Se connecterAngin malam berhembus dingin, menyapu pelataran pintu samping mansion yang sengaja dijaga sangat ketat oleh ksatria Lucian. Lucian menggenggam erat jemari Sienna yang terasa dingin. Dengan gerakan protektif dan penuh kelembutan, pria itu memandu calon istrinya menaiki undakan dan masuk ke dalam kabin kereta yang aman.Namun, sebelum Lucian menyusulnya masuk, langkah pria itu terhenti di ambang pintu kereta.Mata Lucian yang setajam pedang perlahan melirik ke belakang. Tatapannya menembus kegelapan, mengunci siluet mansion megah Duchy Lorraine yang menjulang tinggi di bawah cahaya bulan. Tempat yang seharusnya menjadi benteng perlindungan terkuatnya, kini tak lebih dari sarang ular berbisa.Rahang Lucian mengeras. Beberapa menit sebelum mereka keluar dari kamar, seorang ksatria bayangan telah muncul dari balik bayang-bayang dan membisikkan laporan singkat.Damien telah menemukan jejak darah Tabib dan kini tengah menyudutkan Sir Roderick.Alfred dan Sir Roderick. Dua nama itu menggema
Sementara persiapan keberangkatan Lucian dan Sienna dilakukan secara rahasia di sayap utama, ketegangan yang berbeda tengah memuncak di sayap lain mansion.Langkah kaki yang berat dan berdentum keras terdengar memasuki kamar Tabib. Sir Roderick, ksatria senior yang menjabat sebagai Kepala Keamanan mansion Ibu Kota, melangkah masuk dengan raut wajah berkerut tidak suka. Ia sangat tidak terbiasa dipanggil layaknya bawahan oleh ksatria sang Duke."Kau memanggilku, Damien?" tegur Sir Roderick dengan nada bariton yang menyiratkan ketidaksenangan. Tangannya bersedekap di depan dada.Damien perlahan bangkit dari posisinya yang sedari tadi berjongkok menatap noda darah samar di atas karpet. Wajah pemuda itu satar, sama sekali tidak terintimidasi oleh pangkat maupun postur besar ksatria senior di hadapannya."Tabib Duchy menghilang beserta seluruh barang bawaannya, Sir Roderick." ucap Damien, suaranya tenang namun tajam. Ia menatap lurus ke dalam mata pria paruh baya itu. "Sebagai Kepala Kea
Setelah tabib pergi meninggalkan kamar dengan pengawalan ketat, keheningan yang menyesakkan kembali turun menyelimuti ruangan.Sienna masih duduk mematung di atas ranjang. Tangannya bertumpu di atas perutnya, mata Sienna menatap kosong ke arah selimut.Sementara itu, Lucian berdiri di dekat jendela, memijat pangkal hidungnya dengan keras. Pikirannya berpacu, mencoba mencari jalan keluar dari jaring masalah yang terus menghampiri.Tercetus sejenak di benak Lucian untuk membawa Sienna kembali ke kastil utama Duchy Lorraine di wilayah utara malam ini juga. Namun, pikiran itu langsung ia tepis mentah-mentah. Ibunya berada di sana. Wanita tua yang angkuh itu sangat menentang hubungannya dengan Sienna. Tidak ada jaminan Sienna akan selamat dari intrik ibunya, apalagi dengan kondisi membawa janin pewaris darah Lorraine.Lagipula, masih ada begitu banyak urusan politik di Ibu Kota yang harus ia selesaikan. Ia tidak mungkin meninggalkan Sienna sendirian di utara tanpa pengawasannya, namun ia
Sementara kepanikan melanda kamar utama, kesunyian yang mencekam menyelimuti kamar Tabib.Damien berdiri diam di tengah ruangan tersebut. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut kamar yang terlihat rapi. Tidak ada botol ramuan yang tersisa, tidak ada pakaian di dalam lemari kayu itu. Membuatnya terlihat seperti sang tabib memang telah melarikan diri dari mansion ini.Terdengar derap langkah kaki terburu-buru dari lorong. Seorang ksatria berseragam lengkap masuk ke dalam kamar dan langsung menunduk memberi hormat."Sir Damien." lapor ksatria itu. "Kami dan beberapa regu lain telah mengelilingi seluruh perimeter mansion, memeriksa setiap gerbang dan jalan keluar. Nihil. Kami sama sekali tidak menemukan jejak pemaksaan dari kepergian Tabib Utama."Ksatria itu menegakkan tubuhnya, menunggu instruksi. "Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"Damien tidak menoleh. Pria itu berdiri kaku, seolah tidak mendengar laporan bawahannya. Pandangannya hanya terpaku ke bawah, pada satu titik di ata
Tatapan Lucian langsung menajam, mengawasi setiap gerak-gerik pelayan yang baru masuk dengan penuh kecurigaan.Pelayan itu menunduk hormat, lalu dengan hati-hati meletakkan cangkir teh tersebut di atas nakas di samping ranjang Sienna."Teh apa itu?" tanya Sienna pelan, melirik cangkir porselen yang mengepulkan uap beraroma herbal yang tajam."Ini teh Sage dan Red Clover, Nona." jawab pelayan itu dengan senyum sopan. "Tabib meresepkannya khusus untuk Anda. Teh ini sangat bagus untuk memulihkan kesehatan, meredakan kelelahan, dan melancarkan aliran darah setelah perjalanan jauh."Mendengar nama bahan teh tersebut, wajah Sienna seketika pucat pasi. Darah seolah terhisap habis dari nadinya.Melihat perubahan drastis pada wajah Sienna, aura di sekitar Lucian berubah dingin. Pria itu lalu menatap ke arah pelayan yang terpaku kaget karena perubahan wajah Sienna."Keluar." perintah Lucian.Pelayan itu tersentak kaget. Tanpa berani menatap mata sang Duke, ia buru-buru membungkuk panik dan set
Pintu kamar utama terbuka dengan decitan pelan. Lucian melangkah masuk, berusaha keras menyembunyikan sisa-sisa amarah dan ketegangan dari wajahnya setelah berhadapan dengan Alfred di ruang kerja. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Sienna yang sudah tampak kelelahan.Melihat Sienna yang tengah duduk bersandar di atas tumpukan bantal dengan raut wajah yang lebih rileks, tatapan tajam Lucian perlahan melembut. Pria itu berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang."Sienna." panggil Lucian lembut. Ia meraih salah satu tangan gadis itu dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Aku sudah mengatur semuanya. Besok pagi, tabib terpercaya akan datang kemari secara khusus untuk memeriksamu."Mendengar hal itu, kening Sienna berkerut samar. Raut wajahnya berubah bingung."Tabib?" ulang Sienna pelan, menatap lurus ke dalam mata pria di hadapannya. "Tapi... untuk apa, Tuan Duke? Saya baru saja diperiksa."Gerakan tangan Lucian seketika terhenti. Udara di sekeliling mereka







