Mag-log in* sosok misterius *
Sabetan cambuk itu mendarat telak di punggung... Rasa perih yang membakar langsung menjalar, memaksa satu erangan tertahan keluar dari tenggorokan Lun Ya. "Cepat jalan, budak sialan!" bentak seorang prajurit, menarik keras rantai yang terpasang di leher Lun Ya hingga tubuhnya terhuyung ke depan. Lun Ya menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Sepasang matanya menatap tajam, berkilat penuh kebencian yang sedalam lautan ke arah prajurit di depannya. Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. "Jika aku masih berada di tubuhku yang dulu... jangankan mencambukku, sedetik saja kau menatapku seperti itu, abu jasadmu sudah kutitipkan pada angin!" raung Lun Ya dalam hati. Napasnya memburu saat ia mencoba memanggil energi spiritualnya. Nihil. Alisnya berkerut dalam, berganti menjadi keputusasaan yang tertahan. "Sial! Kenapa tubuh ini begitu rapuh? Aku bahkan tidak bisa merasakan akar bakatnya inti dari semua kekuatan! Apa yang terjadi?!" "Percepat langkahmu, kecoa!" bentakan keras dari prajurit lain membuyarkan lamunan pahitnya. Lun Ya dipaksa melangkah, menyeret kakinya yang berat. Di sekelilingnya, pemandangan seperti neraka dunia membentang. Ratusan manusia kurus kering terikat rantai karat, menghela napas terakhir mereka demi menarik gerobak-gerobak raksasa berisi material kristal langka. Tempat ini seperti sebuah kawah tambang raksasa yang menelan nyawa manusia. "Mendapatkan kristal-kristal ini sama saja dengan menggenggam bahan senjata spiritual tingkat Bumi berkualitas tinggi," ucap seorang prajurit berbadan gemuk dengan tawa serakah yang menjijikkan. Seorang prajurit bawahan datang mendekat, memberikan hormat formal. "Tuan, semua persiapan sudah matang. Logistik siap diantar ke Kerajaan Zhen." "Kerajaan Zhen?" Jantung Lun Ya berdegup kencang. Pikiran dan logikanya berputar hebat, mencoba mencerna informasi itu. "Aku belum pernah mendengar nama kerajaan itu di masa kejayaanku... Lalu, di mana Kerajaan Xuan? Bagaimana bisa kerajaan seagung Xuan lenyap tanpa jejak?!" Sebelum ia sempat menemukan jawaban, sebuah dorongan kasar mendarat di bahunya. "Heh, kau! Bawa pemuda penyakitan ini untuk mendorong gerobak!" perintah prajurit gendut itu, menunjuk Lun Ya dengan pandangan menghina. "Ayo cepat bergerak!" Lun Ya dipaksa mencengkeram besi gerobak yang dingin. Pikirannya masih kalut, mencoba menyatukan kepingan teka-teki yang terjadi pada dunia ini. Namun, konsentrasinya pecah seketika saat sebuah suara berat terdengar dari sampingnya. Bruk! Seorang tahanan tua yang sudah kehilangan seluruh energinya tumbang ke tanah. Napasnya terputus-putus, tak lagi mampu menopang beratnya beban hidup. Tak butuh waktu lama, seorang sipir dengan cambuk berduri melangkah maju tanpa belas kasihan. "Dasar sampah tak berguna! Berdiri!" Ctar! Cambuk itu merobek kulit punggung si tua, darah segar menyembur ke udara. Melihat kekejaman luar biasa itu, darah Lun Ya mendidih. Dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang membakar kesadarannya. Mantan penguasa tertinggi yang tak pernah membiarkan sekutunya diinjak, kini harus menyaksikan manusia diperlakukan lebih rendah dari binatang. Tapi sialnya, ia kini tak punya kekuatan! "Apa harga nyawa manusia sekadar angka di tempat ini?!" batin Lun Ya berseru murka. Pegangannya pada gerobak besi makin keras di gengamnya. Ia tidak bisa diam lagi. "Persetan dengan tubuh lemah ini!"batin lun ya. Syuttt! Dengan sisa tenaganya, Lun Ya melesat, memasang badannya di atas tubuh tahanan yang tak berdaya itu. "Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Prajurit itu murka. Tanpa ampun, sepasang sepatu bot besinya menghantam telak perut Lun Ya. Bugh! Rasa sakit yang luar biasa menusuk ulu hatinya, membuat pandangan Lun Ya sempat memutih. Organ dalamnya terasa bergeser. Namun, bukannya merintih, Lun Ya justru menatap tajam. Matanya merah menyala oleh amarah yang murni. "Kalian... kalian semua sudah tidak waras!" teriak Lun Ya, suaranya serak namun bergema penuh harga diri yang menolak tunduk. Sipir itu tertegun sesaat oleh tatapan mengerikan si pemuda, sebelum rasa tersinggung membakarnya. Ia mencengkeram leher Lun Ya, mengangkatnya ke udara hingga remaja itu kesulitan bernapas. "Ha?! Kau mau menceramahiku, budak tak tahu diri?!" Brukgg! Tubuh Lun Ya dilemparkan ke tanah berbatu seperti seonggok sampah. Hantaman itu begitu nyata, menyisakan rasa anyir darah di mulutnya. Mendengar keributan tersebut, sang pemimpin berbadan gemuk berjalan mendekat. Sepasang matanya menyipit kecil, menatap Lun Ya yang bersimbah darah namun masih menolak untuk memutuskan kontak mata. "Oh? Menarik. Masih punya taring rupanya," ucap si pemimpin gendut dengan senyum sinis yang menyimpan amarah meledak-ledak. "Bawa dia ke sel tahanan paling bawah! Biar kegelapan mengajari dia cara merangkak!" "Ayo berdiri!" Dua prajurit menyeret paksa tubuh Lun Ya yang penuh luka. Mereka sama sekali tidak peduli pada luka-lukanya yang terus meneteskan darah di atas tanah gersang. Lun Ya meringis, namun batinnya tertawa getir. "Benar-benar zaman yang gila... Mengapa di era ini, manusia bisa menjadi begitu rendah dan keji?" BOOMMMM!!! Bumi mendadak berguncang hebat. Tepat saat keputusasaan mencekik tambang itu, seberkas kilatan cahaya biru muda melesat membelah langit dengan kecepatan mengerikan. Cahaya itu menghantam menara pengawas utama hingga hancur berkeping-keping. Prrruuuuutttttttt—! Suara terompet darurat ditiup berkali-kali, memecah keheningan malam. "Ada penyusup! Siaga tempur!" Secara serentak, para prajurit penjaga melepaskan kekang energi mereka. Tekanan angin spiritual yang sangat gila mendadak menekan udara hingga terasa sesak. Gelombang aura berwarna-warni bangkit dari tubuh mereka, mereka semua adalah para praktisi tingkat Master Raja level 4 hingga level 6!. Debu dan puing-puing bertebangan, suara ledakan susulan mulai bersahut-sahutan di segala penjuru. Di tengah kekacauan itu, sesosok pria misterius melayang di udara, menatap remeh ke bawah. "Hoo... jadi inikah kekuatan dari anjing-anjing Kerajaan Zhen? Cuma segini?" ujarnya meremehkan. Dengan lambaian tangan pria itu, ribuan pedang energi bermanifestasi di udara, berbaris rapi membentuk formasi mematikan sebelum melesat turun bagai hujan meteor. "Bentuk formasi! Buatkan perisai!" teriak pemimpin gendut itu dengan panik. Detik berikutnya, kilatan cahaya emas pekat menyelimuti area inti tambang, mewujud menjadi sebuah perisai raksasa berbentuk hologram kura-kura mistis yang kokoh, bersiap menahan badai kehancuran yang datang dari langit.Suara langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong batu yang dingin.......Lia Yu berjalan perlahan bersama beberapa prajurit yang ditugaskan ayahnya.Semakin dalam ia berjalan, semakin sunyi suasana di sekelilingnya.Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang dipenuhi sel-sel penjara.Lia Yu berhenti.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah sel di ujung lorong.Di balik jeruji besi itu...Seorang wanita duduk bersandar pada dinding.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali Lia Yu melihatnya.Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan tubuhnya tampak lemah akibat terlalu lama berada di dalam penjara.Lia Yu terdiam.“Ibu...”Suaranya hampir tidak terdengar.Wanita itu perlahan mengangkat wajahnya.Matanya yang terlihat lelah tiba-tiba membesar.“Lia... Yu?”Lia Yu tidak mampu menahan perasaannya.Ia segera berlari kecil mendekati sel.“Ibu!”Lia Yu berlutut di depan jeruji.Tangannya meraih tangan ibunya yang kurus.Untuk beberapa saat, kedu
Jauh dari tempat Lun Ya dan Li Jia berada, di wilayah yang bahkan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencapainya, berdiri sebuah wilayah kekuasaan yang dikenal sebagai Tiga Menara Perbatasan.Tiga menara raksasa menjulang tinggi menembus awan.Di balik tembok-tembok hitamnya, pasukan bersenjata berjaga tanpa henti. Wilayah itu menjadi salah satu benteng penting di bawah kendali para penguasa yang tunduk kepada Yun Za.Di salah satu menara tersebut, terdapat sebuah kamar mewah.Di dalamnya, seorang gadis berdiri di depan sebuah cermin.Wajahnya sangat cantik.Rambut panjangnya terurai dengan rapi, sementara pakaian berwarna keemasan pudar membalut tubuhnya. Berbagai aksesori indah menghiasi rambut dan pakaiannya, membuat penampilannya terlihat anggun seperti seorang putri dari keluarga bangsawan.Namun di balik kecantikannya, tersimpan kesedihan yang sangat dalam.Gadis itu bernama Lia Yu.Ia adalah putri Hong Yu, salah satu penguasa Tiga Menara Perbatasan sekaligus bawahan Yun Za.L
Li Jia berjalan mendekati Lun Ya sambil membawa sebuah gulungan peta. Wajahnya terlihat serius ketika ia membentangkan peta itu di hadapan Lun Ya.“Lihat ini. Misi kita masih jauh dari selesai,” ujar Li Jia sambil menunjuk beberapa titik yang tertera di peta. “Tapi bagaimana kita bisa melanjutkan misi kalau kita harus membawa begitu banyak tahanan bersama kita?”Lun Ya terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan beralih kepada ratusan orang yang baru saja mereka selamatkan.Para tahanan berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Sebagian masih terlihat lemah karena bertahun-tahun dipaksa bekerja di pertambangan benteng. Pakaian mereka compang-camping, wajah mereka dipenuhi kelelahan, dan beberapa di antara mereka masih memiliki luka di tubuh.Namun kali ini, tidak ada lagi rantai yang mengikat mereka.Mereka telah bebas.Lun Ya menarik napas panjang.Saat itulah beberapa tahanan mulai berjalan mendekat.Salah seorang pemuda terlihat ragu-ragu. Ia berkali-kali membuka mulut,
Di wilayah yang sangat jauh dari benteng tempat Lun Ya dan para tahanan sebelumnya, terbentang sebuah wilayah pegunungan yang sunyi dan penuh kabut.Di antara hamparan gunung yang sangat tinggi, berdiri tiga menara raksasa yang menembus awan.Ketiga menara itu merupakan benteng perbatasan penting milik Kekaisaran Zhen.Di pusat wilayah tersebut berdiri sebuah aula megah. Di bagian belakang aula, terpampang lambang besar Kerajaan Zhen.sebuah simbol yang membuat siapa pun yang melihatnya merasakan tekanan kekuasaan.Di dalam aula terdapat tiga singgasana.Di atas ketiga singgasana itu duduk tiga sosok yang memiliki aura mengerikan.Di sebelah kanan, seorang pria bertubuh besar duduk dengan wajah penuh amarah.Namanya Yao Fu.Seorang praktisi Tingkat Dewa Level 4 yang mendapat julukan Si Tapak Besi.Julukan itu bukan sekadar nama.Yao Fu dikenal sebagai salah satu penguasa paling kejam di wilayah perbatasan Zhen.Saat ini, tangannya sedang mencengkeram leher seorang tahanan.“sial”Suar
Pertarungan itu masih berlanjut.Suara ledakan terus mengguncang seluruh kawasan benteng. Cahaya api terbang tinggi ke langit, sementara gelombang energi dari pertempuran membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar.Lun Ya berdiri di tengah kekacauan itu sambil memastikan para tahanan yang berhasil dibebaskan tetap berada di belakangnya.Namun, beberapa saat kemudian—BOOM!Sebuah ledakan terakhir terdengar dari kejauhan.Setelah itu...Semuanya mendadak hening.Tidak ada lagi suara pedang beradu.Tidak ada lagi suara teriakan.Hanya asap hitam yang perlahan naik ke langit.Lun Ya menoleh ke belakang.Tatapannya tertuju pada benteng dan menara pengawas yang sebelumnya menjadi pusat pertempuran.Bangunan itu telah berubah menjadi reruntuhan. Beberapa bagian bahkan masih terbakar.Lun Ya kemudian melihat para tahanan yang berdiri di belakangnya."Semua sudah berkumpul?" tanyanya.Beberapa tahanan mengangguk.Lun Ya kemudian membawa mereka menuju tempat para tahanan lainnya berada.Tida
Akhirnya, Lun Ya dan para tahanan yang diselamatkannya berhasil keluar dari lorong goa.Udara malam langsung menyambut mereka.Namun belum sempat mereka menarik napas lega...BOOOOOM!!!Ledakan dahsyat terdengar dari kejauhan.Lun Ya langsung menoleh.Di balik pegunungan batu, sebuah menara pengawas yang menjulang tinggi tampak dipenuhi kobaran api.DUARRR!Ledakan kedua menghantam bagian tengah menara.Batu-batu besar berjatuhan dari ketinggian.Kemudian...BRAAAK!Salah satu sisi menara runtuh.Para tahanan yang berada di belakang Lun Ya terdiam ketakutan.«"Apa yang terjadi di sana?"»Lun Ya tidak menjawab.Tatapannya tertuju pada menara tersebut.Ia bisa merasakan gelombang energi yang sangat kuat.Pertempuran...Dan bukan pertempuran biasa.Tiba-tiba.Langit di atas mereka berubah gelap.Sebuah lingkaran hitam muncul di udara.Lingkaran itu berputar perlahan seperti pusaran ruang.Lun Ya langsung mengangkat kepalanya.«"Apa itu?"»Beberapa detik kemudian.WHOOOOOM!Sebuah kapal p







