LOGINKomentar blak-blakan dari sang Permaisuri seketika membungkam seluruh aula perjamuan. Selama beberapa detik, tidak ada yang berani bersuara. Di sisi lain, wajah Alice kini benar-benar sudah memerah seperti tomat matang. Panas menjalar dengan cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. "Ya... Yang Mulia..." cicit Alice pada akhirnya. Suaranya pelan dan nyaris tak terdengar, lolos begitu saja dari bibirnya karena panik dan ketidak mampuannya untuk memikirkan sanggahan.Jawaban pasrah dan lugu itu justru mengundang reaksi yang tidak terduga. Beberapa bangsawan muda di ujung meja tidak bisa lagi menahan diri. Terdengar suara kekehan pelan dan dehaman canggung yang berusaha menutupi tawa geli mereka.Di kursi kehormatan utama, Kaisar Lucian yang duduk tepat di sebelah Sienna mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menoleh, menatap istrinya dengan pandangan tidak menyangka. Lucian tahu betul bahwa Sienna tidak pernah menyukai basa-basi politik khas bangsawan, namun melontarkan candaan eksp
Cahaya matahari siang yang terik menembus celah tirai, jatuh tepat di atas wajah Alice. Gadis itu mengerjapkan matanya yang masih terasa berat akibat kelelahan luar biasa. Namun, saat kesadarannya pulih sepenuhnya dan ia melihat arah bayangan benda-benda di dalam kamar yang sudah sangat pendek, Alice langsung tersentak duduk.Ia menoleh ke arah pelayan wanita yang berdiri tegak di sudut ruangan dengan tangan tertaut rapi."Jam berapa sekarang? Kenapa kau sama sekali tidak membangunkanku?" tanya Alice dengan intonasi panik. Ia menyingkap selimut dan bergegas turun dari ranjang, berusaha mengabaikan rasa perih dan ngilu yang seketika mendera sekujur tubuhnya.Pelayan itu segera menunduk hormat. "Mohon ampun, Lady Alice. Ini sudah lewat tengah hari. Lord Caesar sendiri yang memberikan perintah pagi tadi. Beliau melarang keras siapa pun masuk ke kamar atau membangunkan Anda."Wajah Alice seketika memucat pasi. Siang ini adalah jadwal perjamuan terakhir di aula utama. Para tetua, Pendeta
"Ya. Suruh mereka tunggu. Aku akan memindahkan istriku dulu."Suara barito itu terdengar samar-samar menyusup ke dalam kesadaran Alice. Ia mencoba mengerjapkan mata, namun kelopak matanya terasa begitu lengket dan berat. Seluruh persendian di tubuhnya berdenyut ngilu, menyisakan rasa pegal yang luar biasa akibat percintaan panjang dan buas yang baru saja usai beberapa jam lalu.Cahaya keemasan matahari pagi sudah menembus celah-celah tirai tebal kamarnya, menyilaukan pandangan. Padahal, rasanya Alice baru saja memejamkan mata sebentar setelah Caesar akhirnya melepaskannya menjelang subuh.Tiba-tiba, Alice merasakan sensasi melayang. Selimut tebal yang membalut tubuh polosnya bergerak, dan ia bisa merasakan sepasang lengan kokoh mengangkat tubuhnya dari atas kasur dengan sangat mudah.Paksaan rasa pening dan bingung membuat Alice memaksakan sebelah matanya terbuka sedikit. Melalui pandangannya yang masih kabur, ia melihat garis rahang tegas suaminya. Caesar tengah menggendongnya di
Caesar memulai gerakannya dengan luar biasa pelan dan penuh perhitungan. Jemarinya yang sedikit kasar itu mulai menyentuh dan menjelajahi inti tubuh istrinya, memberikan usapan untuk mempersiapkan Alice sebelum penyatuan sesungguhnya. Sepasang mata biru esnya tak pernah lepas dari wajah gadis itu, menilai setiap kerutan di dahi dan tarikan napas tersengal. Setelah memastikan tidak ada sisa ketakutan, Caesar perlahan menambah kedalaman sentuhan dan menyusupkan jari lain. Sensasi ganda itu seketika membuat punggung Alice melengkung sempurna. Kedua kakinya bergetar hebat, merespons gelombang kejut yang mengirimkan aliran listrik ke sarafnya."Lord... Lord Caesar..." Suara Alice pecah di tengah rengkuhan leher suaminya. Ia memanggil nama pria itu dengan napas yang memburu, matanya terpejam erat sementara wajahnya memanas oleh sensasi asing. Tubuhnya menggelinjang pelan di atas seprai. Kuku-kukunya nyaris menancap di kulit punggung sang suami, menjadikannya jangkar tunggal agar tak hanc
Sebuah senyum tipis akhirnya terukir saat mendengar jawaban pasrah dari istrinya. Namun, Caesar segera menyembunyikan senyuman kelegaan tersebut, menguburkannya dalam-dalam di ceruk kulit Alice yang hangat.Pria itu kembali mengecup dan menyesap kulit lembut itu, perlahan menarik jejak ciuman basahnya turun dari leher, menyusuri tulang selangka, hingga mencapai belahan dada istrinya yang naik turun dengan cepat.Wajah Alice memerah padam hingga ke telinga. Rentetan pertanyaan eksplisit dari Caesar yang menuntut persetujuannya tadi sukses mengalihkan fokus gadis itu sepenuhnya. Bayangan-bayangan kelam dan ketakutan yang sempat mencekiknya kini telah menguap tak bersisa, hangus terbakar oleh rasa malu dan debaran gairah asing yang kini menguasai setiap jengkal kesadarannya.Sejujurnya, Caesar sama sekali tidak sesabar ini.Sejak pertama kali melangkah masuk ke kamar dan melihat tubuh istrinya hanya dibalut oleh kain sutra tipis yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya, Caesar telah berus
Sebuah erangan pelan dan rendah terdengar dari dada Caesar. Pria itu segera menarik wajahnya menjauh, melepaskan pautan bibir mereka sesaat setelah ia merasakan rasa asin darah di bibir bawahnya yang baru saja tergigit.Menyadari apa yang baru saja ia lakukan, kepanikan Alice seketika berlipat ganda. Wajah gadis itu berubah pucat pasi. Mengira bahwa sang Ksatria akan murka karena ia berani melukai suaminya sendiri, Alice buru-buru menelan ludah dengan susah payah."M-maaf... maafkan saya, saya sama sekali tidak bermaksud…" cicit Alice terburu-buru, suaranya bergetar hebat.Namun, alih-alih raut kemarahan atau tatapan tajam yang ia harapkan, ekspresi Caesar tetap tenang. Pria itu mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan ibu jari, lalu menatap Alice lekat-lekat dengan mata biru esnya yang justru memancarkan kekhawatiran yang samar."Apa aku mengagetkanmu?" tanya Caesar dengan nada rendah yang menenangkan, sama sekali tidak menyinggung soal gigitan tersebut.Merasa sangat ber
Sienna sesekali mencuri pandang pada Lucian yang kini berkonsentrasi penuh menatap hamparan tanaman herbal di depannya.Pemandangan di hadapan Sienna itu terasa begitu tidak nyata. Jubah hitam mewah yang tadi dikenakan pria itu sudah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas tanah. Kini, Lucian h
"Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta
Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska
Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang







