共有

Bab 4

作者: Rana Semitha
last update 公開日: 2024-02-20 13:09:23

Kotak kayu itu terbuka, terlihat sebuah pedang berwarna putih yang mengeluarkan hawa dingin. Sarung dan badan pedang itu terpisah, di bagian badan pedang terukir tiga karakter yang berarti pedang musim dingin.

Wang Jiang melihat sebuah tulisan di dalam kotak kayu.

"Jangan pergi sebelum mengambil kotak ini."

Karena khawatir ada hal buruk yang terjadi, Wang Jiang mengambil kotak itu. Lantai batu kembali tertutup.

Di bawah pedang musim dingin, terdapat sebuah buku tua yang berjudul kitab empat musim. Dibanding dengan pedang musim dingin, Wang Jiang lebih penasaran dengan kitab tersebut.

Di halaman pertama, dijelaskan jika sebelum menjadi pemilik pedang musim dingin, seseorang harus menggunakan darahnya untuk mengikat kontrak.

Wang Jiang menggigit jari telunjuknya hingga berdarah dan meneteskannya ke pedang musim dingin.

Pedang berwarna putih tulang itu bersinar terang, membutakan mata Wang Jiang selama beberapa saat.

Pemuda itu tidak sengaja menyentuh pedang itu, aliran tenaga bergerak seperti banjir di sungai yang kering.

Satu persatu meridian di tubuh Wang Jiang yang hancur mulai pulih dan terbuka. Satu persatu ingatan masa lalu pemuda itu juga kembali.

Benturan pedang, lautan mayat, benteng yang berkobar.

Satu persatu wajah yang dikenalnya di masa lalu mulai terlihat. Pria tua yang menggunakan zirah berwarna merah darah menunggang kuda perang yang perkasa. Di tangannya ada tombak hitam dengan ukiran naga. Meski hanya diam, aura yang menakutkan menyebar dan membuat semua orang tunduk kepadanya.

Tetaplah hidup, putraku...

Wang Jiang memegang kepalanya yang terasa sakit. Seluruh kekuatan dan aliran ingatan itu masuk dengan kecepatan tinggi dan membuatnya kehilangan kesadaran.

Entah berapa lama Wang Jiang memejamkan mata. Saat membuka mata, sebuah tangan halus yang terasa dingin menggerayangi wajahnya.

"Wang Gege...."

Wang Jiang spontan bangun saat merasakan sentuhan ini. "Mei Ling, kau sudah kembali?"

"Iya. Kenapa kau tidur di lantai?"

Wang Jiang tampak kebingungan. Dia menunjuk altar batu, berharap ada kerangka yang dilihatnya sebelum pingsan, tetapi tidak ada apa-apa di tempat itu. Hanya ada pedang musim dingin dan kitab empat musim di sebelahnya.

Wang Jiang telah mengingat semua masa lalunya, termasuk identitasnya. "Aku ... aku bukan Wang Jiang."

Mei Ling terkejut. "Apa kau sudah mengingat semuanya?"

Wang Jiang mengangguk cepat. "Aku ... Aku Qin Guan, marsekal muda pasukan Qin. Aku harus kembali!"

"Lalu ... Wang Jiang ...."

Ketika mendengar Mei Ling menyebut nama Wang Jiang, ada kemarahan yang terpancar di mata pemuda itu.

Qin Guan tidak pernah sanggup untuk mendengar mama itu.

"Kita harus kembali!"

Qin Guan mengambil pedang musim dingin dan menyimpan kitab empat musim di balik jubahnya. Dengan tergesa-gesa dia menarik tangan Mei Ling.

Mei Ling terkejut saat Qin Guan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Itu artinya meridian pemuda tidak hancur dan memiliki tenaga dalam.

Qin Guan bergerak dengan kecepatan tinggi. Tengah malam mereka sudah sampai di Sekte Bangau Putih. Namun, Qin Guan murka saat melihat tempat itu porak poranda dengan tumpukan mayat yang sudah menggunung di mana saja.

"Apa yang terjadi?"

Banyak bangunan yang hancur dan menjadi abu, sebagian lainnya masih terbakar meski salju turun dengan lebat. Aroma daging yang terpanggang dan darah bercampur menjadi satu. Mei Ling pucat dan merasa mual. Gadis itu mengeluarkan isi perutnya begitu saja.

Qin Guan berlari ke rumah Bai Hu, hanya untuk menemukan sesuatu yang membuatnya murka.

Kepala Bai Hu dipenggal dan digantung di depan pintu. Sebuah kapak menancap di dahinya. Terlihat dari ekspresinya jika dia mati dengan begitu menyakitkan.

"Kakek!"

Qin Guan berlutut di depan tubuh tanpa kepala Bai Hu yang tergeletak di halaman. Salju turun dengan lebat dan menimbun setengah tubuh Bai Hu.

Air mata Qin Guan mengalir begitu saja. Tubuhnya bergetar, kesedihan telah mengguncang jiwanya.

Meski udara sangat dingin hingga menusuk tulang, tetapi Qin Guan merasa jika tubuhnya sangat panas.

Qin Guan mengangkat wajahnya, menatap langit hitam pekat itu dengan penuh kebencian. "Langit, ... aku bersumpah akan membalas kematian mereka!"

Pemuda itu lantas bangkit dan menurunkan potongan kepala Bai Hu. Dia mengambil sebuah jubah milik Bai Hu dan menggunakannya untuk membungkus jasadnya.

Mei Ling menggali lubang yang dalam dan lebar sementara Qin Guan memindahkan seluruh mayat. Mereka berdua bekerja sama untuk memakamkan seluruh anggota Sekte Bangau Putih.

Ada tiga kuburan terpisah yaitu miliki Bai Hu, ketua Sekte dan juga Guru Mei Ling. Selain ketiga orang itu, seluruhnya dimakamkan dalam satu liang lahat.

Mei Ling berdiri di samping Qin Guan. Matanya bengkak karena terus menangis sepanjang malam.

Dia menemukan banyak temannya mati dalam kondisi mengenaskan. Gadis yang biasa ceria itu sekarang terlihat putus asa. "Wang ... maksudku Qin Gege, ke mana kita pergi?"

Qin Guan tidak langsung menjawabnya. Terlihat menimbang banyak hal sebelum mengatakan keputusannya.

"Kita pergi ke Provinsi Qin."

Mei Ling terkejut, tetapi bisa memahaminya. Itu akan menjadi perjalanan yang panjang bagi mereka berdua.

Pakaian mereka bersimbah darah. Sebelum mereka pergi, keduanya mengganti pakaian dan mengumpulkan sisa harta yang bisa digunakan sebagai bekal perjalanan.

Qin Guan merasa aneh. Tidak banyak barang yang hilang. Pembantaian ini bukan didasari perampokan.

Ketika masih mengumpulkan beberapa barang, Qin Guan mendapat sebuah petunjuk. Itu adalah lambang dari sebuah kelompok yang dikenal dengan kelompok naga hitam. Mereka brutal dan kejam saat membantai korbannya.

"Aku tidak akan melepaskan kalian."

Saat hari menjelang malam, Qin Guan dan Mei Ling sudah selesai berkemas. Mereka kembali bertemu dan pergi meninggalkan tempat ini.

Keduanya menggunakan bergerak menggunakan ilmu meringankan tubuh. Mereka melompat dari satu dahan ke dahan lain. Hingga keluar dari wilayah Sekte Bangau Putih. Mereka sampai kota pasir putih, salah satu kota kecil terdekat dengan Sekte Bangau Putih.

Penampilan keduanya yang biasa saja tidak menarik perhatian banyak orang.

"Qin Gege, tidak biasanya kota ini sangat ramai."

Meski tidak pernah mengunjungi tempat ini, tetapi nalurinya mengatakan jika ucapan Mei Ling benar adanya.

Qin Guan menunjuk sebuah bangunan kedai arak dan mengajak Mei Ling pergi ke tempat itu.

"Ini adalah hari kemenangan kita! Sekte Bangau Putih sudah hancur, kita bisa mencari Kitab Empat Musim dengan bebas sekarang!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin penasaran
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Sang Naga Bumi   Bab 57

    Bab 57Malam itu, kesunyian kediaman Keluarga Qin hanya dipecahkan oleh suara kayu bakar yang berderak di perapian. Di ruang tengah yang terbuka ke arah taman dalam, Qin Guan duduk berseberangan dengan Wang Tian Xin. Aroma lembut dari teh krisantimum mengepul dari cangkir mereka, memberikan sedikit ketenangan di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.Tian Xin menatap uap tehnya dengan saksama, sebelum akhirnya mengangkat wajah. Matanya yang tajam menatap luka di pinggang kakaknya yang tersembunyi di balik jubah tidur yang longgar."Ge," suara Tian Xin berat, "Daftar pengawal yang dibawa Menteri Li memang berisi veteran, tapi mereka adalah tentara. Mereka terbiasa dengan medan perang terbuka, bukan serangan gelap dari orang-orang seperti Naga Hitam atau pengikut Ouyang Mu."Ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting pelan. "Izinkan aku ikut. Aku tidak perlu ada di dalam daftar resmi. Aku bisa bergerak sebagai bayangan di antara pepohonan atau menyelinap di barisan belakang. Jika se

  • Sang Naga Bumi   Bab 56

    Bab 56Langkah kaki mereka menuruni ribuan anak tangga Bukit Bunga Matahari terasa lebih ringan meski beban di pundak Qin Guan semakin nyata. Sepanjang perjalanan pulang, Mei Ling lebih banyak terdiam, jemarinya sesekali menyentuh lengan mantel bulunya, masih berusaha memproses pertemuan ajaib dengan Lu Yuan.“Kita pulang sekarang,” ucap Qin Guan tenang. Dia tahu jika pertemuan antara Mei Ling dan Lu Yuan membuat gadis itu sedikit gelisah. Meneruskan perjalanan ini tidak akan membuat kondisi gadis itu membaik.Mereka berdua menunggangi sepasang kuda putih yang tertambat di kaki bukit dan kembali menuju ibukota.Setibanya di kediaman Keluarga Qin, hari sudah beranjak sore. Wang Lingling sudah berdiri di pelataran dengan wajah yang tidak bisa dikatakan ramah."Bagus sekali," sindir Lingling saat melihat kakaknya turun dari kuda. "Jenderal Pemberani kita baru saja mendaki bukit dan berkuda keliling kota dengan luka yang jahitan luarnya baru saja diperbaiki semalam. Apa kau ingin aku seka

  • Sang Naga Bumi   Bab 55

    Bab 55Qin Guan terdiam sejenak mendengar peringatan tajam dari Lu Yuan. Suasana di pelataran kuil yang tadinya tenang mendadak terasa berat, seolah udara musim dingin di puncak bukit itu membeku lebih cepat.Qin Guan melangkah maju, berdiri tepat di samping Mei Ling, lalu secara alami meletakkan tangannya di bahu gadis itu, sebuah gerakan protektif yang tenang namun penuh wibawa."Pendeta Lu," suara Qin Guan rendah namun berwibawa, "Aku menghormati masa lalumu dengan Mei Ling, dan aku memahami kekhawatiranmu. Dunia persilatan mungkin mengenalmu sebagai pendekar yang telah mati, tapi dunia militer mengenalku sebagai seseorang yang tidak pernah meninggalkan apa yang ia lindungi."Qin Guan menatap Mei Ling sejenak, sorot matanya yang tajam melembut hanya untuknya."Aku tahu bayang-bayang yang mengikutiku. Aku tahu Naga Hitam dan intrik istana bukanlah lawan yang mudah. Tapi perlu kau ketahui ..." Qin Guan kembali menatap Lu Yuan dengan tatapan tak tergoyahkan, "... Mei Ling bukan sekada

  • Sang Naga Bumi   Bab 54

    Bab 54Mei Ling perlahan memutar tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Di depannya, berdiri seorang pria dengan pakaian pendeta yang sedikit lebih tebal, namun bekas luka panjang di pelipis kirinya tidak bisa menyembunyikan identitas aslinya."Kakak Lu ... Lu Yuan?" suara Mei Ling bergetar, nyaris tidak terdengar.Pria itu tersenyum pahit. "Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini, Mei Ling. Dunia ini benar-benar sempit, atau mungkin Dewa memang ingin aku melihatmu sekali lagi sebelum aku benar-benar melupakan masa lalu."Mei Ling menutup mulutnya dengan tangan. Ingatannya kembali ke dua tahun lalu, sebuah misi pengawalan di perbatasan barat yang berakhir menjadi pembantaian. Mereka terjebak dalam badai salju dan serangan mendadak dari kelompok bandit bayaran. Saat itu, Lu Yuan mendorong Mei Ling ke dalam celah tebing untuk menyelamatkannya, sementara pria itu sendiri tersapu oleh longsoran salju bersama para pengejarnya."Bagaimana bisa?

  • Sang Naga Bumi   Bab 53

    Bab 53“Kuil?” Mei Ling mengerutkan keningnya, tidak menyangka jika Qin Guan memiliki sisi religius seperti ini.Qin Guan mengangguk. Tatapannya melembut, seolah sedang menantikan sesuatu yang sangat dia rindukan. “Besok adalah tugas yang cukup berbahaya, aku ingin berdoa agar Dewa memberkatiku.”Setelah itu, Mei Ling tidak bertanya lebih jauh. Keduanya memacu kuda dengan lebih cepat. Kuil Bunga Matahari berada di puncak bukit Bunga Matahari.“Kita akan segera sampai,” ucap Qin Guan ketika mereka sampai di kaki bukit.“Kudanya tetap di sini?”Qin Guan mengangguk pelan. “Kita harus jalan kaki.”“Baiklah.”Kuda-kuda itu tidak bisa membawa mereka hingga puncak bukit. Mereka harus mengikat kuda itu di kaki bukit dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ada ribuan anak tangga batu yang tersusun begitu rapi. Qin Guan menggenggam tangan Mei Ling dan membawanya hingga puncak bukit.Ada kehangatan yang menjalar di hati Mei Ling. Sesuatu yang dia rasakan hanya jika sedang bersama Qin Gu

  • Sang Naga Bumi   Bab 52

    Bab 52Suara Bibi Guo bergetar, dia tidak menyangka jika pemuda yang selama ini menjadi langganannya adalah salah satu orang yang paling terkenal di Ibukota. Dia buru-buru bangkit dan memberi hormat.“Maaf karena kelancangan hamba.”Qin Guan menghela napas panjang. “Bibi Guo, apa-apaan ini? Duduklah.”Bibi Guo tidak bergerak dari tempatnya. Qin Guan akhirnya bangkit dan menyentuh pundak Bibi Guo. “Duduklah. Bersikaplah seperti biasa. Itu akan membuatku nyaman.”Bibi Guo tampak ragu. Dia masih menunduk karena takut dianggap tidak hormat. “Bagaimana bisa hamba melakukannya?”“Kenapa tidak?”“Anda adalah Jendral Pemberani, sosok yang sangat disegani oleh seluruh Rakyat Yin.”Qin Guan menarik napas panjang. Identitas Jendral Pemberani memang terlalu mengerikan untuk dibuka. “Kau mengatakan apa tadi? Jendral Pemberani? Nama kami memang sama, tetapi aku bukan dia.”“Be … benarkah?”Qin Guan mengangguk, berusaha meyakinkan. “Aku hanya orang biasa. Jangan berlebihan.”Suasana menjadi canggung

  • Sang Naga Bumi   Bab 51

    Bab 51Ekspresi Bibi Guo menjadi murung ketika Qin Guan bertanya tentang suaminya. Sejak enam bulan lalu, suaminya mengalami sakit keras dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Sudah banyak cara yang dia lakukan untuk menyembuhkan suaminya, termasuk berobat ke tabib-tabib terkenal di ibukota, t

  • Sang Naga Bumi   Bab 50

    Bab 50Langit Ibukota tampak cerah. Meski udara pagi begitu menusuk, tetapi suasana di sana tetap ramai. Di jalan pusat ibukota, Qin Guan dan Mei Ling menunggang kuda dengan santai. Tidak ada pengawalan secara langsung, tetapi demi menjaga keamanan mereka berdua, Lu Tao menempatkan beberapa penjaga

  • Sang Naga Bumi   Bab 49

    Bab 49Pintu terbuka perlahan, angin berembus membawa aroma bunga yang segar di tengah musim dingin yang menusuk. Mei Ling melangkah masuk, kedua kakinya melangkah dengan anggun, hampir tidak menimbulkan suara. Mantel bulunya yang berwarna putih membalut tubuhnya seperti rubah putih yang cantik.Pi

  • Sang Naga Bumi   Bab 48

    Bab 48Langit di atas Ibukota mulai terang. Setelah terjadi penyerangan, tidak ada dari mereka yang tidur karena mendengar seluruh cerita perjalanan Qin Guan selama setahun terakhir.Wang Tian Xin menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Apa yang aku lalui tidak ada apa-apanya.”Qin Gua

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status