LOGINPintu ruang kerja itu tertutup rapat. Satrio menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, bahunya sedikit merosot lesu. Harapannya untuk bisa merengkuh kembali hati Malika kini terasa kian menjauh, laksana mengejar bayangan yang semakin mustahil untuk digapai.Ketegangan di pagi hari itu belum sepenuhnya mereda ketika jam dinding di ruang kerja Satrio telah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Satrio yang sedang memeriksa berkas piutang perusahaan mendadak menoleh saat pintu ruangannya kembali terbuka. Sosok Nikko melangkah masuk dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, tampak sedikit berkeringat dan berantakan.Satrio melirik jam tangannya, lalu menatap Nikko dengan pandangan mata yang dingin tanpa ekspresi. "Telat sampai dua jam, Nikko? Ini sudah lewat jam sepuluh pagi."Nikko menghentikan langkahnya, wajahnya tampak gugup saat mendapati tatapan menghakimi dari pria yang statusnya kini berada di atasnya tersebut. "Maaf, Satrio... maksudku, Pak Presdir. Ada urusan m
Langkah kaki Selina yang menjauh dari lobi meninggalkan seulas senyum penuh kemenangan yang tersembunyi. Namun, di lantai teratas gedung Shine Group, di balik meja kerja jati yang megah, sang Presiden Direktur Sementara justru sedang tenggelam dalam lautan keputusasaan. Satrio menyandarkan punggungnya yang lelah, menatap langit-langit ruang kerja yang teramat luas namun terasa begitu menyesakkan. Pikiran dan batinnya benar-benar buntu. Bayangan tatapan mata Malika yang sembab dan penuh luka di area lobi tadi terus membayangi pelupuk matanya. Satrio merasa ruang untuk meraih kembali hati gadis itu kini kian menyempit. Ia semakin pesimis bisa mendapatkan hati Malika, menyadari bahwa setiap langkah pelarian yang ia ambil justru menciptakan jurang pemisah yang semakin curam di antara mereka berdua.Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu yang tegas memecah keheningan ruangan. Belum sempat Satrio menyahut, daun pintu itu sudah bergeser terbuka. Sosok wanita matang berpakaian blus sutra elegan mela
Bagi Satrio, Selina adalah penawar stres dan pelarian biologis yang sangat memuaskan di kala pikirannya buntu. Namun, ketika menyangkut urusan pekerjaan di kantor, ia tetaplah sosok pemimpin yang dingin dan tidak bisa digerakkan oleh perasaan remeh.Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit untuk berdandan, keduanya kini telah tampil sempurna. Satrio mengenakan setelan jas potongan custom-fit berwarna abu-abu gelap dengan kemeja hitam di dalamnya, memancarkan aura pemimpin yang berwibawa. Sementara Selina tampil sangat memikat dengan blus ketat berwarna putih yang menonjolkan lekuk dadanya, dipadukan dengan rok pensil hitam di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Mereka berdua melangkah keluar dari unit apartemen, turun menuju basemen menggunakan lift khusus.Perjalanan menuju kantor pusat Shine Group pagi itu terasa begitu singkat di dalam mobil sport mewah milik Satrio. Selina yang duduk di kursi penumpang sesekali mencuri pandang ke arah samping, merasa sanga
"Kalian semua tidak akan pernah bisa menjadi penghalang bagiku untuk memiliki Satrio sepenuhnya," gumam Selina lirih pada kesunyian kamar, seulas senyum kemenangan terukir jelas di bibirnya yang sensual.Ia menatap layar ponsel Satrio yang kini telah bersih dari jejak panggilan darurat malam itu. Baginya, baik Malika yang kekanak-kanakan, Sisilia yang kini terjebak dalam ancaman suaminya, maupun Ningrum yang hanyalah seorang gadis kampung buruh pabrik, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kartu as seperti yang ia miliki sekarang. Selina tahu betul bagaimana cara mengunci perhatian seorang pria yang sedang berada di puncak kekuasaan, terutama pria yang sedang gundah seperti Satrio.Dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh percaya diri, Selina perlahan menanggalkan gaun tidur yang melekat di tubuhnya, membiarkan pakaian itu jatuh begitu saja di atas lantai marmer. Ia kemudian menyibak ujung selimut tebal berbalut seprai lembut, lalu menyusupkan tubuhnya yang hangat ke dalam
Mengapa seorang Sisilia menelepon seorang Satrio di larut malam seperti ini jika hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan? Pertanyaan Darma di lobi tadi mengenai adanya 'sesuatu' di antara mereka berdua seketika terngiang kembali di telinga Selina dengan begitu nyata.Rasa penasaran yang teramat sangat bergolak hebat di dalam dada Selina, mengalahkan rasa takutnya. Jari telunjuknya yang bergetar kini melayang di atas layar, sangat ingin menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut dan mendengarkan suara dari wanita yang telah dibuat bertekuk lutut oleh pria yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya.Selina masih mematung di atas ranjang dengan napas yang tertahan, menatap nama Sisilia yang berkedip di layar. Rasa penasaran yang membakar dada mengalahkan akal sehatnya. Akhirnya, dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, sembari melirik Satrio yang masih mendengkur halus akibat kelelahan, jemari Selina yang bergetar akhirnya menjawab panggilan Sisilia. Ia mendekatk
Di dalam sebuah kafe premium bernuansa remang, alunan musik jaz mengalir lembut, mencoba membasuh ketegangan yang tersisa dari hiruk-pikuk siang tadi. Kafe ini adalah tempat pelarian favorit Satrio kala penat melanda, sebuah sudut sunyi di mana aroma kopi hitam pekat berpadu sempurna dengan interior kayu yang hangat, menjanjikan ketenangan dari segala intrik yang melelahkan.Di salah satu sudut sofa yang paling privat, Satrio duduk menyandarkan punggungnya yang tegap. Pikirannya benar-benar sedang berkecamuk hebat, berputar-putar di antara dua kutub yang menguras energinya. Di satu sisi, konfrontasi menegangkan dengan Darma Prambudi di lobi utama tadi masih menyisakan sisa-sisa amarah di dadanya. Namun, di sisi lain, yang jauh lebih menyiksa batinnya adalah perubahan sikap Malika. Kegundahan hati Satrio begitu mendalam saat mengingat bagaimana gadis itu menolak pergi dengannya dengan tatapan penuh keraguan dan cemburu, lalu memilih pulang sendiri menggunakan taksi. Rasa tidak perca
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







