LOGIN"Kau tidak apa-apa?"
Pertanyaan Sully membuat sahabatnya itu mendongak dan melihat dengan tatapan khawatir. "Aku pikir kau beberapa kali sering hampir pingsan. Ada apa? Ambillah cuti agar kau bisa istirahat dengan baik." "Dan berakhir aku dipecat oleh Bu Sofie? Tidak!" "Benar juga, tapi kau tidak bisa memaksakan diri. Wajahmu pucat, sebaiknya letakkan alat tulis mu dan berbaring. Aku tak ingin kau memaksakan diri. Biar aku yang mengecek design yang mereka setujui." Beberapa hari ini dia merasa kesakitan, namun bukan Maisa kalau tidak keras kepala. Dia tetap mengerjakan tugasnya. Dia sungguh menerima nasibnya dengan baik, walaupun hal buruk yang dia dapatkan. Hidupnya tidak mudah sejak dulu, mungkin dia terbiasa akan itu. Untuk saat ini dia coba berbaring seperti yang sahabatnya katakan. Dia tak sanggup dengan rasa sakitnya. Berbaring diatas tempat tidur, itu yang dilakukan sekarang. "Ibu ..." panggilan lirih terdengar ketika dia tak tahan dengan rasa sakitnya. Tak ingin membuat mereka yang ada di sana tau kondisinya, dia memilih mengunci pintu kamar karyawan agar tidak terganggu. Keringat dingin membasahi tubuhnya, dia sudah menelan obat, namun tidak ada efek dari obat itu. Apa yang pria asing itu katakan terbukti, rasa sakit ini menyiksanya bahkan rasa itu begitu menusuk. Dia memilih menahan sakit agar tidak melakukan operasi yang memiliki efek lupa tentang ingatannya. Dia ingin bertemu ayahnya, sebelum melakukan tindakan itu. Entah dia tidur atau pingsan yang pasti wanita malang itu memejamkan mata setelah menahan kesakitan. Rasa sakit seperti ini hilang seketika saat pria asing itu memegang tangannya. Namun, kali ini Maisa menolak. Percuma jika bantuan itu hanya untuk kehancuran. *** Jam menunjukkan pukul 5 sore ketika wanita cantik dengan wajah pucat berjalan menuju meja kerjanya. Dia sudah cukup beristirahat, dan tak mau malah menjadi masalah nantinya saat yang lain tau kondisi dia sekarang. Walau rasa sakit itu tidak sepenuhnya hilang, dia tetap melanjutkan apa yang menjadi tugasnya. "Kau terlihat begitu buruk, wajahmu pucat. Sebaiknya kau pulang," tutur Sully. "Aku tidak bisa pergi sebelum mengecek apa yang kau kerjakan itu. Kau saja yang pulang, aku akan menyusul. Aku merasa jauh lebih baik dari setelah tidur." "Maisa ..." Temannya itu coba membujuk agar Maisa mau mendengarkan apa yang dikatakan. "Bu Sofie akan terus menggangguku nanti jika aku tak menyelesaikan yang dikatakan. Dia terus menghubungiku karena masalah Tuan Robert." "Kondisimu sedang tidak baik, jadi jangan memaksakan diri. Kau juga demam kan." Tangan Sully memegang kening sahabatnya. "Aku—" tidak bisa mengelak, dia hanya menatap temannya itu pasrah. "Biar aku yang katakan pada Bu Sofie, haruskah aku membawamu ke rumah sakit juga agar dia tau kau ini memang sakit?" "Baiklah, baik. Kau bawel sekali. Kepalaku semakin sakit mendengar omelanmu." Maisa urung mengecek pekerjaan hari ini. Dia memang harus pulang, membaringkan tubuh di rumah akan jauh lebih nyaman dari pada memejamkan mata di tempat kerja dan di ganggu dengan dering telepon. Karena paksaan dari Sully, dia sekarang sedang menunggu di Halte sambil menyandarkan kepala. Sejenak dia teringat akan pertemuannya dengan pria asing itu. Wajah tampan pria itu membuatnya ingat jika pria itu yang menghilangkan rasa sakit yang ada di tubuhnya beberapa kali. Itu terasa nyaman dan seketika hilang dengan menyentuh pria itu. "Haruskah aku meminta bantuannya? Jika kondisiku terus seperti ini bagaimana aku bisa pergi lusa. Tidak ... kau tidak bisa meminta bantuannya. Cukup jalani takdirmu saja, tapi—" Matanya terpejam ketika rasa sakit itu kembali terasa. Dia coba kurangi dengan mengambil botol obat di tas agar rasa sakitnya berkurang. "Anda tidak apa-apa, Nona?" Seseorang coba menghampiri Maisa yang menjatuhkan botol obat itu, sampai obat yang akan dia minum tercecer di tanah. "Ti–dak. Aku baik-baik saja." "Tapi hidung Anda ..." Orang itu menunjuk ke arah hidung Maisa yang mengeluarkan darah. Dengan sigap, Maisa mendongak dan coba mencari tisu di tas. Ketika tangannya sibuk merogoh tanpa melihat, seseorang berdiri tepat di depannya. Dia juga menyeka darah itu dengan tisu yang dibawa. Mata indah yang mulanya terpejam, seketika menatap ke arah seorang yang tubuhnya begitu dekat. Deru nafasnya terasa, seketika membuat Maisa terdiam membisu. "Haruskah saya panggilkan ambulan?" tanya orang yang tadi bertanya pada Maisa lebih dulu. "Tidak, biarkan dia bersamaku," jawab orang yang ada di hadapan Maisa. Setelahnya orang itu pergi dan membiarkan mereka berdua saling menatap satu sama lain. Mata Maisa tak lepas menatap pria tampan itu. Pria yang dia usir kemarin ada di hadapannya lagi sekarang. Seakan penolakan Maisa tidak dia pedulikan karena dia terus datang menemuinya. "Bukankah rasanya sakit?" Tak disadari, dia sudah menggenggam tangan Maisa yang masih diam dengan mata tak berkedip menatap wajah dingin tapi tampan yang sudah beberapa kali datang padanya. Seketika itu juga rasa sakitnya berkurang hingga menghilang sesaat tangan mereka bergandengan.. "Kenapa di sini ketika kau bilang tak akan datang?" Maisa mulai membuka suara, baru dia memikirkan tentang pria dihadapannya, sekarang dia datang membantu mengurangi rasa sakit yang dirasa. "Apa kau tidak pernah mengatakan terima kasih pada orang yang membantumu? Walau aku tak memiliki perasaan itu, harusnya manusia mengatakan itu ketika dibantu." "Te–rima kasih," tuturnya canggung. Pria itu hanya tersenyum tipis mendengar ucapan dari wanita yang dibantu. "Kenapa kau terus saja membantuku? Siapa namamu?" "Apa pentingnya kau tau alasanku. Sebaiknya aku pergi." Pria asing itu beranjak, namun urung melangkah ketika Maisa memegang tangannya. "Setidaknya aku harus tau nama orang yang membantuku." Kembali senyum itu mengembang tipis, dan menambah ketampanannya meskipun dengan tatapan dingin. "Aku tak memiliki nama, apa gunanya sebuah nama jika kau akan dikenal sebagai Kehancuran." "Mustahil kau tak memilik nama." Sikap Maisa berbeda. Dia tak lagi bersikap kasar ataupun ingin pergi. Rasa sakitnya hilang, dan itu karena pria asing di hadapannya. Dia tidak bisa membohongi hatinya untuk tidak membutuhkan pria tampan ini. "Kau bilang aku bisa memanggilmu, lalu bagaimana jika aku tidak tau namamu. Bukankah kau berharap aku mengatakan permintaanku." "Kau berubah pikiran ketika sebelumnya kau mengusirku?" Masih dengan tangan di genggam oleh Maisa, pria itu menatap mata indahnya. "Aku pikir kau bisa membantuku menghilangkan rasa sakit ini. Tidak bisakah kau melakukan ini saat aku sedang kesakitan?" tanya Maisa, padahal dengan sangat jelas dia menolak bantuan pria itu sebelumnya. "Kau sedang memintaku? Apa itu permintaanmu?" "Apa itu salah satu yang bisa aku minta?" Otaknya terus berpikir, jika pria di hadapannya bisa mengurangi rasa sakit yang dirasa. Itu artinya dia tidak perlu menjalani operasi sampai bisa bertemu dengan ayahnya. "Itu bukan kehancuran, maka itu bukan permintaan yang harus aku kabulkan." "Tolonglah, aku ingin kau membantuku untuk ini. Walau tanpa aku meminta, kau akan selalu datang ketika aku kesakitan. Benar begitu kan?" Kedua tangan Maisa memegang tangan pria asing itu tanpa izin pemilik. Dia bersikap berbeda, karena memerlukan bantuan dari pria yang membantunya. "Apa yang aku dapatkan ketika aku membantumu? Aku bukan manusia sepertimu." Dia mendekatkan wajahnya, lebih dekat dengan Maisa yang menatapnya dalam diam. Bukan terpesona, dia berharap jawaban iya dari mulut pria itu. "Maka dari itu aku ingin kau membantuku. Bisakah kau bersamaku untuk mengurangi rasa sakit ini sampai aku bisa bertemu—" "Ayahmu? Kau memanfaatkan ku demi itu?" Seakan tau tujuan Maisa, dia memotong perkataan wanita cantik yang memiliki nasib malang itu. "Aku mohon." Matanya berkaca-kaca dan bersiap untuk menangis. Harapan ingin bertemu dengan sang ayah begitu besar, dan ketika memilih untuk menjalani operasi, itu artinya dia harus merelakan semua karena efek pasca operasi. "Jika aku tak ingin kabulkan permintaanmu ini, apa yang kau lakukan?""Kau tidak apa-apa?"Pertanyaan Sully membuat sahabatnya itu mendongak dan melihat dengan tatapan khawatir. "Aku pikir kau beberapa kali sering hampir pingsan. Ada apa? Ambillah cuti agar kau bisa istirahat dengan baik.""Dan berakhir aku dipecat oleh Bu Sofie? Tidak!""Benar juga, tapi kau tidak bisa memaksakan diri. Wajahmu pucat, sebaiknya letakkan alat tulis mu dan berbaring. Aku tak ingin kau memaksakan diri. Biar aku yang mengecek design yang mereka setujui."Beberapa hari ini dia merasa kesakitan, namun bukan Maisa kalau tidak keras kepala. Dia tetap mengerjakan tugasnya. Dia sungguh menerima nasibnya dengan baik, walaupun hal buruk yang dia dapatkan. Hidupnya tidak mudah sejak dulu, mungkin dia terbiasa akan itu.Untuk saat ini dia coba berbaring seperti yang sahabatnya katakan. Dia tak sanggup dengan rasa sakitnya. Berbaring diatas tempat tidur, itu yang dilakukan sekarang."Ibu ..." panggilan lirih terdengar ketika dia tak tahan dengan rasa sakitnya.Tak ingin membuat mereka
"Katakan apa permintaanmu, kau merasa kesakitan sekarang. Bukankah itu membuatmu menyalahkan Tuhan yang tidak adil padamu?"Pria asing yang kemarin mendatanginya lagi, kali ini dia duduk berjongkok di hadapan Maisa yang tampak kesakitan dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi."Kau tak ingin menerima bantuanku ini? Bukankah rasa sakit itu berkurang dengan memegang tanganku."Maisa menatap tangan kanan pria tampan di hadapannya. Dia ragu untuk memegangnya, karena dia tak percaya dengan apa yang dikatakan. Walau sebelumnya pria itu sudah membuktikan."Kau ragu? Baiklah, sebaiknya aku pergi."Bersamaan dengan pria asing itu berdiri, rasa sakit itu menusuk pada kepala Maisa hingga dia tak sadar langsung memeluk erat kaki pria yang tidak dia kenal karena rasa sakitnya begitu menyiksa."Akh! Sakit sekali ..." rintih Maisa dengan suara tertahan."Bukankah kau tak percaya akan bantuan yang aku tawarkan, jadi lepaskan kakiku.""Sebenarnya siapa dirimu, kenapa kau datang ketika rasa sa
'Kau harus memikirkan kondisimu. Aku akan membantu mencarikan keberadaan ayahmu, tapi lakukan operasi itu karena kondisimu tidak bisa menunggu itu.'Maisa melamun dengan isi kepala yang terus mengingat tentang ucapan Dokter Kamal. Pilihan yang sulit ketika dia ingin sekali menemukan ayahnya. Kabar yang didapat beliau hidup bahagia dengan keluarga barunya, meski begitu dia tetap ingin bertemu ayahnya.Saat dia berharap bisa dekat dengan cinta pertamanya, kenyataan memisahkan mereka. Masalah kedua orang tua memisahkan mereka, walau sebenarnya bisa saja sang ayah mencari keberadaan Maisa, namun hingga usianya 26 tahun dia tak lagi bertemu dengan ayahnya."Nyonya Maisadipta!"Panggilan apoteker membuat lamunannya buyar dan segera mengambil resep dari Dokter Kamal."Dokter menambah obat lagi, apa Anda belum mau untuk menjalani operasi?"Karena sering datang, Maisa mengenal beberapa orang yang bekerja di rumah sakit. Apalagi dengan Dokter Kamal, dia seperti puterinya."Nanti saja kalau aku
"Apa pentingnya kau tau siapa aku. Waktumu tidak banyak, kau hanya harus mengatakan permintaanmu atas penderitaan yang kau terima selama ini. Luapkan amarahmu itu, maka kau bisa terbebas dari ini semua.""Apa itu artinya aku akan hidup sehat?"Pria asing itu hanya mengangkat bahu menjawab sebelum dia membuat pintu kamar mandi yang mulanya terkunci dari dalam terbuka."Dengarkan aku, pikirkan apa yang aku katakan jika kau ingin menikmati hidupmu. Menyakitkan bukan ketika mengetahui dirimu seperti ini saat keinginan di hidupmu begitu besar. Kau harus ingat jika kau ini akan mati beberapa waktu lagi.""Kau bukan Tuhan yang tau kapan aku akan mati, jadi tidak perlu mengatakan apapun!""Maisa!"Panggilan seseorang yang sedari tadi coba membuka pintu sudah ada di samping Maisa yang langsung menatapnya bersamaan dengan pintu terbuka."Kau tidak apa-apa? Bagaimana kau mengunci pintunya seorang diri, kau membuatku khawatir, dan darah tadi?""Ti–dak, aku—"Teringat akan itu, Maisa menoleh ke si
"Maisa!"Teriakan terkejut seseorang membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah yang dipanggil.Seketika tatapan itu berubah kepanikan karena melihat salah satu teman kerjanya tertunduk sambil memegangi meja dengan darah mengalir dari hidungnya dan hampir jatuh pingsan."A–ku tidak apa-apa! Aku ingin ke kamar mandi sebentar."Dengan langkah kaki cepat, wanita cantik dengan rambut sebahu itu bergegas ke arah kamar mandi yang berada tak jauh dari ruangan meeting.Sesampainya di kamar mandi, dia langsung mengunci pintu dari dalam dan terduduk di kloset karena merasakan rasa sakit yang teramat di kepalanya."Maisa! Buka pintunya!"Ketukan pintu dan panggilan terdengar dari seseorang yang mengikutinya masuk kamar mandi. Suaranya terdengar khawatir, namun wanita di dalam kamar mandi itu tidak ada keinginan untuk membukanya."A–ku tidak apa-apa. Setelah ini aku akan keluar," jawabnya dengan tenaga yang tersisa."Maisa!"Suara ketukan tak membuat dia ingin cepat membuka pi







