dia mencampakkanmu berulang kali? Lalu aku? Aku ini apa? Aku juga mencintaimu selama bertahun-tahun, Jeremy!""Jelas-jelas dulu kamu juga suka padaku, ‘kan? Kalau nggak, kenapa kamu setuju menikah denganku? Benar, ‘kan?""Nancy sudah lama mati, dia nggak menginginkanmu lagi! Kenapa kamu nggak bisa melihatku sekali saja!"Seria berteriak histeris, namun kata-katanya hanya membuat Jeremy semakin murka. Jeremy mencekik leher Seria dan menekannya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status