Compartilhar

BAB 135

last update Data de publicação: 2026-04-11 21:24:03

Baru saja Satria mau menyuap sendok kelimanya, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dan berirama cepat terdengar mendekat dari arah tangga utama. Suara itu terdengar sangat tidak sabar, memecah suasana tenang dan manis yang sedang dibangun susah payah oleh Kiki di ruang makan.

Nona Vera muncul dengan penampilan yang luar biasa memukau. Dia memakai gaun malam formal berwarna biru dongker yang elegan dengan potongan kerah tinggi. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan anting berlian yang ber
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Satria Idaman Wanita   BAB 215

    Suasana di pinggir jalan itu terasa sangat intim. Hanya ada suara gesekan panggangan jagung dan sesekali deru kendaraan yang melintas di kejauhan. Vera, yang awalnya sangat menjaga image sebagai wanita anggun, kini benar-benar larut dalam kesederhanaan malam ini.Dia menggigit jagung bakar dengan lahap, tidak lagi memedulikan sisa bumbu kacang atau saus pedas manis yang mungkin menempel di sudut bibirnya. Dia sedang menikmati kebebasan yang langka."Non, hati-hati," tegur Satria tiba-tiba sambil terkekeh pelan."Hati-hati apa?" jawab Vera dengan mulut yang masih penuh. Dia menatap Satria dengan tatapan menantang, sama sekali tidak sadar kalau sudut bibirnya sudah berantakan oleh olesan saus pedas berwarna merah.Satria tidak langsung menjawab. Pemuda itu meletakkan jagung bakarnya di atas piring plastik, lalu mengambil selembar tisu dari dalam saku jaketnya. Dengan gerakan yang sangat halus namun pasti, Satria mencondongkan tubuhnya ke arah Vera.Vera membeku.Awalnya, dia mengira Sat

  • Satria Idaman Wanita   BAb 214

    Mesin motor semi-trail itu menderu halus saat Satria menarik tuas gasnya perlahan. Mereka meninggalkan pelataran rumah yang luas, menyusuri jalanan perumahan yang mulai sepi.Awalnya, Vera duduk dengan posisi kaku. Dia hanya memegang ujung jaket Satria, menjaga jarak sejauh mungkin karena gengsi yang masih tersisa. Namun, saat Satria melakukan manuver sedikit tajam di tikungan depan komplek dan kemudian memacu motor dengan kecepatan yang cukup tinggi di jalan raya yang lengang, tubuh Vera sedikit tersentak ke belakang.Tanpa sadar, refleks melindungi diri membuat Vera tidak lagi sekadar memegang ujung jaket. Dengan mantap, kedua tangan wanita itu melingkar erat di pinggang Satria. Dia menyandarkan sedikit beban tubuhnya ke punggung bidang pria itu agar tidak terhempas angin.Sentuhan hangat dari lengan Vera yang melingkari pinggangnya membuat Satria sedikit menegang sesaat. Aroma parfum mewah bercampur wangi sampo yang samar-samar tercium dari balik helm Vera menyelinap masuk ke indra

  • Satria Idaman Wanita   BAB 213

    Mendengar alasan Satria yang benar benar asal asalan itu, Vera langsung berdiri dari duduknya. Wajah bos cantik itu makin memerah, kali ini bukan cuma karena kesal, tapi ada emosi lain yang ikut meledak.Vera refleks berkacak pinggang. Dia menatap asisten pribadinya itu dengan sorot mata yang menyala nyala."Alasan macam apa itu, Satria!" omel Vera tanpa bisa ditahan lagi. "Kan aku yang membelikan dan bayar motor itu pakai uangku! Harusnya aku dong yang pertama kali kamu ajak buat uji coba dibonceng, bukan malah keliling kota sama adikku!"Ruang tamu yang luas itu mendadak hening selama beberapa detik. Begitu kalimat itu lepas dari mulutnya, mata Vera sedikit melebar. Dia baru sadar betapa aneh dan gengsi kalimatnya barusan. Bukannya terdengar seperti bos yang sedang memarahi bawahan, ucapannya malah lebih mirip seperti seorang wanita yang sedang cemburu berat karena tidak diajak jalan jalan sore.Laras yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Satria langsung menahan tawa. Ketak

  • Satria Idaman Wanita   BAB 211

    Suara deru mesin motor semi trail hitam itu perlahan mengecil dan akhirnya mati tepat di pelataran parkir rumah mewah Vera. Satria menurunkan standar motornya, sementara Laras turun dari jok belakang dengan wajah ceria. Di tangannya terdapat dua kantong plastik putih berisi aneka jajanan pasar dan martabak manis yang masih hangat."Beneran asyik banget jalan jalan sore pakai motor begini, Mas," ucap Laras sambil melepas helmnya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin. "Lain kali kita jalan agak jauhan ya, sekalian cari seblak yang viral di ujung jalan sana."Satria tertawa pelan. Dia ikut melepas helmnya dan mengacak pelan ujung rambut Laras."Boleh saja, Ras. Tapi besok besok kamu yang bayar jajanannya ya. Uang sakuku kan belum turun dari bosmu itu," goda Satria santai.Laras terkikik geli mendengarnya. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju pintu utama rumah. Suasana terlihat sangat santai dan penuh tawa. Satria kemudian menekan gagang pintu kayu jati yang bes

  • Satria Idaman Wanita   BAB 211

    Puas mengomel sendirian dan mematikan telepon secara sepihak, Vera menyandarkan tubuhnya ke bantal sofa dengan kasar. Napasnya masih naik turun. Bos cantik itu memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan isi kepalanya yang terasa seperti mau pecah sejak siang tadi.Merasa butuh teman untuk berbagi cerita soal kelakuan asisten pribadinya yang ajaib itu, Vera tiba tiba teringat pada adiknya."Laras ke mana ya jam segini?" gumam Vera pelan.Biasanya, jam segini adiknya itu sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga keluarga atau ngemil di dapur. Vera pun berdiri dari sofa dan berjalan menyusuri lorong rumah mewahnya yang luas."Ras? Laras!" panggil Vera dengan suara agak keras.Dia melongok ke ruang keluarga, kosong. Dia berjalan ke arah dapur, juga kosong. Hanya ada Bi Inah, asisten rumah tangga mereka yang sudah bekerja puluhan tahun di sana, sedang sibuk mengelap meja makan.Mendengar suara majikannya memanggil panggil, Bi Inah langsung menghentikan pekerjaannya dan menoleh."N

  • Satria Idaman Wanita   BAB 210

    Berikut adalah Bab 202, di mana alasan Satria di telepon tadi ternyata menyembunyikan sebuah fakta yang membuat kita geleng-geleng kepala.Bab 202: Taman Sore dan Alasan KlasikSatria perlahan menjauhkan ponsel pintar itu dari telinganya sesaat sebelum sambungan telepon diputus secara sepihak oleh bosnya. Dia menghela napas panjang lalu memasukkan ponsel tersebut kembali ke dalam saku jaketnya.Tepat di sebelah pemuda itu, seorang gadis manis berambut sebahu yang sedari tadi menahan napas untuk diam akhirnya tidak kuat lagi. Gadis itu tertawa lepas sampai harus memegangi perutnya sendiri.Gadis itu adalah Laras, adik kandung Vera."Hahaha! Mas Satria beneran berani ya bohongin Kak Vera begitu," ucap Laras di sela tawanya yang berderai. "Kak Vera itu kalau sudah ngomel cerewetnya bisa sampai besok pagi loh. Kok Mas malah santai banget tanggapannya?"Mereka berdua saat ini sedang duduk di sebuah bangku panjang di taman kota yang rindang, tempat yang cukup sejuk untuk bersantai di sore h

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status