LOGINSetelah langkah-langkah tergesa menyusuri lorong istana yang dingin, Sienna akhirnya tiba di kamar utama kekaisaran. Pintu kamar utama istana itu ditutup rapat, mengisolasi kebisingan pesta dansa dari pendengarannya.Dengan napas yang masih tersengal dan peluh dingin membasahi pelipisnya, sang Permaisuri membiarkan tubuhnya ambruk ke atas kasur berlapis kain sutra yang empuk. Rasa sakit di kepalanya seolah membelah tengkoraknya menjadi dua."Apa Anda tidak apa-apa, Yang Mulia?" tanya Lady Elizabeth dengan raut cemas, berdiri tak jauh dari sisi ranjang sambil meremas tangannya sendiri."Ya." jawab Sienna lirih, matanya terpejam rapat. Ia memijat pangkal hidungnya dengan tangan yang gemetar.Sienna tidak tahu kenapa, tapi kepalanya berdenyut semakin keras seiring berjalannya waktu. Padahal, sebelum turun ke aula dansa tadi, ia merasa sangat baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kelelahan ekstrim atau gejala sakit apa pun. Denyutan nyeri ini datang begitu tiba-tiba dan menyerang denga
Di sudut aula dansa yang tidak terlalu tersorot lampu kristal utama, ketiga dayang Sienna berdiri berdampingan. Mereka memperhatikan pasangan penguasa kekaisaran itu dari kejauhan.Elizabeth adalah yang pertama menarik pandangannya dari pemandangan intim tersebut. Jemarinya meremas pelan kipas sutra di tangannya.Tidak ada gunanya, batin putri Duke itu, menelan rasa frustasi yang pahit. Melihat betapa rapat dan protektifnya rengkuhan sang Kaisar pada Permaisuri malam ini, rasanya tidak akan ada celah sekecil apa pun untuk masuk di antara mereka. Dinding yang dibangun Lucian terlalu kokoh.Lagi pula, jika ia bertindak terburu-buru demi memenuhi ambisi ayahnya, ada risiko besar yang menanti. Alice dan Lesley ada di sekitarnya setiap saat. Jika Elizabeth salah langkah dan bertindak terlalu mencurigakan, kedua wanita itu bisa saja melapor pada Permaisuri.Elizabeth terdiam sejenak. Dari sudut matanya, ia melirik ke arah dua rekan dayangnya tersebut. Wajah mereka tampak begitu fokus men
"Lucian..." Sienna akhirnya memecah keheningan, suaranya sedikit ragu. "Aku pikir kau akan langsung menuju ruang dansa."Lucian melangkah perlahan mendekati istrinya. Rahangnya terlihat kaku, raut wajahnya merupakan perpaduan antara rasa frustasi dan ego yang menolak untuk dikalahkan oleh perang dingin mereka."Kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan memasuki aula dansa sebesar itu sendirian, Sienna?" balas Lucian, nadanya kaku namun sarat akan kepemilikan. "Malam ini adalah pertama kalinya para serigala bangsawan itu berkumpul di bawah atapku atas nama Pesta Dansa. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat sedikit pun keretakan di antara kita."Pria itu berhenti tepat di hadapan Sienna. Meski matanya masih memancarkan luka akibat penghindaran istrinya selama beberapa hari terakhir, Lucian perlahan mengangkat tangan kanannya yang terbalut sarung tangan putih, mengulurkannya ke arah Sienna."Aku masih berstatus sebagai suamimu." ucap Lucian pelan, suaranya sedikit melunak di ujung kal
Pagi itu, istana kekaisaran jauh lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah kaki para pelayan yang berlarian membawa gulungan kain sutra, bunga-bunga segar, dan perabotan menggema di setiap lorong.Malam ini bukanlah malam biasa. Istana akan menggelar pesta dansa untuk acara amal, sebuah perayaan besar yang sekaligus menjadi pesta dansa pertama sejak Lucian merebut takhta dari pamannya melalui pertumpahan darah. Bagi para bangsawan, ini adalah panggung politik. Bagi Sienna, ini adalah medan perang baru yang harus ia hadapi dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.Di dalam kamar utama kekaisaran, udara terasa kaku. Sienna duduk diam di depan cermin rias raksasanya, membiarkan ketiga dayangnya membantu bersiap-siap di sekelilingnya."Apakah Yang Mulia lebih memilih set kalung safir atau mutiara untuk malam ini?" tanya Lady Elizabeth, memecah keheningan sambil mengangkat dua kotak beludru dengan hati-hati."Safir." jawab Sienna datar, suaranya terdengar lelah. “Semoga itu tidak membuat waj
"Berhentilah bermain pahlawan, Rowan." potong Elizabeth, sengaja menekankan setiap suku katanya.Ia mendongak, membalas tatapan gelap pria itu dengan sorot mata yang dipaksakan untuk terlihat angkuh dan meremehkan."Ayahku memang mengangkat derajatmu dan menjadikanmu seorang ksatria di kediaman kami. Tapi ingatlah tempatmu... itu bukan berarti kau adalah seorang pahlawan yang bisa menyelamatkanku dari takdirku."Kata-kata tajam itu meluncur begitu saja, mengiris udara di antara mereka.Tangan Rowan yang sempat terangkat seketika jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Rahang pria itu mengeras, dan kilat kekecewaan yang mendalam melintas di mata gelapnya.Status sosial mereka kembali menjadi jurang pemisah yang tak bisa pria itu tembus, tidak peduli bagaimanapun pria itu mencoba melawannya."Urus saja tugas pengawalanmu, dan biarkan aku mengurus urusan keluargaku." ucap Elizabeth final.Tanpa memberikan kesempatan bagi Rowan untuk membalas, Elizabeth memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi menyus
Elizabeth tersentak keras. Tangannya refleks menyentuh dada saat ia berputar dengan cepat, menatap ke arah bayangan pilar di belakangnya.Di sana, berdiri seorang ksatria jangkung berseragam zirah yang mengenakan jubah dengan lambang keluarga Duke Mountford.Itu adalah Rowan. Pria itu sama sekali tidak memiliki darah biru di nadinya. Ia hanyalah putra dari seorang pelayan wanita di kediaman Mountford. Namun, kemampuan berpedangnya yang luar biasa dan insting bertarungnya yang tajam tidak sengaja ditemukan oleh ayah Elizabeth bertahun-tahun yang lalu. Bakat murni itu berhasil mengangkat derajat Rowan dari seorang rakyat jelata biasa menjadi ksatria tangguh yang kini ditugaskan mengawal Elizabeth ke istana.Melihat siapa yang mengagetkannya, ketegangan di bahu Elizabeth sedikit mengendur, digantikan oleh raut kesal."Jangan menggangguku, Rowan." tegur Elizabeth dengan suara berbisik tajam.Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, bersandar santai pada pilar batu seolah mer
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah saat kereta kuda meninggalkan gerbang Kastil Lorraine.Sesuai permintaan Sienna, kereta yang digunakannya adalah kereta kayu biasa tanpa lambang kebesaran keluarga Duke agar tidak mencolok. Ia bahkan mengganti gaun sutranya dengan gaun katun sederhana.
Alexandria menggeram tertahan. Harga dirinya terkoyak habis. Menyadari bahwa ia tidak akan bisa memenangkan perdebatan ini tanpa merusak citranya sendiri di depan publik, ia akhirnya menyerah.Dengan napas memburu dan kaki yang dihentakkan keras ke tanah berbatu, Alexandria berbalik arah."Kita kem
Mendengar permintaan Sienna, senyum hangat Marta semakin mengembang. Melihat Nonanya yang selama ini selalu terlihat murung kini tampak begitu bersemangat, membuat hati pelayan itu ikut merasa lega."Tentu saja, Nona. Dengan senang hati saya akan menemani Anda," jawab Marta lembut. Ia melirik sekil
Alexandria tidak mengatakan apa pun, lidahnya terasa kelu oleh amarah. Namun, tangannya yang mencengkeram pagar pembatas batu itu bergetar hebat. Ia menekan jemarinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit telapak tangannya terasa perih tergores permukaan batu yang kasar.Matanya y