Share

04. Pria Misterius Itu Lagi

Penulis: Nyemoetdz Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-13 20:36:16

"Katakan apa permintaanmu, kau merasa kesakitan sekarang. Bukankah itu membuatmu menyalahkan Tuhan yang tidak adil padamu?"

Pria asing yang kemarin mendatanginya lagi, kali ini dia duduk berjongkok di hadapan Maisa yang tampak kesakitan dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi.

"Kau tak ingin menerima bantuanku ini? Bukankah rasa sakit itu berkurang dengan memegang tanganku."

Maisa menatap tangan kanan pria tampan di hadapannya. Dia ragu untuk memegangnya, karena dia tak percaya dengan apa yang dikatakan. Walau sebelumnya pria itu sudah membuktikan.

"Kau ragu? Baiklah, sebaiknya aku pergi."

Bersamaan dengan pria asing itu berdiri, rasa sakit itu menusuk pada kepala Maisa hingga dia tak sadar langsung memeluk erat kaki pria yang tidak dia kenal karena rasa sakitnya begitu menyiksa.

"Akh! Sakit sekali ..." rintih Maisa dengan suara tertahan.

"Bukankah kau tak percaya akan bantuan yang aku tawarkan, jadi lepaskan kakiku."

"Sebenarnya siapa dirimu, kenapa kau datang ketika rasa sakit ini kurasakan? Apa kau ini ajalku?"

Pria itu tersenyum. "Jika iya, apa kau ingin marah atau lari? Kau saja tidak bisa melawan rasa sakit mu itu," tuturnya.

"Aku ..."

"Manusia akan merasa marah dan kecewa ketika jalan hidupnya tidak sesuai keinginan. Jadi, katakan apa yang mengganjal di hatimu dan luapkan. Mintalah untuk hancurkan dunia ini agar kau merasa adil."

"Ti-dak!"

Maisa melepaskan tangannya dari kaki pria asing itu, tangannya mengepal menyalurkan rasa sakit itu hingga pria itu kembali duduk di hadapan dan menyentuh tangannya tanpa diminta.

Sejenak seperti ada sesuatu yang menyeret atau bahkan mengurangi rasa sakit itu, hingga benar-benar hilang.

"Siapa kau sebenarnya?" Maisa dengan mata yang tampak kesakitan menatap pria dihadapannya.

"Aku amarahmu, aku berharap kau marah akan takdir buruk mu ini. Wanita ulet dan pekerja keras sepertimu harus menderita, bukankah itu tidak adil, bahkan saat ini penyakit itu membuatmu semakin lemah."

"Apa yang kau mau dariku? Aku pikir tidak mungkin hanya itu yang kau harapkan."

"Permintaan. Aku ingin kau mengatakan permintaanmu, maka nanti aku akan kabulkan. Meluapkan kekecewaan mu dengan satu permintaan yang bisa saja merubah nasibmu."

Maisa dengan posisi yang sama menatap lawan bicaranya. "Maka sembuhkan aku. Sembuhkan aku dari rasa sakit ini. Itu permintaanku."

"Itu bukan kuasaku, aku hanya amarah dan kehancuran." Sorot matanya tegas, dengan senyum dingin yang menusuk, namun tidak mengurangi ketampanannya.

"Kalau begitu kau memintaku untuk menghancurkan diriku sendiri ketika mengatakan permintaanku. Apa begitu?" Sorot mata Maisa begitu dalam, jujur saja dia takut untuk mati sekarang. Namun, dia tak pernah menyalahkan takdir.

Gadis baik seperti dia merasa tidak berhak untuk mencaci akan apa yang menjadi garis hidupnya. "Kenapa? Apa yang aku katakan benar? Jika iya lakukan saja apa yang menjadi tugasmu tanpa memaksa aku mengatakan keinginanku, jika pada akhirnya tetap saja kehancuran yang aku rasakan."

"Tidak bisa tanpa kau mengatakan permintaan itu, dan apa yang kau katakan sekarang tidak dengan tulus kau katakan," balasnya.

Tangan pria itu membuat tubuh Maisa berdiri, sekarang mereka malah lebih dekat. "Waktumu tidak banyak, katakan saja apa permintaanmu, maka kau tidak akan menyesal nantinya."

"Jika kau tidak bisa merubah nasib, kenapa kau memaksa. Aku ingin menjalani kehidupanku seperti yang aku inginkan."

"Dengan rasa sakit ini? Katakan kau ingin hidup, katakan kau ingin egois dengan ini semua. Kau mau melakukan itu." Semakin dekat, pria asing itu bahkan masih memegangi agar tubuh mereka lebih dekat.

"Aku memberimu waktu untuk memikirkannya. Kau membutuhkan apa yang aku harus kabulkan. Saat rasa sakit itu kembali, dan kau membutuhkan diriku, aku akan menagihnya."

"Tidak akan! Kehancuran yang akan aku rasakan nanti bisa aku rasakan sendiri tanpa harus kau memberikannya." Maisa coba melepaskan genggaman tangan dan melangkah mundur.

"Baiklah, kita lihat seberapa kuat kau menahan rasa sakit itu. Kau hanya akan menyiksa dirimu. Pilihannya kau pergi dengan penyesalan, atau rasa lega akan kehancuran yang kau katakan."

"Sebaiknya aku pergi, aku tak ingin melihatmu," ucap Maisa.

"Inikah rasa terima kasihmu atas bantuan yang aku berikan. Tak masalah, aku anggap ini salam pengenalan. Lihat saja kau akan semakin menderita ketika kau terus menolak ku. Kau membutuhkan bantuanku untuk mengurangi rasa sakit mu itu."

"Lebih baik aku mati daripada harus kembali bertemu dengan pria seperti dirimu. Kau ini hanya akan membuatku menyesal." Walaupun dibantu, Maisa tidak mau berani menyalahkan Tuhan akan apa yang didapat. Dia sudah menerima garis hidupnya sejak awal, jadi tidak akan mau dia mencaci penciptanya.

"Apa itu permintaan darimu?" Pria asing itu menatap dengan penuh tanya. Kembali senyum dinginnya itu tersungging dan membuat orang takut, tapi tidak dengan Maisa.

"Aku tak akan meminta apapun padamu."

Setelah mengatakannya, dia berjalan pergi. Tak ingin berdebat lagi, walau ada perasaan bersalah karena rasa sakitnya dibantu hilang, Maisa tak ingin termakan ucapan pria tampan tanpa dia tau siapa namanya itu.

"Kau mengikuti ku?"

Beberapa langkah di belakang Maisa, ada pria asing itu. Dia juga ikut berjalan pergi. "Aku pikir ini jalan satu-satunya menuju keluar. Apa aku tak boleh pergi juga?"

Maisa diam. Langkahnya mengarah pada tempat dia menunggu bus untuk kembali ke tempat kerjanya. Sesekali dia melirik ke arah pria yang katanya tidak mengikuti.

"Apa kau sudah menemukan orang tuamu? Aku pikir dia tak peduli dengan dirimu di sini."

Maisa melirik terkejut, dan membuat pria asing itu menghentikan langkahnya. "Matamu akan lepas ketika melirikku seperti itu."

"Kau tau tentang ayahku?" Dia tidak percaya jika pria itu juga mengerti tentang sang ayah.

"Apa yang tidak aku tau tentang dirimu, kau masih meragukan ketika apa yang aku tawarkan akan membantumu."

"Membantu menghancurkan, apa itu bisa diartikan bantuan?"

"Terserah kau saja. Memang sebaiknya aku pergi, jangan mencari ku. Nikmati rasa sakit mu dan pergi dengan penyesalan yang kau pendam itu."

Pria itu mengedipkan satu mata setelah mengatakannya, tak lupa senyuman manis itu tersungging dari bibirnya. Setelah itu dia berjalan pergi membiarkan wanita cantik itu termenung dengan ucapan yang dikatakan.

"Kalau memang harus mati, itu memang sudah menjadi takdirku. Kenapa aku harus marah tentang itu. Ya, kenapa aku harus marah?"

Ucapan yang dikatakan tak sejalan dengan apa yang diinginkan. Kalau dia mengambil keputusan tak ingin dulu operasi, itu karena tak mau ingatannya hilang saat mencari keberadaan ayahnya. Dia takut mati sebelum bertemu dengan ayahnya. Lucu memang, namun dia percaya jika sang ayah memiliki alasan meninggalkannya.

"Kau di mana?" tanya Sully dari balik sambungan telepon.

"Sedang di jalan, menuju tempat kerja. Ada apa?"

"Apa kau sudah bertemu dengan Jess? Bagaimana? Apa benar dia yang mengambil klien kita?" tanyanya lagi.

"Benar, dan-"

Maisa tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat seseorang yang baru dia temui berada di seberang jalan sambil menatapnya. Dia memang pria aneh dan misterius. Ingin dia tidak percaya, tapi beberapa kali pria itu menunjukkan hal itu.

"Apa yang dia lihat, kenapa dia terlihat begitu menakutkan dengan tatapan itu. Walau dia tampan, tapi-"

"Kau sedang membicarakan siapa? Halo?"

Sambungan teleponnya saja belum dimatikan, tapi dia sudah bicara yang tidak jelas. "Maisa! Apa kau mendengar ku!"

"Oh ... ya, aku tutup teleponnya. Kita bertemu setelah ini, siapkan beberapa design yang sudah aku siapkan kemarin."

"Tunggu! Apa kau sedang bersama kekasihmu? Maisa?" Sebelum sambungan telepon dimatikan Sully kembali bertanya karena penasaran.

"Sudahlah, aku tutup!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   05. Biarkan Dia Bersamaku

    "Kau tidak apa-apa?"Pertanyaan Sully membuat sahabatnya itu mendongak dan melihat dengan tatapan khawatir. "Aku pikir kau beberapa kali sering hampir pingsan. Ada apa? Ambillah cuti agar kau bisa istirahat dengan baik.""Dan berakhir aku dipecat oleh Bu Sofie? Tidak!""Benar juga, tapi kau tidak bisa memaksakan diri. Wajahmu pucat, sebaiknya letakkan alat tulis mu dan berbaring. Aku tak ingin kau memaksakan diri. Biar aku yang mengecek design yang mereka setujui."Beberapa hari ini dia merasa kesakitan, namun bukan Maisa kalau tidak keras kepala. Dia tetap mengerjakan tugasnya. Dia sungguh menerima nasibnya dengan baik, walaupun hal buruk yang dia dapatkan. Hidupnya tidak mudah sejak dulu, mungkin dia terbiasa akan itu.Untuk saat ini dia coba berbaring seperti yang sahabatnya katakan. Dia tak sanggup dengan rasa sakitnya. Berbaring diatas tempat tidur, itu yang dilakukan sekarang."Ibu ..." panggilan lirih terdengar ketika dia tak tahan dengan rasa sakitnya.Tak ingin membuat mereka

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   04. Pria Misterius Itu Lagi

    "Katakan apa permintaanmu, kau merasa kesakitan sekarang. Bukankah itu membuatmu menyalahkan Tuhan yang tidak adil padamu?"Pria asing yang kemarin mendatanginya lagi, kali ini dia duduk berjongkok di hadapan Maisa yang tampak kesakitan dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi."Kau tak ingin menerima bantuanku ini? Bukankah rasa sakit itu berkurang dengan memegang tanganku."Maisa menatap tangan kanan pria tampan di hadapannya. Dia ragu untuk memegangnya, karena dia tak percaya dengan apa yang dikatakan. Walau sebelumnya pria itu sudah membuktikan."Kau ragu? Baiklah, sebaiknya aku pergi."Bersamaan dengan pria asing itu berdiri, rasa sakit itu menusuk pada kepala Maisa hingga dia tak sadar langsung memeluk erat kaki pria yang tidak dia kenal karena rasa sakitnya begitu menyiksa."Akh! Sakit sekali ..." rintih Maisa dengan suara tertahan."Bukankah kau tak percaya akan bantuan yang aku tawarkan, jadi lepaskan kakiku.""Sebenarnya siapa dirimu, kenapa kau datang ketika rasa sa

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   03. Maisadipta

    'Kau harus memikirkan kondisimu. Aku akan membantu mencarikan keberadaan ayahmu, tapi lakukan operasi itu karena kondisimu tidak bisa menunggu itu.'Maisa melamun dengan isi kepala yang terus mengingat tentang ucapan Dokter Kamal. Pilihan yang sulit ketika dia ingin sekali menemukan ayahnya. Kabar yang didapat beliau hidup bahagia dengan keluarga barunya, meski begitu dia tetap ingin bertemu ayahnya.Saat dia berharap bisa dekat dengan cinta pertamanya, kenyataan memisahkan mereka. Masalah kedua orang tua memisahkan mereka, walau sebenarnya bisa saja sang ayah mencari keberadaan Maisa, namun hingga usianya 26 tahun dia tak lagi bertemu dengan ayahnya."Nyonya Maisadipta!"Panggilan apoteker membuat lamunannya buyar dan segera mengambil resep dari Dokter Kamal."Dokter menambah obat lagi, apa Anda belum mau untuk menjalani operasi?"Karena sering datang, Maisa mengenal beberapa orang yang bekerja di rumah sakit. Apalagi dengan Dokter Kamal, dia seperti puterinya."Nanti saja kalau aku

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   02. Pria Asing

    "Apa pentingnya kau tau siapa aku. Waktumu tidak banyak, kau hanya harus mengatakan permintaanmu atas penderitaan yang kau terima selama ini. Luapkan amarahmu itu, maka kau bisa terbebas dari ini semua.""Apa itu artinya aku akan hidup sehat?"Pria asing itu hanya mengangkat bahu menjawab sebelum dia membuat pintu kamar mandi yang mulanya terkunci dari dalam terbuka."Dengarkan aku, pikirkan apa yang aku katakan jika kau ingin menikmati hidupmu. Menyakitkan bukan ketika mengetahui dirimu seperti ini saat keinginan di hidupmu begitu besar. Kau harus ingat jika kau ini akan mati beberapa waktu lagi.""Kau bukan Tuhan yang tau kapan aku akan mati, jadi tidak perlu mengatakan apapun!""Maisa!"Panggilan seseorang yang sedari tadi coba membuka pintu sudah ada di samping Maisa yang langsung menatapnya bersamaan dengan pintu terbuka."Kau tidak apa-apa? Bagaimana kau mengunci pintunya seorang diri, kau membuatku khawatir, dan darah tadi?""Ti–dak, aku—"Teringat akan itu, Maisa menoleh ke si

  • Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku   01. Siapa Dirimu?

    "Maisa!"Teriakan terkejut seseorang membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah yang dipanggil.Seketika tatapan itu berubah kepanikan karena melihat salah satu teman kerjanya tertunduk sambil memegangi meja dengan darah mengalir dari hidungnya dan hampir jatuh pingsan."A–ku tidak apa-apa! Aku ingin ke kamar mandi sebentar."Dengan langkah kaki cepat, wanita cantik dengan rambut sebahu itu bergegas ke arah kamar mandi yang berada tak jauh dari ruangan meeting.Sesampainya di kamar mandi, dia langsung mengunci pintu dari dalam dan terduduk di kloset karena merasakan rasa sakit yang teramat di kepalanya."Maisa! Buka pintunya!"Ketukan pintu dan panggilan terdengar dari seseorang yang mengikutinya masuk kamar mandi. Suaranya terdengar khawatir, namun wanita di dalam kamar mandi itu tidak ada keinginan untuk membukanya."A–ku tidak apa-apa. Setelah ini aku akan keluar," jawabnya dengan tenaga yang tersisa."Maisa!"Suara ketukan tak membuat dia ingin cepat membuka pi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status