Home / Fantasi / Sang Dewa Iblis Pembantai / bab 7: Benda terkutut dan hadia para penguasa

Share

bab 7: Benda terkutut dan hadia para penguasa

Author: Mr. Xenon
last update Last Updated: 2025-12-29 20:09:54

Tatapan Tian Hei tetap tertuju ke arah cekungan itu.

Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak awal, tanah di sekeliling bangkai naga hitam tidak sepenuhnya datar. Permukaannya membentuk kemiringan halus, nyaris tak terasa saat dilalui dengan berjalan kaki—namun cukup untuk menciptakan perbedaan ketinggian yang jelas jika diamati dari sudut tertentu.

Posisinya saat ini berada sedikit lebih tinggi.

Sementara cekungan besar itu… terletak lebih rendah, seperti kawah alami yang terbentuk akibat benturan atau tekanan luar biasa di masa lampau.

Hutan di sekitarnya tumbuh tidak wajar.

Pepohonan di pinggiran cekungan tampak melengkung ke luar, akar-akar besar mencuat dari tanah seolah pernah dipaksa menjauh oleh sesuatu yang sangat kuat. Bahkan tanah di sekitar bangkai naga hitam memperlihatkan bekas retakan samar, tertutup lumut dan dedaunan tua—jejak yang nyaris tak terlihat jika tidak diamati dari ketinggian.

Jika Tian Hei berada di posisi sejajar dengan tanah, besar kemungkinan benda itu akan tersembunyi dari pandangannya.

Namun sekarang, dari sudut pandang yang lebih tinggi, cekungan itu terbuka sepenuhnya di hadapannya.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Sebuah benda bulat besar, tergeletak diam di pusat cekungan, setengah tertanam di dalam tanah.

Langkah Tian Hei bergerak tanpa suara.

Setiap pijakan kakinya mantap, namun penuh kewaspadaan. Nalurinya—naluri yang telah ditempa oleh hidup dan kematian—memberinya peringatan bahwa tempat ini tidak sederhana.

Semakin ia mendekat, semakin jelas ia merasakan sesuatu yang ganjil.

Tidak ada aura ganas.

Tidak ada tekanan menindas seperti yang terpancar dari naga hitam sebelumnya.

Sebaliknya, udara di sekitar cekungan terasa… tenang. Terlalu tenang.

Ketika jaraknya tinggal belasan meter, tanah di bawah kakinya mulai melandai, berubah menjadi lereng alami yang menurun perlahan menuju pusat cekungan. Dari sini, perbedaan ketinggian terlihat semakin jelas—bangkai naga hitam berada di sisi atas lereng, sementara benda itu tersembunyi di bagian paling rendah, seolah ditempatkan di sana dengan sengaja.

Tian Hei berhenti.

Di luar jangkauan seluruh indranya, beberapa pasang mata perlahan terbuka di kedalaman hutan.

Bukan mata manusia.

Bukan pula milik binatang buas biasa.

Makhluk itu adalah bintang buas tingkat tinggi—eksistensi yang telah melampaui insting buas dan memiliki kesadaran mendekati roh. Tatapannya tidak mengandung niat membunuh, tidak pula keserakahan.

Hanya satu emosi yang jarang muncul pada makhluk sepertinya.

Harapan.

Pandangan itu tertuju pada Tian Hei lalu ke telur besar di pusat cekungan.

Selama bertahun-tahun, banyak binatang buas kuat datang ke tempat ini karena panggilan naluriah yang tidak mereka pahami.

Dan tidak satu pun kembali.

Tulang-belulang yang berserakan di dalam cekunga adalah buktinya.

Tanpa disadari, telur itu telah menyerap energi kehidupan makhluk apa pun yang mendekat. Tidak dengan keganasan, melainkan secara pasif, sunyi, dan tanpa ampun.

Karena itu, saat Tian Hei melangkah mendekat, makhluk itu tidak menghentikannya.

Ia hanya berharap—

Bawa pergi benda itu.

Di pusat cekungan, Tian Hei mengangkat tangan kanannya.

Jari telunjuknya terulur, mendekati permukaan telur hingga hanya terpaut satu helai rambut.

DUM.

Telur itu bergetar.

Pusaran Qi kecil terbentuk di sekeliling jarinya. Qi Tian Hei—Qi murni yang bercampur energi ganas yang dia serap dari dalam tubuh naga hitam—ditarik keluar secara perlahan.

Bukan dirampas.

Melainkan… diserap.

“Mungkinkah selama ini ia menyerap energi binatang buas untuk menetas…?” gumam Tian Hei.

Saat itu pula, bola hitam yang ia telan tanpa sengaja beberapa waktu lalu saat ini menempati titik pusat di mana suatu hari di titik itu akan terbentuk dantian mengeluarkan Aura. Aura dingin, gelap dan sunyi mengalir mengikuti Qi menuju telur.

Begitu aura itu menyentuh bagian dalam telur—

Getaran berhenti.

Telur itu memuntahkan kembali seluruh Qi yang telah diserap, bahkan dalam bentuk yang jauh lebih padat.

Seperti seseorang yang ketahuan mencuri lalu tergesa mengembalikan hasil curiannya.

Tian Hei menarik kembali jarinya saat merasa bahwa Telur itu berhenti menyerap

Telur itu kembali tenang, namun kini tampak lebih hidup—kilau halus menetap di permukaannya.

“Sepertinya,” ucapnya pelan,

“dugaanku tidak salah.”

Ia mengangkat telur itu perlahan.

Berat—bukan karena massanya, melainkan tekanan eksistensi yang terkandung di dalamnya.

Saat telur terangkat dari tanah—

Udara di cekungan bergetar.

Tulang-belulang binatang buas di dalam cekungan seketika runtuh menjadi debu. Aura berat yang menekan tempat ini perlahan menghilang.

Cekungan itu… menjadi kosong.

Dengan telur di pelukannya, Tian Hei berbalik dan meninggalkan pusat cekungan itu.

Begitu Tian Hei mencapai permukaan cekungan—

Ia berhenti.

Di antara pepohonan raksasa, satu demi satu sosok muncul.

Seekor serigala kelabu sebesar kuda perang.

Seekor macan hitam bertaring panjang.

Seekor beruang raksasa berkulit seperti batu.

Dan seekor ular hijau gelap berkepala tujuh yang melilit batang pohon raksasa.

Empat binatang buas tingkat tertinggi.

Aura mereka padat, berat, dan menekan—cukup untuk membuat kultivator biasa gemetar.

Namun tidak satu pun menunjukkan niat menyerang.

Mereka berdiri membentuk setengah lingkaran.

Serigala kelabu melangkah maju dan menundukkan kepalanya sedikit. Di benak Tian Hei terdengar suara tua

“Manusia kecil…” panggil suara itu

“Aku tidak tahu bagaimana caramu menaklukkan benda terkutuk itu, namun aku berterima kasih. Akhirnya ia akan meninggalkan Hutan Abadi.” ya seharusnya pemilik suara ini adalah serigala kelabu

“Hutan Abadi?” tanya Tian Hei.

“Tempat di mana seharusnya kau tidak berada,” jawab macan hitam. Terdengar suara lain lagi di benak Tian Hei

Ular berkepala tujuh menatap telur di pelukan Tian Hei.

“Kau membawa pergi sumber ketidakseimbangan,” katanya datar.

Serigala kelabu melemparkan sebuah cincin.

“Ini cincin ruang yang kuambil dari seorang ahli, di dalamnya terdapat beberapa barang yang bisa membantu mu di kemudian hari dan juga ini semua tanaman herbal yang aku miliki" setelah ia berucap ratusan tanaman herbal langsung keluar entah berasal dari mana dan membentuk bukit di depan serigala kelabu.

Serigala itu juga mengatakan bahwa cincin ruang itu adalah Artefak kelas Grand Master, artefak yang harus menjalin kontrak darah terlebih dahulu.

Kontrak darah merupakan teknik dasar untuk mengikat suatu artefak yang memiliki kualitas tinggi agar dapat digunakan, cara melakukan kontrak darah juga sangat mudah yaitu dengan cara meneteskan esensi darah kita ke atas permukaan target, sedangkan cara membatalkan kontrak darah tersebut dengan cara membunuh pemiliknya.

Yang harus di ingat adalah, cincin ruang tingkat atas memiliki ciri khas tertentu yaitu, ketika pemiliknya telah mati maka sistem kontrak darah di cincin spritual juga menghilang dengan kata lain kualitasnya telah menurun.

Hal ini juga menegaskan pemilik cincin ruang yang di berikan oleh serigala kelabu belum meninggal, dan alasan mengapa Tian Hei bisa membukanya itu karena esensi darah Tian Hei memutuskan kontrak darah antara cincin ruang dengan pemiliknya serta esensi darah Tian Hei mengantikan posisi pemilik sebelumnya.

Hadiah lain juga menyusul.

7 jenis Racun dari ular berkepala tujuh, satu bola berukuran bola kasti bewarna bening kehitaman dari macan hitam, serta lempengan batu bewarna hitam dengan garis-garis bewarna orange berukuran kepala bayi dari beruang raksasa.

Tian Hei menungkupkan tanganya di depan dada lalu berkata"Terima kasih atas berkah yang kalian berikan" nadanya dingin nan datar tapi sangat tulus.

Ia juga tahu betul alasan ke empat binatang buas tingkat tertinggi ini memberikannya hadia kepadanya, pada dasarnya ini adalah tindakan timbal balik, sama-sama untung.

“Sebaiknya kau segera meninggalkan inti hutan,” kata macan hitam.

“Sebelum Yang Mulia menyadari keberadaanmu.”

“Itu niatku sejak awal.”

Jalur aura terbuka.

Tian Hei melangkah pergi.

Dengan telur besar di pelukannya.

Dan jauh di kedalaman hutan—

sepasang mata merah darah perlahan terbuka.

“bocah dari ras manusia." Suaranya sangat dingin dan mencekam "masih berada di ranah simpul nadi awal tapi mampu membunuh naga hitam sialan itu dan mengambil benda terkutuk itu.....menarik…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 16: Eksperimen yang gagal

    Setelah mendapatkan informasi dari manajer rumah makan, terkait dunia luar. Tian Hei dan Xi Qianyue kembali ke Paviliun Awan Tenang. Kota ini mulai terasa seperti sarang lebah yang terusik, setiap pasang mata seolah mengikuti gerak-gerik "Si Iblis Pembantai" dengan ketakutan yang tertahan. Saat keduanya sampai di paviliun, keduanya langsung memasuki kamar mereka, Begitu pintu kamar VVIP tertutup rapat, Tian Hei tidak membuang waktu. Ia segera duduk bersila dan membentangkan gulungan kusam pemberian Lie Sha di atas meja kayu gaharu. "Seni Meramu Pil..." gumam Tian Hei, matanya menyapu baris demi baris aksara kuno itu. Xi Qianyue, yang duduk di tepi ranjang sambil mengatur napasnya yang masih berat, mengamati dengan saksama. "Alkimia bukan sekadar mencampur tanaman. Kau butuh dua hal dasar: Api Spiritual di dalam tubuh dan sebuah tungku yang mampu menahan tekanan energi. Tanpa itu, kau hanya akan gagal." Tian Hei terhenti pada satu bagian di gulungan tersebut. Benar kata Xi Qia

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 15: Tidak ada Informasi yang gratis

    Kepergian Lie Sha meninggalkan keheningan aneh di Ruang VVIP. Tian Hei berdiri sejenak, menimbang perkataan pria itu, lalu menyimpan token giok dan gulungan kuno ke dalam cincin ruangnya. Palu Pemusnah Surga tetap berada di punggungnya, diselimuti kain hitam tebal. Meski tertutup rapat, auranya masih terasa—liar, berat, dan menekan. “Dunia ini sangat luas,” ucap Xi Qianyue pelan saat mereka melangkah keluar dari ruangan. “Sebaiknya kita mencari beberapa informasi di dalam kota.” Tian Hei tidak menyangkal. Ia juga merasakan hal yang sama. Mereka berjalan keluar dari Paviliun Awan Tenang. Sang manajer paviliun langsung membungkuk hormat saat berpapasan dengan Tian Hei, tubuhnya sedikit gemetar. Tian Hei dan Xi Qianyue melangkah memasuki distrik perdagangan utama kota. Jalanan batu yang lebar dipenuhi kios-kios, paviliun kecil, serta bangunan bertingkat tempat para kultivator dan pedagang berkumpul. Namun, suasana yang biasanya riuh kini terasa sedikit kaku. Beberapa orang berh

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 14: Kelahiran Iblis Pembantai

    Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    bab 13: Tian Hei vs Gu Tianhong

    "Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 12: Hanya ini kualitas Klan mu?

    BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya d

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 11: Konsekuensi melihat wajahnya

    “Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status