مشاركة

Bab 78

مؤلف: Langit Berawan
last update تاريخ النشر: 2026-06-28 23:42:55

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, menyinari sisa-sisa badai gairah semalam. Satrio terbangun lebih awal dengan tubuh yang terasa bugar, berkat pasokan energi dari liontin giok di dadanya.

Di sampingnya, Ranty masih tertidur lelap dengan guratan senyum puas di wajahnya. Tanpa suara berlebihan, Satrio membersihkan diri, mengenakan kembali pakaiannya, dan meninggalkan hotel menggunakan sedan hitam Pak Aizar untuk bersiap menuju kantor Shine Group. Ia harus tetap menjaga prof
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 78

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, menyinari sisa-sisa badai gairah semalam. Satrio terbangun lebih awal dengan tubuh yang terasa bugar, berkat pasokan energi dari liontin giok di dadanya. Di sampingnya, Ranty masih tertidur lelap dengan guratan senyum puas di wajahnya. Tanpa suara berlebihan, Satrio membersihkan diri, mengenakan kembali pakaiannya, dan meninggalkan hotel menggunakan sedan hitam Pak Aizar untuk bersiap menuju kantor Shine Group. Ia harus tetap menjaga profesionalitasnya dalam pekerjaan.Pukul delapan pagi, keadaan di koridor lantai dasar Shine Group sudah mulai sibuk. Satrio melangkah santai menuju kubikelnya di divisi IT di lantai 5.Satrio memulai pekerjaannya dengan ritme kerja yang semakin padat. Namun, fokus utamanya kini bukan lagi sekadar memantau baris kode program atau konfigurasi server generasi terbaru di divisi IT. Dinamika di balik meja-meja kubikel Shine Group mendadak memanas. Kecemburuan yang membara di antara Adirah, Maya, dan Se

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 77

    Dengan gerakan yang penuh tuntutan, Ranty membalikkan posisi tubuh mereka. Ia merayap naik, mendominasi dan mengambil alih kendali di atas tubuh bidang Satrio. Jemari tangannya mencengkeram bahu Satrio dengan erat, sementara rambut panjangnya yang tergerai jatuh menyapu dada pemuda itu, tepat di atas liontin giok yang kini berpendar hangat dalam kegelapan yang samar. Ranty tidak berhenti bergerak, mencari titik kepuasan tertinggi di atas milik Satrio dengan ritme yang kian cepat dan menuntut, seolah takut jika momen ini akan menguap begitu saja."Ah... Rio, sentuhanmu berbeda sekali," erang Ranty di sela-sela gerakannya yang kian memanas. Mata sayunya menatap lekat ke bola mata Satrio. "Katakan kalau kamu juga hanya menginginkanku sekarang. Tolong... buat aku tidak bisa memikirkan pria lain lagi."Satrio sendiri hanya berbaring sembari menyunggingkan senyuman tipis penuh spekulasi. Kedua tangannya mencengkeram pinggul ramping Ranty, mengunci dan mengarahkan setiap pergerakan wanita i

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 76

    Sedan hitam mewah milik Pak Aizar meluncur mulus memasuki area lobi hotel berbintang di pusat kota. Satrio menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet dengan gerakan tenang, lalu melangkah lebar melewati pintu kaca otomatis. Di bawah penerangan lampu kristal lobi yang megah, langkah kaki Satrio terasa mantap. Di balik kemeja biru dongkernya, liontin giok misterius itu berdenyut dengan ritme yang konstan, menyalurkan energi hangat yang membuat karisma alaminya berlipat ganda malam itu.Ia naik menggunakan lift menuju lantai empat. Lorong hotel berbintang ini terasa sunyi, hanya menyisakan suara langkah sepatunya yang teredam karpet tebal bernuansa merah marun. Satrio menyusuri nomor-nomor di pintu hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu solid dengan angka kuningan yang mengilat: 402.Sesuai dengan pesan singkat yang dikirimkan Ranty sebelumnya, pintu itu memang tidak dikunci rapat. Satrio mendorong daun pintu dengan pelan, membiarkannya terbuka tanpa menimbulkan s

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 75

    Kedamaian di meja sudut restoran itu mendadak terusik saat ponsel di dalam saku celana Satrio bergetar hebat. Layarnya menyala terang di atas meja, menampilkan nama kontak yang membuat dahi Satrio berkerut dalam: Nona Debby. Sesuai dengan batasan ketat yang diperingatkan oleh Pak Aizar tadi pagi, Satrio tahu ia harus mulai menarik jarak dari putri keluarga konglomerat itu demi keselamatannya sendiri. Dengan gerakan tenang yang tidak kentara, ia membalikkan layar ponselnya ke atas meja tanpa berniat mengangkatnya.Tak berselang lama, sebuah notifikasi lain berkedip. Kali ini pesan dari Ranty, staf marketing seksi yang siang tadi menemuinya di kantin. Ranty mulai menagih janji yang sempat Satrio iyakan lewat pesan singkat saat ia berada di rumah kos sore tadi, lengkap dengan nomor kamar hotel tempatnya menginap malam ini.Satrio mengabaikan kedua interupsi tersebut, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tidak akan membiarkan gangguan luar merusak rencananya untuk mengika

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 74

    Jarum jam dinding di ruang divisi IT akhirnya berdentang menunjukkan pukul lima sore. Suara karyawan yang bersiap pulang mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Satrio merapikan meja kerjanya dengan gerakan tenang, mematikan komputer, lalu menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan. Setelah berpamitan singkat dengan beberapa rekan kerja seruangannya, ia melangkah cepat menuju basemen gedung Shine Group.Di area parkir khusus, sebuah mobil sedan hitam mengilat milik Pak Aizar sudah menunggunya. Mobil mewah yang dipinjamkan langsung oleh sang Presdir itu menjadi penanda kuat betapa posisi Satrio kini mulai diperhitungkan. Satrio membuka pintu pengemudi, menyalakan mesin yang menderu halus, lalu mengemudikan kendaraan tersebut membelah kemacetan jalanan kota menuju rumah kosnya.Sesampainya di kamar kos, Satrio tidak ingin membuang waktu. Ia melepas kemeja kerjanya yang terasa gerah, menyisakan liontin giok misterius yang menggantung di dadanya. Permukaan giok itu terasa hangat saat be

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 73

    Satrio dengan cepat menguasai keadaan. Ia menarik senyuman manisnya yang paling hangat, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dengan gerakan alami. "Maaf banget, Mbak Adirah. Aku tidak ada niat mengabaikanmu," ucap Satrio dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin untuk meredam kekesalan gadis itu. Ia membalikkan ponselnya yang memang sengaja dalam mode senyap. "Ponselku dari tadi pagi sedang lowbet dan harus ku-charger di bawah meja. Aku baru saja menyalakannya beberapa menit yang lalu dan belum sempat membuka pesan yang masuk." Adirah menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar mendengar alasan Satrio. Sifat tulus dan kepolosan Adirah memang selalu membuatnya mudah untuk memaafkan pria di depannya ini. Ia melirik ke arah layar ponsel Satrio yang kini menyala, menampilkan isi pesan singkat yang dikirimkannya tadi pagi. Sebagai sekretaris utama Pak Aizar, Adirah sebenarnya mengemban tugas yang cukup padat hari ini. Namun, ia sengaj

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 64

    Suara raungan mesin mobil sport merah itu perlahan melembut menjadi deru konstan saat Satrio mulai menginjak pedal gas, membawa kendaraan mewah tersebut membelah jalanan aspal kawasan industri yang mulai sepi. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, udara terasa begitu padat dan intim. Kesejukan AC

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 63

    Langkah kaki Satrio yang mengenakan sepatu pantofel kulit mengilap terdengar berketuk di atas lantai lobi utama pabrik. Setiap derap langkahnya kini tidak lagi mencerminkan seorang karyawan magang rendahan, melainkan langkah seorang pria yang berkharisma dan berwibawa. Setelan jas branded pilihan

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 62

    Gemercik air dari dalam kamar mandi pribadi ruang kerja Sisilia terdengar memecah keheningan. Uap hangat perlahan mengepul, membasahi dinding kaca buram dan menciptakan suasana yang semakin intim di ruangan itu.Di bawah guyuran air dingin yang menyegarkan, Satrio berdiri dengan tegak. Tubuh atleti

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 61

    Selesai pergulatan panas bersama Satrio, napas Sisilia masih memburu tidak beraturan di atas sofa kulit mewah itu. Tubuh matangnya tampak lemas tanpa daya, bersandar sepenuhnya pada dada bidang Satrio. Ketika itu kilat mata penuh kesombongan yang biasanya ia pamerkan di depan para karyawan pabrik

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status