Share

BAB 9

Author: Rainina
last update publish date: 2025-12-25 12:25:44

Pembelajaran….

Sienna meremas gaunnya. Itu jelas hanya alasan, Viscount Rohan tidak menikahinya karena ia butuh seorang Viscountess. Itu hanyalah alasannya untuk menyeret Sienna jauh lebih cepat dari yang direncanakan sebelumnya.

Apakah ini adalah akhirnya? Pada akhirnya… semua yang dilakukan Sienna kemarin malam tidak ada gunanya…

Marie yang melihat perubahan ekspresi di wajah Sienna hanya bisa menelan ludahnya.

“Saya….” wanita itu berkata pelan. “Saya akan mulai membereskan barang-barang anda, Nona.”

“...baiklah…” ucap Sienna pasrah.

Marie mengangguk lemah dan berbalik menuju lemari pakaian, mulai mengeluarkan gaun-gaun lama Sienna yang hampir tak layak pakai.

Melihat punggung pelayan tua yang bergetar itu, Sienna merasa dadanya sesak. Ia tidak bisa diam di sini. Dinding-dinding kamar ini serasa menghimpitnya.

"Aku... aku akan keluar sebentar," gumam Sienna pelan.

"Nona?" Marie menoleh khawatir. "Tapi kaki Anda..."

"Hanya ke pinggir hutan di belakang," potong Sienna cepat. "Aku butuh udara segar. Dan... persediaan salep kita habis. Aku akan mencari tanaman herbal untuk obat. Mungkin aku juga bisa menemukan jamur untuk makan malam kita."

Tanpa menunggu jawaban Marie, Sienna menyambar syal tipisnya dan berjalan tertatih keluar

Ia menahan ringisan setiap kali kain kasar gaunnya menggesek luka cambuk di betisnya, namun rasa sakit fisik itu jauh lebih mudah ditanggung daripada rasa putus asa yang menghantui dirinya.

Hutan di belakang mansion Borgia sama terbengkalainya dengan rumah pemiliknya. Semak belukar tumbuh liar, menutupi jalan setapak yang dulu sering dilalui Sienna saat kecil.

Sienna berjalan perlahan, matanya menyisir tanah yang lembab.

"Ah, ketemu," bisiknya.

Ia berjongkok dengan susah payah di dekat akar pohon besar, memetik beberapa lembar daun liar yang ia tahu bisa membantu menghentikan pendarahan dan meredakan nyeri.

Tangan Sienna yang kotor oleh tanah bergerak lagi, kali ini meraih sekelompok jamur yang tumbuh di batang kayu lapuk. Setidaknya, ia dan keluarganya tidak akan kelaparan malam ini.

Saat Sienna sedang sibuk membersihkan tanah dari batang jamur itu, sebuah bayangan panjang tiba-tiba jatuh menimpanya, menghalangi cahaya matahari sore yang menembus celah dedaunan.

Sienna membeku.

Suasana hutan yang bising oleh suara serangga mendadak senyap.

Perlahan, Sienna mendongak. Pandangannya merambat dari sepasang sepatu bot kulit hitam yang mengkilap, naik ke celana panjang yang membalut kaki jenjang, hingga akhirnya berhenti pada wajah itu.

Wajah tampan dengan rahang tegas dan sepasang mata merah yang menatapnya intens.

"T... Tuan Luca?"

Sienna terkesiap, jamur di tannya Sienna terkesiap, jamur di tangannya terjatuh kembali ke tanah. Ia buru-buru berdiri, namun gerakan mendadak itu membuat luka di kakinya berdenyut nyeri.

"Akh!" Sienna terhuyung, nyaris jatuh kembali jika saja sebuah tangan kekar tidak menyambar lengan Sienna dan menahannya.

“Kenapa kau begitu ceroboh?" tanya Lucian dengan kening berkerut.

Sienna segera menarik tangannya, mundur selangkah untuk menciptakan jarak. Jantungnya berpacu liar. Apa yang dilakukan pria ini di sini? Bagaimana dia menemukannya?

"Apa... apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Sienna dengan suara bergetar.

Lucian tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju, memangkas jarak yang baru saja diciptakan Sienna.

"Aku datang untuk menjemputmu." balas Lucian. “Urusan kita kemarin malam belum selesai.”

Sienna menggeleng, langkahnya mundur lagi hingga punggungnya menabrak batang pohon.

“Maaf… yang kemarin malam itu… adalah sebuah kesalahan." ucap Sienna. "Seharusnya saya tidak melakukannya."

Sienna menunduk, meremas gaunnya dengan kuat.

"Semuanya sia-sia, Tuan Luca... apa yang saya lakukan kemarin tidak ada gunanya. Viscount Rohan... dia tetap akan menikahi saya. Dia tidak peduli saya sudah rusak atau tidak."

Mata merah Lucian menyipit. "Kau lebih memilih tua bangka itu daripada pergi bersamaku?"

"Saya tidak punya pilihan…" bantah Sienna lemah. "Jika saya pergi, ayah saya akan membunuh saya. Atau lebih parah, dia akan menyakiti Marie. Dan ibu saya…”

Sienna menelan ludahnya. Masih bisa merasakan nyeri di kakinya. “Saya tidak bisa egois."

Sienna menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan Lucian. “Maafkan saya sudah melibatkan anda dalam masalah ini.”

Sienna segera berbalik dan berlari ke mansion keluarganya dengan gerakan tertatih. Sementara Lucian masih menatapnya punggungnya yang semakin menjauh.

“Kesalahan…” bisik Lucian pada dirinya sendiri.

“Tuan Duke?” Damien yang sejak tadi menunggu dibalik pohon akhirnya keluar setelah memastikan bahwa Sienna sudah menjauh.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya sambil memandang perubahan ekspresi di wajah Lucian.

“Kita akan pulang.” ucap Lucian sebelum berbalik dan berjalan ke arah kudanya. “Kita akan kembali lagi besok.”

=

Keesokan harinya, Sienna menangkupkan air dingin ke wajahnya. Mencoba menghapus sisa air mata di wajahnya setelah menangis semalaman.

Ketika tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka lebar.

Marie muncul dengan napas tersengal, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.

"Nona!" pekiknya tertahan. "Di depan... di depan gerbang ada kereta kuda yang baru saja tiba."

Gerakan tangan Sienna terhenti di udara.

"Viscount Rohan?" bisik Sienna, suaranya sarat akan ketakutan. Kakinya mundur selangkah tanpa sadar. "Tapi... perjanjiannya besok! Dia tidak bisa membawaku ke kediamannya sekarang!"

Sienna panik. Ia belum siap. Ia tidak akan pernah siap.

Namun, Marie menggelengkan kepalanya dengan kuat. Kedua tangannya meremas seragamnya dengan gugup

"Bukan, Nona. Itu bukan kereta Viscount Rohan." Marie menelan ludah. "Itu... itu kereta dari Dukedom."

Sienna mengerjap bingung. Otaknya yang kalut sulit memproses informasi itu.

"Duke... apa?"

"Lorraine," jawab Marie dengan suara bergetar. "Lambang di pintu kereta itu… Itu lambang keluarga Duke Lorraine."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jeon Jungkook reinkarnasi Inuyasha
Syukurlah Luca cepat bertindak.........️...️...️...️...️...️...️
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 220

    Belum sempat Sienna bereaksi pada dorongan itu, Lucian menjatuhkan tubuh besarnya ke atas tubuh Sienna, mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungannya.Berat tubuh suaminya menekan tubuhnya, sementara kedua tangan Lucian bertumpu di sisi kepala Sienna, mengunci segala celah baginya untuk melarikan diri atau membuang muka.Sienna menahan napas. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Mata merah Lucian yang biasanya menatapnya dengan penuh pemujaan, kini menatap lurus ke dalam mata biru Sienna dengan keputusasaan dan kemarahan yang tertahan.."Bagaimana kau bisa terus berpura-pura tidak tahu siapa yang kubicarakan?" geram Lucian tepat di depan bibir Sienna, napasnya yang panas menerpa kulit wajah istrinya.Tangan Lucian yang menumpu di kasur terkepal kuat hingga meremas seprai sutra di bawah mereka. Sorot matanya menelanjangi setiap kebohongan yang terus Sienna bangun.."Apa racun yang diberikan Arthur juga telah merusak hati nuranimu?" desis Lucian, suar

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 219

    Malam itu, berbeda dengan hari-hari lainnya, Lucian telah kembali ke kamar lebih dulu dibanding istrinya.Ketika Sienna melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti.Lucian duduk di sofa tunggal di dekat perapian yang menyala redup. Pria yang biasanya memancarkan aura penguasa yang tak tertembus itu kini tampak berantakan.Kemejanya dibiarkan terbuka di bagian kerah, dan raut wajahnya terlihat sangat kusut. Di tangannya terdapat sebuah gelas kristal berisi anggur merah, sementara sebotol anggur yang isinya sudah setengah kosong tergeletak di atas meja di sebelahnya.Hati Sienna berdenyut nyeri melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Ia tahu Lucian sedang disiksa oleh beban pik

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 218

    Trak! Trak!Suara ketukan pangkal tombak yang beradu keras dengan lantai marmer tiba-tiba menggema dari balik pintu, menghentikan detak jantung setiap orang di ruangan itu seketika.Pintu ganda berlapis emas Aula Anggrek yang menjulang tinggi didorong terbuka lebar secara bersamaan oleh dua ksatria bersenjata lengkap.Hawa dingin seketika berhembus masuk, menyapu ruangan dan menghilangkan keangkuhan yang sedari tadi dipupuk oleh ketiga gadis tersebut.Seorang kepala pelayan istana melangkah masuk dengan wajah tegas, berdiri tegak di sisi pintu, dan menarik napas panjang."Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran, telah tiba!" seru pria itu dengan suara

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 217

    Pembicaraan yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan mulai redup seiring berjalannya waktu.Udara di dalam ruangan yang awalnya dipenuhi oleh antusiasme, saling pamer dan sindir, senyuman manis yang dipaksakan, dan aroma parfum mahal, kini berubah menjadi kaku dan menjemukan.Sudah lebih dari satu jam berlalu, namun Sienna belum juga menampakkan wajahnya.Di salah satu sofa beludru utama yang terletak di tengah ruangan, tiga nona muda, Lady Catherine, Lady Charlotte, dan Lady Margaret mulai menunjukkan raut wajah yang masam.Kipas di tangan mereka kini dikibaskan dengan ritme yang cepat dan penuh kekesalan, menciptakan suara kepakan kecil yang memecah keheningan canggung di antara para kandidat lainnya.

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 216

    Dua minggu berlalu dengan begitu cepat.Siang itu, dari balik jendela kaca di ruang kerjanya yang berada di lantai kedua Istana, Lucian berdiri mematung.Mata merah sang Kaisar menatap tajam ke arah pelataran gerbang istana dalam, di mana rentetan roda kereta kuda saling berderit memecah kesunyian istana.Kereta-kereta kuda itu membawa lambang dari berbagai keluarga bangsawan dari berbagai tingkatan.Namun, yang membuat darah Lucian mendidih bukanlah lambang-lambang itu, melainkan pemandangan absurd yang tersaji di pelataran.Puluhan pelayan berlarian menurunkan peti-peti kayu raksasa, kotak-kotak perhiasan, dan tumpukan koper kulit dari atas ke

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 215

    Saat Lucian masuk ke kamar mereka, Sienna sedang duduk di dekat perapian. Istrinya itu tengah memegang secangkir teh porselen, menyesapnya perlahan seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mengganggu ketenangannya.Melihat suaminya masuk dengan aura yang begitu pekat, Sienna hanya meletakkan cangkir tehnya dengan pelan dan menatap Lucian."Aku sudah mendengar semuanya dari Marquess Ashford." ucap Lucian tanpa basa-basi.Sang Kaisar melangkah mendekati wanita itu, menatap mata istrinya lekat-lekat. "Batalkan surat-surat itu. Aku tidak setuju kau membawa wanita-wanita lain ke dalam istana ini, Sienna."Mendengar larangan mutlak dari suaminya, ekspresi Sienna tidak berubah sedikit pun. Wajahnya tetap tenan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 37

    Sienna, yang didorong oleh rasa penasaran yang membuncah, mencondongkan tubuhnya ke depan. Lebih dekat pada Marta yang hendak berbisik padanya. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin tahu kebenaran tentang perasaan Lucian pada Alexandria. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari mulut Marta, pintu

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 34

    Ekspresi tenang yang tadi sempat ditunjukkan Beatrice menghilang begitu ia mendengar perkataan Davian, digantikan ekspresi tegang di wajahnya. “Apa?!”"Tuan Duke memerintahkan agar Nona Alexandria menempati Kamar Tamu Emerald di Sayap Barat."Hening. Senyum di wajah Alexandria pun ikut membeku untu

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 31

    Lucian yang melihat kepanikan di wajah dan nada suara Lucien mengerutkan alisnya. “Ada apa sebenarnya?”"Saya berpapasan dengan Kepala Pelayan di koridor, Tuan." lapor Damien, suaranya terdengar berat. "Ada instruksi baru yang baru saja diturunkan langsung oleh Nyonya Duchess."Pena di tangan Lucia

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 32

    Keesokan harinya, lobi utama Kastil Lorraine penuh dengan para pekerja. Para pelayan berbaris rapi di sisi kiri dan kanan, mengenakan seragam terbaik mereka yang kaku dan licin.Beatrice berdiri di tengah lobi, dagunya terangkat tinggi. Ia memeriksa barisan pelayan dengan mata elang, memastikan tida

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status