INICIAR SESIÓNSedan hitam mewah milik Pak Aizar meluncur mulus memasuki area lobi hotel berbintang di pusat kota. Satrio menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet dengan gerakan tenang, lalu melangkah lebar melewati pintu kaca otomatis. Di bawah penerangan lampu kristal lobi yang megah, langkah kaki Satrio terasa mantap. Di balik kemeja biru dongkernya, liontin giok misterius itu berdenyut dengan ritme yang konstan, menyalurkan energi hangat yang membuat karisma alaminya berlipat ganda malam itu.Ia naik menggunakan lift menuju lantai empat. Lorong hotel berbintang ini terasa sunyi, hanya menyisakan suara langkah sepatunya yang teredam karpet tebal bernuansa merah marun. Satrio menyusuri nomor-nomor di pintu hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu solid dengan angka kuningan yang mengilat: 402.Sesuai dengan pesan singkat yang dikirimkan Ranty sebelumnya, pintu itu memang tidak dikunci rapat. Satrio mendorong daun pintu dengan pelan, membiarkannya terbuka tanpa menimbulkan s
Kedamaian di meja sudut restoran itu mendadak terusik saat ponsel di dalam saku celana Satrio bergetar hebat. Layarnya menyala terang di atas meja, menampilkan nama kontak yang membuat dahi Satrio berkerut dalam: Nona Debby. Sesuai dengan batasan ketat yang diperingatkan oleh Pak Aizar tadi pagi, Satrio tahu ia harus mulai menarik jarak dari putri keluarga konglomerat itu demi keselamatannya sendiri. Dengan gerakan tenang yang tidak kentara, ia membalikkan layar ponselnya ke atas meja tanpa berniat mengangkatnya.Tak berselang lama, sebuah notifikasi lain berkedip. Kali ini pesan dari Ranty, staf marketing seksi yang siang tadi menemuinya di kantin. Ranty mulai menagih janji yang sempat Satrio iyakan lewat pesan singkat saat ia berada di rumah kos sore tadi, lengkap dengan nomor kamar hotel tempatnya menginap malam ini.Satrio mengabaikan kedua interupsi tersebut, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak akan membiarkan gangguan luar merusak rencananya untuk mengika
Jarum jam dinding di ruang divisi IT akhirnya berdentang menunjukkan pukul lima sore. Suara karyawan yang bersiap pulang mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Satrio merapikan meja kerjanya dengan gerakan tenang, mematikan komputer, lalu menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan. Setelah berpamitan singkat dengan beberapa rekan kerja seruangannya, ia melangkah cepat menuju basemen gedung Shine Group.Di area parkir khusus, sebuah mobil sedan hitam mengilat milik Pak Aizar sudah menunggunya. Mobil mewah yang dipinjamkan langsung oleh sang Presdir itu menjadi penanda kuat betapa posisi Satrio kini mulai diperhitungkan. Satrio membuka pintu pengemudi, menyalakan mesin yang menderu halus, lalu mengemudikan kendaraan tersebut membelah kemacetan jalanan kota menuju rumah kosnya.Sesampainya di kamar kos, Satrio tidak ingin membuang waktu. Ia melepas kemeja kerjanya yang terasa gerah, menyisakan liontin giok misterius yang menggantung di dadanya. Permukaan giok itu terasa hangat saat be
Satrio dengan cepat menguasai keadaan. Ia menarik senyuman manisnya yang paling hangat, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dengan gerakan alami. "Maaf banget, Mbak Adirah. Aku tidak ada niat mengabaikanmu," ucap Satrio dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin untuk meredam kekesalan gadis itu. Ia membalikkan ponselnya yang memang sengaja dalam mode senyap. "Ponselku dari tadi pagi sedang lowbet dan harus ku-charger di bawah meja. Aku baru saja menyalakannya beberapa menit yang lalu dan belum sempat membuka pesan yang masuk." Adirah menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar mendengar alasan Satrio. Sifat tulus dan kepolosan Adirah memang selalu membuatnya mudah untuk memaafkan pria di depannya ini. Ia melirik ke arah layar ponsel Satrio yang kini menyala, menampilkan isi pesan singkat yang dikirimkannya tadi pagi. Sebagai sekretaris utama Pak Aizar, Adirah sebenarnya mengemban tugas yang cukup padat hari ini. Namun, ia sengaj
Setelah keluar dari ruangan Pak Aizar, Satrio tidak membiarkan peringatan keras dari bos besarnya itu merusak fokusnya. Ia melangkah kembali ke kubikel kerjanya di divisi IT dengan ekspresi yang sangat tenang. Di bawah kemeja putihnya, liontin giok pemikat terasa berdenyut stabil, menyalurkan energi yang menjaga keteguhan mentalnya. Bagi Satrio, tekanan dari Aizar bukanlah sebuah hambatan, melainkan sekadar riak kecil dalam genangan air yang siap ia seberangi.Ia segera menghadap komputer dan mulai membuka lembar kerja digital. Fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan tugas proyek sistem jaringan terintegrasi baru yang sedang dijalani divisinya. Proyek ini berskala besar dan menjadi salah satu perhatian utama dewan direksi Shine Group.Namun, tidak banyak orang di kantor yang tahu bahwa posisi Satrio sebagai staf magang di proyek ini sebenarnya sudah berada di tingkat yang sangat aman. Ia bahkan bisa dikatakan tidak tersentuh oleh intrik politik kantor atau ancaman pemecatan dari
Keesokan pagi, seperti hari-hari biasanya, kehadiran Satrio di koridor utama kantor selalu berhasil mencuri perhatian. Langkah kakinya yang tegap, dipadukan dengan kemeja kerja yang melekat pas di tubuh atletisnya, membuat pandangan hampir setiap staf wanita tertuju padanya. Bisik-bisik kagum dan curi-curi pandang dari para staf menjadi pemandangan yang tak asing lagi bagi Satrio.Sambil membalas sapaan beberapa rekan kerja dengan senyuman tipis, Satrio melirik jam tangannya. Pikirannya mendadak melayang pada janjinya nanti malam. Ia sudah membuat janji untuk pergi keluar makan malam bersama Adirah.Mengingat rentetan kejadian penuh intrik bersama Debby, Rafael, dan Ayunda di pesta semalam, Satrio menghela napas panjang dalam hati. Ia benar-benar berharap malam ini berjalan tenang tanpa ada gangguan dari lingkaran sosial kalangan elit yang mulai menjeratnya. Ia hanya ingin menikmati waktu santai yang normal bersama Adirah.Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Baru saja Sat
Suara raungan mesin mobil sport merah itu perlahan melembut menjadi deru konstan saat Satrio mulai menginjak pedal gas, membawa kendaraan mewah tersebut membelah jalanan aspal kawasan industri yang mulai sepi. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, udara terasa begitu padat dan intim. Kesejukan AC
Langkah kaki Satrio yang mengenakan sepatu pantofel kulit mengilap terdengar berketuk di atas lantai lobi utama pabrik. Setiap derap langkahnya kini tidak lagi mencerminkan seorang karyawan magang rendahan, melainkan langkah seorang pria yang berkharisma dan berwibawa. Setelan jas branded pilihan
Gemercik air dari dalam kamar mandi pribadi ruang kerja Sisilia terdengar memecah keheningan. Uap hangat perlahan mengepul, membasahi dinding kaca buram dan menciptakan suasana yang semakin intim di ruangan itu.Di bawah guyuran air dingin yang menyegarkan, Satrio berdiri dengan tegak. Tubuh atleti
Selesai pergulatan panas bersama Satrio, napas Sisilia masih memburu tidak beraturan di atas sofa kulit mewah itu. Tubuh matangnya tampak lemas tanpa daya, bersandar sepenuhnya pada dada bidang Satrio. Ketika itu kilat mata penuh kesombongan yang biasanya ia pamerkan di depan para karyawan pabrik