Home / Pendekar / Sang Penguasa Mutlak / Bab 4. SOSOK MISTERIUS

Share

Bab 4. SOSOK MISTERIUS

Author: Yan_
last update publish date: 2026-06-03 22:56:23

* sosok misterius *

Sabetan cambuk itu mendarat telak di punggung...

Rasa perih yang membakar langsung menjalar, memaksa satu erangan tertahan keluar dari tenggorokan Lun Ya.

"Cepat jalan, budak sialan!" bentak seorang prajurit, menarik keras rantai yang terpasang di leher Lun Ya hingga tubuhnya terhuyung ke depan.

Lun Ya menegakkan tubuhnya dengan susah payah.

Sepasang matanya menatap tajam, berkilat penuh kebencian yang sedalam lautan ke arah prajurit di depannya.

Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri.

"Jika aku masih berada di tubuhku yang dulu... jangankan mencambukku, sedetik saja kau menatapku seperti itu, abu jasadmu sudah kutitipkan pada angin!" raung Lun Ya dalam hati.

Napasnya memburu saat ia mencoba memanggil energi spiritualnya. Nihil. Alisnya berkerut dalam, berganti menjadi keputusasaan yang tertahan.

"Sial! Kenapa tubuh ini begitu rapuh? Aku bahkan tidak bisa merasakan akar bakatnya inti dari semua kekuatan! Apa yang terjadi?!"

"Percepat langkahmu, kecoa!" bentakan keras dari prajurit lain membuyarkan lamunan pahitnya.

Lun Ya dipaksa melangkah, menyeret kakinya yang berat.

Di sekelilingnya, pemandangan seperti neraka dunia membentang.

Ratusan manusia kurus kering terikat rantai karat, menghela napas terakhir mereka demi menarik gerobak-gerobak raksasa berisi material kristal langka.

Tempat ini seperti sebuah kawah tambang raksasa yang menelan nyawa manusia.

"Mendapatkan kristal-kristal ini sama saja dengan menggenggam bahan senjata spiritual tingkat Bumi berkualitas tinggi," ucap seorang prajurit berbadan gemuk dengan tawa serakah yang menjijikkan.

Seorang prajurit bawahan datang mendekat, memberikan hormat formal.

"Tuan, semua persiapan sudah matang. Logistik siap diantar ke Kerajaan Zhen."

"Kerajaan Zhen?" Jantung Lun Ya berdegup kencang.

Pikiran dan logikanya berputar hebat, mencoba mencerna informasi itu.

"Aku belum pernah mendengar nama kerajaan itu di masa kejayaanku... Lalu, di mana Kerajaan Xuan? Bagaimana bisa kerajaan seagung Xuan lenyap tanpa jejak?!"

Sebelum ia sempat menemukan jawaban, sebuah dorongan kasar mendarat di bahunya.

"Heh, kau! Bawa pemuda penyakitan ini untuk mendorong gerobak!" perintah prajurit gendut itu, menunjuk Lun Ya dengan pandangan menghina.

"Ayo cepat bergerak!"

Lun Ya dipaksa mencengkeram besi gerobak yang dingin. Pikirannya masih kalut, mencoba menyatukan kepingan teka-teki yang terjadi pada dunia ini.

Namun, konsentrasinya pecah seketika saat sebuah suara berat terdengar dari sampingnya.

Bruk!

Seorang tahanan tua yang sudah kehilangan seluruh energinya tumbang ke tanah.

Napasnya terputus-putus, tak lagi mampu menopang beratnya beban hidup.

Tak butuh waktu lama, seorang sipir dengan cambuk berduri melangkah maju tanpa belas kasihan.

"Dasar sampah tak berguna! Berdiri!"

Ctar! Cambuk itu merobek kulit punggung si tua, darah segar menyembur ke udara.

Melihat kekejaman luar biasa itu, darah Lun Ya mendidih.

Dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang membakar kesadarannya.

Mantan penguasa tertinggi yang tak pernah membiarkan sekutunya diinjak, kini harus menyaksikan manusia diperlakukan lebih rendah dari binatang.

Tapi sialnya, ia kini tak punya kekuatan!

"Apa harga nyawa manusia sekadar angka di tempat ini?!" batin Lun Ya berseru murka.

Pegangannya pada gerobak besi makin keras di gengamnya.

Ia tidak bisa diam lagi.

"Persetan dengan tubuh lemah ini!"batin lun ya.

Syuttt!

Dengan sisa tenaganya, Lun Ya melesat, memasang badannya di atas tubuh tahanan yang tak berdaya itu.

"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Prajurit itu murka.

Tanpa ampun, sepasang sepatu bot besinya menghantam telak perut Lun Ya.

Bugh!

Rasa sakit yang luar biasa menusuk ulu hatinya, membuat pandangan Lun Ya sempat memutih. Organ dalamnya terasa bergeser.

Namun, bukannya merintih, Lun Ya justru menatap tajam. Matanya merah menyala oleh amarah yang murni.

"Kalian... kalian semua sudah tidak waras!" teriak Lun Ya, suaranya serak namun bergema penuh harga diri yang menolak tunduk.

Sipir itu tertegun sesaat oleh tatapan mengerikan si pemuda, sebelum rasa tersinggung membakarnya.

Ia mencengkeram leher Lun Ya, mengangkatnya ke udara hingga remaja itu kesulitan bernapas.

"Ha?! Kau mau menceramahiku, budak tak tahu diri?!"

Brukgg!

Tubuh Lun Ya dilemparkan ke tanah berbatu seperti seonggok sampah.

Hantaman itu begitu nyata, menyisakan rasa anyir darah di mulutnya.

Mendengar keributan tersebut, sang pemimpin berbadan gemuk berjalan mendekat. Sepasang matanya menyipit kecil, menatap Lun Ya yang bersimbah darah namun masih menolak untuk memutuskan kontak mata.

"Oh? Menarik. Masih punya taring rupanya,"

ucap si pemimpin gendut dengan senyum sinis yang menyimpan amarah meledak-ledak.

"Bawa dia ke sel tahanan paling bawah! Biar kegelapan mengajari dia cara merangkak!"

"Ayo berdiri!" Dua prajurit menyeret paksa tubuh Lun Ya yang penuh luka.

Mereka sama sekali tidak peduli pada luka-lukanya yang terus meneteskan darah di atas tanah gersang.

Lun Ya meringis, namun batinnya tertawa getir.

"Benar-benar zaman yang gila... Mengapa di era ini, manusia bisa menjadi begitu rendah dan keji?"

BOOMMMM!!!

Bumi mendadak berguncang hebat.

Tepat saat keputusasaan mencekik tambang itu, seberkas kilatan cahaya biru muda melesat membelah langit dengan kecepatan mengerikan.

Cahaya itu menghantam menara pengawas utama hingga hancur berkeping-keping.

Prrruuuuutttttttt—!

Suara terompet darurat ditiup berkali-kali, memecah keheningan malam.

"Ada penyusup! Siaga tempur!"

Secara serentak, para prajurit penjaga melepaskan kekang energi mereka.

Tekanan angin spiritual yang sangat gila mendadak menekan udara hingga terasa sesak.

Gelombang aura berwarna-warni bangkit dari tubuh mereka, mereka semua adalah para praktisi tingkat Master Raja level 4 hingga level 6!.

Debu dan puing-puing bertebangan, suara ledakan susulan mulai bersahut-sahutan di segala penjuru.

Di tengah kekacauan itu, sesosok pria misterius melayang di udara, menatap remeh ke bawah.

"Hoo... jadi inikah kekuatan dari anjing-anjing Kerajaan Zhen? Cuma segini?" ujarnya meremehkan.

Dengan lambaian tangan pria itu, ribuan pedang energi bermanifestasi di udara, berbaris rapi membentuk formasi mematikan sebelum melesat turun bagai hujan meteor.

"Bentuk formasi! Buatkan perisai!" teriak pemimpin gendut itu dengan panik.

Detik berikutnya, kilatan cahaya emas pekat menyelimuti area inti tambang, mewujud menjadi sebuah perisai raksasa berbentuk hologram kura-kura mistis yang kokoh, bersiap menahan badai kehancuran yang datang dari langit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 50 Jejak Klan Yang Hilang

    Di tempat yang sangat jauh dari medan perang.sebuah rumah sederhana berdiri di tengah pegunungan.Kabut tipis menyelimuti pepohonan.Suasana di tempat itu sangat tenang.Di dalam rumah, seorang nenek sedang menyiapkan teh hangat.Rambutnya telah memutih, tetapi wajahnya masih terlihat tenang.Di sampingnya duduk seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun.Gadis itu sangat cantik.Rambut panjangnya terurai hingga melewati pinggang.Sambil menunggu teh selesai disiapkan, ia bernyanyi dengan suara lembut."Nenek, tehnya sudah siap?""Sebentar lagi."Nenek itu tersenyum.Ia kemudian mengangkat teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir.Namun...saat ia hendak membawa cangkir tersebut...Tangannya tiba-tiba berhenti.Matanya membesar.CLINK!Cangkir yang dipegangnya terlepas."Ah..."BRUK!Teh panas tumpah ke lantai.Gadis itu langsung berdiri."Nenek!"Namun sebelum gadis itu sempat mendekat.air teh yang tumpah di lantai tiba-tiba bergerak.Cairan tersebut tidak menyebar secara acak.

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 49 Naga Turun dari Langit

    Langit di atas camp militer tiba-tiba berubah.Awan hitam pekat memenuhi seluruh cakrawala.Di tengah pusaran awan tersebut, lingkaran formasi berwarna merah menyala berputar perlahan.Kemudian...ROOOOOAAAAARRRR!Auman naga mengguncang bumi.Semua orang yang berada di medan perang menghentikan gerakannya.Prajurit Zhen.Prajurit Lun Ya.Li Jia.Gu Wen.Mo Yuan.Bahkan mayat-mayat hidup yang sebelumnya menyerang tanpa rasa takut ikut berhenti selama beberapa detik.Semua mata tertuju ke atas.Dari dalam awan hitam, tubuh seekor naga merah kuno perlahan keluar.Sisiknya memancarkan cahaya merah.Matanya seperti dua matahari yang terbakar.Setiap kali naga itu bergerak, awan di sekitarnya bergulung dengan hebat.Mo Yuan menatap makhluk tersebut dengan wajah serius."Tekanan yang sangat kuat..."Gu Wen juga terdiam.Sementara pria pengguna ilmu mayat menatap naga itu dengan wajah yang mulai berubah."Apa sebenarnya benda itu?"Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai,ia merasa te

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 48 Naga Darah dari formasi kuno

    BOOOOM!Serangan hijau kehitaman kembali menghantam Lonceng Emas milik Mo Yuan.Namun kali ini.WUUUUSSHHH!Serangan tersebut justru terpental.Energi hijau kehitaman berbalik arah dan menghantam tanah beberapa puluh meter dari posisi Gu Wen.DUARRR!Tanah langsung meledak.Gu Wen terdiam sesaat.Ia menatap Lonceng Emas yang masih berdiri kokoh di hadapannya.Kemudian ia menoleh kepada Mo Yuan."Mo Yuan..."Mo Yuan masih mempertahankan kedua tangannya.Gu Wen segera mengepalkan tangan."Terima kasih!"Mo Yuan hanya mengangguk."Jangan berterima kasih dulu. Pertempuran belum selesai."Di kejauhan.Pria pengguna ilmu mayat melihat kejadian itu.Wajahnya langsung berubah muram.Ia mengerutkan dahinya.Giginya bergemeletuk karena marah."Berani sekali..."Tangannya perlahan terangkat.Aura hijau kehitaman mulai berkumpul di atas kepalanya.WUUUUMMM!Sebuah formasi raksasa muncul di udara.Formasi itu berputar dengan cepat.Simbol-simbol kuno memenuhi permukaannya.Kemudian...KRAAAAK!Dar

  • Sang Penguasa Mutlak    BAB 46 serangan klan phoenix

    Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini

  • Sang Penguasa Mutlak    BAB 46 serangan klan phoenix

    Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 45 Melody yang memanggil kelinci bulan

    Di tengah wilayah pepohonan yang lebat, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan jatuh membentuk bayangan indah di atas tanah.Angin berhembus pelan.Namun sejak tadi, Lun Ya dan Li Jia masih terus mencari sesuatu di antara pepohonan.Lun Ya mengusap keringat di dahinya.Ia menatap Li Jia yang masih sibuk membuka semak-semak satu per satu.“Wakil Li Jia.”Li Jia tidak menoleh.“Hmm?”“Kurasa kelinci bulan itu nanti akan kembali sendiri.”Lun Ya menghela napas.“Ayo kita kembali ke camp.”Li Jia akhirnya menoleh.Tangannya perlahan terangkat.Kemudian mengepalkan tinjunya dengan erat.“Hm?”“Apa kau bilang?”Lun Ya menatap tinju Li Jia.Jantungnya seakan berhenti sesaat.Li Jia menunjuk ke arah semak-semak.“Pokoknya aku harus menemukan kelinci itu.”“Paham?”Lun Ya menelan ludah.“Paham...”Li Jia kembali mencari.Lun Ya berjalan beberapa langkah, lalu akhirnya bersandar pada sebuah pohon besar.Ia menghela napas panjang.“Hm... perempuan memang susah dimengerti.”Tanpa sadar ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status