LOGIN'Kau harus memikirkan kondisimu. Aku akan membantu mencarikan keberadaan ayahmu, tapi lakukan operasi itu karena kondisimu tidak bisa menunggu itu.'
Maisa melamun dengan isi kepala yang terus mengingat tentang ucapan Dokter Kamal. Pilihan yang sulit ketika dia ingin sekali menemukan ayahnya. Kabar yang didapat beliau hidup bahagia dengan keluarga barunya, meski begitu dia tetap ingin bertemu ayahnya. Saat dia berharap bisa dekat dengan cinta pertamanya, kenyataan memisahkan mereka. Masalah kedua orang tua memisahkan mereka, walau sebenarnya bisa saja sang ayah mencari keberadaan Maisa, namun hingga usianya 26 tahun dia tak lagi bertemu dengan ayahnya. "Nyonya Maisadipta!" Panggilan apoteker membuat lamunannya buyar dan segera mengambil resep dari Dokter Kamal. "Dokter menambah obat lagi, apa Anda belum mau untuk menjalani operasi?" Karena sering datang, Maisa mengenal beberapa orang yang bekerja di rumah sakit. Apalagi dengan Dokter Kamal, dia seperti puterinya. "Nanti saja kalau aku sudah mendapatkan libur," jawabnya enteng dengan senyum manis mengembang di bibir ranum itu. "Ah ... benar juga. Apa proyek film itu mulai berjalan?" "Hmmm ... jangan bilang-bilang ya, ini rahasia," bisik Maisa, kembali senyum manis itu mengembang dari bibirnya. "Aku berharap film yang diperankan aktor itu berjalan lancar, aku sungguh menunggu dia bermain peran lagi setelah skandal yang menimpanya." "Ya, semoga saja." Setelahnya wanita dengan rambut ikal terusai rapi itu berjalan keluar rumah sakit, tak ingin terus memikirkan kondisi kesehatan yang tak ada kabar baiknya. "Selamat pagi." Dengan senyum manisnya, dia menyapa rekan kerja yang sudah ada dihadapannya. "Apa kau tidak menjawab pesan dari Bu Sofie? Dia begitu marah, cepat hubungi dia." Tanpa menjawab sapaan Maisa, dia menyampaikan hal yang seketika membuatnya menghela nafas. Itu bukan pertanda baik, pikirnya. "Bu Sofie? Kenapa memangnya?" Maisa yang baru datang disambung dengan kabar tak enak karena bosnya sejak tadi mencari. Sambil duduk, mata Maisa fokus pada ponsel yang memang terlihat ada pesan dari Bosnya begitu banyak. Bahkan tertulis cacian di sana. "Apa kau ini tidak bisa langsung menjawab pesanku! Ha!" Baru saja panggilan terhubung, terdengar teriakan dari Bu Sofie. Ini akan menjadi masalah besar untuk Maisa yang tadi harus ke rumah sakit dulu, itu sebabnya tak tau kalau ada pesan. "Maaf, Bu, ada apa ya?" "Kau membatalkan kontrak yang kita incar beberapa waktu ini demi proyek lain? Apa begitu!" "Membatalkan? Bukankah mereka sudah memberikan DP untuk menggunakan jasa kita, bagaimana—" "Aku tidak mau tau, dapatkan proyek kerja sama itu lagi. Kalau ini benar-benar gagal, kau yang harus mengganti semuanya." Maisa tampak bingung dengan penjelasan bosnya, memang akan ada proyek setelah film yang sedang berjalan ini dia selesaikan. Namun, dia tidak membatalkan apapun, karena memang bukan kewajibannya. "Memangnya kenapa Tuan Robert membatalkan kerjasama? Bukankah beberapa design sudah dilihat dan mereka menyetujui, kenapa malah dibatalkan?" "Cari tau itu, jangan membuatku pulang kalau kau tidak ingin berhenti dari pekerjaanmu. Kau itu memang tidak becus!" Baru juga akan menyelesaikan pekerjaan yang sekarang, sudah ada masalah. Padahal dia begitu ingin libur untuk mencari keberadaan sang ayah yang sudah dia ketahui alamatnya. Untuk memastikan dia butuh pergi ke sana, dan jika sedang ada pekerjaan tak mungkin dia bisa pergi. "Apa dia marah?" Sully, sahabat yang dia kenal beberapa tahun ini segera mendekat ketika melihat asisten costume designer cantik itu menutup sambungan telepon. "Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak tau apa-apa. Bagaimana Tuan Robert membatalkan kerjasama ini?" "Yang aku dengar, mereka mendapatkan tawaran bagus dari Jess, dia yang mengambil alih." "Jesslyn?" Ada penekanan di pertanyaan yang Maisa lontarkan dengan tatapan tegas. "Iya, tidak hanya sekali ini dia mengkhianatimu. Ini untuk kesekian kalinya, dan kau akan tetap diam?" "Aku harus bertemu dengannya." Maisa urung untuk menyelesaikan pekerjaannya, dia ingin bertemu dengan seseorang yang katakan merebut kontraknya. Jika masalah ini tidak selesai, maka Bu Sofie yang akan membunuhnya. Dalam perjalanan dia coba menghubungi seseorang yang bernama Jess, akan tetapi tidak ada jawaban meski 3x dia coba menghubungi. Kesal pasti, karena tidak sekali dia mengalami hal seperti ini. *** Sampailah dia di tempat Jess berada, dia mengetahui keberadaan dari salah satu teman. Sepertinya dia juga sedang bertemu dengan Tuan Robert. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tatapan terkejut terlihat ketika Jess melihat seseorang yang juga temannya dulu. Mereka bekerja bersama beberapa waktu lalu, sampai Jess memutuskan untuk pergi karena merasa tersisihkan. "Kenapa kau begitu terkejut? Tuan Robert apa kabar? Kebetulan saya bertemu Anda di sini. Tidak bisakah saya bicara sebentar?" Kedatangan Maisa membuat mereka diam. Kontrak kerjasama itu dibatalkan sepihak oleh pria yang sedang berdiri di hadapannya. Seakan tertangkap basah, pria itu terlihat panik melihat ada Maisa di sana. "Aku sudah jelaskan alasannya pada bosmu. Dia dengan seenaknya sendiri memutuskan hal yang tidak aku mau, daripada dia seenaknya sendiri, aku memilih mundur." Pria itu coba menjelaskan apa yang menjadi alasannya pergi begitu saja. "Bukankah itu design yang sama ...." Maisa menunjuk gambar yang temannya bawa tempat di atas meja dan jelas terlihat design siapa itu. "Ah itu ... sebaiknya aku pergi, aku tidak ada banyak waktu," pungkas Tuan Robert sambil berjalan pergi. Dia semakin terlihat panik, ketika design yang pernah Maisa tunjukan beralih tangan sekarang. "Tidak bisa, alasan Anda tidak benar. Anda malah mencuri design kita dan memberikan pada dia. Apa Anda tidak tau tindakan ini merugikan kita." Pastinya merugikan Maisa, dia yang ikut menyiapkan kostum yang akan mereka gunakan untuk drama itu, namun malah Tuan Robert memberikan pada lawan kerjanya. "Aku tidak ada waktu sebaiknya kau pergi." Karena menghalangi jalannya, dia mendorong tubuh Maisa hingga terjatuh. Dari tempatnya Jess yang awalnya, dia hanya diam berjalan mengikuti. Dengan segera Maisa berdiri dan memegangi lengannya. "Itu design yang aku buat, bagaimana kau menerima ketika itu bukan karyamu," ujar wanita dengan wajah cantik itu menatap tak terima. "Kau saja yang meniru gayaku, dari dulu juga begitu. Apa kau tidak bisa bekerja tanpa menjiplak karya orang lain?" Tak terpikirkan kata itu yang keluar dari mulut lawan bicara Maisa. Dia melontarkan kesalahan yang dia buat demi uang, seperti sebelumnya dilakukan. "Kau menuduhku? Apa aku tidak salah dengar?" Dengan senyum tipis dia menunjuk dirinya tepat di hadapan lawan bicaranya. Jess memang manipulatif, dia biang masalah. Karena dia juga Bu Sofie merugi, namun dia tidak mau menyadari kesalahannya itu. "Sebaiknya aku pergi, aku sangat sibuk. Jangan pernah datang ke sini. Masalahmu dengan Tuan Robert bukan denganku! Jangan terus menghubungiku!" Wanita tak tau malu, dia tak merasa bersalah ketika bukti dia pegang sekarang. "Kau tetap sama! Kau tau akibat yang kau buat ini? Bu Sofie begitu marah, jika dia tau dalang ini semua adalah dirimu, entah apa yang akan dilakukan padamu." "Apa kau pikir aku takut akan itu. Pergi dari sini dan jangan datang lagi." Jess mendorong bahu temannya itu hingga mundur beberapa langkah. "Kau!" Ucapan Maisa terhenti ketika kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Dia sampai tertunduk dengan tangan menggenggam lengan Jess erat. Seakan meminta tolong untuk mengurangi rasa sakitnya. "Apa yang kau lakukan! Lepaskan!" Seperti tak mendengarkan apa yang temannya katakan, Maisa menahan rasa sakit itu hingga tubuhnya terduduk. "Wanita aneh!" Setelah mengatakannya, Jess meninggalkan temannya itu seorang diri merasakan sakit. Tak peduli dengan yang dirasakan lawan bicaranya hingga wajahnya pucat pasih. Maisa sendiri tak ingin meminta tolong ataupun berteriak, dia hanya diam sambil merasakan sakit yang teramat. "Kau sudah memutuskan apa yang ingin kau minta?" Suara seseorang yang pernah dia dengar membuat kepalanya mendongak menatap sosok di hadapannya. "Butuh bantuan untuk mengurangi sakit mu?" Tangannya sambil diulurkan seperti ingin segera digapai oleh Maisa. "Ka–u!"Keheningan di dalam kamar ICU itu terasa menipu. Meski Bima telah membuka mata dan menghirup udara dunia manusia kembali, suasana tidak lantas menjadi tenang. Udara di sudut ruangan tiba-tiba berputar ganjil, membentuk pusaran debu halus yang hanya bisa disaksikan oleh mata batin mereka. Bima mencoba duduk dengan susah payah, wajahnya masih sangat pucat. Ia menatap telapak tangannya sendiri; garis-garis emas yang biasanya bersinar megah di bawah kulitnya kini telah meredup total, pertanda kekuatan dewa miliknya telah ditekan paksa agar jiwanya bisa bertahan di bumi. Bima menatap punggung tangan Maisa yang memerah akibat percikan energi saat mereka berada di dimensi mimpi tadi. Rasa bersalah yang baru kini menghantam dadanya lebih keras daripada hukuman langit mana pun. Sebagai mantan Batara, ia tahu persis betapa kejamnya Pelacak Fajar. Mereka tidak hanya memburu raga, melainkan menyiksa jiwa siapa pun yang berani membantu sang pemberontak langit. B
Petir menggelegar membelah langit keunguan. Tekanan udara di alam mimpi itu tiba-tiba menjadi begitu berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri berusaha meremukkan tulang-tulang Maisa. Di hadapan mereka, gumpalan awan hitam berputar dahsyat dan membentuk sosok raksasa yang mengenakan zirah perak berkilau. Wajahnya tertutup topeng emas, namun sepasang matanya memancarkan cahaya putih yang mengintimidasi.Inilah Sang Penjaga Batas, entitas yang bertugas memastikan tidak ada hukum langit yang dilanggar, apalagi oleh seorang manusia fana."Lancang! Manusia tanah yang hina, beraninya kau menginjakkan kaki di alam pengadilan," suara Penjaga Batas itu menggema seperti ribuan lonceng logam yang memekakkan telinga. "Lepaskan tanganmu dari sang Batara, atau jiwamu akan kami lebur menjadi abu!"Maisa mempererat pelukannya pada tubuh Bima yang masih terantai, meski sekujur tubuh manusianya bergetar hebat. "Aku tidak akan melepaskannya! Dia bukan sedang diadili, dia sedang disiarkan dan
Ruang perawatan itu kini hanya menyisakan suara ritmis dari monitor jantung. Meski luka-luka di tubuh Bima secara ajaib menutup karena sisa metabolisme surgawinya dan detak jantungnya kembali menguat, pemuda itu tetap tidak bergeming. Ia tampak seperti patung marmer yang indah namun tak bernyawa. Maisa duduk di samping ranjang, jemarinya gemetar saat menyentuh punggung tangan Bima yang terasa dingin secara tidak wajar.Setiap detik yang berlalu tanpa melihat binar mata Bima adalah cambukan bagi Maisa. Ia merasa, jika saja ia tidak membiarkan Bima masuk ke dalam hidupnya yang fana, Bima tidak akan berakhir menjadi raga yang kosong seperti ini."Lukamu sudah hilang, Bima. Napasmu sudah tenang. Lalu kenapa kamu masih betah di sana? Apa hukumanmu belum selesai?" Maisa berbisik parau, membiarkan air matanya menetes ke punggung tangan Bima.Setelah puas menangis di samping Bima dan menyalahkan diri sendiri, ia berjalan keluar ke taman rumah sakit untuk mengurangi rasa sesa
Berikut adalah revisi kelanjutan cerita Anda untuk Bab 23. Narasi diolah dengan memperdalam dinamika persahabatan antara Maisa dan Sully, serta mempertegas ketegangan medis akibat hilangnya perlindungan surgawi Bima yang kini membutuhkan transfusi darah manusia. Tulisan dikemas secara padat, dramatis, dan scannable di bawah 1.000 kata.Lampu koridor berkedip ritmis, menciptakan suasana mencekam di tengah aroma disinfektan yang menusuk hidung. Sully baru saja hendak mengurus administrasi pengobatan ibunya ketika langkah kakinya membeku seketika. Di ujung lorong, seorang wanita duduk bersimpuh di lantai dengan bahu yang berguncang hebat. Pakaian wanita itu—yang Sully kenali sebagai gaun favorit sahabatnya—kini tidak lagi berwarna putih bersih, melainkan ternoda merah pekat yang mulai mengering.Sully merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Sahabat yang menghilang tanpa kabar selama berminggu-minggu itu kini ada di depannya, tampak hancur seperti seseorang yang baru
Kondisi Bima kini menjadi sebuah anomali yang membingungkan penghuni dua dunia. Tubuhnya terbaring kaku dan dingin di ranjang medis, terhubung dengan berbagai selang yang menjadi satu-satunya penyambung nyawa fisiknya. Namun, secara metafisika, keberadaan Bima seperti sebuah jangkar yang tersangkut di antara dua dimensi.Di ambang batas itu, suasana terasa sangat aneh. Bima bisa melihat cahaya keemasan dari gerbang Kahyangan yang mulai terbuka, tempat para Batara berdiri dengan wajah penuh wibawa namun tampak gelisah. Mereka mengulurkan tangan, mencoba menarik sukma Bima untuk segera naik dan menyelesaikan takdir kematiannya. Namun, setiap kali jemari cahaya mereka menyentuh esensi jiwa Bima, ada sebuah ikatan tak terlihat yang menyentak mereka kembali."Mengapa sukmanya begitu berat?" bisik salah satu Batara dengan nada heran. "Dia sudah tidak memiliki napas yang layak, tapi buminya tidak mau melepaskannya."Bima, dalam kondisi komanya, merasakan tarikan itu seperti
Suara letusan senjata kedua membelah gemuruh hujan. Maisa telah melemparkan dirinya ke atas tubuh Bima, berniat menjadi perisai bagi pria yang telah memberikan segalanya untuknya. Namun, di detik-detik krusial, Bima menggunakan sisa tenaga penghabisan untuk memutar posisi mereka.DOR!Peluru itu kembali bersarang di tubuh Bima, tepat di punggungnya, meleset tipis dari tubuh Maisa yang kini berada dalam dekapannya. Bima mengerang tertahan, tubuhnya tersentak hebat, dan darah hangat mulai merembes membasahi pakaian Maisa."Tidak, Bima, kenapa?!" tangis Maisa histeris. Ia memeluk kepala Bima, mencoba menutupi luka itu dengan tangannya yang bergetar. "Kenapa kamu terus melindungiku? Aku yang harusnya mati, Bima! Aku yang sakit, aku yang tidak punya waktu lama! Kenapa kamu membuang nyawamu untukku?"Bima tersenyum sangat tipis, wajahnya kini sepucat kertas. Napasnya tersengal, namun matanya menatap Maisa dengan kelembutan yang tak goyah. "Karena... bagiku... satu har
Bima melangkah mendekat, mengabaikan denyut nyeri di dadanya yang kian hebat akibat melanggar hukum langit. Sebagai Batara, menyentuh manusia untuk mengintip memori masa lalu adalah tindakan terlarang yang akan mempercepat penderitaan ragawinya. Namun baginya, ketenangan jiwa Maisa jauh lebih be
Dengan langkah berat dan jantung yang berdegup tak beraturan, Maisa bangkit berdiri. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya dan hawa dingin yang merayap di kulitnya. Bima mencoba menahan lengannya sejenak, memberikan tatapan cemas, namun Maisa hanya menggeleng pelan. Ia harus melihat kebenaran itu
Langkah kaki Maisa dan Bima beradu cepat dengan aspal basah. Napas mereka memburu, membelah keheningan gang-gang sempit untuk menghindari kejaran para pria berjas hitam suruhan Wito. Setelah berhasil memanjat pagar belakang sebuah pemukiman tua dan bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, suara
Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, mereka akhirnya tiba di Jakarta. Di antara kepungan gedung pencakar langit, berdirilah rumah megah milik Wito Suherman. Namun, tak jauh dari kemewahan itu, terdapat area pinggiran kota berupa perkampungan padat tempat di mana Maisa dan ibunya dul







