Share

Satria Idaman Wanita
Satria Idaman Wanita
Penulis: Inspirasi Kopi

BAB 1

Penulis: Inspirasi Kopi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-06 23:44:05

Namaku Satria, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu terlihat biasa saja dari luar, hanya seorang pelayan kafe dengan kaos oblong pudar dan celana jins belel.

Namun, seragam kerja kemeja cokelat yang kupakai hari ini terasa sesak di bagian lengan dan dada.

Latihan fisik bertahun-tahun di desa, mulai dari menghantam batang pohon pisang sampai mengangkat batu sungai, membuat tubuhku terbentuk sempurna di balik penampilannya yang kucel. Sayangnya, tidak ada yang tahu soal aset tersembunyi itu kecuali cermin buram di kamar mandi kosanku.

***

Cklek.

Satria menoleh cepat ke arah pintu pantry yang baru saja tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Matanya langsung menangkap sosok Dinda yang berdiri di sana sambil menyeringai lebar. Rekan kerjanya yang bertubuh mungil itu memang terkenal agresif, tapi hari ini penampilannya benar-benar menguji iman.

Seragam kafe Dinda sengaja dipilih satu ukuran lebih kecil, membuat kemeja itu menempel ketat di tubuhnya yang berisi. Dua kancing teratasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sekilas belahan dada yang putih dan padat setiap kali gadis itu bernapas.

"Din? Eh, ngapain dikunci pintunya? Nanti kalau Pak Rudi mau masuk gimana?" tanya Satria panik sambil memegang gelas erat-erat.

Gadis itu tidak menjawab dan malah melangkah maju dengan tatapan lapar. Dinda terus mendesak Satria mundur langkah demi langkah hingga punggung tegap pemuda itu menabrak dinding keramik yang dingin. Jarak di antara mereka terkikis habis.

"Biarin aja Pak Rudi tau, emangnya kenapa?" Dinda terkikik pelan, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dinding, tepat di samping kiri dan kanan kepala Satria.

Posisi itu membuat tubuh bagian depan Dinda menempel telak pada tubuh Satria. Satria bisa merasakan dengan jelas tekstur kenyal dari dada Dinda yang menekan dada bidangnya karena

Dinda sengaja membusungkan tubuh. Aroma parfum stroberi manis bercampur keringat tipis dari leher gadis itu langsung menyergap indra penciumannya. Wangi itu begitu tajam dan memabukkan, khas aroma wanita dewasa yang sedang birahi.

"Din, minggir dulu, ini gelasnya nanti pecah kalau kesenggol," ucap Satria dengan suara yang mulai serak.

"Pecahin aja gelasnya, Sat. Asal hati aku jangan kamu pecahin," bisik Dinda dengan nada manja sambil berjinjit mendekatkan wajahnya.

Napas hangat Dinda menyapu kulit leher Satria, membuat bulu kuduk pemuda itu meremang seketika. Reaksi biologis laki-laki normal langsung mengambil alih sistem sarafnya. Jantung Satria berdegup kencang, darahnya mendesir panas ke arah bawah perut.

'Si Pusaka' di balik celana bahan kerjanya langsung bereaksi keras, menegang kaku karena gesekan tubuh Dinda yang semakin berani. Celana bahan itu kini terasa sempit dan menyiksa aset masa depannya yang menuntut ruang lebih.

Dinda memejamkan mata, bibirnya yang dipoles lip tint merah muda mengerucut siap mendaratkan ciuman. Wajahnya mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang basah oleh keringat tipis karena udara pantry yang panas.

Pemandangan itu begitu menggoda, membuat Satria menelan ludah kasar. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya karena panik campur gairah.

Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, telinga Satria menangkap suara aneh dari arah lorong luar.

BRAK!

"Lepasin! Sakit, anjing!".

Suara benturan benda keras dan teriakan wanita itu terdengar sangat jelas bagi telinga terlatih Satria. Sumbernya berasal dari toilet wanita di ujung lorong yang sepi. Insting waspadanya langsung menyala, mengalahkan nafsu yang baru saja memuncak.

"Tunggu sebentar, Din!" Satria mendorong bahu Dinda dengan tegas hingga tubuh mereka terpisah.

Dinda membuka matanya dengan ekspresi kesal setengah mati. "Apaan sih, Sat?! Kamu tuh ya, alasan terus kalau diajak enak-enak!".

"Ada yang nggak beres di toilet cewek. Kamu denger nggak tadi ada suara teriakan?" potong Satria serius sambil meletakkan gelas di meja.

Tanpa menunggu omelan Dinda yang masih cemberut memandangi selangkangan Satria yang menggembung, pemuda itu langsung membuka kunci pintu pantry. Dia berlari keluar menuju lorong dengan langkah cepat dan senyap. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Benar saja dugaan Satria.

Pintu toilet wanita di ujung lorong itu terlihat sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Satria mendekat tanpa suara, lalu mengintip lewat celah sempit itu. Pemandangan di dalam sana seketika membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.

Di dalam toilet sempit itu, Kevin sedang melakukan aksi bejatnya.

Kevin adalah pelanggan kaya yang sering pamer mobil mewah dan selalu memandang rendah para pelayan kafe. Pria itu kini sedang mencengkeram rambut panjang seorang gadis yang duduk tak berdaya di kursi roda.

Itu Laras, pelanggan setia yang difabel.

Kondisi Laras sangat berantakan dan menyedihkan. Blus mahal berbahan sutra yang dipakainya robek parah di bagian bahu kiri akibat tarikan kasar Kevin.

Robekan itu memperlihatkan tali bra hitam berenda yang menempel kontras di kulit bahunya yang seputih susu. Kulit mulus di area leher dan bahu itu kini memerah karena cengkeraman tangan laki-laki.

"Lepasin aku, Kevin! Kamu gila ya?!" jerit Laras sambil berusaha memukul dada Kevin dengan tangannya yang lemah.

Kevin justru semakin mengeratkan jambakannya, memaksa kepala Laras mendongak. Wajah pria itu merah padam karena nafsu dan alkohol. Matanya menatap liar ke arah dada Laras yang terekspos karena robekan bajunya.

"Diem lo! Gue udah lama ngincer lo. Mentang-mentang lo anak orang kaya, lo pikir lo bisa nolak gue terus? Di sini sepi, nggak ada yang bakal nolongin cewek cacat kayak lo!".

Kevin mendekatkan wajahnya dengan napas memburu, hendak mencium paksa leher jenjang Laras yang terbuka lebar. Tangan Kevin yang satu lagi mulai merayap turun ke arah paha Laras yang tertutup rok selutut.

Satria tidak bisa menahan diri lagi. Persetan dengan aturan dilarang ikut campur urusan pelanggan. Dia mundur selangkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu menghantamkan telapak kakinya ke pintu toilet dengan tenaga penuh.

DUAR!

Pintu kayu solid itu terbuka paksa dengan suara ledakan keras. Daun pintunya menghantam dinding keramik di belakangnya sampai engselnya bengkok. Debu halus dari kusen pintu beterbangan di udara.

"Hey, Tuan Kevin, Anda tidak boleh berbuat onar di tempat ini!" Teriakan Satria menggema di ruang sempit itu, menciptakan efek intimidasi yang luar biasa.

Kevin terlonjak kaget setengah mati. Dia refleks melepaskan jambakannya pada rambut Laras dan mundur ke belakang karena panik.

Namun, Kevin lupa kalau dia sedang berdiri di ruang sempit. Tumit sepatu pantofel mahalnya tersangkut pada pijakan kaki kursi roda Laras.

"Awas!" teriak Satria, tapi semuanya terlambat.

Tubuh besar Kevin kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa sisi kursi roda Laras dengan keras. Kursi roda itu langsung terbalik karena hantaman beban yang tidak seimbang. Tubuh mungil Laras ikut terpelanting jatuh dari kursinya.

"Aaaaaaargh!" Jeritan kesakitan Laras terdengar menyayat hati.

Gadis itu jatuh terduduk di lantai keramik yang basah dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Kaki kanannya menghantam pipa besi di bawah wastafel dengan telak.

Satria langsung masuk dan melihat kondisi Laras. Pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat, campuran antara rasa kasihan dan kekaguman visual yang sulit ditolak.

Laras terduduk di lantai dengan posisi kaki terbuka. Rok selututnya tersingkap naik cukup tinggi hingga memperlihatkan paha bagian dalamnya yang putih mulus dan padat. Kulit paha itu terlihat sangat kontras dengan lantai toilet yang kotor. Akibat benturan tadi, pergelangan kaki kanannya yang putih itu mulai membengkak besar dan memerah.

Wajah cantik Laras basah oleh air mata, rambutnya berantakan, dan bahu kirinya masih terbuka memperlihatkan tali bra hitamnya. Dia terlihat begitu rapuh, berantakan, namun sangat sensual di saat yang bersamaan.

Satria harus menahan napasnya sejenak melihat paha putih yang terekspos jelas di depan matanya itu sebelum akhirnya berjongkok untuk membantu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Muh Akbar
anjrit iklan terus
goodnovel comment avatar
Muh Akbar
ini kita mau baca novel atau nonton iklan..
goodnovel comment avatar
Zhu Phi
Hot ......... Lanjutkan Thor...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Satria Idaman Wanita   BAB 370

    Sore itu, langit di atas ibu kota perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga keemasan yang indah. Sinar matahari yang mulai condong ke barat menyinari halaman depan kediaman Vera, memantulkan bayangan pepohonan kamboja di atas rumput hijau yang tertata rapi.Vera duduk di kursi rotan teras depan, mengenakan sweater rajut tipis berwarna biru muda. Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi teh kamomil hangat mengepulkan uap tipis beraroma menenangkan. Matanya memandang ke luar gerbang, menikmati ketenangan suasana lingkungan perumahan yang sepi dari hiruk-pikuk kendaraan.Satria melangkah keluar dari pintu utama membawa nampan kecil berisi piring penganan ringan berupa kue lapis tradisional. Pria berkaus polos hitam itu meletakkan nampan di atas meja bundar kecil, lalu menarik kursi untuk duduk di sebelah Vera."Silakan dicicipi, kue lapisnya baru saja dikirim tadi siang oleh Bi Inah," ujar Satria sambil tersenyum tipis.Vera mengambil sepotong kue lapis berwarna hijau pastel, lalu

  • Satria Idaman Wanita   BAB 369

    Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri dan menenangkan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantulkan warna jingga keemasan di atas permukaan kolam ikan kecil, sementara angin sepoi-sepoi berhembus pelan menggoyang dahan-dahan tanaman hias.Vera duduk santai di kursi rotan panjang, mengenakan sweater rajut tipis berwarna krem. Di pangkuannya, sebuah buku novel fiksi terbuka, namun perhatiannya lebih sering tertuju pada sosok Satria yang sedang merapikan tanaman pot di sudut halaman.Pria berkaus gelap itu tampak telaten menyiram tanah di sekitar tanaman bunga kamboja, memastikan semuanya tertata rapi. Gerakannya tenang, mencerminkan kedamaian jiwa yang telah ia temukan sepenuhnya setelah sekian lama hidup dalam ketegangan dunia luar.Vera menutup bukunya perlahan, lalu tersenyum tipis. "Sat, udah sore banget nih. Sini istirahat dulu, temenin saya nikmati teh hangat."Satria menghentikan kegiatannya, menaruh selang air pada tempatnya, lalu berjalan menghampi

  • Satria Idaman Wanita   BAB 368

    Lampu gantung dengan pendar kuning hangat menyinari seluruh sudut ruang keluarga rumah Vera. Di luar, malam Minggu berjalan dalam keheningan yang menyenangkan, ditemani gerimis tipis yang sesekali mengetuk kaca jendela dengan lembut.Vera duduk berselonjor santai di atas sofa abu-abu yang empuk, mengenakan piyama katun bermotif lembut. Di atas meja kayu di hadapannya, semangkuk besar berisikan keripik singkong keju dan dua kaleng soda dingin tersaji rapi, menemani layar televisi yang sedang menayangkan film dokumenter alam liar.Satria duduk di ujung sofa sebelah kiri, sedang merapikan beberapa perkakas pertukangan kecil di dalam kotak kayu miliknya. Gerakannya tenang dan terukur, menunjukkan ketelatenan yang selalu berhasil membuat Vera kagum.Vera mengambil sepotong keripik, lalu menoleh ke arah Satria. "Sat, filmnya lagi seru nih. Kamu beneran nggak mau nonton sebentar? Dari tadi sibuk mulu sama kotak perkakas."Satria mendongak, tersenyum tipis melihat ekspresi iseng di wajah atas

  • Satria Idaman Wanita   BAB 367

    Sinar matahari pagi menyinari pekarangan rumah Vera dengan kehangatan yang menenangkan. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon mangga, menyambut hari baru yang bersih tanpa ada sisa awan mendung di langit ibu kota.Di ruang makan, aroma kopi hitam pekat bercampur dengan harumnya roti panggang mentega memenuhi udara. Vera melangkah turun dari tangga dengan mengenakan pakaian santai rumahan, rambut panjangnya diikat longgar ke belakang.Satria sudah berdiri di dekat meja dapur, menuangkan sisa air panas ke dalam cangkir keramik putih. Pria itu mengenakan kaus abu-abu polos yang membuatnya tampak santai dan jauh dari kesan kaku seorang pengawal profesional.Mendengar langkah kaki mendekat, Satria menoleh dan tersenyum tipis. "Pagi, Vera. Kopinya baru saja siap, pas banget sama kamu yang turun jam segini."Vera menarik kursi lalu duduk, menyambut cangkir hangat yang disodorkan Satria dengan senyuman lebar. "Pagi, Sat. Wah, kamu kayaknya punya jam alarm internal ya, selalu pas banget

  • Satria Idaman Wanita   BAB 366

    Sinar matahari pagi Minggu itu memantul cerah di atas permukaan air kolam ikan kecil yang terletak di sudut halaman belakang rumah Vera. Airnya yang jernih memperlihatkan beberapa ekor ikan koi berenang tenang ke sana ke mari, menciptakan riak kecil yang memecah keheningan pagi.Vera duduk di kursi rotan teras belakang sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat yang baru saja diseduh. Ia mengenakan pakaian santai rumahan berwarna putih polos, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai natural diterpa angin sepoi-sepoi.Satria melangkah keluar dari arah dapur membawa nampan kecil berisi piring penganan tradisional—beberapa potong pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja bundar di hadapan Vera, lalu menarik kursi untuk duduk di seberangnya."Wah, kebetulan banget lagi pengen yang manis-manis," ucap Vera antusias sambil mengambil sepotong pisang goreng yang masih mengepulkan uap tipis.Satria tersenyum tipis, lalu menuangka

  • Satria Idaman Wanita   BAB 365

    Sore itu, halaman belakang rumah Vera tampak begitu asri. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyinari barisan pot tanaman hias dan rumput hijau yang tertata rapi. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa kesejukan yang menenangkan setelah seharian cuaca cukup terik.Vera duduk di kursi teras kayu sambil mengenakan kardigan rajut tipis berwarna krem. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil terbuka, tapi perhatiannya justru lebih banyak tertuju pada sosok Satria yang sedang menyiram deretan tanaman anggrek di sudut halaman.Pria berkaus gelap itu tampak telaten mengarahkan selang air kecil, memastikan setiap akar tanaman mendapat pasokan air yang cukup. Gerakannya tenang dan penuh konsentrasi, seolah merawat tanaman adalah misi paling penting yang harus diselesaikannya hari ini.Vera tersenyum tipis melihat keseriusan pengawalnya itu. "Sat, kayaknya tanaman anggrek di situ udah kebanyakan air deh. Nanti malah busuk akarnya kalau disiram terus."Satria menghentikan aliran ai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status