分享

Bab 145

last update publish date: 2026-07-31 20:21:01

Suasana di lantai delapan berangsur renggang saat jarum jam dinding mendekati angka dua belas siang. Adirah baru saja selesai merapikan catatan agenda rapat mingguan ketika bayangan tegap seseorang mendadak menghalangi pantulan cahaya lampu di atas mejanya. Ia mendongak dan mendapati Satrio sudah berdiri di sana. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan, membuat jantung Adirah mendadak berdesir cepat.

"Pekerjaanmu sudah bisa ditinggal, Mbak Adirah?" tanya Satrio lembut. Tangan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 146

    Mobil sport merah Satrio merapat di area drop-off lobi utama gedung Shine Group. Setelah memarkirkan kendaraannya, Satrio berjalan beriringan dengan Adirah memasuki lobi yang luas dengan lantainya yang mengilat. Sisa kehangatan dari makan siang romantis di restoran seafood tadi masih terasa di antara mereka. Adirah berjalan dengan langkah ringan, sesekali melirik Satrio di sampingnya dengan senyuman kecil yang terus tersungging di bibirnya.Namun, suasana santai itu seketika berubah saat pintu lift utama di lobi terbuka. Beberapa karyawan melangkah keluar, dan di antara mereka, tampak seorang wanita yang seketika mencuri perhatian seisi lobi.Satrio mendadak menghentikan langkah kaki tegapnya. Matanya melebar, menatap lurus ke arah wanita itu. "Malika?" gumam Satrio dengan suara yang sangat rendah, namun sarat akan keterkejutan yang mendalam.Malika berjalan dengan anggun. Hari itu, ia mengenakan pakaian yang tertutup namun tetap memancarkan kesan yang sangat modis. Atasannya berupa b

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 145

    Suasana di lantai delapan berangsur renggang saat jarum jam dinding mendekati angka dua belas siang. Adirah baru saja selesai merapikan catatan agenda rapat mingguan ketika bayangan tegap seseorang mendadak menghalangi pantulan cahaya lampu di atas mejanya. Ia mendongak dan mendapati Satrio sudah berdiri di sana. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan, membuat jantung Adirah mendadak berdesir cepat."Pekerjaanmu sudah bisa ditinggal, Mbak Adirah?" tanya Satrio lembut. Tangannya bergerak santai masuk ke dalam saku celana abu-abunya.Adirah mengangguk, sedikit merapikan poni rambutnya yang agak berantakan. "Sudah, Rio. Ini tinggal menyimpan berkas terakhir saja. Ada apa?""Ayo, kita makan siang di luar," ajak Satrio. Gerak tubuhnya tampak begitu mantap dan penuh percaya diri. "Anggap saja ini bentuk terima kasihku atas bantuanmu semalam. Dan... untuk yang tadi pagi juga."Mendengar kata 'tadi pagi', wajah Adirah seketika merona merah. Ia tersadar bahwa Satrio mungkin

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 144

    Satrio melangkah keluar dari lift dengan setelan kemeja abu-abu gelap yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tampak segar dan sangat tenang. Begitu ia melintasi meja sekretaris, Adirah yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mendongak. Sepasang mata gadis itu berbinar, diiringi senyuman manis yang tak bisa disembunyikan."Selamat pagi, Satrio," sapa Adirah dengan nada suara yang sedikit tertahan, mengingat peristiwa manis di ruang kerja semalam.Satrio menghentikan langkahnya sejenak, membalas tatapan Adirah dengan sorot mata yang teduh. "Selamat pagi, Mbak Adirah. Bagaimana, cukup istirahatmu semalam?""Cukup, sampai rumah aku langsung tidur," jawab Adirah, wajahnya mendadak bersemu merah jambu saat teringat kecupan hangat Satrio di jemarinya. Ia buru-buru membolak-balik kertas di tangannya agar salah tingkahnya tidak terlalu kentara.Sebelum Satrio sempat membalas, pintu ruang kerja Presiden Direktur sementara terbuka. Nikko Prambudi melangkah keluar. Namun, ada yang berbeda d

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 143

    Malam mulai larut ketika sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti perlahan di depan pagar tinggi rumah baru Satrio. Suasana kompleks perumahan elite itu sudah sangat sepi. Dari dalam mobil, melangkah turun seorang wanita memakai blazer biru muda dan celana berwarna senada, ia tampak cantik dan anggun di usianya yang sudah tidak muda, namun wajahnya tampak dipenuhi kecemasan. Dia adalah Sisilia, ibu dari Nikko Prambudi. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berjalan memasuki pekarangan setelah satpam membukakan pintu pagar.Satrio, yang baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang dari kantor, mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia berjalan ke teras depan dengan pakaian santai, sebuah kaus oblong putih dan celana panjang hitam. Begitu membuka pintu jati besar itu, alisnya sedikit terangkat."Mbak Sisilia? Ada apa datang malam-malam begini ke rumah saya?" tanya Satrio dengan suara rendah dan tenang. Sikapnya kini jauh lebih bijak,

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 142

    Waktu berlalu dengan cepat hingga tidak terasa malam pun telah tiba. Jam kantor telah usai sejak pukul lima sore tadi, dan sebagian besar lampu di lantai delapan sudah mulai dimatikan untuk menghemat energi. Koridor eksekutif kini telah berubah menjadi sangat sepi dan senyap.Di dalam ruang kerjanya yang hanya diterangi oleh lampu meja, Satrio masih sibuk berkutat dengan tumpukan kertas. Jemarinya bergerak lincah menuliskan angka-angka inventaris gudang tekstil menggunakan pulpen, menghitung ulang semuanya secara manual tanpa bantuan kalkulator komputer seperti yang diperintahkan Nikko.Klek.Suara pintu ruangannya yang terbuka perlahan membuat Satrio menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak dan terkejut saat mendapati Adirah melangkah masuk ke dalam ruangannya sembari membawa sebuah map biru dan segelas kopi hangat."Adirah? Kamu belum pulang?" tanya Satrio heran, melirik jam tangan kronografnya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.Adirah tersenyum manis, melangka

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 141

    Langkah kaki Satrio terdengar mantap saat ia menapakkan kakinya kembali di lantai delapan gedung kantor pusat Shine Group. Jam dinding di koridor eksekutif telah menunjuk ke arah angka satu siang. Penampilan Satrio tampak sangat bersahaja. Ia hanya mengenakan kemeja polos tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Tidak ada lagi kacamata tebal yang dulu selalu bertengger di hidungnya, digantikan oleh tatapan mata yang jernih, tenang, dan sarat akan kedewasaan. Pesan dari ibunya di rumah baru mereka benar-benar tertanam dalam di lubuk hatinya."Baru datang jam segini, Satrio?!" sebuah suara keras yang melengking tinggi memecah keheningan kantor.Nikko Prambudi sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Wakil Presiden Direktur. Lelaki itu bersedekap dada, menatap Satrio dengan pandangan yang berapi-api. Jas abu-abunya tampak sedikit kusut, mencerminkan emosinya yang sedang tidak stabil. Di kubikel sekretaris yang berada tepat di depan ruangan Nikko, Adirah tampak duduk m

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 47

    "Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 2

    Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status