تسجيل الدخول“Haist, kalau ngomong tuh yang bener, Ryu, jangan asal asbun kayak gitu dong,” protes Veo membuat Ryu terkekeh karena pagi ini ia sudah bisa melihat wajah kesal istrinya “Iya, iya, maaf ya. Aku sekarang mau mandi dulu, kamu lebih baik mempersiapkan diri gih, berhias yang sangat cantik, ya,” ujar Ryu sehingga Veo memincingkan mata.“Mau ngapain?” tanya Veo dengan nada curiga, apalagi melihat ekspresi wajah Ryuu yang sudah terlihat sangat mencurigakan sehingga membuat Veo harus setiap waktu was-was, Ryu sudah tidak lagi cuek seperti sebelumnya. “Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat, Sayang. Bagaimana? Apakah kau mau?” tanya Ryu dengan tatapan dalam, namun sama sekali tidak membuat hati Veo gentar. “Kau ini gimana, Ryu? Kau kan harus kerja. Tidak bisa! Aku tidak akan pergi dengan dirimu! Lagipula aku juga sudah memiliki janji temu dengan seseorang,” ujar Veo membuat raut wajahnya Ryu langsung cemberut. “Sayang, ayolah,” ucap Ryu dengan nada manja akan tetapi sama sekali tidak membu
"Tidak, bukan dia pelangganku kan?" Tanya David pada wanita yang menjadi pegawai di kantor tanda Zola. Pegawai tante Zola itu pun tersenyum. Udah semacam pertanyaan dari David. "Maaf tuan memang nyiapin inilah yang memberikan kontrak dengan Tuan David. Pesan dari Tante Zola, buat David harus bersikap profesional," ucap si gadis dengan senyum yang ramah. David tidak bisa menolak. Sebab dirinya sendiri pun sudah membuat satu kesalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan bicara saja. 'Baik lah jika ini yang kalian inginkan. Yang penting aku dapat uang!" gumam David di dalam hati. Ia tidak peduli siapa yang harus ia layani. Yang terpenting uang masuk ke dalam rekeningnya. Tante Sean tidak berkomentar, ia melihat David sebagai sosok yang tampan, gagah dan menggairahkan. "Lelaki ini sangat tampan sekali, aku tidak bisa menolak. Memang lebih tampan si Kenzi, tapi gayanya lebih maskulin lelaki ini. Ia lebih bersih dan menarik," ucap Tante Sean. Tante Sean
Tante Felicia menatap tajam ke arah pelayan resto itu. Ia sangat marah karena merasa dibedakan sebagai tamu yang menyewa kamar yang sama dengan kamar yang dikirimi makanan. "Nyonya, anda jangan salah paham terlebih dahulu. Pemilik kamar ini tidak tahu kalau dirinya akan mendapat kiriman makanan. Bukan resto atau pihak hotel yang memberikannya, melainkan orang lain yang mengagumi wanita itu." Si pelayan resto mengatakan apa yang ia ketahui. Memang benar adanya kalau bukan pihak hotel yang memberikan kiriman makanan pada Chellia. Tante Felicia terdiam, bisa ia lihat tidak ada kebohongan di wajah pelayan hotel itu. Selain itu setiap kata yang ia ucapkan saat menjawab pertanyaannya. Itulah yang membuat tante Felicia sedikit percaya kepadanya. Bab. 122 "Apa kamu tahu siapa yang sudah membayar makanan itu?" tanya tante Felicia kepada pelayan restoran itu. Pelayan restoran itu terdiam sejenak ia melirik ke arah Sehan. Saat ia mengantar tadi manajernya mengatak
Bab Dengan tatapan sendu yang menjadi ciri khas seorang Sehan, lelaki itu berusaha meluluhkan hati wanita yang sangat ini tengah menatap tajam ke arahnya. Helaan nafas panjang terdengar dari bibir tante Felicia. Wanita itu berusaha untuk meredam amarahnya setelah melihat tatapan sendu dari Sehan. "Baiklah kali ini aku maafkan! Tapi dengan satu syarat kita main dua ronde terlebih dahulu. Kamu kan juga tadi habis isi tenaga jadi bisa dong kita main dua ronde?" Tante Felicia mengajukan syarat agar semua permintaan maaf Sehan bisa Ia terima. Sehan membulatkan kedua matanya, Dia sangat terkejut manakala tante Felicia mengajukan syarat agar permintaan maafnya diterima. "Apa? Dua ronde?" pekik Sehan dengan sedikit rasa terkejut. Sama sekali Dia tidak menyangka kalau wanita yang ada di depannya itu akan meminta dirinya melayani nafsunya. "Iya, harus dua ronde tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Kalau kamu tidak mau ya sudah aku tidak akan memaafkanmu!" seru T
Devan tidak menjawab pertanyaan Amanda. Dia hanya mengendikkan bahunya saja. Devan sudah malas membahas wanita yang sudah membuat harinya menjadi ruwet. "Ya sudah sebaiknya kita tinggal saja. Wanita itu terlalu sulit diatur." Amanda yang tidak suka dengan Chellia merasa senang tidak melihat wanita manja yang suka bikin masalah saja. Semua anggota pun makan dengan lahapnya. Mereka sama sekali tidak ada yang ingat pada Chellia kecuali Sehan. Sehan merasa kasihan pada Chellia. Ia pun berinisiatif meinta pelayan restoran untuk mengirim makanan ke kamar Chellia. "Hei, kamu kemarilah!" panggil Sehan pada salah satu pelayan restoran. "Ya saya, Tuan. Apa yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu pada Sehan. "Katakan apa ada pelayanan antar makanan ke kamar?" tanya Sehan langsung pada inti pertanyaan. Pemuda itu tampak diam sejenak. Mengingat apakah ada peraturan yang mengizinkan mengantar makanan ke kamar tamu hotel. "Biasanya para tamu akan memesan langsung ke restoran lewat telpon
Sehan tertawa mengejek Chellia. Chellia menoleh dan menetap tajam ke arah Sehan. Kebenciannya pada lelaki itu semakin bertambah. "Sialan! Berani sekali dia menertawai ku!" geram Chellia kesal dengan sikap Sehan yang sudah mengejeknya. Melihat wajah Chellia kesal dan malu membuat Sehan merasa senang dan puas. Ada kepuasan tersendiri saat bisa membuat Chellia marah. Chellia tidak menanggapi Sehan. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Takut jika tidak terkunci maka akan ada orang iseng seperti Sehan yang akan amsuk ke dalam kamar. "Huft! Memang benar keputusanku sebelumnya untuk tidak ikut acara menyebalkan ini!"Chellia meletakkan tas kopernya begitu saja dan menghempaskan bobot tubuhnya ke atas kasur. Ia menatap ke arah langit-langit kamar itu. Tidak berapa lama kemudian, wanita itu pun tertidur. Sementara itu Sehan duduk di pantri sembari menikmati wyne yang disediakan secara percuma sebagai bagian dari fasilitas kamar. Sehan menyandarkan tubu







