Mag-log inMatahari tengah bersinar terik ketika rombongan ksatria dari garis depan utara akhirnya menampakkan diri di gerbang Ibu kota.Debu jalanan mengepul diiringi derap langkah kuda yang bergemuruh. Berita tentang kemenangan telah menyebar lebih dulu bagaikan api yang melahap padang rumput kering. Saat pasukan itu tiba di depan gerbang raksasa ibu kota, lautan manusia telah berkumpul, bersorak-sorai menggemakan nyanyian kemenangan dan melemparkan kelopak bunga ke arah pahlawan mereka yang bersimbah peluh dan debu.Di garis terdepan gerbang, deretan utusan resmi istana yang mengenakan jubah sutra berdiri menyambut mereka. Terompet kekaisaran ditiup panjang, menandakan penghormatan tertinggi. Para utusan itu segera mengarahkan pasukan menuju penginapan mewah milik kekaisaran yang sengaja dikosongkan khusus untuk menjamu para ksatria yang bukan berasal dari ibu kota, memberikan mereka tempat untuk membersihkan diri dan beristirahat.Namun, tidak semua ksatria bisa langsung merebahkan tubuh
Perjalanan kembali menuju ibu kota terasa jauh lebih dingin dan mendung dari sebelumnya. Angin malam yang berhembus dari celah jendela kereta membawa hawa beku yang menusuk tulang, membuat perjalanan melintasi rute selatan itu terasa semakin berat dan panjang.Di dalam kabin kereta yang berguncang pelan, Alice menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi dengan tubuh yang terasa seolah baru saja diremukkan. Rasa lelah yang luar biasa pekat mencengkeram setiap otot di tubuhnya. Bagaimana tidak? Dayang utusan Permaisuri itu telah berkuda menembus badai siang dan malam tanpa henti. Ia baru saja tiba di pelataran Duchy Mountford beberapa jam yang lalu, dan kini ia sudah harus kembali menempuh rute mematikan yang sama menuju istana.Namun, rasa lelah fisiknya ternyata belum seberapa dibandingkan dengan tekanan mental yang harus ia hadapi di dalam kabin kecil ini.Kehadiran dua kakak beradik Duchy Mountford yang duduk berhadapan dengannya sama sekali tidak membantu meringankan suasana. Eliz
Setelah berminggu-minggu dikelilingi oleh tubuh tak dikenal dan aroma darah, rombongan ksatria kekaisaran akhirnya tiba di sebuah desa besar yang menjadi titik perbatasan terluar menuju wilayah tengah.Kedatangan mereka disambut oleh sorak-sorai riang yang menggema di sepanjang jalan tanah. Bagaimanapun, desa ini adalah pemukiman sipil yang paling dekat dengan garis depan perbatasan. Selama bertahun-tahun, penduduk di sini hidup dalam teror bayang-bayang invasi kaum barbar. Mengetahui bahwa perang telah berakhir dan melihat langsung bendera kekaisaran berkibar bebas, membuat seluruh desa berpesta menyambut para pahlawan mereka.Malam itu, rombongan ksatria menguasai pub terbesar di pusat desa.Udara di dalam bangunan kayu itu terasa sangat hangat, dipenuhi oleh kepulan asap cerutu, tawa lepas, dan denting gelas kayu yang saling beradu. Tong-tong anggur dan bir gandum dibuka tanpa henti. Pemilik pub yang sangat bersyukur atas kemenangan itu bahkan memanggil para wanita untuk menemani
Mendengar perkataan putra sulungnya, rahang Duke Mountford mengeras hingga terdengar bunyi gemeretak gigi yang mengerikan. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan luapan amarah yang belum pernah ia arahkan pada sang pewaris gelar Duke."Apa kau baru saja memerintahku?!" geram sang Duke. Ia melangkah mendekati Caesar, mencoba untuk mengintimidasi putra sulungnya itu.Namun, Caesar tidak beringsut mundur walau hanya satu langkah. Pria berseragam militer itu berdiri tegak, membalas tatapan membunuh ayahnya dengan penuh ketenangan."Aku tidak memerintah, Ayah. Aku memberikan saran sebagai orang yang kelak akan mewarisi gelarmu." jawab Caesar, nadanya dingin dan sangat rasional. "Aku tidak ingin mewarisi dan berada di posisi yang sulit di masa depan, hanya karena ego Ayah saat ini yang mencoba melangkahi otoritas langsung seorang Permaisuri Kekaisaran.""Aku mencoba menyelamatkan putriku!" bentak Duke Mountford, menunjuk tajam ke arah Elizabeth yang masih terpaku di belakang Alice. "Apa
Keputusan itu meluncur dari bibir Elizabeth dengan suara yang begitu lirih, namun ketegasannya seakan membekukan udara di sekeliling mereka."Tidak, Lady Alice." Elizabeth menggeleng pelan, meremas gaun sutranya dengan jemari yang masih bergetar. Ia menundukkan pandangannya, menolak menatap mata utusan Permaisuri itu. "Aku akan tinggal dan menikah."Alice terkesiap. Hatinya mencelos mendengar nada pasrah yang begitu pekat dari Elizabeth. Ia bisa melihat dengan jelas dinding ketakutan yang dibangun sang Duke di sekeliling pikiran Elizabeth. "Lady Elizabeth, sadarlah!" Alice melangkah maju, kembali meraih tangan Elizabeth dan menggenggamnya erat-erat, menyalurkan seluruh sisa kehangatan dan keberanian yang ia miliki. "Setidaknya temui dia dulu! Tidakkah kau mendengar perkataanku? Sir Rowan melakukan semua kegilaan di medan perang itu murni demi sebuah permintaan pada Yang Mulia Kaisar. Siapa yang tahu apa isi permintaan itu?""Aku..." Elizabeth menelan ludah dengan susah payah. Matany
Dengan disebutkannya nama Permaisuri dan Kaisar, bahkan seorang penguasa sekuat Duke Mountford sekalipun tidak memiliki pilihan lain selain menundukkan kepalanya dan membuka pintu kastilnya lebar-lebar. Menolak utusan langsung paviliun dalam sama saja dengan mengibarkan bendera pemberontakan, dan sang Duke belum siap untuk menghadapi murka sang Kaisar secara terang-terangan.Dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah karena menahan amarah, Duke Mountford terpaksa membiarkan Elizabeth keluar untuk menyambut rombongan yang memaksa bertemu dengannya tersebut.Alice melangkah masuk dengan mantel perjalanan yang basah dan kotor oleh lumpur, namun dagunya terangkat tinggi, memancarkan otoritas penuh dari junjungannya. Saat pandangan dayang bersurai coklat terang itu akhirnya menemukan sosok Elizabeth, langkah Alice seketika terhenti.Hatinya mencelos. Gadis yang berdiri di depannya ini... ini sama sekali bukan Lady Elizabeth yang ia kenal.Di hadapannya, berdiri seorang gadis yang tamp
Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang
Sienna sesekali mencuri pandang pada Lucian yang kini berkonsentrasi penuh menatap hamparan tanaman herbal di depannya.Pemandangan di hadapan Sienna itu terasa begitu tidak nyata. Jubah hitam mewah yang tadi dikenakan pria itu sudah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas tanah. Kini, Lucian h
"Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta
Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska







