Share

BAB 10

Penulis: Rainina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 12:26:06

Sienna mencengkeram tirai jendela yang lusuh hingga buku-buku jarinya memutih.

Benar saja. Di halaman depan mansion mereka yang ditumbuhi ilalang liar, berdiri sebuah kereta kuda hitam legam. Kuda-kuda perang yang menariknya terlihat tinggi besar dan gagah, kontras dengan pagar rumah mereka yang reot.

Dan di pintu kereta itu, lambang dari Dukedome terukir dengan jelas.

Napas Sienna tercekat. Kakinya lemas seketika, memaksanya berpegangan pada bingkai jendela agar tidak merosot jatuh.

"Hutang..." bisik Sienna, suaranya bergetar hebat. "Ayah pasti berhutang pada Duke juga."

Hanya itu satu-satunya alasan logis yang bisa dipikirkan oleh otak Sienna yang sedang panik. Ayahnya adalah penjudi kelas berat. Setelah menghabiskan hartanya di meja judi biasa, bukan tidak mungkin ayahnya nekat meminjam uang dari pihak yang lebih berbahaya.

Sienna memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongannya.

Tapi bagaimana ayahnya bisa berhubungan dengan Duke Lorraine?

Jika Viscount Rohan adalah lintah darat yang menjijikkan, maka Duke Lorraine adalah predator buas. Rumor tentang kekejaman pria itu di medan perang sudah melegenda.

Jika ayahnya gagal membayar hutang pada Duke... hukuman yang menanti mereka bukan sekadar pernikahan paksa.

Mungkin kepala mereka semua akan dipenggal pagi ini juga.

"Habis sudah..." Sienna meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Air mata keputusasaan kembali menggenang.

"Nona..." Marie menyentuh bahu Sienna dengan tangan gemetar. "Sepertinya... sepertinya mereka sudah masuk.”

Sienna menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Langkahnya tertatih menuruni anak tangga terakhir, tangannya mencengkeram lengan Marie begitu erat seolah pelayan tua itu adalah satu-satunya tiang penopang hidupnya.

Di koridor menuju ruang tamu, dua orang ksatria berbadan tegap berdiri mematung di sisi kiri dan kanan pintu.

Jubah yang mereka kenakan juga terdapat tenunan lambang keluarga Duke. Tangan mereka bersiaga di gagang pedang.

Sienna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia mempersiapkan dirinya untuk menerima tatapan yang biasa ia terima dari para pria, tatapan merendahkan, tatapan penuh nafsu, atau tatapan jijik melihat kondisinya yang berantakan.

Namun, saat ia melangkah melewati mereka, suara hentakan kaki mereka terdengar serempak.

Sienna tersentak dan mengangkat wajahnya dengan panik, mengira mereka akan menangkapnya.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Kedua ksatria itu menundukkan kepala mereka dalam gerakan hormat yang sempurna. Tidak ada ejekan di mata mereka. Seolah-olah Sienna adalah seorang wanita terhormat, bukan putri Baron bangkrut yang baru saja menghancurkan reputasinya sendiri di rumah bordil.

"Apa..." bibir Sienna bergerak tanpa suara.

Ia sama sekali tidak mengerti. Apakah ini semacam lelucon kejam sebelum eksekusi?

Belum sempat Sienna memproses kebingungannya, suara gaduh dari dalam ruang tamu menyita perhatiannya.

"Ampun! Ampuni saya, Yang Mulia Duke!"

Itu suara ayahnya. Suara Baron Borgia terdengar begitu putus asa dan ketakutan.

"Saya bersumpah saya tidak tahu apa yang dia lakukan hingga menyinggung Anda! Saya akan menghukumnya! Saya akan mengurungnya di gudang bawah tanah jika perlu! Tolong jangan ambil nyawa saya!"

Sienna membeku di tempatnya berdiri, hanya beberapa langkah dari ambang pintu yang terbuka. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ayahnya benar-benar berpikir Duke datang untuk membunuh mereka.

Lalu, sebuah suara lain terdengar memotong racauan panik ayahnya.

"Berhentilah bicara omong kosong, Baron. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan rengekanmu."

Sienna mengenali suara itu. Itu suara pria di hutan tadi. Suara pria bermata merah yang ia tinggalkan.

Sienna menahan napas, ia berdiri di depan pintu, berusaha menajamkan telinganya.

"Lalu... lalu apa yang Anda inginkan dari kami?" tanya Baron Borgia dengan suara bergetar. "Saya tidak punya uang... Jika anda ingin saya membayar untuk kesalahan yang putri saya lakukan..."

Tidak ada jawaban yang diberikan, tapi Sienna mendengar suara gemerincing koin emas yang dilemparkan ke atas meja kayu.

Bunyi itu begitu nyaring, membungkam ruangan seketika.

"Lunasi hutangmu pada Viscount Rohan.” ucap Lucian datar. "Dan sisanya... Anggap saja sebagai kompensasi."

"Kompensasi...?" Baron terdengar bingung, namun ada kesenangan yang sulit ditutupi dalam suaranya.

Sienna memejamkan matanya saat mendengar kalimat selanjutnya yang ia dengar.

"Aku akan membeli putrimu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 23

    Lucian yang berada di atas Sienna tiba-tiba menghentikan gerakannya. Keheningan yang mendadak itu membuat kepanikan Sienna memuncak. Napasnya tercekat, ia tidak tahu harus berbuat apa selain terus menutup mulutnya.Habis sudah, batin Sienna. Dia marah. Dia jijik karena Sienna bersuara seperti wanita murahan.Sienna memejamkan matanya lebih erat, menunggu bentakan atau makian.Tapi yang ia rasakan justru adalah jari-jari Lucian yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu tidak melepaskan diri, melainkan menarik paksa tangan Sienna yang sedang membekap mulutnya sendiri.Sienna mencoba menahan tangannya, menggelengkan kepalanya panik. "Ja... jangan..."Lucian tidak peduli. Dengan tenaga yang tidak bisa dilawan oleh Sienna, ia menarik kedua tangan Sienna ke atas kepala, menekan pergelangan tangan gadis itu ke bantal, menjepitnya di sana dengan satu tangan besar miliknya.Kini, wajah dan bibir Sienna terpampang jelas tanpa penghalang.Sienna membuka matanya dengan takut, dan mendapat

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 22

    Korset itu jatuh menumpuk di lantai kayu dengan bunyi pelan, meninggalkan Sienna hanya dalam balutan gaun dalam berbahan katun tipis.Udara malam yang dingin langsung menerpa kulitnya yang lembab oleh keringat dingin, namun bukan itu yang membuat Sienna gemetar.Ia menunduk, menyadari betapa transparan kain putih itu di bawah terpaan cahaya lilin yang menyala terang. Potongan lehernya yang rendah nyaris tidak menyembunyikan apapun."Ah..."Dengan panik, Sienna menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi dirinya sendiri. Wajahnya memerah padam, rasa malu membakar hingga ke ujung jari kakinya. Ia merasa begitu terekspos di hadapan pria yang kini menatapnya dengan begitu intens"Sienna..."Suara berat Lucian terdengar tepat di belakang telinganya, diikuti oleh sentuhan tangan besar yang mendarat di bahunya yang telanjang.Tubuh Sienna tersentak hebat. Jemari Lucian tidak diam, melainkan mengusap pelan kulit bahunya, turun menuju lengannya, menciptakan jejak sentuhan yan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 21

    "Ba... baik."Anna akhirnya menjawab, suaranya terdengar kaku. Tubuhnya bangkit dari posisi membungkuk, namun kakinya tidak segera melangkah.Mata pelayan itu bergerak liar, melirik Sienna yang duduk di kursi dan Lucian yang berdiri menjulang di dekatnya. Ada keraguan di matanya, seolah meninggalkan mereka berdua sendirian di kamar tertutup adalah bencana.Namun, tatapan tajam Lucian yang semakin menukik tajam mematikan nyali Anna.Dengan langkah berat, Anna akhirnya berjalan mundur dan keluar dari ruangan.Klik.Suara kunci pintu yang berputar terdengar begitu nyaring di kamar itu.Lucian menghela napas kasar, seolah udara di ruangan itu baru saja bersih dari racun setelah kepergian Anna."Aku tidak menyukainya," ucap Lucian tiba-tiba.Sienna tersentak kecil dan menoleh ke arah Lucian dengan bingung. "Ma... maaf?""Pelayan itu. Anna," jelas Lucian datar, matanya menatap pintu dengan sorot dingin. "Dia adalah putri pelayan pribadi ibuku. Ibuku yang memaksanya ikut dalam rombongan ke ib

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 20

    Damien membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan itu. Tapi sebelum ia bisa mengatakan apapun, suara roda kereta dan derap langkah kuda yang berat tiba-tiba memecah keheningan malam, menarik perhatian semua orang di perkemahan itu.Rombongan kedua telah tiba. Itu adalah kereta logistik yang membawa para pelayan dan barang-barang kebutuhan perjalanan yang sempat tertinggal di belakang karena muatannya yang lebih berat.Belum sempat kereta itu berhenti sempurna, pintu salah satu kereta pelayan sudah terbuka lebar.Sesosok wanita muda melompat turun dengan tergesa-gesa, dan langsung berlari menerobos area perkemahan. Seragam pelayannya berkibar saat ia berlari lurus ke arah batang kayu tempat Sienna dan Damien duduk.Itu adalah Anna."Nona! Nona Sienna!" teriak Anna, suaranya terdengar panik dan penuh kekhawatiran yang berlebihan.Damien yang melihat kedatangan Anna segera menutup mulutnya rapat-rapat, menyimpan jawaban tentang tunangan Duke kembali ke dalam tenggorokannya. Anna sampa

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 19

    Napas Sienna tercekat di tenggorokan saat merasakan hawa panas tubuh Lucian semakin merapat, menghilangkan jarak di antara mereka.Tangan besar pria itu, yang tadi sibuk dengan tali-tali rumit, kini tidak langsung menjauh. Telapak tangannya yang kasar dan hangat justru mendarat di bahu telanjang Sienna.Kulit Sienna meremang. Sentuhan itu terasa berat begitu berat di bahunya.Sienna mematung, ia memejamkan matanya rapat-rapat karena rasa takut.Apa yang harus kulakukan? batinnya panik.Otaknya berputar liar. Lucian telah membelinya dengan harga selangit. Pria ini berhak atas dirinya. Menolak Lucian, atau bahkan sekadar menunjukkan keraguan, bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri seorang Duke.Rasa takut mulai merayap naik hingga ke tengkuknya.Bagaimana jika penolakan Sienna memicu kemarahan pria itu? Sienna teringat tamparan ayahnya yang menyengat, teringat sabetan pecut ibunya. Jika orang tuanya sendiri bisa menyiksanya, apa yang bisa dilakukan oleh orang asing yang b

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 18

    Sienna memekik tertahan saat kakinya tiba-tiba menjauh dari tanah. Dalam satu gerakan cepat, Lucian telah mengangkatnya ke dalam gendongan, seolah berat badan Sienna tidak berarti apa-apa."T… Tuan Duke! Apa yang Anda..." Sienna yang panik, melingkarkan tangannya ke leher Lucian secara refleks.Wajah mereka begitu dekat sekarang. Sienna bisa mencium aroma tubuh pria itu yang bercampur dengan aroma besi darah yang baru saja tumpah."Diamlah," potong Lucian. Ia tidak menatap Sienna, pandangannya lurus ke depan menuju kereta kuda. "Kau berjalan terlalu lambat. Kita akan sampai malam jika aku menunggumu merangkak."Lucian membawanya kembali ke arah kereta kuda. Namun kali ini, alih-alih meletakkan Sienna di dalam dan kembali ke kudanya, Lucian justru ikut masuk ke dalam."Jalan!" teriak Lucian dari dalam kereta.Roda kereta kembali berputar perlahan.Di dalam ruang sempit berlapis beludru itu, suasana terasa jauh lebih menyesakkan dari sebelumnya.Sienna duduk di pojok, memeluk dirinya se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status