LOGINSinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, menyinari sisa-sisa badai gairah semalam. Satrio terbangun lebih awal dengan tubuh yang terasa bugar, berkat pasokan energi dari liontin giok di dadanya. Di sampingnya, Ranty masih tertidur lelap dengan guratan senyum puas di wajahnya. Tanpa suara berlebihan, Satrio membersihkan diri, mengenakan kembali pakaiannya, dan meninggalkan hotel menggunakan sedan hitam Pak Aizar untuk bersiap menuju kantor Shine Group. Ia harus tetap menjaga profesionalitasnya dalam pekerjaan.Pukul delapan pagi, keadaan di koridor lantai dasar Shine Group sudah mulai sibuk. Satrio melangkah santai menuju kubikelnya di divisi IT di lantai 5.Satrio memulai pekerjaannya dengan ritme kerja yang semakin padat. Namun, fokus utamanya kini bukan lagi sekadar memantau baris kode program atau konfigurasi server generasi terbaru di divisi IT. Dinamika di balik meja-meja kubikel Shine Group mendadak memanas. Kecemburuan yang membara di antara Adirah, Maya, dan Se
Dengan gerakan yang penuh tuntutan, Ranty membalikkan posisi tubuh mereka. Ia merayap naik, mendominasi dan mengambil alih kendali di atas tubuh bidang Satrio. Jemari tangannya mencengkeram bahu Satrio dengan erat, sementara rambut panjangnya yang tergerai jatuh menyapu dada pemuda itu, tepat di atas liontin giok yang kini berpendar hangat dalam kegelapan yang samar. Ranty tidak berhenti bergerak, mencari titik kepuasan tertinggi di atas milik Satrio dengan ritme yang kian cepat dan menuntut, seolah takut jika momen ini akan menguap begitu saja."Ah... Rio, sentuhanmu berbeda sekali," erang Ranty di sela-sela gerakannya yang kian memanas. Mata sayunya menatap lekat ke bola mata Satrio. "Katakan kalau kamu juga hanya menginginkanku sekarang. Tolong... buat aku tidak bisa memikirkan pria lain lagi."Satrio sendiri hanya berbaring sembari menyunggingkan senyuman tipis penuh spekulasi. Kedua tangannya mencengkeram pinggul ramping Ranty, mengunci dan mengarahkan setiap pergerakan wanita i
Sedan hitam mewah milik Pak Aizar meluncur mulus memasuki area lobi hotel berbintang di pusat kota. Satrio menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet dengan gerakan tenang, lalu melangkah lebar melewati pintu kaca otomatis. Di bawah penerangan lampu kristal lobi yang megah, langkah kaki Satrio terasa mantap. Di balik kemeja biru dongkernya, liontin giok misterius itu berdenyut dengan ritme yang konstan, menyalurkan energi hangat yang membuat karisma alaminya berlipat ganda malam itu.Ia naik menggunakan lift menuju lantai empat. Lorong hotel berbintang ini terasa sunyi, hanya menyisakan suara langkah sepatunya yang teredam karpet tebal bernuansa merah marun. Satrio menyusuri nomor-nomor di pintu hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu solid dengan angka kuningan yang mengilat: 402.Sesuai dengan pesan singkat yang dikirimkan Ranty sebelumnya, pintu itu memang tidak dikunci rapat. Satrio mendorong daun pintu dengan pelan, membiarkannya terbuka tanpa menimbulkan s
Kedamaian di meja sudut restoran itu mendadak terusik saat ponsel di dalam saku celana Satrio bergetar hebat. Layarnya menyala terang di atas meja, menampilkan nama kontak yang membuat dahi Satrio berkerut dalam: Nona Debby. Sesuai dengan batasan ketat yang diperingatkan oleh Pak Aizar tadi pagi, Satrio tahu ia harus mulai menarik jarak dari putri keluarga konglomerat itu demi keselamatannya sendiri. Dengan gerakan tenang yang tidak kentara, ia membalikkan layar ponselnya ke atas meja tanpa berniat mengangkatnya.Tak berselang lama, sebuah notifikasi lain berkedip. Kali ini pesan dari Ranty, staf marketing seksi yang siang tadi menemuinya di kantin. Ranty mulai menagih janji yang sempat Satrio iyakan lewat pesan singkat saat ia berada di rumah kos sore tadi, lengkap dengan nomor kamar hotel tempatnya menginap malam ini.Satrio mengabaikan kedua interupsi tersebut, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak akan membiarkan gangguan luar merusak rencananya untuk mengika
Jarum jam dinding di ruang divisi IT akhirnya berdentang menunjukkan pukul lima sore. Suara karyawan yang bersiap pulang mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Satrio merapikan meja kerjanya dengan gerakan tenang, mematikan komputer, lalu menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan. Setelah berpamitan singkat dengan beberapa rekan kerja seruangannya, ia melangkah cepat menuju basemen gedung Shine Group.Di area parkir khusus, sebuah mobil sedan hitam mengilat milik Pak Aizar sudah menunggunya. Mobil mewah yang dipinjamkan langsung oleh sang Presdir itu menjadi penanda kuat betapa posisi Satrio kini mulai diperhitungkan. Satrio membuka pintu pengemudi, menyalakan mesin yang menderu halus, lalu mengemudikan kendaraan tersebut membelah kemacetan jalanan kota menuju rumah kosnya.Sesampainya di kamar kos, Satrio tidak ingin membuang waktu. Ia melepas kemeja kerjanya yang terasa gerah, menyisakan liontin giok misterius yang menggantung di dadanya. Permukaan giok itu terasa hangat saat be
Satrio dengan cepat menguasai keadaan. Ia menarik senyuman manisnya yang paling hangat, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dengan gerakan alami. "Maaf banget, Mbak Adirah. Aku tidak ada niat mengabaikanmu," ucap Satrio dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin untuk meredam kekesalan gadis itu. Ia membalikkan ponselnya yang memang sengaja dalam mode senyap. "Ponselku dari tadi pagi sedang lowbet dan harus ku-charger di bawah meja. Aku baru saja menyalakannya beberapa menit yang lalu dan belum sempat membuka pesan yang masuk." Adirah menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar mendengar alasan Satrio. Sifat tulus dan kepolosan Adirah memang selalu membuatnya mudah untuk memaafkan pria di depannya ini. Ia melirik ke arah layar ponsel Satrio yang kini menyala, menampilkan isi pesan singkat yang dikirimkannya tadi pagi. Sebagai sekretaris utama Pak Aizar, Adirah sebenarnya mengemban tugas yang cukup padat hari ini. Namun, ia sengaj
Satrio duduk di kursi kerja dan mulai memeriksa komputer di hadapannya. Jemarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, membuka baris command prompt dan memeriksa log sistem inti. Namun, baru lima menit memeriksa jalur kode enkripsi, gerakan tangan Satrio mendadak terhenti. Matanya menyipit tajam
Raungan halus mesin mobil sport mewah milik Debby memecah keheningan area lobi utama kantor Shine Group siang itu. Mobil berwarna merah menyala itu berhenti tepat di depan pintu lobi kantor, menarik perhatian hampir semua orang yang berada di sana. Tak lama kemudian, pintu mobil mewah itu pun terbu
Setelah berhasil mendapatkan dompet bertahtakan kristal yang begitu mewah, Debby tidak langsung mengajak Satrio meninggalkan mall. Alih-alih melangkah menuju area parkir, jemari lentik putri konglomerat itu justru menarik lengan kekar Satrio dengan erat, menuntun langkahnya menuju sebuah butik pakai
Suasana di dalam pusat perbelanjaan mewah siang itu tampak lengang namun tetap memancarkan kesan eksklusif. Di dalam sebuah butik barang bermerek Prancis, Debby berjalan anggun di antara deretan etalase kaca yang memamerkan tas dan aksesori berharga jutaan rupiah. Tangannya sesekali menyentuh permu







