LOGINPembelajaran….
Sienna meremas gaunnya. Itu jelas hanya alasan, Viscount Rohan tidak menikahinya karena ia butuh seorang Viscountess. Itu hanyalah alasannya untuk menyeret Sienna jauh lebih cepat dari yang direncanakan sebelumnya. Apakah ini adalah akhirnya? Pada akhirnya… semua yang dilakukan Sienna kemarin malam tidak ada gunanya… Marie yang melihat perubahan ekspresi di wajah Sienna hanya bisa menelan ludahnya. “Saya….” wanita itu berkata pelan. “Saya akan mulai membereskan barang-barang anda, Nona.” “...baiklah…” ucap Sienna pasrah. Marie mengangguk lemah dan berbalik menuju lemari pakaian, mulai mengeluarkan gaun-gaun lama Sienna yang hampir tak layak pakai. Melihat punggung pelayan tua yang bergetar itu, Sienna merasa dadanya sesak. Ia tidak bisa diam di sini. Dinding-dinding kamar ini serasa menghimpitnya. "Aku... aku akan keluar sebentar," gumam Sienna pelan. "Nona?" Marie menoleh khawatir. "Tapi kaki Anda..." "Hanya ke pinggir hutan di belakang," potong Sienna cepat. "Aku butuh udara segar. Dan... persediaan salep kita habis. Aku akan mencari tanaman herbal untuk obat. Mungkin aku juga bisa menemukan jamur untuk makan malam kita." Tanpa menunggu jawaban Marie, Sienna menyambar syal tipisnya dan berjalan tertatih keluar Ia menahan ringisan setiap kali kain kasar gaunnya menggesek luka cambuk di betisnya, namun rasa sakit fisik itu jauh lebih mudah ditanggung daripada rasa putus asa yang menghantui dirinya. Hutan di belakang mansion Borgia sama terbengkalainya dengan rumah pemiliknya. Semak belukar tumbuh liar, menutupi jalan setapak yang dulu sering dilalui Sienna saat kecil. Sienna berjalan perlahan, matanya menyisir tanah yang lembab. "Ah, ketemu," bisiknya. Ia berjongkok dengan susah payah di dekat akar pohon besar, memetik beberapa lembar daun liar yang ia tahu bisa membantu menghentikan pendarahan dan meredakan nyeri. Tangan Sienna yang kotor oleh tanah bergerak lagi, kali ini meraih sekelompok jamur yang tumbuh di batang kayu lapuk. Setidaknya, ia dan keluarganya tidak akan kelaparan malam ini. Saat Sienna sedang sibuk membersihkan tanah dari batang jamur itu, sebuah bayangan panjang tiba-tiba jatuh menimpanya, menghalangi cahaya matahari sore yang menembus celah dedaunan. Sienna membeku. Suasana hutan yang bising oleh suara serangga mendadak senyap. Perlahan, Sienna mendongak. Pandangannya merambat dari sepasang sepatu bot kulit hitam yang mengkilap, naik ke celana panjang yang membalut kaki jenjang, hingga akhirnya berhenti pada wajah itu. Wajah tampan dengan rahang tegas dan sepasang mata merah yang menatapnya intens. "T... Tuan Luca?" Sienna terkesiap, jamur di tannya Sienna terkesiap, jamur di tangannya terjatuh kembali ke tanah. Ia buru-buru berdiri, namun gerakan mendadak itu membuat luka di kakinya berdenyut nyeri. "Akh!" Sienna terhuyung, nyaris jatuh kembali jika saja sebuah tangan kekar tidak menyambar lengan Sienna dan menahannya. “Kenapa kau begitu ceroboh?" tanya Lucian dengan kening berkerut. Sienna segera menarik tangannya, mundur selangkah untuk menciptakan jarak. Jantungnya berpacu liar. Apa yang dilakukan pria ini di sini? Bagaimana dia menemukannya? "Apa... apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Sienna dengan suara bergetar. Lucian tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju, memangkas jarak yang baru saja diciptakan Sienna. "Aku datang untuk menjemputmu." balas Lucian. “Urusan kita kemarin malam belum selesai.” Sienna menggeleng, langkahnya mundur lagi hingga punggungnya menabrak batang pohon. “Maaf… yang kemarin malam itu… adalah sebuah kesalahan." ucap Sienna. "Seharusnya saya tidak melakukannya." Sienna menunduk, meremas gaunnya dengan kuat. "Semuanya sia-sia, Tuan Luca... apa yang saya lakukan kemarin tidak ada gunanya. Viscount Rohan... dia tetap akan menikahi saya. Dia tidak peduli saya sudah rusak atau tidak." Mata merah Lucian menyipit. "Kau lebih memilih tua bangka itu daripada pergi bersamaku?" "Saya tidak punya pilihan…" bantah Sienna lemah. "Jika saya pergi, ayah saya akan membunuh saya. Atau lebih parah, dia akan menyakiti Marie. Dan ibu saya…” Sienna menelan ludahnya. Masih bisa merasakan nyeri di kakinya. “Saya tidak bisa egois." Sienna menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan Lucian. “Maafkan saya sudah melibatkan anda dalam masalah ini.” Sienna segera berbalik dan berlari ke mansion keluarganya dengan gerakan tertatih. Sementara Lucian masih menatapnya punggungnya yang semakin menjauh. “Kesalahan…” bisik Lucian pada dirinya sendiri. “Tuan Duke?” Damien yang sejak tadi menunggu dibalik pohon akhirnya keluar setelah memastikan bahwa Sienna sudah menjauh. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya sambil memandang perubahan ekspresi di wajah Lucian. “Kita akan pulang.” ucap Lucian sebelum berbalik dan berjalan ke arah kudanya. “Kita akan kembali lagi besok.” = Keesokan harinya, Sienna menangkupkan air dingin ke wajahnya. Mencoba menghapus sisa air mata di wajahnya setelah menangis semalaman. Ketika tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka lebar. Marie muncul dengan napas tersengal, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu. "Nona!" pekiknya tertahan. "Di depan... di depan gerbang ada kereta kuda yang baru saja tiba." Gerakan tangan Sienna terhenti di udara. "Viscount Rohan?" bisik Sienna, suaranya sarat akan ketakutan. Kakinya mundur selangkah tanpa sadar. "Tapi... perjanjiannya besok! Dia tidak bisa membawaku ke kediamannya sekarang!" Sienna panik. Ia belum siap. Ia tidak akan pernah siap. Namun, Marie menggelengkan kepalanya dengan kuat. Kedua tangannya meremas seragamnya dengan gugup "Bukan, Nona. Itu bukan kereta Viscount Rohan." Marie menelan ludah. "Itu... itu kereta dari Dukedom." Sienna mengerjap bingung. Otaknya yang kalut sulit memproses informasi itu. "Duke... apa?" "Lorraine," jawab Marie dengan suara bergetar. "Lambang di pintu kereta itu… Itu lambang keluarga Duke Lorraine."Udara di dalam penjara bawah tanah Rivendia selalu membawa aroma kematian. Namun bagi Alexander, pria yang dulunya duduk gagah di atas takhta kekuasaan, aroma itu telah menjadi satu-satunya teman yang tersisa. Ia terbaring tak berdaya di sudut selnya yang sangat gelap dan lembap. Tubuhnya melemah dari hari ke hari dengan kecepatan yang tak wajar. Bukan karena siksaan fisik atau racun yang sengaja diberikan, melainkan karena pikirannya telah lama menyerah pada dunia ini.Tanpa kehadiran Lottie, hidupnya hanyalah sebuah ruang hampa yang menyiksanya setiap detik. Jiwanya telah hancur lebur, membusuk bersama tumpukan penyesalan dan rasa bersalah yang terus menggerogoti kewarasannya dari dalam. Ia tahu dengan pasti bahwa ia pantas mendapatkan akhir yang menyedihkan ini. Dalam diam, ia hanya sedang menunggu sang dewa kematian untuk segera menjemputnya.Kesadaran Alexander perlahan mulai menipis, tersedot perlahan ke dalam pusaran kekosongan yang pekat. Tubuhnya kini terasa seringan kapas.
Malam harinya, suasana di dalam kamar utama kekaisaran terasa jauh lebih hening dan intim. Cahaya keemasan dari perapian dan lilin-lilin aromaterapi menari-nari memantul di dinding ruangan, menciptakan bayangan yang menenangkan.Sienna duduk bersandar di kepala ranjang dengan jubah tidur sutranya, sementara Lucian duduk di tepi ranjang, baru saja selesai melepaskan atribut kekaisarannya. Kesempatan berdua ini langsung digunakan Sienna untuk menumpahkan seluruh rasa kesalnya atas kejadian sore tadi di taman."Dia benar-benar tidak bisa dikendalikan, Lucian," omel Sienna sambil memijat pelipisnya pelan. "Kau tahu apa yang putrimu katakan pada Maximilian setelah menjatuhkannya ke tanah dengan pedang kayu? Dia memanggil anak itu lemah. Benar-benar secara terang-terangan di depan wajahnya!"Alih-alih merasa khawatir atau marah, sebuah tawa bariton yang berat dan dalam justru meluncur dari dada Lucian. Pria itu terkekeh geli membayangkan putri kecilnya bertingkah pongah seperti penguasa k
Sepuluh Tahun Kemudian...Angin musim semi berhembus sejuk menyapu taman utama Istana Kekaisaran. Selama satu dekade terakhir, kekaisaran berada di puncak masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Kaisar Lucian dan Permaisuri Sienna.Namun, kebanggaan sejati istana kini terletak pada dua permata kembar mereka yang telah tumbuh besar.Putra Mahkota Cedric tumbuh menjadi sosok pemuda kecil yang luar biasa brilian. Di usianya yang baru menginjak sepuluh tahun, ia memiliki ketenangan, kecerdasan analitis, dan kemampuan beradaptasi yang membuat para mentor istana berdecak kagum.Di sisi lain, sang adik kembar, Grand Duchess Leyla, tumbuh menjadi kebalikan yang sempurna.Jika Cedric ibarat danau tenang yang dalam, Leyla adalah api liar yang tak bisa diam. Gadis kecil itu mewarisi wajah ibunya, namun mata merah yang persis Cedric, semangat tempur dan sifat keras kepala yang seratus persen menurun dari ayahnya.Suara benturan kayu terdengar nyaring memecah keheningan taman sore itu.Trak! Trak!
Malam musim panas yang seharusnya tenang itu seketika berubah menjadi keributan di dalam sayap utama kekaisaran. Menjelang waktu subuh, ketuban Sienna pecah lebih awal dari perkiraan tabib, memicu kepanikan yang membuat seluruh penghuni istana terbangun."Panggil tabib dan pelayan! Sekarang!"Suara bariton Lucian yang biasanya sangat terkontrol kini menggelegar membelah lorong istana, sarat akan kepanikan yang luar biasa. Sang Kaisar, yang tak pernah gentar menghadapi puluhan ribu pasukan musuh di medan perang, kini terlihat pucat pasi saat melihat istrinya meringkuk menahan rasa sakit di atas ranjang.Marta yang sudah bersiaga segera mengambil alih kendali. Gadis itu berlari memberikan instruksi tegas kepada para pelayan untuk merebus air, membawa handuk bersih, dan memastikan tabib utama segera tiba di kamar.Dalam hitungan menit, kamar utama kekaisaran telah diubah menjadi ruang bersalin. Sesuai dengan hukum dan tradisi istana, seorang Kaisar seharusnya menunggu di luar ruangan hi
Ruang kerja yang dipenuhi tumpukan perkamen itu mendadak diliputi keheningan. Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan. Sepasang manik matanya menatap Rowan dengan sorot ketidakpercayaan yang luar biasa pekat. "...Apa?" bisik Elizabeth pelan, nyaris tak terdengar.Rowan menundukkan pandangannya, tidak sanggup menatap mata tunangannya itu lebih lama. Rahangnya mengeras, menahan beban rasa bersalah yang telah lama bersarang di dadanya semenjak ia menyadari betapa kerasnya gadis itu bekerja untuk wilayahnya."Maafkan aku, Elizabeth," ucap Rowan dengan suara bariton yang parau dan berat. "Aku tahu aku memaksamu masuk ke dalam pernikahan ini. Aku menyeretmu dari kehidupan nyamanmu di istana dan membebanimu dengan segala kekuranganku, walau aku tahu persis... kau sama sekali tidak mencintaiku."Mendengar rentetan asumsi itu, napas Elizabeth tertahan. Rasa terkejutnya perlahan menguap, digantikan oleh gelombang kemarahan dan kekesalan yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Elizabeth mendengus
Satu bulan menjelang hari perkiraan persalinan Permaisuri Sienna, ibu kota kekaisaran berubah menjadi lautan perayaan yang tak pernah tidur. Rakyat bersuka cita menyambut kelahiran penerus yang telah lama dinanti-nantikan oleh seluruh pelosok negeri. Jalanan utama kota mulai dihiasi dengan berbagai macam ornamen megah; panji-panji berlambang kekaisaran berkibar gagah berdampingan dengan untaian bunga musim panas yang memancarkan aroma harum di setiap sudut bangunan.Sementara itu, kemurahan hati istana seolah tiada batasnya. Kereta-kereta kuda kekaisaran terus mengalir keluar dari gerbang utama, mendistribusikan begitu banyak santunan. Gandum kualitas terbaik, kain sutra, hingga koin-koin perak dibagikan secara cuma-cuma di jalanan. Rakyat berpesta, bernyanyi, dan mengucapkan doa keselamatan siang dan malam, membuat riuh tawa menggema setiap saat.Namun, di dalam dinding istana yang sibuk, suasana jauh lebih terorganisir dan padat. Alice, yang kini memegang kendali penuh sebagai da
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia
"Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a
Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan







