LOGINShanum menyambar kunci mobil cadangan dan hoodie hitam kebesaran dari dalam lemari. Dia tak punya waktu buat ganti baju rapi. Sekarang yang terpenting adalah menelan identitasnya bulat-bulat.Dengan langkah seringan kucing, ia keluar dari kamar. Melewati Mbok Yah yang baru saja keluar dari ruang kerja setelah merapikan kekacauan yang dibuat Fadil. Napas Shanum tertahan di kerongkongan, takut wanita tua itu menyadari kepergiannya yang tidak lazim.“Mbok, kalau Mas Fadil atau Mama telepon, bilang saya sudah tidur karena pusing,” bisik Shanum singkat sebelum menghilang di balik pintu samping menuju garasi.Dia sengaja memilih mobil city car kecil miliknya yang lebih sering berdebu di pojokan garasi agar tak menarik perhatian. Shanum menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakang sedan mewah Fadil yang melaju membelah jalanan kota.Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Di setiap lampu merah, dia memastikan moncong mobilnya tetap tersembunyi di balik kendaraan besar atau
“Mbak... Mbak Shanum langsung ke kamar saja ya, pelan-pelan,” bisik Mbok Yah dengan suara bergetar sesaat Shanum memasuki rumah. “Pak Fadil sudah pulang dari tadi, Mbak. Sepertinya sedang marah besar.”Shanum mengernyitkan dahi. Di kepalanya, suara Fadil di telepon tadi masih terngiang—tenang, datar, bahkan tanpa riak emosi.“Marah kenapa, Mbok? Tadi pas telepon baik-baik saja.”“Mbok juga gak tahu, Mbak. Tapi dari tadi di dalam ruang kerja teriak-teriak terus,” lanjut Mbok Yah pelan.Belum sempat Shanum membalas, sebuah dentuman keras menghantam lantai dari arah ruang kerja Fadil. Shanum dan Mbok Yah terlonjak kaget secara bersamaan. Terdengar samar makian Fadil dari balik pintu, disusul suara benda-benda yang disapu kasar dari atas meja hingga berhamburan ke lantai.“Mbak mending langsung ke kamar saja, Mbok khawatir,” bisik Mbok Yah, berusaha menarik Shanum menjauh dari sumber ledakan amarah itu.Shanum mengepalkan tangan. Rasa takut yang biasanya membuat lututnya lemas kini justru
Jantungnya Shanum berdebar kencang setelah melihat tiga foto yang dikirimkan oleh nomor yang tak ia simpan, tapi sudah ia hafal. Seseorang yang dimintanya melaporkan seluruh yang dilakukan Fadil semalam.Foto pertama sudah cukup untuk menghancurkan sisi warasnya. Di lobi sebuah apartemen mewah, Fadil berdiri membelakangi kamera, memeluk erat seorang wanita.“Lava Cake,” gumam Shanum mengingat inst*story Alea.Foto kedua memperlihatkan mereka berjalan menuju lift, tangan Fadil merangkul pinggang Alea dengan sangat posesif. Di foto ketiga, Fadil mengecup pipi Alea. Jam digital di sudut foto menunjukkan waktu saat Shanum sedang berada di ruangan Prana tadi.“Brengsek...” bisik Shanum lirih. Napasnya mulai sesak.Rasa panas menjalar dari dadanya hingga ke mata. gak ada air mata. Sebenarnya ia sudah mati rasa dari awal. Ia hanya merasa seperti pecundang yang sedang cemooh di depan hidungnya.“Mbak… Mbak gak apa-apa?” tanya sopir taksi dari kaca spion tengah, mendengar Shanum memaki pelan.
Prana semakin menipiskan jarak, membuat Shanum sulit berpikir jernih. Tangan Prana yang tadi membelai pipi, kini turun perlahan menyentuh kerah turtle neck Shanum. Dengan gerakan nakal, ia menarik sedikit kain itu ke bawah, mengintip tanda merah yang ia buat sendiri beberapa jam lalu."Mas, stop!" bisik Shanum tertahan, matanya melotot ke arah pintu kayu di belakang Prana. "Mertuaku bisa dengar!"Prana justru terkekeh rendah dan serak. "Biarkan saja. Toh… dia yang minta aku periksa kamu sampai ke akar-akarnya? Lagian dia gak akan dengar, kalau kamu gak berisik.""Kamu gila! Benar-benar sakit jiwa!" Shanum misuh-misuh pelan, tangannya mencoba mendorong dada bidang Prana yang terbalut jas putih.Tenaga Shanum tidak ada artinya. Prana justru semakin mengunci posisinya, menekan kedua tangan di sandaran kursi hingga Shanum benar-benar terperangkap."Aku memang gila, Shanum. Dan kamu sumber kegilaan aku sekaligus obatnya," Prana menyesap aroma di ceruk leher Shanum, membuat wanita itu memej
"Kamu itu seharusnya bersyukur, Shanum," Kartika membuka suara tanpa menoleh, nada bicaranya tajam mengiris udara. "Keluargamu sudah banyak dibantu Fadil. Biaya rumah sakit ayahmu, kuliah adikmu, sampai gaya hidup sosialita ibumu, semuanya karena kemurahan hati anak saya."Sepatu hak tinggi merek ternama milik Kartika berbunyi nyaring di atas lantai marmer rumah sakit menegaskan kekuasaannya. Shanum mengekor di belakang dengan kepala tertunduk, merasa seperti tawanan yang sedang digiring menuju tiang gantungan.Shanum menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar gak berdecih. “Kemurahan hati? Tanpa Anda tahu, aku harus membayar semua ini dengan harga yang jauh lebih mahal,” batinnya berontak.Kartika berhenti sejenak di depan lift, memutar tubuh dan menatap Shanum dengan pandangan merendahkan."Jangan sampai orang-orang berpikir keluarga kamu cuma benalu yang tahu cara meminta, tapi gak tahu cara membalas budi. Memberi cucu satu saja susahnya setengah mati."“Benalu? Ayahku bekerja keras s
“Kenapa kamu di luar?” tanya Shanum heran. “Apa yang terjadi?”Shanum dikejutkan oleh Tiara yang langsung menjegalnya tepat di depan pintu ruang rawat ayahnya. Wajah adiknya yang biasanya ceria kini tampak tegang, bahkan cenderung dingin.“Mbak Num!”Tanpa basa-basi, Tiara menyodorkan layar ponsel ke depan wajah Shanum. Foto Shanum dan Prana di kantin tadi terpampang sangat jelas. Sudut pengambilan gambarnya memperlihatkan betapa intimnya posisi mereka.“Darimana kamu mendapatkannya?” bisik Shanum tercekat. Wajahnya seketika pias.“Aku lihat kalian berdua, Mbak. Kenapa Mbak Num bisa senekat itu?” desis Tiara. “Di rumah sakit tempat Ayah dirawat? Itu tempat umum lho, Mbak sadar gak sih?”Shanum mundur selangkah, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. “Tiara, ini gak seperti yang kamu lihat. Mas Prana itu dokter di sini, kami hanya—”“Jangan bohongi aku, Mbak! Aku tahu siapa Mas Prana buat Mbak Num. Aku masih ingat hancurnya Mbak dulu saat ditinggal dia pergi, dan aku tahu Mbak m
Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana
Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p
Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata
“Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu







