MasukSienna mencengkeram tirai jendela yang lusuh hingga buku-buku jarinya memutih.
Benar saja. Di halaman depan mansion mereka yang ditumbuhi ilalang liar, berdiri sebuah kereta kuda hitam legam. Kuda-kuda perang yang menariknya terlihat tinggi besar dan gagah, kontras dengan pagar rumah mereka yang reot. Dan di pintu kereta itu, lambang dari Dukedome terukir dengan jelas. Napas Sienna tercekat. Kakinya lemas seketika, memaksanya berpegangan pada bingkai jendela agar tidak merosot jatuh. "Hutang..." bisik Sienna, suaranya bergetar hebat. "Ayah pasti berhutang pada Duke juga." Hanya itu satu-satunya alasan logis yang bisa dipikirkan oleh otak Sienna yang sedang panik. Ayahnya adalah penjudi kelas berat. Setelah menghabiskan hartanya di meja judi biasa, bukan tidak mungkin ayahnya nekat meminjam uang dari pihak yang lebih berbahaya. Sienna memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongannya. Tapi bagaimana ayahnya bisa berhubungan dengan Duke Lorraine? Jika Viscount Rohan adalah lintah darat yang menjijikkan, maka Duke Lorraine adalah predator buas. Rumor tentang kekejaman pria itu di medan perang sudah melegenda. Jika ayahnya gagal membayar hutang pada Duke... hukuman yang menanti mereka bukan sekadar pernikahan paksa. Mungkin kepala mereka semua akan dipenggal pagi ini juga. "Habis sudah..." Sienna meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Air mata keputusasaan kembali menggenang. "Nona..." Marie menyentuh bahu Sienna dengan tangan gemetar. "Sepertinya... sepertinya mereka sudah masuk.” Sienna menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Langkahnya tertatih menuruni anak tangga terakhir, tangannya mencengkeram lengan Marie begitu erat seolah pelayan tua itu adalah satu-satunya tiang penopang hidupnya. Di koridor menuju ruang tamu, dua orang ksatria berbadan tegap berdiri mematung di sisi kiri dan kanan pintu. Jubah yang mereka kenakan juga terdapat tenunan lambang keluarga Duke. Tangan mereka bersiaga di gagang pedang. Sienna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia mempersiapkan dirinya untuk menerima tatapan yang biasa ia terima dari para pria, tatapan merendahkan, tatapan penuh nafsu, atau tatapan jijik melihat kondisinya yang berantakan. Namun, saat ia melangkah melewati mereka, suara hentakan kaki mereka terdengar serempak. Sienna tersentak dan mengangkat wajahnya dengan panik, mengira mereka akan menangkapnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kedua ksatria itu menundukkan kepala mereka dalam gerakan hormat yang sempurna. Tidak ada ejekan di mata mereka. Seolah-olah Sienna adalah seorang wanita terhormat, bukan putri Baron bangkrut yang baru saja menghancurkan reputasinya sendiri di rumah bordil. "Apa..." bibir Sienna bergerak tanpa suara. Ia sama sekali tidak mengerti. Apakah ini semacam lelucon kejam sebelum eksekusi? Belum sempat Sienna memproses kebingungannya, suara gaduh dari dalam ruang tamu menyita perhatiannya. "Ampun! Ampuni saya, Yang Mulia Duke!" Itu suara ayahnya. Suara Baron Borgia terdengar begitu putus asa dan ketakutan. "Saya bersumpah saya tidak tahu apa yang dia lakukan hingga menyinggung Anda! Saya akan menghukumnya! Saya akan mengurungnya di gudang bawah tanah jika perlu! Tolong jangan ambil nyawa saya!" Sienna membeku di tempatnya berdiri, hanya beberapa langkah dari ambang pintu yang terbuka. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ayahnya benar-benar berpikir Duke datang untuk membunuh mereka. Lalu, sebuah suara lain terdengar memotong racauan panik ayahnya. "Berhentilah bicara omong kosong, Baron. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan rengekanmu." Sienna mengenali suara itu. Itu suara pria di hutan tadi. Suara pria bermata merah yang ia tinggalkan. Sienna menahan napas, ia berdiri di depan pintu, berusaha menajamkan telinganya. "Lalu... lalu apa yang Anda inginkan dari kami?" tanya Baron Borgia dengan suara bergetar. "Saya tidak punya uang... Jika anda ingin saya membayar untuk kesalahan yang putri saya lakukan..." Tidak ada jawaban yang diberikan, tapi Sienna mendengar suara gemerincing koin emas yang dilemparkan ke atas meja kayu. Bunyi itu begitu nyaring, membungkam ruangan seketika. "Lunasi hutangmu pada Viscount Rohan.” ucap Lucian datar. "Dan sisanya... Anggap saja sebagai kompensasi." "Kompensasi...?" Baron terdengar bingung, namun ada kesenangan yang sulit ditutupi dalam suaranya. Sienna memejamkan matanya saat mendengar kalimat selanjutnya yang ia dengar. "Aku akan membeli putrimu."Langkah kaki Caesar menggema pelan menyusuri lorong Istana Kekaisaran setelah ia keluar dari ruang kerja sang Kaisar.Pikirannya masih berputar, mencerna deklarasi dukungan dari Kaisar Lucian yang baru saja ia terima. Dukungan itu adalah senjata politik yang tak ternilai, namun bagi Caesar, intrik politik selalu terasa melelahkan.Ia membutuhkan udara segar. Alih-alih mengambil jalur utama menuju gerbang depan, Caesar memutuskan untuk mengambil jalan memutar melewati rumah kaca yang terhubung dengan taman dalam istana, sebuah area yang biasanya sunyi dan jarang dilalui oleh para menteri.Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam area rumah kaca yang dipenuhi oleh berbagai macam flora musim semi itu, Caesar menyadari bahwa tempat itu tidak sepenuhnya kosong.
Setelah kesibukannya dengan para tamu agung berakhir, Lucian akhirnya melakukan hal yang terus ia tunda. Menemui Caesar yang membawa Rowan di malam pesta dansa.Pria itu kini berdiri di tengah ruang kerja pribadi sang Kaisar. Suasana di dalam ruangan itu terasa berat oleh dominasi dua pria paling mengerikan di medan perang.Kaisar Lucian duduk bersandar di kursi kebesarannya. Matanya yang semerah darah menatap lurus ke arah Caesar yang berdiri tegak dengan postur ksatria yang sempurna. Jari-jari Lucian mengetuk pelan sandaran kursi, memecah keheningan yang menguasai ruangan."Aku sudah menanyakan penyebab luka-luka itu pada Rowan sebelumnya." ucap Lucian, suaranya tenang namun tajam. "Dan ia memberitahuku sebuah cerita yang sangat menarik. Ia bilang... ia terjatuh ke dalam j
Seringai arogan di bibir Alexander luntur seketika, menguap tanpa menyisakan jejak apa pun selain keterkejutan. Sepasang matanya membelalak begitu lebar. Napasnya tercekat keras di tenggorokan, seolah jantungnya baru saja berhenti berdetak.Tubuh raja muda yang biasanya selalu berdiri tegap dan angkuh itu kini sedikit bergetar di balik jubahnya.Alexander menatap wajah cantik Sienna dengan ketidakpercayaan yang menyiksa. Otaknya menolak mencerna pemandangan di hadapannya.Ia mengabaikan Kaisar, mengabaikan seluruh bangsawan, dan mengabaikan rencana besarnya. Ia menatap sang Permaisuri seolah wanita itu adalah hantu dari masa lalunya yang paling berharga.Bibir Alexander yang seketika berubah pucat pasi itu bergetar pelan. Ia mencoba meraup udara dengan susah payah,
Dua hari menjelang malam pertama Festival Musim Semi, kemegahan sejati dari Kekaisaran Rivendia akhirnya dipertontonkan kepada dunia.Gerbang utama Istana Kekaisaran yang terbuat dari besi tempa raksasa telah dibuka selebar-lebarnya sejak matahari terbit.Iring-iringan kereta kuda berlapis emas, perak, dan kayu mahoni yang dihiasi berbagai lambang kebangsawanan dari penjuru benua mulai berdatangan tanpa henti.Di dalam Aula Penerimaan Agung, suasana terasa luar biasa megah sekaligus mengintimidasi. Ruangan berlantaikan marmer hitam pekat itu diterangi oleh ratusan lampu kristal gantung yang memantulkan cahaya keemasan.Pasukan ksatria elit kekaisaran berdiri berjajar di sisi kiri dan kanan ruangan bagaikan patung-patung malaikat maut berzirah perak, mem
Elizabeth meletakkan apel dan pisaunya ke atas piring perak dengan sedikit kasar, menunjukkan rasa tidak setujunya."Bukan perang, katamu?" omel Elizabeth, menyilangkan lengan di depan dada. Mata birunya menatap Rowan dengan tajam."Di malam puncak festival, jalanan ibu kota akan dipenuhi oleh lautan manusia yang berdesak-desakan, menari, dan meminum anggur. Bagaimana jika ada pemabuk yang tanpa sengaja menyenggol rusukmu? Bagaimana jika kakimu terinjak di tengah keramaian?!"Melihat kepanikan dan kemarahan yang didasari oleh rasa peduli itu, tatapan Rowan perlahan melembut. Ia mengulurkan tangannya yang besar, meraih tangan Elizabeth yang terlipat dan menariknya pelan hingga gadis itu sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya.
Lucian menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Dan apa hal yang lebih penting itu, Sienna?""Pesta Topeng!" seru Sienna dengan senyum merekah.Festival Musim Semi di kekaisaran bukanlah festival biasa. Selain perjamuan agung dan pesta dansa formal di dalam aula istana, daya tarik utama yang paling ditunggu-tunggu justru terjadi di luar tembok Istana itu sendiri.Di malam puncak festival, jalanan utama ibu kota akan diterangi oleh ribuan lampion.Para bangsawan akan menanggalkan atribut kebesaran mereka, mengenakan topeng, dan turun ke jalanan untuk berbaur, menari, dan menikmati pertunjukan bersama rakyat jelata tanpa ada batasan kasta sosial untuk satu malam."Kau harus menemaniku turun ke jalan raya kota malam itu, Luci
Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki
Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.
"Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma







