LOGIN
Namaku Satria, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu terlihat biasa saja dari luar, hanya seorang pelayan kafe dengan kaos oblong pudar dan celana jins belel.
Namun, seragam kerja kemeja cokelat yang kupakai hari ini terasa sesak di bagian lengan dan dada.
Latihan fisik bertahun-tahun di desa, mulai dari menghantam batang pohon pisang sampai mengangkat batu sungai, membuat tubuhku terbentuk sempurna di balik penampilannya yang kucel. Sayangnya, tidak ada yang tahu soal aset tersembunyi itu kecuali cermin buram di kamar mandi kosanku.
***
Cklek.
Satria menoleh cepat ke arah pintu pantry yang baru saja tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Matanya langsung menangkap sosok Dinda yang berdiri di sana sambil menyeringai lebar. Rekan kerjanya yang bertubuh mungil itu memang terkenal agresif, tapi hari ini penampilannya benar-benar menguji iman.
Seragam kafe Dinda sengaja dipilih satu ukuran lebih kecil, membuat kemeja itu menempel ketat di tubuhnya yang berisi. Dua kancing teratasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sekilas belahan dada yang putih dan padat setiap kali gadis itu bernapas.
"Din? Eh, ngapain dikunci pintunya? Nanti kalau Pak Rudi mau masuk gimana?" tanya Satria panik sambil memegang gelas erat-erat.
Gadis itu tidak menjawab dan malah melangkah maju dengan tatapan lapar. Dinda terus mendesak Satria mundur langkah demi langkah hingga punggung tegap pemuda itu menabrak dinding keramik yang dingin. Jarak di antara mereka terkikis habis.
"Biarin aja Pak Rudi tau, emangnya kenapa?" Dinda terkikik pelan, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dinding, tepat di samping kiri dan kanan kepala Satria.
Posisi itu membuat tubuh bagian depan Dinda menempel telak pada tubuh Satria. Satria bisa merasakan dengan jelas tekstur kenyal dari dada Dinda yang menekan dada bidangnya karena
Dinda sengaja membusungkan tubuh. Aroma parfum stroberi manis bercampur keringat tipis dari leher gadis itu langsung menyergap indra penciumannya. Wangi itu begitu tajam dan memabukkan, khas aroma wanita dewasa yang sedang birahi.
"Din, minggir dulu, ini gelasnya nanti pecah kalau kesenggol," ucap Satria dengan suara yang mulai serak.
"Pecahin aja gelasnya, Sat. Asal hati aku jangan kamu pecahin," bisik Dinda dengan nada manja sambil berjinjit mendekatkan wajahnya.
Napas hangat Dinda menyapu kulit leher Satria, membuat bulu kuduk pemuda itu meremang seketika. Reaksi biologis laki-laki normal langsung mengambil alih sistem sarafnya. Jantung Satria berdegup kencang, darahnya mendesir panas ke arah bawah perut.
'Si Pusaka' di balik celana bahan kerjanya langsung bereaksi keras, menegang kaku karena gesekan tubuh Dinda yang semakin berani. Celana bahan itu kini terasa sempit dan menyiksa aset masa depannya yang menuntut ruang lebih.
Dinda memejamkan mata, bibirnya yang dipoles lip tint merah muda mengerucut siap mendaratkan ciuman. Wajahnya mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang basah oleh keringat tipis karena udara pantry yang panas.
Pemandangan itu begitu menggoda, membuat Satria menelan ludah kasar. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya karena panik campur gairah.
Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, telinga Satria menangkap suara aneh dari arah lorong luar.
BRAK!
"Lepasin! Sakit, anjing!".
Suara benturan benda keras dan teriakan wanita itu terdengar sangat jelas bagi telinga terlatih Satria. Sumbernya berasal dari toilet wanita di ujung lorong yang sepi. Insting waspadanya langsung menyala, mengalahkan nafsu yang baru saja memuncak.
"Tunggu sebentar, Din!" Satria mendorong bahu Dinda dengan tegas hingga tubuh mereka terpisah.
Dinda membuka matanya dengan ekspresi kesal setengah mati. "Apaan sih, Sat?! Kamu tuh ya, alasan terus kalau diajak enak-enak!".
"Ada yang nggak beres di toilet cewek. Kamu denger nggak tadi ada suara teriakan?" potong Satria serius sambil meletakkan gelas di meja.
Tanpa menunggu omelan Dinda yang masih cemberut memandangi selangkangan Satria yang menggembung, pemuda itu langsung membuka kunci pintu pantry. Dia berlari keluar menuju lorong dengan langkah cepat dan senyap. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Benar saja dugaan Satria.
Pintu toilet wanita di ujung lorong itu terlihat sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Satria mendekat tanpa suara, lalu mengintip lewat celah sempit itu. Pemandangan di dalam sana seketika membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.
Di dalam toilet sempit itu, Kevin sedang melakukan aksi bejatnya.
Kevin adalah pelanggan kaya yang sering pamer mobil mewah dan selalu memandang rendah para pelayan kafe. Pria itu kini sedang mencengkeram rambut panjang seorang gadis yang duduk tak berdaya di kursi roda.
Itu Laras, pelanggan setia yang difabel.
Kondisi Laras sangat berantakan dan menyedihkan. Blus mahal berbahan sutra yang dipakainya robek parah di bagian bahu kiri akibat tarikan kasar Kevin.
Robekan itu memperlihatkan tali bra hitam berenda yang menempel kontras di kulit bahunya yang seputih susu. Kulit mulus di area leher dan bahu itu kini memerah karena cengkeraman tangan laki-laki.
"Lepasin aku, Kevin! Kamu gila ya?!" jerit Laras sambil berusaha memukul dada Kevin dengan tangannya yang lemah.
Kevin justru semakin mengeratkan jambakannya, memaksa kepala Laras mendongak. Wajah pria itu merah padam karena nafsu dan alkohol. Matanya menatap liar ke arah dada Laras yang terekspos karena robekan bajunya.
"Diem lo! Gue udah lama ngincer lo. Mentang-mentang lo anak orang kaya, lo pikir lo bisa nolak gue terus? Di sini sepi, nggak ada yang bakal nolongin cewek cacat kayak lo!".
Kevin mendekatkan wajahnya dengan napas memburu, hendak mencium paksa leher jenjang Laras yang terbuka lebar. Tangan Kevin yang satu lagi mulai merayap turun ke arah paha Laras yang tertutup rok selutut.
Satria tidak bisa menahan diri lagi. Persetan dengan aturan dilarang ikut campur urusan pelanggan. Dia mundur selangkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu menghantamkan telapak kakinya ke pintu toilet dengan tenaga penuh.
DUAR!
Pintu kayu solid itu terbuka paksa dengan suara ledakan keras. Daun pintunya menghantam dinding keramik di belakangnya sampai engselnya bengkok. Debu halus dari kusen pintu beterbangan di udara.
"Hey, Tuan Kevin, Anda tidak boleh berbuat onar di tempat ini!" Teriakan Satria menggema di ruang sempit itu, menciptakan efek intimidasi yang luar biasa.
Kevin terlonjak kaget setengah mati. Dia refleks melepaskan jambakannya pada rambut Laras dan mundur ke belakang karena panik.
Namun, Kevin lupa kalau dia sedang berdiri di ruang sempit. Tumit sepatu pantofel mahalnya tersangkut pada pijakan kaki kursi roda Laras.
"Awas!" teriak Satria, tapi semuanya terlambat.
Tubuh besar Kevin kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa sisi kursi roda Laras dengan keras. Kursi roda itu langsung terbalik karena hantaman beban yang tidak seimbang. Tubuh mungil Laras ikut terpelanting jatuh dari kursinya.
"Aaaaaaargh!" Jeritan kesakitan Laras terdengar menyayat hati.
Gadis itu jatuh terduduk di lantai keramik yang basah dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Kaki kanannya menghantam pipa besi di bawah wastafel dengan telak.
Satria langsung masuk dan melihat kondisi Laras. Pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat, campuran antara rasa kasihan dan kekaguman visual yang sulit ditolak.
Laras terduduk di lantai dengan posisi kaki terbuka. Rok selututnya tersingkap naik cukup tinggi hingga memperlihatkan paha bagian dalamnya yang putih mulus dan padat. Kulit paha itu terlihat sangat kontras dengan lantai toilet yang kotor. Akibat benturan tadi, pergelangan kaki kanannya yang putih itu mulai membengkak besar dan memerah.
Wajah cantik Laras basah oleh air mata, rambutnya berantakan, dan bahu kirinya masih terbuka memperlihatkan tali bra hitamnya. Dia terlihat begitu rapuh, berantakan, namun sangat sensual di saat yang bersamaan.
Satria harus menahan napasnya sejenak melihat paha putih yang terekspos jelas di depan matanya itu sebelum akhirnya berjongkok untuk membantu.
"Non," panggil Satria dengan nada rendah yang bergetar menahan amarah. Dia sedikit mencondongkan badannya ke arah Vera. "Masa kita diam aja diginiin? Kalau ini di terminal atau di pasar, mulut perempuan itu udah saya sumpal pakai kain pel. Sombongnya gak ketulungan."Vera menatap kosong ke arah gelas air putih di depannya. Tidak ada kilatan perlawanan dari matanya saat ini. Wanita tangguh itu benar-benar merasa kalah telak oleh situasi."Ini bukan terminal, Satria," jawab Vera getir, suaranya terdengar sangat lelah. "Ini dunia bisnis. Di sini, otot dan pukulan kamu gak ada harganya. Di ruangan ini, peluru utamanya adalah uang. Dan hari ini, senjata saya benar-benar kosong. Mereka berhak menertawakan orang yang datang ke medan perang tanpa bawa senjata."Satria terdiam. Dadanya terasa sesak melihat bos yang biasanya selalu tampil galak, berkuasa, dan menamparnya tanpa ragu itu, kini terlihat begitu rapuh dan putus asa. Preman jalanan ini sadar, di dunia atas ini, uang memang bisa membu
Pak Darmawan tertawa pelan, geleng geleng kepala meremehkan. "Maklum saja, perusahaan rintisan tanpa modal kuat dari orang tua ya begini. Kadang cash flow nya seret. Beda kelas sama kita kita ini."Dada Vera naik turun menahan amarah yang sudah memuncak sampai ke ubun ubun. Dipermalukan mentah mentah di depan relasi bisnis penting adalah hal yang paling menghancurkan harga dirinya. Tangannya mengepal kuat memegangi gelas minumannya sampai buku buku jarinya memutih. Dia benar benar mati kutu karena fakta bahwa dia memang tidak membawa persiapan dana segar hari ini.Namun sebelum kelompok itu kembali melempar makian, Satria tiba tiba mengambil langkah panjang ke depan. Pemuda berbadan besar itu berdiri tepat di samping Vera. Bahunya yang lebar seakan menjadi tameng hidup yang menghalangi Vera dari tatapan merendahkan kelompok sombong tersebut.Satria menatap langsung ke arah mata Siska dan ayahnya secara bergantian dengan sorot mata preman yang mematikan, bersiap membalikkan keadaan di
Setibanya di ballroom Hotel Mulia, suasana elegan yang dipenuhi lampu kristal raksasa langsung menyambut mereka. Para tamu yang datang rata rata memakai setelan desainer ternama dan perhiasan berkilau.Satria berjalan tegap tepat di belakang sebelah kiri Vera. Wajah premannya disetel sedatar mungkin. Setelan jas biru malam yang pas di tubuh kekarnya sukses membuat Satria terlihat seperti pengawal VVIP profesional, bukan lagi preman pasar yang sering nongkrong di terminal.Baru saja Vera mengambil segelas minuman dari nampan pelayan yang lewat, sekelompok orang berjalan menghampiri mereka. Ada tiga wanita seumuran Vera yang memakai gaun mencolok. Ketiganya datang didampingi oleh pria pria paruh baya berjas rapi yang merupakan ayah mereka. Mereka adalah komplotan saingan bisnis Vera yang sejak dulu selalu iri dengan pencapaian wanita muda tersebut."Wah, lihat siapa yang datang. Nona Vera kita yang selalu sok sibuk," sapa seorang wanita bergaun merah menyala bernama Siska. Senyumnya dit
Begitu pesanan datang, Satria langsung makan dengan sangat lahap. Dia berusaha menahan diri untuk tidak makan berantakan karena sadar sedang memakai jas mahal, tapi kelaparannya jelas tidak bisa disembunyikan.Vera menyesap kopinya pelan sambil terus memperhatikan asistennya itu. Otak bisnis sang CEO mulai menyusun sebuah rencana baru di kepalanya. Dia butuh Satria untuk lebih dari sekadar berdiri di belakangnya. Dia butuh pengawal yang mobilitasnya tinggi."Satria," panggil Vera dengan nada serius setelah asistennya itu menghabiskan suapan terakhir nasi uduknya."Iya, Non?" Satria menenggak air putihnya sampai tandas lalu menatap bosnya. "Ada tugas berantem di acara amal nanti? Nona tenang aja, tenaga saya udah full seratus persen sekarang.""Bukan berantem," potong Vera cepat. Wanita itu meletakkan cangkir kopinya dan melipat kedua tangan di atas meja. Sorot matanya mengunci pandangan Satria. "Mulai besok pagi, saya minta kamu mulai belajar nyetir mobil."Uhuk! Satria yang baru saja
Sepuluh menit yang diberikan Nona Vera benar benar dimanfaatkan Satria dengan kecepatan kilat. Pemuda itu keluar dari paviliun belakang dengan napas sedikit memburu. Jaket kulit kusamnya sudah berganti dengan setelan jas berwarna biru malam yang jahitannya sangat pas memeluk tubuh besarnya. Kemeja putih di dalamnya tampak rapi tanpa dasi, dengan dua kancing atas sengaja dibiarkan terbuka supaya dia masih bisa bernapas.Bagi Satria, memakai jas mahal ini rasanya seperti dibungkus pakai karung goni basah yang super ketat. Gerakannya jadi kaku. Dia berjalan menuju mobil Alphard dengan langkah hati hati, takut kalau kalau celana kain mahalnya robek di bagian jahitan tengah.Pak Maman dengan sigap membukakan pintu penumpang. Satria masuk dan duduk di sebelah Vera yang sedang sibuk mengecek tablet kerjanya. Wangi parfum mewah langsung menyambut hidung Satria, menenggelamkan wangi nasi goreng udang yang masih terbayang bayang di kepalanya.Vera melirik sekilas dari balik layar tabletnya. Mat
Baru saja Satria mau menyuap sendok kelimanya, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dan berirama cepat terdengar mendekat dari arah tangga utama. Suara itu terdengar sangat tidak sabar, memecah suasana tenang dan manis yang sedang dibangun susah payah oleh Kiki di ruang makan.Nona Vera muncul dengan penampilan yang luar biasa memukau. Dia memakai gaun malam formal berwarna biru dongker yang elegan dengan potongan kerah tinggi. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan anting berlian yang berkilauan di telinganya. Wajahnya cantik, tapi ada guratan kesal yang sangat jelas terlihat di dahinya.Vera berhenti tepat di samping meja makan. Matanya melirik sinis ke arah nasi goreng udang di piring Satria, lalu beralih menatap tajam ke arah Kiki yang masih memakai celemek bunga-bunganya."Bagus ya. Pagi-pagi bukannya langsung siap-siap, malah main masak-masakan di sini," sindir Vera dengan nada dingin yang menusuk.Kiki yang tadi sedang tersenyum manis langsung cemberut. Bahunya merosot sek
Sementara itu, di sisi lain Jakarta yang nggak kalah panas.Bastian banting pintu mobilnya dengan keras pas sampai di parkiran depan rumah gedongannya. Wajahnya merah padam, penuh amarah, dendam, dan rasa malu yang nggak bisa ilang gitu aja dari otaknya. Gimana nggak? Malam itu harga dirinya diinja
Udara dingin dari pendingin ruangan di kamar tamu belakang itu seolah kehilangan fungsinya. Hawa panas menguar kuat dari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur empuk tersebut. Akal sehat Satria sudah sepenuhnya menguap, terkalahkan oleh ancaman pemecatan dan gairah darah muda yang meledak aki
Satria perlahan memejamkan matanya. Tangan kanannya yang tadinya mengambang di udara kini turun, bertengger ragu-ragu di pinggang ramping Dinda. Merasakan sentuhan itu, Dinda semakin berani. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya ke leher Satria, menarik tubuh pemuda itu agar semakin rapat denganny
Hening sejenak. Dinda mencerna kata-kata Satria dengan mata terbelalak."Kamu ... tinggal di sana?" suara Dinda bergetar, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya. "Di rumah gedongan itu? Sama tiga cewek kaya yang cantik-cantik itu setiap hari? Pagi, siang, malam?!""Iya, tapi kan







