แชร์

02. Pria Asing

ผู้เขียน: Nyemoetdz Kim
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-13 20:34:59

"Apa pentingnya kau tau siapa aku. Waktumu tidak banyak, kau hanya harus mengatakan permintaanmu atas penderitaan yang kau terima selama ini. Luapkan amarahmu itu, maka kau bisa terbebas dari ini semua."

"Apa itu artinya aku akan hidup sehat?"

Pria asing itu hanya mengangkat bahu menjawab sebelum dia membuat pintu kamar mandi yang mulanya terkunci dari dalam terbuka.

"Dengarkan aku, pikirkan apa yang aku katakan jika kau ingin menikmati hidupmu. Menyakitkan bukan ketika mengetahui dirimu seperti ini saat keinginan di hidupmu begitu besar. Kau harus ingat jika kau ini akan mati beberapa waktu lagi."

"Kau bukan Tuhan yang tau kapan aku akan mati, jadi tidak perlu mengatakan apapun!"

"Maisa!"

Panggilan seseorang yang sedari tadi coba membuka pintu sudah ada di samping Maisa yang langsung menatapnya bersamaan dengan pintu terbuka.

"Kau tidak apa-apa? Bagaimana kau mengunci pintunya seorang diri, kau membuatku khawatir, dan darah tadi?"

"Ti–dak, aku—"

Teringat akan itu, Maisa menoleh ke sisi yang berbeda. Dia pikir pria asing itu akan ada di sampingnya, namun tidak ada orang lagi selain mereka berdua di sana.

"Ke mana dia?" tanyanya dengan tatapan bingung. Matanya mencari keberadaan pria itu, anehnya dia tidak ada. Otaknya membuat dia berpikir kebenaran yang pria itu katakan.

"Siapa? Kau mencari sesuatu?"

"Ta–di ada seseorang di sini, dia—"

"Kau itu sebaiknya istirahat. Tak ada siapapun di sini, hanya dirimu saat aku baru masuk."

"Tadi dia di sini."

"Dia siapa? Tidak ada siapapun. Sebaiknya kita keluar, kau membuatku khawatir."

Maisa melangkah keluar kamar mandi dengan wajah bingung. Jika pria asing itu keluar, harusnya dia tau, dia malah bingung karena tak ada pria itu di sana.

Bekerja sebagai asisten costume designer, dia bergulat tentang kostum yang akan dikenakan pemain untuk sebuah film atau drama. Beberapa hari ini dia begitu sibuk, apalagi costume designer yang harus menyelesaikan malah pergi berlibur, dan membiarkan Maisa mengatur semuanya sendiri.

"Sebaiknya kau pulang. Aku sungguh tidak salah lihat, kau tadi mimisan bahkan darah yang keluar begitu banyak sampai ke pakaian mu, tapi—"

"Itu juga yang membuatku bertanya-tanya. Apa aku sedang bermimpi?"

"Apa kau sedang sakit? Kau tidak sedang menutupi sesuatu dariku kan?" Wanita cantik yang juga sahabat Maisa itu menatap khawatir karena kondisi sahabatnya tadi, belum lagi sekarang dia terlihat seperti orang bingung.

"Sebaiknya aku lanjutkan pekerjaanku sebelum Bu Sofie memarahiku lagi. Kau juga harus melanjutkan, lakukan tugasmu sekarang."

"Tapi, Maisa ...."

Senyum manisnya seakan tak merasakan sakit yang tadi membuatnya tumbang. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya, dia terus memikirkan pria asing yang bicara dengannya di kamar mandi tadi.

"Siapa dia? Apa aku sedang bermimpi? Tapi ...."

Otaknya terus memikirkan itu hingga suara ponsel membuatnya harus fokus ketika melihat siapa yang menghubunginya.

"Apa kau sudah menyelesaikan semua?" Suara seorang wanita coba mengajak Maisa bicara.

"Sudah 90% tinggal pemain mencobanya. Apa Ibu tidak pulang?"

"Untuk apa aku pulang ketika kau bisa mengurusnya sendiri. Lakukan tugasmu dengan benar, jangan membuat kesalahan yang fatal. Ingat! Kau berhutang budi padaku, yang harus kau lakukan membalasnya."

Maisa diam, jika bukan karena butuh, dia sudah pergi dari tempat itu. Selalu saja di bahas tentang balas budi yang harusnya sudah dia bayar sejak lama.

"Baik, Bu."

"Aku tutup teleponnya. Kirimkan hasil akhirnya lusa. Aku tak ingin ada kesalahan."

Bekerja dengan sangat hati-hati, itu yang Maisa lakukan, namun tetap saja caranya bekerja kadang masih dianggap salah.

Meskipun merasa kesakitan beberapa waktu lalu, dia tidak ingin pulang seperti yang sahabatnya katakan. Dia melanjutkan pekerjaan, seperti yang sudah dibicarakan dengan timnya.

***

"Lelah sekali."

Wanita cantik dengan rambut sebahu itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang tidak begitu besar dengan mata terpejam, akan tetap tidak tidur.

Tinggg!

Satu notif masuk ketika dia masih merasakan bagaimana lelahnya itu menjalar ke tubuh. Hidup seorang diri tak bisa membuatnya mengeluh tentang keadaan ataupun kondisi yang dirasa. Dia harus menikmati itu semua seorang diri setelah ibunya meninggal dan ayahnya pergi entah ke mana.

[Bu Maisadipta, apa Anda tidak lupa jika besok harus menemui Dokter Kamal. Beliau menunggu Anda sebelum berangkat bekerja, sebelum Dokter pergi untuk tugas keluar kota. Saya akan terus ingatkan agar Anda bisa datang.]

Maisa menghela nafas setelah membaca tanpa membuka pesan itu. Asisten Dokter coba mengingatkan dia agar datang ke rumah sakit, karena wanita cantik itu sudah melewatkan jadwal pemeriksaan 2 minggu.

"Jika memang bisa mengatakan permintaan lalu aku bisa sembuh, apa benar aku akan menghancurkan dunia?"

Teringat tentang ucapan pria asing itu, dia kembali memikirkan apa yang harus dilakukan. Haruskah dia mengatakan apa yang pria itu mau.

"Kau seperti orang gila jika percaya dengan pria itu. Sebaiknya kau memang tidur, otakmu butuh istirahat."

Maisa melempar asal ponsel ke samping tempat tidurnya dan langsung menyelimuti tubuh berencana untuk benar-benar tidur.

Terima nasib saja dia masih salah, apalagi dia membantah nasib yang sudah digariskan. Haruskah dia menyalahkan Tuhan akan penderitaan yang didapat, itu bukan dirinya jika mau menyalahkan Tuhan atas apa yang dirasa.

***

"Akhirnya kau datang juga. Apa begitu sibuknya hingga kau melewatkan jadwal kontrolmu? Aku sudah katakan, segera lakukan operasi agar Tumor di otakmu itu bisa diangkat sebelum resikonya menjadi lebih besar."

Maisa sebenarnya malas untuk datang, hanya saja obatnya habis. Tak mungkin dia menunjukkan kondisi seperti kemarin. Dia terselamatkan oleh pria asing itu, makanya tidak ada yang curiga ketika penyakitnya kambuh.

"Aku akan dibunuh oleh bosku jika tidak menyelesaikan pekerjaan ini. Apa bedanya jika aku membiarkannya, lagian rasa sakitnya berkurang," tutur Maisa.

"Bohong! Tanda di layar ini tidak sama seperti yang kau katakan. Kau mengundur operasi sejak 3 bulan lalu, hanya menunggu pekerjaanmu selesai. Film seperti apa yang sedang kau kerjakan hingga membutuhkan waktu yang lama."

Maisa tidak menjawab, dia yang bersalah, namun dia juga yang tak ingin melakukan operasi itu. Dia masih ingin bertemu dengan ayahnya, jika resiko operasi membuatnya lupa ingatan, bukankah itu artinya dia tak akan ingat dengan ayahnya yang sejak usia 8 tahun meninggalkannya.

"Lakukan operasi itu secepatnya, aku yakin kau ingin melakukan itu juga kan. Haruskah aku bicara pada Bosmu tentang kondisi yang kau alami ini. Jangan hanya diam dan membiarkan."

"Bukankah resikonya hilang ingatan, Dok? Bagaimana aku bisa menemukan ayahku ketika aku memilih melakukan operasi dan lupa. Mungkin kisah hidupku memang begitu suram dan perlu dilupakan, tapi aku masih ingin bertemu dengannya. Aku takut malah melupakannya. Hanya sebentar saja, setelah aku menemukannya, aku berjanji akan melakukan prosedur itu, tapi apa aku tetap akan selamat hingga waktu itu?"

"Kau bisa mencarinya dari foto yang kau miliki."

"Kalau saja aku punya itu. Hanya memori diingatan yang aku simpan tentang ayahku, aku harap bisa menemuinya dalam waktu dekat sebelum rasa sakit ini membuatku menyerah."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   26. BAB 26: PERANG TERBUKA DI ATAP LANGIT

    ​Keheningan di dalam kamar ICU itu terasa menipu. Meski Bima telah membuka mata dan menghirup udara dunia manusia kembali, suasana tidak lantas menjadi tenang. Udara di sudut ruangan tiba-tiba berputar ganjil, membentuk pusaran debu halus yang hanya bisa disaksikan oleh mata batin mereka. ​Bima mencoba duduk dengan susah payah, wajahnya masih sangat pucat. Ia menatap telapak tangannya sendiri; garis-garis emas yang biasanya bersinar megah di bawah kulitnya kini telah meredup total, pertanda kekuatan dewa miliknya telah ditekan paksa agar jiwanya bisa bertahan di bumi. ​Bima menatap punggung tangan Maisa yang memerah akibat percikan energi saat mereka berada di dimensi mimpi tadi. Rasa bersalah yang baru kini menghantam dadanya lebih keras daripada hukuman langit mana pun. Sebagai mantan Batara, ia tahu persis betapa kejamnya Pelacak Fajar. Mereka tidak hanya memburu raga, melainkan menyiksa jiwa siapa pun yang berani membantu sang pemberontak langit. ​B

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   25. MENEMBUS TITIK NOL

    Petir menggelegar membelah langit keunguan. Tekanan udara di alam mimpi itu tiba-tiba menjadi begitu berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri berusaha meremukkan tulang-tulang Maisa. Di hadapan mereka, gumpalan awan hitam berputar dahsyat dan membentuk sosok raksasa yang mengenakan zirah perak berkilau. Wajahnya tertutup topeng emas, namun sepasang matanya memancarkan cahaya putih yang mengintimidasi.Inilah Sang Penjaga Batas, entitas yang bertugas memastikan tidak ada hukum langit yang dilanggar, apalagi oleh seorang manusia fana."Lancang! Manusia tanah yang hina, beraninya kau menginjakkan kaki di alam pengadilan," suara Penjaga Batas itu menggema seperti ribuan lonceng logam yang memekakkan telinga. "Lepaskan tanganmu dari sang Batara, atau jiwamu akan kami lebur menjadi abu!"Maisa mempererat pelukannya pada tubuh Bima yang masih terantai, meski sekujur tubuh manusianya bergetar hebat. "Aku tidak akan melepaskannya! Dia bukan sedang diadili, dia sedang disiarkan dan

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   24 MERAMBAH DIMENSI SEMU

    ​Ruang perawatan itu kini hanya menyisakan suara ritmis dari monitor jantung. Meski luka-luka di tubuh Bima secara ajaib menutup karena sisa metabolisme surgawinya dan detak jantungnya kembali menguat, pemuda itu tetap tidak bergeming. Ia tampak seperti patung marmer yang indah namun tak bernyawa. Maisa duduk di samping ranjang, jemarinya gemetar saat menyentuh punggung tangan Bima yang terasa dingin secara tidak wajar.​Setiap detik yang berlalu tanpa melihat binar mata Bima adalah cambukan bagi Maisa. Ia merasa, jika saja ia tidak membiarkan Bima masuk ke dalam hidupnya yang fana, Bima tidak akan berakhir menjadi raga yang kosong seperti ini.​"Lukamu sudah hilang, Bima. Napasmu sudah tenang. Lalu kenapa kamu masih betah di sana? Apa hukumanmu belum selesai?" Maisa berbisik parau, membiarkan air matanya menetes ke punggung tangan Bima.​Setelah puas menangis di samping Bima dan menyalahkan diri sendiri, ia berjalan keluar ke taman rumah sakit untuk mengurangi rasa sesa

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   23 SECERCAH HARAPAN DI KORIDOR SUNYI

    Berikut adalah revisi kelanjutan cerita Anda untuk Bab 23. Narasi diolah dengan memperdalam dinamika persahabatan antara Maisa dan Sully, serta mempertegas ketegangan medis akibat hilangnya perlindungan surgawi Bima yang kini membutuhkan transfusi darah manusia. Tulisan dikemas secara padat, dramatis, dan scannable di bawah 1.000 kata.​​Lampu koridor berkedip ritmis, menciptakan suasana mencekam di tengah aroma disinfektan yang menusuk hidung. Sully baru saja hendak mengurus administrasi pengobatan ibunya ketika langkah kakinya membeku seketika. Di ujung lorong, seorang wanita duduk bersimpuh di lantai dengan bahu yang berguncang hebat. Pakaian wanita itu—yang Sully kenali sebagai gaun favorit sahabatnya—kini tidak lagi berwarna putih bersih, melainkan ternoda merah pekat yang mulai mengering.​Sully merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Sahabat yang menghilang tanpa kabar selama berminggu-minggu itu kini ada di depannya, tampak hancur seperti seseorang yang baru

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   22 KUTUKAN SERATUS KELAHIRAN

    ​Kondisi Bima kini menjadi sebuah anomali yang membingungkan penghuni dua dunia. Tubuhnya terbaring kaku dan dingin di ranjang medis, terhubung dengan berbagai selang yang menjadi satu-satunya penyambung nyawa fisiknya. Namun, secara metafisika, keberadaan Bima seperti sebuah jangkar yang tersangkut di antara dua dimensi.​Di ambang batas itu, suasana terasa sangat aneh. Bima bisa melihat cahaya keemasan dari gerbang Kahyangan yang mulai terbuka, tempat para Batara berdiri dengan wajah penuh wibawa namun tampak gelisah. Mereka mengulurkan tangan, mencoba menarik sukma Bima untuk segera naik dan menyelesaikan takdir kematiannya. Namun, setiap kali jemari cahaya mereka menyentuh esensi jiwa Bima, ada sebuah ikatan tak terlihat yang menyentak mereka kembali.​"Mengapa sukmanya begitu berat?" bisik salah satu Batara dengan nada heran. "Dia sudah tidak memiliki napas yang layak, tapi buminya tidak mau melepaskannya."​Bima, dalam kondisi komanya, merasakan tarikan itu seperti

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   21 JANGKAR JIWA DI AMBANG BATAS

    ​Suara letusan senjata kedua membelah gemuruh hujan. Maisa telah melemparkan dirinya ke atas tubuh Bima, berniat menjadi perisai bagi pria yang telah memberikan segalanya untuknya. Namun, di detik-detik krusial, Bima menggunakan sisa tenaga penghabisan untuk memutar posisi mereka.​DOR!​Peluru itu kembali bersarang di tubuh Bima, tepat di punggungnya, meleset tipis dari tubuh Maisa yang kini berada dalam dekapannya. Bima mengerang tertahan, tubuhnya tersentak hebat, dan darah hangat mulai merembes membasahi pakaian Maisa.​"Tidak, Bima, kenapa?!" tangis Maisa histeris. Ia memeluk kepala Bima, mencoba menutupi luka itu dengan tangannya yang bergetar. "Kenapa kamu terus melindungiku? Aku yang harusnya mati, Bima! Aku yang sakit, aku yang tidak punya waktu lama! Kenapa kamu membuang nyawamu untukku?"​Bima tersenyum sangat tipis, wajahnya kini sepucat kertas. Napasnya tersengal, namun matanya menatap Maisa dengan kelembutan yang tak goyah. "Karena... bagiku... satu har

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   06. Bertemu Ayah

    "Aku butuh bantuanmu untuk mengurangi rasa sakit ini agar aku bisa bertemu dengan ayahku. Tolong bantu aku."Maisa semakin erat memegang tangan pria itu. Berharap bisa mendengar jawaban iya ketika hanya pria asing itu yang bisa membantunya."Katakan apa permintaanmu?" Suaranya begitu candu, deep vo

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   05. Biarkan Dia Bersamaku

    "Kau tidak apa-apa?"Pertanyaan Sully membuat sahabatnya itu mendongak dan melihat dengan tatapan khawatir. "Aku pikir kau beberapa kali sering hampir pingsan. Ada apa? Ambillah cuti agar kau bisa istirahat dengan baik.""Dan berakhir aku dipecat oleh Bu Sofie? Tidak!""Benar juga, tapi kau tidak b

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   04. Pria Misterius Itu Lagi

    "Katakan apa permintaanmu, kau merasa kesakitan sekarang. Bukankah itu membuatmu menyalahkan Tuhan yang tidak adil padamu?"Pria asing yang kemarin mendatanginya lagi, kali ini dia duduk berjongkok di hadapan Maisa yang tampak kesakitan dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi."Kau tak ing

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   03. Maisadipta

    'Kau harus memikirkan kondisimu. Aku akan membantu mencarikan keberadaan ayahmu, tapi lakukan operasi itu karena kondisimu tidak bisa menunggu itu.'Maisa melamun dengan isi kepala yang terus mengingat tentang ucapan Dokter Kamal. Pilihan yang sulit ketika dia ingin sekali menemukan ayahnya. Kabar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status