Share

Bab 215

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-06-19 22:41:36

“Masuk aja!” seru Tiara, merasa sangat lega karena interogasi kakaknya akhirnya terputus.

Begitu pintu kamar terbuka, kelegaan di wajah Tiara langsung lenyap. Wajah Shanum seketika menegang di atas ranjangnya. Di sampingnya, Tiara bahkan refleks berdiri dari kursi, meletakkan piring buahnya dengan gerakan kasar.

Dua sosok yang sama sekali tak disangka bakal menginjakkan kaki di sini lagi, kini berdiri diam di ambang pintu. Bobby dan Ani—Ibu dan ayah mereka. Untuk beberapa detik, ruangan itu men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 228

    "Ada apa ini?"Semua mata menoleh. Hendra berdiri di koridor dengan dua pengacara berpakaian formal. Kehadiran mereka membuat ruang terasa sempit seketika."Ada perlu apa jam segini?" Prana bertanya, mengabaikan Kalid.Hendra menepuk bahu Prana pelan. "Ada hal penting yang perlu disampaikan pada Shanum."Kalid yang menyadari kalau dirinya diluar kepentingan yang akan disampaikan pengacara Shanum, langsung mundur satu langkah. Ia sadar tak memiliki hak untuk ikut campur lebih jauh di sini."Ada banyak tamu," katanya kepada Shanum, bukan pada Prana yang masih memasang wajah batu. "Aku pamit dulu. Jangan lupa makan buburnya ya, biar cepat stabil."Shanum hanya mengangguk kecil. “Iya, dok. Terima kasih banyak.”Kalid membalikkan badan, mengangguk sambil tersenyum pada Hendra dan melangkah melewatinya dan dua orang lainnya menuju ujung koridor arah lift.Hendra mengangkat alisnya setelah Kalid menjauh. Dia menatap Prana penuh selidik. "Siapa dia?""Kalid."Mata Hendra membulat. "Ah! Kalid

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 227

    Tok! Tok! Tok!Ketukan keras di pintu apartemen membuat tangan Prana yang sedang mengoleskan selai di atas roti Shanum berhenti di tengah gerakan. Gerakannya tenang, namun tatapannya menajam.Shanum ikut mengangkat kepala. Mereka saling berpandangan. Suara ketukan di pintu apartemen itu membuyarkan ketenangan sarapan mereka.“Siapa, Mas?” tanya Shanum.Prana langsung masuk ke mode waspada. Di tengah situasi rentan karena kasus Fadil, kunjungan tanpa kabar seperti ini memicu alarm bahaya. Banyak hal yang dikhawatirkan. Apakah ini orang tua Shanum yang memang sedang mencari keberadaan Shanum? Atau pihak kepolisian yang membawa perkembangan baru?“Kamu teruskan sarapanmu,” pinta P rana. “Biar aku yang periksa.”Prana memeriksa lubang intip pintu, dan langsung tertegun. Ia membuka pintu dengan dahi berkerut dalam. Orang yang tak disangka-sangka sekarang berdiri di depan pintunya. Rahang Prana mengetat seketika, tangannya di handel pintu mengerat seketika.Dengan gerakan kasar Prana membuk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 226

    “Di mana bunganya?” tanya Prana.Shanum menunjuk ke arah luar kamar. “Tadi aku taruh di meja sudut dekat ruang tengah.”Prana langsung turun dari ranjang. Dalam beberapa langkah panjang ia sudah keluar dari kamar dan berdiri di depan meja yang dimaksud Shanum. Sebuah rangkaian bunga lili terlihat sangat mencolok. Prana mengambil kartu kecil yang terselip di antara tangkai bunga.Lekas pulih, Shanum. Kalid.Hanya tiga kata. Tak ada kata berlebihan, tak ada rayuan. Prana menatap nama itu dengan seksama, mencoba mencari maksud lain yang tak tertulis. Tapi tak ada.“Kalid,” desisnya pelan.Alis Prana berkerut dalam. Tangannya menggenggam kartu itu lebih lama dari seharusnya. Ia merasa benda itu tak memiliki hak untuk ada di sini dan mengusik ruang pribadinya.Jelas sekali ia tak suka ada pria lain memberi perhatian pada Shanum. Di sisi lain, kepalanya juga memikirkan bagaimana bisa rekan sejawatnya itu bisa tahu Shanum tinggal di sini, namun ego dan rasa cemburunya sebagai seorang pria de

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 225

    Perlahan Prana menaiki ranjang, tangannya melingkari pinggang Shanum yang sudah terlelap sejak ia memasuki apartemen, lalu mencium pipi Shanum yang terasa hangat.Shanum bergerak sedikit, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. “Udah pulang, Mas?”“Aku bangunin kamu ya?” bisik Prana di dekat telinga Shanum. “Udah, tidur lagi. Ini udah larut.”Bukannya menuruti ucapan Prana, Shanum justru memutar tubuhnya menghadap sang dokter. Ia mendekat, mencium aroma sabun dari tubuh Prana. “Kamu baru mandi ya?”“Iya, gerah banget,” jawab Prana. Ia merapikan letak selimut Shanum. “Tidur lagi, Num. Kamu harus banyak istirahat.”Hanya mengangguk kecil, Shanum mengulurkan tangan untuk merapikan rambut Prana yang masih lembab. “Kenapa gak dikeringkan dulu?”“Kalau aku pakai hairdryer, nanti berisik. Tapi kamu malah tetep bangun gara-gara aku...” kata Prana.Shanum tersenyum kecil. “Aku memang belum tidur nyenyak kok.”Prana menatap wajah Shanum lekat-lekat. Mengingat kembali pesan yang dikirimkan Tiara

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 224

    “Mas, semalam Mbak Num tahu Mas dapat telepon dari Tante Ralin. Aku gak jadi nginep di apartemen soalnya dilarang datang sama Mbak Num. Ponselku semalam lowbat jadi baru ngasih tahu sekarang.”Prana membaca deretan pesan dari Tiara di layar ponsel itu dengan tatapan lurus. Kepalanya yang sudah pening sejak subuh kini terasa makin berat. Diletakkannya benda pipih tersebut di atas meja kayu kafe dengan agak keras.“Kenapa, Pran?” tanya Hendra. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, memperhatikan raut muka sahabatnya yang mendadak berubah keruh.Mereka berdua saat ini duduk di sudut sebuah kedai kopi yang berada tak jauh dari gerbang utama rumah sakit. Jam dinding kafe menunjukkan angka delapan pagi, membuat suasana sekitar mereka belum terlalu bising oleh pengunjung.“Pesan dari Tiara,” jawab Prana pendek sambil memajukan posisi duduknya. “Shanum tahu semalam Mama telepon. Dia pura-pura tidur waktu aku pergi, terus larang Tiara datang.”Hendra meletakkan cangkir kopinya kembali ke ta

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung waspada.Tadi ia sengaja berpura-pura tidur, dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Prana di pojok ruangan, termasuk kebohongan pria itu tentang kamar mandi yang bocor dan janji untuk menginap di rumah ibunya.“Kayaknya tadi tante Ralin mau menginap disini,” gumam Shanum sambil mendudukkan diri di sofa. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang kian menumpuk. “Gara-gara aku Mas Prana sampai harus berbohong.”Ia beringsut turun dari sofa, melangkah perlahan menuju meja makan untuk mencari ponselnya. Ia harus bergerak cepat sebelum Tiara telanjur datang. Begitu menemukan benda pipih itu, Shanum langsung mendial nomor sahabatnya.“Halo, Ra?” panggil Shanum begitu panggilan tersambung.“L

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 54

    Prana terduduk bersandar pada tumpukan bantal sambil menatap lurus ke arah Shanum. Wanita itu akhirnya terlelap, kelelahan belum tidur sejak semalam. Wajah Shanum tampak pucat, dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya.Ciuman tadi tak berlanjut lebih jauh. Prana tahu kapan harus menekan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 53

    Shanum terengah, punggungnya menekan daun pintu kayu yang dingin saat Prana terus mengikis jarak di antara mereka. Tubuh pria itu seolah mengepung seluruh inderanya, menciptakan sekat yang memisahkan Shanum dari kenyataan pahit di luar sana.“Kamu... kenapa kamu bisa ada di sini?” tuduh Shanum, sua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 51

    “Mbak... Mbak Shanum langsung ke kamar saja ya, pelan-pelan,” bisik Mbok Yah dengan suara bergetar sesaat Shanum memasuki rumah. “Pak Fadil sudah pulang dari tadi, Mbak. Sepertinya sedang marah besar.”Shanum mengernyitkan dahi. Di kepalanya, suara Fadil di telepon tadi masih terngiang—tenang, data

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 50

    Jantungnya Shanum berdebar kencang setelah melihat tiga foto yang dikirimkan oleh nomor yang tak ia simpan, tapi sudah ia hafal. Seseorang yang dimintanya melaporkan seluruh yang dilakukan Fadil semalam.Foto pertama sudah cukup untuk menghancurkan sisi warasnya. Di lobi sebuah apartemen mewah, Fad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status