FAZER LOGINDi atas ranjang, Rowan mendengar gumaman tabib itu, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Pria itu berbaring telentang dengan mata terpejam rapat. Dadanya naik-turun dengan pelan dan berat.Begitu ketegangan dan euforia dari pesta dansa semalam berakhir, sisa-sisa adrenalin terakhir yang menopang tubuhnya langsung menguap tak bersisa. Kini, ia benar-benar terkulai lelah. Rasa sakit yang bertubi-tubi menyerang seluruh sarafnya membuat Rowan tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk menggerakkan jari tangannya. Ia hanya diam, membiarkan tabib itu mengobati luka-lukanya, menjahit kulitnya yang robek, dan menelan tanpa protes setiap kali asisten tabib menyodorkan cawan berisi ramuan pereda nyeri yang rasanya luar biasa pahit.Di tengah keheningan yang hanya diselingi oleh bunyi denting peralatan medis tersebut, derap langkah kaki terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong luar paviliun.Elizabeth tiba dengan napas memburu. Namun, saat ia mencapai pintu ganda kamar yang dibiarka
Mendengar godaan telak dan sangat frontal dari dayang pribadinya itu, wajah anggun Sienna seketika terbakar hebat hingga semerah tomat. Ia buru-buru menarik gaun dalamnya hingga menutupi leher."Alice! Jaga ucapanmu!" tegur Sienna dengan nada panik dan tersipu. "Bantu saja aku merapikan gaun ini dan carikan kerah tinggi atau syal untuk menutupi leherku!"Alice hanya tersenyum lebar dan mulai menyisir rambut Sienna. Sementara Elizabeth berbalik untuk mencari syal yang diminta, Sienna yang masih menetralkan rona merah di wajahnya tak sengaja memperhatikan gerak-gerik gadis itu melalui pantulan cermin.Senyum di bibir Elizabeth memang ada, namun ada sesuatu yang berbeda. Pandangan gadis itu tampak sedikit kosong. Gerakannya saat membuka laci juga lambat, seolah pikirannya sedang mengembara jauh dari ruangan ini. Saat Elizabeth menyerahkan syal renda itu kepada Alice, ia tak sengaja menjatuhkan pita kecil yang ada di dekatnya dan nyaris tidak menyadarinya jika Alice tidak memungutnya.S
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai beludru tebal di kamar tidur utama kekaisaran. Udara di dalam ruangan itu masih terasa hangat, menyimpan sisa-sisa kemegahan dan emosi dari perayaan panjang semalam.Di atas peraduan, Sienna perlahan membuka kedua matanya. Sang Permaisuri mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Rasa lelah yang luar biasa masih menggantung di setiap inci ototnya. Pesta dansa semalam, pengumuman tentang kehamilannya, hingga emosi yang menguras air mata saat melihat Rowan merangkak masuk ke dalam aula, benar-benar menyita seluruh tenaganya.Sienna berniat untuk bergerak dan meregangkan tubuhnya, namun usahanya seketika terhenti saat ia merasakan sebuah lengan kokoh yang melingkar sangat posesif di pinggangnya.Di sebelahnya, Kaisar Lucian masih memejamkan mata. Wajah pria yang biasanya selalu keras dan sedingin es itu kini terlihat begitu damai saat terlelap. Napasnya berhembus teratur, menerpa puncak kepala Sienna. Perlahan, Luc
Udara malam di taman istana terasa jauh lebih bersahabat dibandingkan dengan ketegangan yang mencekik di dalam lorong maupun aula utama. Jauh dari hingar-bingar musik waltz dan tatapan penuh selidik para bangsawan, Lord Caesar menjatuhkan tubuh besarnya di atas sebuah bangku di bawah rimbunnya pohon willow.Pria itu menyandarkan punggungnya, menengadahkan kepala menatap langit malam yang ditaburi bintang. Ia menghela napas yang sangat panjang dan berat. Beban bertahun-tahun sebagai pewaris Duchy Mountford, rasa muak terhadap ambisi kejam ayahnya, serta kelelahan mental setelah menentang keluarganya sendiri malam ini, akhirnya menghantamnya secara bersamaan.Caesar menundukkan wajahnya, memijat pangkal hidungnya dengan raut wajah yang luar biasa lelah. Keringat dingin sisa ketegangan saat berhadapan dengan Noah tadi masih menempel di pelipisnya. Malam ini, ia telah resmi menjadi musuh bagi ayah dan adiknya sendiri, namun anehnya, hatinya justru terasa jauh lebih damai daripada sebel
Hantaman tiba-tiba dari tubuh Elizabeth yang menerjangnya nyaris membuat pertahanan Rowan runtuh. Rasa sakit yang luar biasa tajam seketika meledak dari balik tulang rusuknya yang retak dan otot-ototnya yang masih terkoyak.Rowan sudah membuka mulutnya untuk mengaduh dan menarik napas, namun suara yang keluar dari bibirnya tertahan saat ia merasakan bahu gadis di pelukannya itu bergetar hebat."Bodoh... kau bodoh sekali." isak Elizabeth, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di dada seragam Rowan. Jari-jarinya mencengkeram kain gelap seragam itu dengan putus asa. "Kau orang paling bodoh yang pernah kutemui, Rowan..."Mendengar makian yang diiringi tangisan pilu itu, rasa ngilu di tubuh Rowan seolah menguap begitu saja. Segala siksaan yang ia lewati di dasar jurang dan kematian terasa impas.Perlahan, sebuah senyuman yang luar biasa lembut mekar di wajah pucat Rowan. Ia mengabaikan rasa sakitnya. Tangan besar Rowan yang gemetar perlahan bergerak naik, melingkari pinggang ra
Begitu Rowan dan Caesar berhasil keluar dari pintu ganda aula utama, udara malam yang dingin menyambut mereka. Pintu raksasa itu ditutup perlahan oleh prajurit istana, memblokir alunan musik dan ratusan pasang mata yang masih terpaku dalam keterkejutan.Di lorong istana yang sepi dan hanya diterangi oleh obor dinding, Caesar masih memapah tubuh Rowan. Suasana di antara mereka terasa luar biasa tegang. Setiap langkah yang diambil Rowan diiringi oleh napas yang menderu kasar dan gemeretak gigi yang tertahan. Adrenalin yang membantunya bertahan di dalam aula tadi perlahan mulai surut, digantikan oleh rasa sakit yang kembali mengamuk dan meremukkan setiap inci tulang-tulangnya.Sambil terus menahan beban tubuh besar pria itu, Caesar melirik ke arah Rowan. Sang komandan selatan itu teringat kembali pada momen di pondok kayu beberapa jam yang lalu. Ia mengingat bagaimana ia menatap sepasang mata gelap Rowan yang menyala oleh tekad gila, menolak untuk mati, dan menolak untuk menyerah pad
Begitu mereka melangkah lebih jauh ke dalam aula, beberapa bangsawan yang didorong oleh rasa penasaran, ambisi politik, atau sekadar ingin menjilat, mulai mencoba mendekat.Mereka memasang senyum pal
Bruk!Baron Borgia jatuh tersungkur di atas tanah berkerikil di pelataran depan. Sebelum ia sempat bangun untuk mengutuk lagi, seorang pelayan pria melangkah tenang menuruni anak tangga batu.
Riuh seketika meledak, memenuhi setiap sudut aula yang megah itu sesaat setelah pengumuman sang Kaisar bergema.Kali ini, tidak ada lagi yang menyembunyikan bisik-bisik mereka. Aturan kesopanan seolah dilupakan. Seluruh
Mendengar ucapan Alfred, keheningan yang mencekam langsung memenuhi ruang kerja Lucian.Bahkan Damien, ksatria bayangan yang terlatih untuk tidak menunjukkan emosi, terlihat kaget. Matanya membelalak menatap Alfred. Ia







