Accueil / Pendekar / Sang Penguasa Mutlak / Bab 2 Gugurnya sang Dewa Perang

Partager

Bab 2 Gugurnya sang Dewa Perang

Auteur: Yan_
last update Date de publication: 2026-06-03 22:54:22

GUGURNYA SANG DEWA PERANG

"Aaaarrgh, sialan! Kemari kalian!" teriak Lun Ya murka.

Tangan kanannya mencengkeram gagang pedang begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menegang.

Tanpa membuang waktu, ia mengayunkan bilah senjatanya dengan satu sentakan kuat.

Syuttt!

Kilatan merah menyala membelah udara, membentuk gelombang tebasan yang menderu layaknya naga api.

Cling!!

Benturan keras terdengar, disusul jeritan tubuh-tubuh yang terhempas. Beberapa prajurit langsung terpental mundur akibat hantaman energi tersebut.

"Ubah formasi! Bentuk segitiga!" seru sang kapten prajurit, mencoba mengendalikan kepanikan anak buahnya.

"Haaa!" Dengan serentak, para prajurit bergerak taktis mengunci posisi, membentuk formasi ofensif berbentuk segitiga.

"Maju!" Perintah kapten itu menggema. Barisan prajurit langsung merangsek maju, mengarahkan ujung tombak dan pedang mereka tepat ke arah Lun Ya.

"Sialan! Sialan! Kemari kalian!" Lun Ya mengamuk. Ia mengayunkan pedangnya membabat buta ke segala arah, menciptakan jaring-jaring kilatan merah yang terus membelah udara dan menahan laju musuh.

Napasnya mulai memburu hebat. Matanya bergerak liar, menatap kepungan musuh yang tak ada habisnya.

"Apa aku terpaksa harus menggunakan kekuatan itu?" batin Lun Ya bimbang.

Namun, melihat para prajurit yang mulai waspada dan kembali merapat, Lun Ya memantapkan hatinya.

"Aku tidak punya pilihan lain!"

Krak!

Lun Ya menghujamkan pedangnya dalam-dalam ke tanah. Seketika itu juga, lingkaran aura merah pekat meledak dari bawah kakinya, menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan debu dan batu di sekitarnya.

Udara di medan pertempuran mendadak terasa begitu berat dan mencekam.

"Hoo, hebat juga. Apa ini rahasia kekuatan milik keluarga Lun? Sangat menarik," ucap sebuah suara sinis dari atas langit.

Seorang pria dengan pedang emas melompat turun.

Ia meregangkan lehernya hingga berbunyi.

Krekk!

bersamaan dengan meledaknya aura berwarna kuning pekat di sekujur tubuhnya.

"Aku suka permainan ini!" Ucap pria itu. Dalam sekejap, ia melesat seperti kilat ke arah Lun Ya.

"Bajingan, mati saja kau!" teriaknya sambil mengarahkan ujung pedang emasnya ke depan.

"Haaa... kemari!" tantang Lun Ya memprovokasi lawan. Ia mencabut pedangnya dari tanah dengan hentakan kuat.

Syuttt... Bruakk!!

Dua aura raksasa bertabrakan di udara. Bilah pedang mereka beradu kuat, menciptakan percikan api yang menyilaukan dan melontarkan angin kencang ke segala arah.

"Hahaha! Aku suka gaya bertarungmu!" tawa pria berpedang emas itu bergelora, menekan pedangnya lebih kuat.

Lun Ya tidak menjawab. Napasnya tersengal-sengal, namun tatapan matanya menatap tajam, mengalirkan amarah yang kian meledak.

Auranya semakin membesar, membuat tanah di bawah kaki mereka mulai retak.

"Aku akan membalas semua yang terjadi hari ini!"

Di atas langit tak jauh dari sana, seorang pria berbadan gendut menatap pertempuran di bawahnya dengan senyum meremehkan.

"Hmm, Kakak, biarkan dia merasakan kapakku ini!"

Pria gendut itu mulai merapalkan kekuatannya. Energi magis yang meluap-luap mulai menyelimuti tubuh gendutnya.

"Haaaa!"

Dengan raut wajah garang penuh amarah, ia menggenggam erat gagang kapak hitam raksasanya dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Tubuhnya melesat turun membelah angin, mengincar Lun Ya yang masih sibuk menahan tebasan pedang emas.

"Mati kau!" raung pria gendut itu.

Lun Ya tersentak. Ia menoleh sekilas, namun lengannya masih terkunci menahan tekanan dari pria berpedang emas di depannya. Ia terlambat menghindar.

Syuttt... Jleb! Brukk!

Kapak hitam itu menghantam telak punggung Lun Ya.

"Aakh!"

Lun Ya menjerit kesakitan saat tubuhnya terlempar jauh dan menghantam tanah dengan keras.

Zirah pelindung di punggungnya robek besar, menyisakan luka besar akibat hantaman kapak tersebut.

"Ka... keparat kalian..." bisik Lun Ya lirih. Ia terbaring di tanah, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri.

Dengan gemetar, ia menancapkan pedangnya ke tanah sebagai tumpuan agar tubuhnya tidak ambruk.

Darah segar mulai mengalir deras dari dahinya, menutupi separuh wajahnya.

"A... aku tidak akan melupakan ini. Kemari kalian, keparat!" teriak Lun Ya, memaksakan sisa-sisa aura merahnya untuk kembali menyala.

"Hooo, kita lihat sampai kapan pahlawan ini bisa bertahan," ejek pria berpedang emas.

"Kakak, ayo kita akhiri riwayat si Lun Ya ini!" seru pria gendut itu tak sabar.

Mendengar itu, pria ketiga yang sejak tadi hanya mengawasi pertempuran dari atas tebing akhirnya bergerak. Ia memegang erat gagang pedangnya, lalu memutarnya ke atas, menunjuk langsung ke langit.

Grrrhh...

Petir-petir kecil berwujud percikan listrik mulai merayap di sepanjang bilah pedangnya.

Tak lama kemudian, langit yang tadinya cerah mendadak bergulung hitam. Sebuah pusaran awan gelap terbentuk, berputar hebat menyerupai tornado raksasa.

Syuttt!

Sambaran petir raksasa keluar dari pusaran hitam tersebut, menyambar tak beraturan ke permukaan bumi.

Udara seketika mendingin secara ekstrem, mencekam, dan gelap gulita.

"Hahaha! Rasakan kekuatanku! Ini adalah puncak dari teknik yang kukembangkan! Dasar Lun Ya bodoh, lihat bagaimana caramu menghadapi ini!" tawa pria di atas langit itu menggelegar, memandang rendah Lun Ya dari ketinggian.

Meskipun tubuhnya gemetar, Lun Ya menstabilkan posisinya. Ia berdiri tegak dengan sisa kekuatannya, menatap tajam ke arah langit.

Kedua tangannya menggenggam pedang erat-erat, bersiap menyambut badai kehancuran di depannya.

"Majulah kalian, keparat!" tantang Lun Ya.

Dari dalam pusaran awan hitam, sebuah kepala naga raksasa yang terbentuk sepenuhnya dari kumpulan petir mulai menampakkan wujudnya.

Mengeluarkan raungan yang menggetarkan bumi.

Grrrrrhhhh!

Naga petir itu meluncur jatuh, lurus mengarah ke posisi Lun Ya.

"Aku harus bertahan!" tekad Lun Ya. Ia mengangkat pedangnya, mengarahkan seluruh energinya ke atas.

Syuttt... Bliaarrr!!

Kilatan naga petir menghantam bumi dengan kecepatan suara. Debu dan tanah berterbangan seketika, menciptakan kabut asap yang sangat tebal dan pekat, menelan tubuh Lun Ya sepenuhnya.

"Hahaha! Bagaimana? Apa kau sudah jadi abu?!" seru pria di langit itu puas.

Namun, perlahan-lahan kabut itu mulai memudar. Di dalamnya, tampak sebuah perisai energi merah samar yang retak-retak, diciptakan oleh Lun Ya di detik-detik terakhir.

"A-aku... harus... bertahan..." Lun Ya terengah-engah. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan, dan detak jantungnya berpacu sangat cepat hingga telinganya berdengung.

Haaah... Udara panas keluar dari mulutnya yang mulai mati rasa.

Darah di dahinya mengalir semakin deras, membasahi wajah dan zirahnya yang sudah hancur akibat ledakan petir.

"Ha-ah?! Kau masih hidup?!" Pria di langit itu terbelalak keheranan.

"Pantas saja dia dikenal sebagai praktisi tingkat Dewa Level 6," sahut pria berpedang emas dengan napas yang juga mulai tidak stabil.

"Gabungan kekuatan kita berdua yang berada di tingkat yang sama ternyata belum bisa menghabisinya dengan mudah."

Namun, di tengah keputusasaan itu...

Syuttt!

Sebuah kilatan cahaya berwarna ungu kehitaman melesat entah dari mana. Gerakannya begitu cepat, memotong udara tanpa suara.

"Akh, apa ini"

Kalimat Lun Ya terputus. Dunia mendadak hening.

Di udara, sebuah robekan dimensi berupa lingkaran hitam pekat terbuka. Dari dalam celah tersebut, melangkah keluar sesosok pria berambut putih.

Tatapan matanya begitu dingin dan kosong, seolah-olah sedang menatap seekor mangsa yang sudah mati.

"Hormat kepada Yang Mulia Yun Za!" Serentak, ketiga master yang tadinya perkasa langsung berlutut dengan tubuh gemetar.

"Hmm. Keluarga Lun... hari ini akan kuhapus dari sejarah," ucap Yun Za. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Lun Ya perlahan menurunkan pandangannya ke arah perutnya. Di sana, sebuah lubang kecil bekas tembakan kilatan ungu tadi menembus tubuhnya.

Napasnya mendadak terasa terhenti. Sakit kepala yang luar biasa hebat menghantam kesadarannya.

"A-apa... ini akhir hidupku?" batin Lun Ya, pasrah.

Kreeek... Prang!

Perisai merah miliknya pecah berkeping-keping. Lun Ya langsung membekap mulutnya saat darah segar keluar memancar dari tenggorokannya.

Uhuk! Uhuk!

"A-aku... bahkan tidak bisa merasakan sisa kekuatannya... Dia... di tingkat apa?" bisik Lun Ya dengan pandangan yang mulai menggelap.

Napasnya kini terasa sangat pendek dan berat.

Matanya terasa panas, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya sendiri.

Brukk!

Tubuh sang Dewa Perang akhirnya ambruk, jatuh di atas tanah yang dingin.

"Hahaha! Inilah akibatnya jika kau berani menentang tuan Yun za!" tawa pria gendut itu pecah.

Para prajurit di sekitar mereka menatap tubuh sekarat itu dengan pandangan sinis dan dingin.

Di ambang kematiannya, sebuah memori masa lalu tiba-tiba melintas di benak Lun Ya.

Bayangan masa kecilnya muncul saat ia masih seorang bocah yang menggenggam pedang kayu di halaman rumah.

"Lun Ya, apa kau ingin menjadi prajurit terhebat di kerajaan ini?" tanya ayahnya dahulu dengan wajah serius namun hangat.

Dengan penuh semangat, Lun Ya kecil mengangkat pedang kayunya tinggi-tinggi ke langit dan berteriak, "Aku bukan hanya ingin menjadi prajurit terhebat, Ayah! Aku akan menjadi penguasa daratan ini!"

Wusss... Kilasan ingatan itu lenyap, digantikan oleh realitas yang kejam.

"Ayah... maafkan... Lun Ya..." lirihnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat. "Lun Ya! Lun Ya! Sadarlah!"

Sebuah suara gadis menangis histeris, meratapi tubuh Lun Ya yang kian melemah.

"Yue... Lan? Itu... kau...?" Suara Lun Ya nyaris tak terdengar. Matanya yang kabur samar-samar melihat Yue Lan menangis di atasnya.

Di depan mereka, dua sosok berpakaian armor lengkap berdiri pasang badan, mengangkat pedang mereka untuk melindungi.

"Nona Yue Lan, cepat! Bawa Tuan Muda Lun Ya pergi dari sini!" teriak salah satu prajurit pelindung itu.

Namun, semua sudah terlambat.

Syuttt!

Tanpa bisa dihindari, sebuah tangan pucat bergerak secepat kilat, mencengkeram kuat leher Yue Lan hingga gadis itu terangkat ke udara.

Kraaakk!

Suara tulang patah terdengar mengerikan, disusul dengan darah yang berhamburan membasahi tanah.

"A-aakh... ke... keparat... kalian..." Lun Ya meraung dalam hati.

Kesedihan dan amarah berbaur menjadi satu, namun tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Pandangannya perlahan memudar menjadi kegelapan total.

Bersamaan dengan hilangnya kesadaran sang Dewa Perang, pedang pusaka milik Lun Ya yang tertancap di sampingnya perlahan-lahan kehilangan cahayanya, meredup, dan akhirnya padam sepenuhnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 50 Jejak Klan Yang Hilang

    Di tempat yang sangat jauh dari medan perang.sebuah rumah sederhana berdiri di tengah pegunungan.Kabut tipis menyelimuti pepohonan.Suasana di tempat itu sangat tenang.Di dalam rumah, seorang nenek sedang menyiapkan teh hangat.Rambutnya telah memutih, tetapi wajahnya masih terlihat tenang.Di sampingnya duduk seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun.Gadis itu sangat cantik.Rambut panjangnya terurai hingga melewati pinggang.Sambil menunggu teh selesai disiapkan, ia bernyanyi dengan suara lembut."Nenek, tehnya sudah siap?""Sebentar lagi."Nenek itu tersenyum.Ia kemudian mengangkat teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir.Namun...saat ia hendak membawa cangkir tersebut...Tangannya tiba-tiba berhenti.Matanya membesar.CLINK!Cangkir yang dipegangnya terlepas."Ah..."BRUK!Teh panas tumpah ke lantai.Gadis itu langsung berdiri."Nenek!"Namun sebelum gadis itu sempat mendekat.air teh yang tumpah di lantai tiba-tiba bergerak.Cairan tersebut tidak menyebar secara acak.

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 49 Naga Turun dari Langit

    Langit di atas camp militer tiba-tiba berubah.Awan hitam pekat memenuhi seluruh cakrawala.Di tengah pusaran awan tersebut, lingkaran formasi berwarna merah menyala berputar perlahan.Kemudian...ROOOOOAAAAARRRR!Auman naga mengguncang bumi.Semua orang yang berada di medan perang menghentikan gerakannya.Prajurit Zhen.Prajurit Lun Ya.Li Jia.Gu Wen.Mo Yuan.Bahkan mayat-mayat hidup yang sebelumnya menyerang tanpa rasa takut ikut berhenti selama beberapa detik.Semua mata tertuju ke atas.Dari dalam awan hitam, tubuh seekor naga merah kuno perlahan keluar.Sisiknya memancarkan cahaya merah.Matanya seperti dua matahari yang terbakar.Setiap kali naga itu bergerak, awan di sekitarnya bergulung dengan hebat.Mo Yuan menatap makhluk tersebut dengan wajah serius."Tekanan yang sangat kuat..."Gu Wen juga terdiam.Sementara pria pengguna ilmu mayat menatap naga itu dengan wajah yang mulai berubah."Apa sebenarnya benda itu?"Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai,ia merasa te

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 48 Naga Darah dari formasi kuno

    BOOOOM!Serangan hijau kehitaman kembali menghantam Lonceng Emas milik Mo Yuan.Namun kali ini.WUUUUSSHHH!Serangan tersebut justru terpental.Energi hijau kehitaman berbalik arah dan menghantam tanah beberapa puluh meter dari posisi Gu Wen.DUARRR!Tanah langsung meledak.Gu Wen terdiam sesaat.Ia menatap Lonceng Emas yang masih berdiri kokoh di hadapannya.Kemudian ia menoleh kepada Mo Yuan."Mo Yuan..."Mo Yuan masih mempertahankan kedua tangannya.Gu Wen segera mengepalkan tangan."Terima kasih!"Mo Yuan hanya mengangguk."Jangan berterima kasih dulu. Pertempuran belum selesai."Di kejauhan.Pria pengguna ilmu mayat melihat kejadian itu.Wajahnya langsung berubah muram.Ia mengerutkan dahinya.Giginya bergemeletuk karena marah."Berani sekali..."Tangannya perlahan terangkat.Aura hijau kehitaman mulai berkumpul di atas kepalanya.WUUUUMMM!Sebuah formasi raksasa muncul di udara.Formasi itu berputar dengan cepat.Simbol-simbol kuno memenuhi permukaannya.Kemudian...KRAAAAK!Dar

  • Sang Penguasa Mutlak    BAB 46 serangan klan phoenix

    Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini

  • Sang Penguasa Mutlak    BAB 46 serangan klan phoenix

    Angin masih berembus pelan di antara pepohonan.Nada seruling hijau giok yang dimainkan Lun Ya perlahan menghilang terbawa angin. Di sampingnya, Li Jia masih memperhatikan Lun Ya dengan tatapan penuh curiga.Namun sebelum keduanya sempat berbicara lebih jauh.Sesosok pria berjalan keluar dari balik pepohonan.Lun Ya dan Li Jia langsung menoleh.Pria itu adalah Mo Yuan.Mo Yuan menghentikan langkahnya.Wajahnya tampak santai, seolah-olah dirinya tidak sedang mengejar sesuatu.Padahal beberapa saat sebelumnya, ia baru saja mengikuti Kelinci Bulan yang berlari menuju sumber suara seruling.Jadi benar... dia ada di sini.Mo Yuan memandang Lun Ya beberapa saat.Namun ia segera menyembunyikan keterkejutannya.Li Jia langsung mengenalinya."Tuan Yuan?"Nada suara Li Jia terdengar sopan.Mo Yuan mengangguk kecil."Mm."Lun Ya yang mendengar suara Li Jia segera membalikkan tubuhnya.Begitu melihat Mo Yuan, ia tersenyum sedikit."Tuan senior."Mo Yuan menatapnya."Sedang apa Tuan Senior di sini

  • Sang Penguasa Mutlak    Bab 45 Melody yang memanggil kelinci bulan

    Di tengah wilayah pepohonan yang lebat, sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan jatuh membentuk bayangan indah di atas tanah.Angin berhembus pelan.Namun sejak tadi, Lun Ya dan Li Jia masih terus mencari sesuatu di antara pepohonan.Lun Ya mengusap keringat di dahinya.Ia menatap Li Jia yang masih sibuk membuka semak-semak satu per satu.“Wakil Li Jia.”Li Jia tidak menoleh.“Hmm?”“Kurasa kelinci bulan itu nanti akan kembali sendiri.”Lun Ya menghela napas.“Ayo kita kembali ke camp.”Li Jia akhirnya menoleh.Tangannya perlahan terangkat.Kemudian mengepalkan tinjunya dengan erat.“Hm?”“Apa kau bilang?”Lun Ya menatap tinju Li Jia.Jantungnya seakan berhenti sesaat.Li Jia menunjuk ke arah semak-semak.“Pokoknya aku harus menemukan kelinci itu.”“Paham?”Lun Ya menelan ludah.“Paham...”Li Jia kembali mencari.Lun Ya berjalan beberapa langkah, lalu akhirnya bersandar pada sebuah pohon besar.Ia menghela napas panjang.“Hm... perempuan memang susah dimengerti.”Tanpa sadar ka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status