Share

Part 100: Kecerobohan

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-09-13 18:00:49

Aku sudah tidak bisa membedakan apakah perih di mataku ini karena air mata atau karena keringat.

Tanganku gemetar hebat selagi Salsa ditandu dalam brankar ambulan, melihat wajahnya yang berlumuran darah, lalu menyentuh tangannya yang dingin.

Rasanya seperti tidak nyata.

Rasanya begitu jauh.

Pandanganku berkunang-kunang, dan tiba-tiba saja aku menyesal. Aku menyesal karena tidak memeluknya lebih erat pagi ini, menyesal karena tidak membuatkannya sarapan. Men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 101: Tempat Bersandar

    (Nata’s Pov) “Buka jalan, sialan!” Sembari menekan klakson dengan membabi buta, gue mulai tancap gas, menambah kecepatan, berusaha membelah jalan ibu kota yang macet total. Beberapa pengendara motor melirik keji, beberapa pengendara lain bahkan menekan klakson balasan. Namun gue nggak peduli, brengsek. Suara Sus Dara beberapa menit lalu membuat emosi gue retak. “Bapak, saya minta maaf. Saya bener-bener minta maaf...” Kenapa dia harus mengatakan itu saat yang gue inginkan hanyalah kabar dari Salsa? Dia mengatakan bahwa anak gue ketabrak motor. Motor for God’s sake. Di jalan yang hanya selebar daun kelor. Gue pikir Sus bercanda karena sore ini gue baru aja menghubungi mereka dan berbicara via video call dengan Salsa. Namun, tidak sampai satu jam, kabar selanjutnya membuat gue ingin muntah. Dada gue seperti ditekan kuat, rasanya gue kesulitan untuk bernafas. Satu waj

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 100: Kecerobohan

    Aku sudah tidak bisa membedakan apakah perih di mataku ini karena air mata atau karena keringat.Tanganku gemetar hebat selagi Salsa ditandu dalam brankar ambulan, melihat wajahnya yang berlumuran darah, lalu menyentuh tangannya yang dingin.Rasanya seperti tidak nyata.Rasanya begitu jauh.Pandanganku berkunang-kunang, dan tiba-tiba saja aku menyesal. Aku menyesal karena tidak memeluknya lebih erat pagi ini, menyesal karena tidak membuatkannya sarapan. Menyesal karena tidak membawanya liburan.Namun di saat yang sama, aku menemukan diriku menjadi lebih tegar. Dengan sendirinya air mataku mengering dan punggungku menegak. Salsa tidak butuh Mamanya yang menangis, dia butuh Mama yang kuat yang bisa membantunya tetap hidup.Survival mode dalam diriku seperti mengambil alih. Kepalaku penuh rencana. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan lebih dulu. Lalu dokumen apa saja yang diperlukan saat nanti kami sampai di rumah

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 99: Musibah Beruntun

    “Mesin kopi saya mendadak nggak berfungsi, mungkin saya harus membeli yang baru atau berhenti minum kopi.” Aku terkekeh, paham betul bahwa ini hanya akal-akalan Damian untuk memintaku datang ke ruangannya. Namun aku tetap duduk di sofa panjang, mendengar dia mengeluh dan mengetuk-ngetuk mesin itu yang sepertinya memang sudah rusak. “Aku suka minum kopi, tapi aku nggak ngerti soal mesin, biasanya aku selalu beli jadi. Kamu manggil orang yang salah Damian,” balasku tenang. Dia mengerling, menatapku kalem. Ada sesuatu tentang tatapan Damian yang membuatku tertegun. Tidak seperti Nata yang selalu menatap dingin tanpa ekspresi seakan aku melakukan kesalahan. Damian selalu menatap dengan menilai, tapi tidak lancang, dia pun orang yang cukup peka dengan perubahan suasana hati seseorang. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa kami masih bisa berteman. “Kamu harusnya minta tolong Ma

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 98: Belajar Menghargai

    “Tumben banget traktir? Memangnya udah gajian? Atau baru dapet bonus?”Melihat wajah Tria yang berbinar-binar ketika aku mengajaknya lunch di hari berikutnya, membuatku ikut senang.Dia menenteng paper bag, dan setelah dibuka isinya adalah bekal yang dimasak sendiri tadi pagi.“Wah, nggak jadi dong kalau gitu.”“Ih, jadi.” Tria menggerutu. “Kalau soal makan aku masih bisa nampung.” Dia menepuk perutnya lalu kami tertawa.Setelah makanan disajikan oleh pelayan yang berupa tomyum serta pangsit. Aku tidak menyia-nyiakan waktu.“Enak banget kayaknya kerja di sini ya, dekat dari stasiun. Mau ke mana-mana juga dekat, tempat makan banyak.” Aku melirik Tria seraya menyuap pangsitku sendiri. “Oh ya, loker yang kamu tawarin waktu itu masih ada?”Tria mengernyit. “Yang admin itu?”“Iya.”“Udah lama itu Mba, udah diisi fresh graduate sama anak magang. Kenapa tiba-tiba nanyain loker? Memangnya kerjaan yang sekarang

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 97: Tahu Diri

    “Aku penasaran siapa sebenarnya yang ngirim foto-foto kayak gitu ke HRD maksud aku, kayak kurang kerjaan banget gitu loh.” Adisty mengomel panjang lebar ketika kami memilih melipir ke kantin untuk makan siang. Meski badanku lemas, tapi aku berusaha memberi tubuhku asupan. “Berarti ada orang yang diam-diam ngikutin kita sampai ke hotel, Mba!”Plot twistnya adalah, aku dituduh jadi pelakor di hubungan Nata dan Calista.Maksudnya, aku mengantri makanan yang sedang viral saja mager, apalagi bersaing dengan orang seperti Calista.Baiklah, aku akui, aku salah. Apa yang kulakukan dengan Nata selama di Bandung itu berlebihan, terutama dengan status Nata yang sudah bersama dengan Calista. Tapi di sisi lain, aku percaya pada Nata, kalau dia bilang bahwa mereka tidak bertunangan, maka itulah faktanya.Lagipula setelah kejadian itu, aku berusaha keras menghindar. Meredam perasaan yang pula kurasakan sejak ciuman terakhir kami. Bahkan Salsa

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 96: Peringatan Pertama

    Aku berusaha tetap tenang, menyalakan PC, mengecek email, mengecek jadwal meski sebenarnya konsentrasiku buyar.Punggungku dingin, tapi seluruh tubuhku terasa panas. Tuduhan Wenda sangat mengerikan, dan bagaimana dia bisa menyimpulkan aku bersama Nata?“Tolong jangan ribut, malu. Urusan kayak gini sebaiknya nggak dibahas di kantor.” Sebagai yang paling dewasa, Gilman berusaha keras agar ruangan kondusif.Namun Wenda masih saja merepet panjang lebar di mejanya. Aku ingin menyanggah namun tidak lama Calista masuk ke ruangan. Dia tampak rapi hari ini, tidak ada lagi penyangga di lengan. Wajahnya pun kelihatan lebih cerah. Tubuhnya lebih ramping tapi itu malah membuat penampilannya stunning.Dia melirikku saat melintas, dan langsung memasang wajah lelah.“Aku nggak nyangka kalau kamu selicik ini,” bisiknya ketika melewati mejaku.Hidungku mengerut.Berbagai pikiran buruk berkecamuk, pekerjaanku jadi berantakan. Aku kesulitan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status