Mag-log inIris terdiam membeku. ‘A-apa yang dia katakan? Apa dia berbicara padaku?’ pikirnya. Ia tidak begitu menangkap apa yang CEO itu baru saja katakan.
Iris bertambah gugup ketika sepatu CEO itu tiba-tiba saja berputar menghadap ke arahnya. ‘Ya Tuhan, dia mengenaliku! Bagaimana ini?’ Iris sangat panik, namun dipermukaan ia berusaha menjaga sikapnya untuk tetap tenang. “Miss Villar, Mr. Sinclair bertanya padamu!” Vincent menegur Iris yang diam saat ditanya. ‘Mr. Sinclair? Namanya bukan—Easton?’ Refleks Iris mengangkat wajahnya dan seketika bertemu dengan kedua mata misterius pria itu. Ia terpaku. Bayangan kejadian semalam bermain di benaknya. Kedua obsidian hitam itu melekat dalam ingatannya, memberi kesan mendalam. Namun apa yang dipancarkannya saat ini sedikit berbeda dari semalam. Iris merasa pancaran mata pria dihadapannya ini, penuh dengan misteri, terasa berjarak dan—tanpa emosi? Reaksi pria itu datar saja. Seakan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. ‘Apa dia tidak ingat kejadian semalam?’ Iris dibuat heran oleh reaksi pria itu. Dia sama sekali tidak mengenalinya! “Killian bukan?” CEO itu bertanya. “A-apa?” Tersadar dari lamunannya, Iris bertanya dengan gugup. “Parfum yang kamu pakai. Killian royal leather.” Easton Sinclair—CEO itu berkata. "Ki—Kilian?" Bibirnya dengan susah payah menyebut parfum yang Easton tanyakan. “Ah, Iris! Itu nama parfum yang kamu pakai. Apa kamu tidak tahu?” Tiba-tiba saja Emberly menimpali dengan suara ceria yang dibuat-buat sembari mendekati Iris, kemudian tersenyum manis pada Easton. “Ooh.. i-iya benar. Sepertinya memang itu, Tuan… Killian mm.. Killian Leather…” Iris segera merespon untuk menghilangkan kecanggungan, akan tetapi ia justru membuat dirinya terlihat gugup. “Kamu—tidak tahu parfum yang kamu pakai?” tanya Easton. Tatapan matanya memperhatikan Iris dengan tajam, seperti tengah menyelidik. Pandangan mata Easton turun ke kemeja yang Iris kenakan. Iris bertambah gugup. “Ooh, tidak Tuan—saya, ini sebenarnya parfum— pacar saya. Jadi saya tidak begitu hafal merk-nya. Begitu— Mr. Sin—clair.” Ia menjawab dengan terbata-bata. Ia berharap CEO itu berhenti memperhatikan kemeja yang ia pakai. “Pacar?” Iris berhasil mengalihkan pandangan mata Easton dari memperhatikan pakaiannya. Sebagai ganti, Easton kembali beradu tatap dengannya. Sekilas, Iris melihat sedikit kilatan di tatapan mata pria itu sebelum kedua obsidian itu kembali berubah dingin. Dengan gugup Iris menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, kemudian mengangguk dengan canggung. Tiba-Tiba saja tangan Easton terangkat dan mengarah kepadanya. ‘Apa yang dia lakukan? Mau apa dia?’ Batin Iris dengan jantung berdebar seperti genderang perang. “Mr. Sinclair! Saya—senang sekali Anda akhirnya datang ke perusahaan hari ini. Saya yakin SDP Corp. akan bertambah besar dengan kepemimpinan Anda.” Tiba-tiba saja Emberly berdiri di depan Iris, menghalangi gadis itu dari pandangan mata Easton. Easton beralih menatap Emberly. Ia menurunkan tangannya perlahan, urung melakukan apa yang hendak dilakukannya. “Vincent,” panggil Easton tanpa menoleh. “Ya, Tuan.” Vincent berjalan mendekat. Entah mengapa, ruangan menjadi terasa sunyi. Tidak ada yang berani bicara. Bahkan Emberly pun menundukkan wajah. “Sudah kamu kerjakan perintahku?” tanya Easton. “Sudah, Tuan. Miss Lorne ini dari bagian General Affair.” Vincent menunjuk Emberly dengan telapak tangannya yang terbuka. Easton menatap ke depan, namun entah mengapa, Iris merasa jika pria itu justru tengah memperhatikannya. Iris khawatir Easton sudah mengenali kemeja yang ia kenakan. Dengan gelisah ia menggigit bibir dan meremas ujung roknya. Di saat Iris merasakan ketegangan yang sangat, Vincent berjalan ke arahnya. ‘Mau apa dia?” Batin Iris dengan gugup. Perutnya bergejolak, dan ia merasa cemas. “Miss Villar…” Iris mengangkat sedikit wajahnya. Perutnya semakin terasa tidak enak dan jantungnya berdetak semakin cepat. “Kamu boleh pergi. Urusanmu selesai di sini.” Vincent menunjukkan Iris arah pintu keluar. Boleh pergi? Iris hampir tidak percaya mendengarnya. Tanpa berpikir lagi, ia pun mengangguk lalu berjalan keluar sambil melirik Easton. Namun siapa sangka, pria itu pun tengah melirik ke arahnya! Iris menundukkan wajah dan bergegas keluar dari ruangan. Namun saat ia telah berada di luar kantor Vincent, perutnya kembali berulah. Dengan cepat ia berlari menuju toilet. Hweek! Hweek! Hweeeek! Setelah selesai memuntahkan cairan asam yang membuat perutnya bergolak, Iris menutup mulutnya dengan telapak tangan dan terduduk lemas di lantai kamar mandi. “Hell of a day…” gumamnya pelan sambil memegangi perutnya yang masih terasa tidak enak. Ia memang belum sarapan pagi itu. Tetapi tidak pernah sampai semual ini. ‘Emberly lalu Easton…’ keluhnya dalam hati. Perlahan Iris beranjak dan keluar dari toilet dengan langkah yang gontai. Rasa-rasanya ia masih sangat lemas. Akan tetapi ia harus kembali ke departemen tempatnya magang. “Iris, apa kamu baik-baik saja?” Olivia Moore, manager pemasaran, menghampirinya. “Kamu kelihatan pucat.” “Hanya asam lambung yang naik, Miss Moore… nanti akan membaik,” jawab Iris dengan lemah. Olivia menggeleng. “Ambillah istirahat hari ini. Pergi temui dokter. Jangan memaksakan diri,” ujar Olivia dengan nada tegas sambil ia menepuk pundak Iris, lalu melangkah pergi. Ucapan menejer departemen magang adalah perintah baginya. Ia pun pulang lebih awal hari itu dan pergi ke klinik langganannya. Baru saja ia menginjakkan kaki di lobi rumah sakit, perutnya kembali berulah. Serta merta Ia menutup mulut dan berlari ke arah toilet. Namun, sebelum ia sampai ke toilet, tiba-tiba saja seseorang datang dari samping dan tabrakan itu tidak terelakkan. Hweeek! “Aaahhh!” pekikan terperangah dari orang-orang di sekitar terdengar hampir bersamaan. Iris mengangkat wajahnya yang pucat dan ia terkesiap melihat muntahannya mengotori baju seorang pria.Iris Villar POV Mobil yang kami tumpangi memasuki gerbang halaman sebuah pabrik yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dari wilayah pemukiman, sekitar hampir satu jam perjalanan dari kantor. Terlihat papan nama di gerbang yang kami lewati. EcoCharge Ltd. Nama tempat itu mengingatkanku pada pertemuan beberapa hari yang lalu bersama Robert Jenkins—direktur EcoCharge. Dan melihat tempat yang kami tuju, sepertinya tempat ini adalah pabrik solar panel yang mereka bicarakan. Walau begitu, aku masih tidak mengerti mengapa Easton mengajakku ke sini. Apa dia ingin aku menggantikan Emberly seperti waktu itu? “Perhatikan baik-baik apa yang akan kamu temui. Kamu bisa membuat catatan atau mengambil foto… whatever suit you…” ujar Easton sambil bersiap-siap untuk turun. “Apa sebenarnya yang—” ucapanku terhenti. Easton mengenakan kacamata hitamnya, lalu keluar begitu saja tanpa mendengarkan pertanyaanku. Tidak ada penjelasan, untuk apa aku ada di sini atau apa sebenarnya yang harus
Hari berikutnya Iris terpaksa datang ke gedung SDP Corp. Keluar dari taksi, Iris mendongak, menatap lantai paling atas di mana kantor Easton berada.Tujuannya datang hari itu adalah untuk menemui Easton, menanyakan mengapa dia menolak pengunduran dirinya dan kalau memungkinkan memaksanya menerima pengunduran itu.Ia sengaja tidak memberitahukan kedua orang tuanya, berharap kali ini permasalahannya dan Easton bisa diselesaikan.Iris masuk ke dalam gedung tanpa kendala. Bahkan ID card magang miliknya masih berfungsi dengan baik.Di depan kantor Easton, ia melihat Emberly duduk di meja kerjanya, sedang berbicara melalui telepon.“Don’t!” Iris memberi Emberly peringatan saat sekertaris Easton itu beranjak dari duduknya, hendak menghentikannya.Iris tidak ingin siapa pun menghalanginya, apalagi Emberly.Ia membuka pintu kantor Easton dan langsung menerobos masuk.“Easton, aku ingin bicara!”Langkah kaki Iris terhenti. Ia diam membeku saat melihat ke dalam ruangan itu.Di dalam ruangan ker
“Professor Winter!” Iris berusaha mengejar dosen di kampus tempatnya kuliah.Setelah kemarin ia memberikan Easton surat pengunduran dirinya, Iris tidak mengulur banyak waktu. Ia segera pergi menemui dosen pembimbingnya di kampus.Profesor berusia lima puluhan tahun itu menoleh melihat Iris. Ia mengurangi kecepatannya berjalan, namun tidak berhenti. “Miss Villar,” sapanya dengan mengangguk kecil.“Profesor, maaf mengganggu waktu Anda. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.” Iris menyejajarkan langkah mereka. Ia mengetahui Profesor Winter adalah dosen yang sibuk. Itu sebabnya ia berusaha menemuinya diantara jadwal profesor itu mengajar.“Go ahead. I’m listening,” jawab profesor itu sambil terus berjalan dan membenahi letak kacamatanya.“Profesor, saya ingin bicara mengenai—kerja magang saya.” Iris langsung bicara mengingat kesibukan Profesor Winter.“Kenapa memangnya?” Profesor Wintor menoleh sekilas. “Saya—merasa kurang cocok bekerja magang di SDP,” ujar Iris, lalu ia cepat-cepat mena
Iris yakin belum pernah bertemu dengan Timothy. Kalau pun pernah, ia tentu tidak akan lupa pernah bertemu dengan seorang anggota keluarga Galland.Dan sebagai bawahan Easton, ia dituntut untuk bersikap profesional di manapun ia berada.Ia pun berdiri, membalas senyum Timothy dan menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri. “Saya—”“Tunggu! Kamu sekertaris barunya Easton?” Timothy memperhatikan Iris sembari menjabat tangan gadis itu dnegan ragu. Ia lalu melirik Easton dan menatapnya penuh arti.Iris melihat hal itu, dan ia mengerti mengapa Timothy menyangka dirinya adalah Emberly. Akan tetapi, ekspresi Easton datar saja. Dia bahkan seperti tidak berniat mengoreksi ucapan Timothy.Iris tidak ingin terjadi salah sangka. Ia menggeleng. “Mr. Galland, saya Iris Villar, karyawan magang di SDP Corp. Senang bertemu dengan Anda.” Ia memperkenalkan dirinya secara formal.“Iris… Villar?” Timothy tampak terkejut. Dia kembali melirik Easton sebelum kembali menatap Iris, memperhatikan gadis di ha
Jantung Iris berdetak semakin kencang, dan entah bagaimana kenangan kejadian malam panasnya bersama Easton di hotel itu, berkelebat dalam benaknya.Iris menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan bayangan itu dari benaknya. Tidak, ia harus bisa melupakan kejadian itu!Tapi, mengapa Easton membawanya ke sini? Apakah… dia ingat kejadian malam itu? Apakah dia sudah tahu apa yang terjadi diantara mereka berdua? Suara pintu dibuka mengalihkan pandangan Iris. Ia melihat supir pribadi Easton keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu belakang.Rasa panik melingkupi Iris. Jantungnya berdebar kencang, dan ia refleks meraih lengan Easton, memeganginya dengan erat. “Easton,tunggu!” serunya,“Untuk apa kamu mengajakku ke sini?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia harus tahu alasan Easton mengajaknya ke hotel itu.Easton yang bersiap untuk turun, terkejut dengan gerakan Iris yang tiba-tiba. Serta merta pandangan matanya turun menatap tangan yang memeganginya.Iris langsung ter
Iris menatap Easton dengan terkejut karena nada bicara Easton yang keras dan tegas menolak Emberly. Hukankah Emberly kekasihnya? Kenapa dia bicara dengan nada seperti itu.Iris juga refleks melirik Emberly dan melihat kekasih Easton itu melotot padanya. Iris segera menundukkan wajah, seakan tidak peduli apa yang tengah mereka perdebatkan, meski ia penasaran.Wajah Emberly memerah dan ia tampak kikuk. Emberly memaksa tersenyum namun diam-diam mengembuskan nafas geram. Ia lalu membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun Easton mendahuluinya.Kali ini suara Easton terdengar jauh lebih lembut. “Meeting itu sangat penting, Emberly. Itu sebabnya, aku meminta kamu yang mengaturnya, memastikan semua berjalan dengan baik.”Mendengar suara Easton yang berubah lembut saat berbicara dengan Emberly, Iris tertegun.Mungkin tadi Easton hanya lepas kendali, karena ternyata dia sangat lembut memperlakukan Emberly. Tidak seperti cara bicara Easton terhadap nya, pikir Iris.Di lain pihak, bibir







