Se connecter"Tidurnya normal, dia juga nggak susah makan, belajarnya lancar, sebenarnya apa yang kamu permasalahkan?" Suara berat Nata terdengar tidak ramah saat pagi-pagi sekali kuhubungi.
"Aku udah punya list makanan yang harus dimakan Salsa," balasku menggigit bibir sambil mondar-mandir. "Di mana?" tanyanya ketus. "Ada di tas bekal dia." "Aku nggak lihat apapun." Dari seberang panggilan terdengar seperti Nata sedang mencoba membuka sesuatu. Tuh, kan. Dia memang tidak mendengarkan, bahkan baru memeriksa tas Salsa sekarang. Jadi sepanjang kemarin apa saja sebenarnya yang Nata lakukan? "Adaa," jawabku bersikukuh, mulai gemas. "Nggak mungkin tiba-tiba hilang, atau mungkin aku selipin di tas pelajaran, coba kamu periksa semua." Nata mengeram rendah. "Ceroboh. Kamu yang lupa kenapa aku yang disalahin? Kirim via WA saja." Tenggorokanku terasa tercekat, kesal. Setiap kali bicara selalu begini, dan ujung-ujungnya aku yang salah. "Aku cuma minta tolong...," sahutku sabar. "Dan jujur aku kurang suka kalau kamu bawa Salsa kenalan dengan wanita lain tanpa seizin aku, ibunya." Nah, akhirnya keluar juga apa yang menjadi ganjalan di hatiku. Nata terdiam sebentar sebelum menyahut. "Ah, jadi itu masalahnya?" tanyanya sinis. "Jadi ini bukan soal makanan? Tapi siapa yang ngasih makan, begitu kan, maksud kamu?" Hidungku kembang kempis, tapi aku menahan gemetar di tangan. "Selama ini aku nggak pernah sibuk ngurusin hidup kamu, tapi kamu keberatan sama kehidupan aku, Lula?" tanyanya tajam. "Nata, kita udah sepakat, kalau salah satu dari kita punya pasangan, harus dikenalkan baik-baik dengan Salsa. Apalagi kalau mau menikah. Tapi kamu malah membiarkan putri kita untuk diasuh sama Calista, sebagai ibunya aku berhak ngerasa keberatan." "Harusnya kamu terima kasih sama dia karena disela kesibukan, Calista masih menyempatkan untuk menjaga Salsa." "Terus di mana Sus Dara? Kenapa kamu kayak nggak peduli sama Salsa?" "Memangnya kamu sendiri peduli?" baliknya tidak kalah sengit. "Kamu minta waktu izin untuk interview, tapi kamu butuh seminggu, sementara interview nggak sampai dua jam. Jadi apa yang kamu lakukan setelahnya? Kenapa kamu butuh waktu selama itu?" Aku tercengang. Mulutku membuka seperti akan menjawab, tetapi tidak ada yang keluar. Apa Nata tidak percaya padaku? Aku juga perlu memasukkan lamaran ke perusahaan lain sebagai backup kalau-kalau di perusahaan tempatnya bekerja tidak diterima! "Setidaknya aku masih menjaga kesopanan di depan Salsa untuk nggak memperlihatkan kemesraan kami. Apa itu cukup bikin kamu tenang?" tanyanya tajam. "Kalau nggak ada yang mau dibicarakan lagi, aku tutup ini." Dan sambungan langsung dimatikan. Nata sama sekali tidak membantah bahwa dia akan menikah. Enam bulan setelah bercerai. Aku harusnya tidak terkejut, hanya selama itu dia mampu menahan diri sebelum akhirnya dengan mudah menemukan pasangan lagi. Sialan. Dengan gontai aku ke kamar mandi dan membersihkan diri, mengambil setelan pakaian yang paling rapi. Berusaha menghibur diri bahwa roda selalu berputar dan kesulitan-kesulitan yang aku alami pasti akan berakhir. Keluar dari kamar kosan membawa puluhan map cokelat lamaran untuk diedarkan, suara cempreng yang kukenal betul terdengar menyapa. "Udah dapet kerjaan kamu?" Aku segera memutar kunci, memastikan kamarku benar-benar sudah tertutup rapat sebelum menghadapi beliau. "Belum Bi, masih nyari-nyari," jawabku meringis kecut pada Bibi Elsi, adik kandung Almarhum Papa. "Oh, lama juga ya nganggur, ketuaan, kalau kata orang udah habis umur." Aku hanya pringas-pringis, selain hubungan keluarga, beliau adalah pemilik kosan tempatku tinggal. Jadi aku enggan bersikap kurang ajar. "Coba kemarin kamu terima aja lamaran dari Pak Regan pasti kamu sekarang nggak terluntang-lantung kayak gini Lul," omelnya melanjutkan. "Pak Regan walaupun sudah berumur tapi bertanggung jawab. Cocok lah, sama kamu yang mandul karena nggak mungkin dia nuntut punya anak lagi." Astaga. Aku nyaris mengelus dada mendengar perkataannya yang pedas. "Aku bukan mandul Bi, tapi rahim aku sudah diangkat karena ada masalah–" "Sama aja," potongnya mengibaskan tangan. "Intinya kamu itu udah nggak sempurna sebagai perempuan. Jangan terlalu pilih-pilih Lul, yang penting kamu bisa ngasih sosok Papa untuk Salsa, dan bisa menghidupi kalian berdua." "Salsa udah ada Papanya kok Bi, Bibi nggak perlu khawatir dia kekurangan." "Yakin kamu Papanya mau ngurusin terus?" sahutnya dengan satu alis mencuat naik. "Kalau udah menikah lagi dan berkeluarga terus punya anak dari istri barunya, yakin Salsa masih jadi prioritas? Jangan terlalu naif gitu Lul, laki-laki kalau udah cerai ya balik jadi bujangan lagi, mana peduli dia sama anak-anak dari mantan istrinya." Aku menghela nafas panjang. Bicara memang gratis, tapi enteng sekali dia menganggapku sebagai barang bekas yang tidak berharga dan berhak diobral. Meskipun aku janda dan tidak akan bisa memiliki keturunan lagi, tapi bukan berarti dia bisa menjodohkan aku dengan pria random yang bahkan aku tidak tahu asal-usulnya. Rasanya ada emosi yang siap meledak setiap kali berhadapan dengan Bibi Elsi. Hanya karena aku ngekos di rumahnya, dia selalu menganggap aku sebagai beban yang harus disingkirkan. Padahal aku di sini bayar dan tidak pernah sekalipun meminta keringanan! "Capek juga Bibi nasehatin kamu ini, bebal, terlalu jual mahal kamu Lul," katanya berdecak remeh. "Harusnya kamu bersyukur masih ada laki-laki yang mau sama kamu. Nanti jadi janda tua sendirian baru tau rasa." Biarlah aku jadi janda tua, sendirian, bahkan kesepian asalkan aku tidak merendahkan diriku sendiri dengan menikah karena tuntutan sosial. Lagipula perempuan tidak akan mati hanya karena tidak memiliki suami, tapi justru perempuan bisa mati kalau salah memilih suami. "Ya udah, aku juga masih ada urusan," jawabku sabar. "Permisi, Bi." ***(Warning 21+)Jam digital menunjukkan pukul dua belas malam. Konser sudah selesai beberapa jam lalu, tapi kendaraan kami baru bisa keluar karena macet.Di luar hujan. Musim dingin sepertinya akan tiba, aku memandang keluar jendela. Setelah keramaian konser, sepinya mobil membuat suasana entah bagaimana terasa canggung.Nata sebenarnya memintaku untuk tidur, tetapi anehnya mataku justru terang, sama sekali tidak mengantuk. Nata berkonsentrasi menyetir, ketika aku meliriknya, Nata pun sedang melirikku, lalu aku buru-buru menunduk. Menatap layar ponsel, berpura-pura mengecek sesuatu untuk mengatasi gugup.Jantungku berdentum keras.Aku menarik botol minum di dasbor, di saat yang sama, Nata pun menariknya. Tangan kami bersentuhan, aku segera menarik jemariku, seakan sentuhan singkat itu membuat kulitku terbakar.Nata tetap mengambilnya, membuka tutupnya kemudian dioper padaku. Kenapa aku bertingkah layaknya anak r
Pernikahan kami baru saja dilaksanakan sesuai jadwal. Di awal bulan Oktober setelah semua dokumen lengkap.Aku menggunakan gaun sederhana dengan potongan mermaid yang terbuat dari kain silk, sementara Nata menggunakan jas cokelat rapi.Ijab kabul begitu khidmat dihadiri oleh keluarga besar kami. Ada Mama, Papa, Salsa, Sus Dara, serta Tria dari pihakku, aku pun mengundang Bibi Elsi meskipun dia tidak hadir. Lalu Nata juga mengundang dua orang koleganya sebagai saksi. Total hanya ada sekitar sepuluh orang yang menyaksikan akad. Sudah termasuk saksi dan wali nikah.Setelah prosesi singkat yang khidmat itu, kami melanjutkan acara makan- makan di sebuah restoran. Kali ini, kami mengundang tamu lebih banyak. Kurang lebih ada sekitar lima puluh orang. Semuanya hanya keluarga inti, teman, dan sahabat yang benar-benar dekat.“Jangan tanya yang nggak ada,” cetus Nata ketika aku memanjangkan leher dan kedapatan mencari seseorang. Aku mendengkus kecil. “Aku s
Lula terjatuh dan mendesah.Sementara gue menempelkan tubuh kami, memastikan dia tahu seberapa besar gue menginginkannya saat ini.“Nata,” sebutnya mengerang, menyentuh kedua rahang gue, menahan gue supaya tidak menunduk dan melahapnya.“Sebentar Nata, Salsa di luar.”Pelipis gue berkedut.“Sus Dara juga nunggu kita,” bisiknya parau dengan napas terengah.Gue memandang Lula yang kini di bawah kurungan tubuh gue. Melihat bagaimana pakaiannya yang sudah tersingkap, memamerkan kulitnya yang pucat, BH-nya terlepas dan payudaranya tampak terpapar dengan puncaknya yang kemerah-merahan dan mencuat.Sementara itu, bibir Lula tampak membengkak akibat ulah gue, dan lipstiknya sudah berantakan.Lula menggigit bibir. “Aku... mau...” Dia mengakui dengan malu-malu. Namun tangannya perlahan mengaitkan kembali BH-nya kemudian menarik blusnya turun, menutup dirinya sendiri. Lula beringsut duduk, memaksa gue akhirnya untuk bangki
(Nata’s Pov)Istri gue cantik banget.Dia sedang dandan di meja rias ketika gue keluar dari kamar mandi. Aromanya harum sekali, menguar di udara, mengelilingi indera penciuman gue.Sambil berjalan mendekat, gue kemudian menunduk, mengendus-endus kepalanya, sebelum tenggelam di lehernya dan mengecupnya di sana.Brengsek, gue tegang.“Mau ke mana?” tanya gue serak.“Nganter Salsa sekolah,” jawabnya santai, menggeliat sedikit karena geli. Namun dia mengusap rahang gue sejenak sebelum menyimpan bedaknya ke dalam laci dan mengambil lipstik.Gue mendongak, wajah gue langsung defensif. “Kamu mau apa, La?” "Loh, kok mau apa sih, Nata?” sahutnya dramatis, memandang gue dari pantulan cermin. “Aku mau nganter Salsa masa nggak boleh? Kegiatan aku biasanya kalau di kosan juga gini.”Tapi gue tau ini bukan cuma sekadar dia ingin mengantar Salsa, melainkan tentang pembicaraan kami kemarin.Disadari atau engg
“Tanya apa Salsa?” Aku menggunakan nada suara paling lembut yang kubisa.Salsa bahkan tidak berpikir ketika menjawab. “Banyak Mama, Miss tanya Papa kapan nikahnya, Miss diundang nggak? Terus tanya Mama juga.”“Oh ya?”“Miss itu suka sama Papa loh, Mama.”Kepalaku berputar, benar-benar nyaris berbalik dengan mata melotot ke arah Nata. Pria itu mendelik. “Aku—”“Diam.” Aku segera menempelkan telunjuk di bibir, kemudian tersenyum dipaksakan dari balik gigi yang terkatup rapat pada Salsa dengan nada yang dilembut-lembutkan. “Gimana sayang?”"Iya, soalnya kalau mau pulang Miss suka nanya, Salsa dijemput siapa? Kalau sama Sus, Miss biasa aja. Tapi kalau dijemput Papa. Miss langsung pakai bedak kayak Mama kemarin, terus bibirnya dimerah-merahin.”Astaga.Ini terasa tidak benar.Aku menatap Nata dengan mata melotot meminta penjelasan, Nata mendesah. “Aku nggak tau,” katanya segera membela diri dan men
Verifikasi passcode pintu unit berhasil. Aku langsung mendorongnya kasar, melempar tas ke samping, kemudian berlari mencari Nata, menemukan pria itu di kitchen. Aku memeluk pinggangnya dari belakang. Lenganku yang mungil merengkuhnya, pipiku bersandar di punggungnya yang lebar.Nata terkesiap, langsung ingin membalikkan tubuh, namun saat sadar bahwa itu aku, dia bergeming.Ada kekeh pelan yang dia lemparkan.Oh, nyaman sekali. Tubuhnya yang berbalut sweater tebal sangat wangi. Aku sampai menggesekkan ujung hidungku ke tulang belikatnya, menghidu aromanya sambil memejamkan mata. “Lula?” panggilnya lembut. Meremas tanganku yang berada di pinggangnya. “Kamu kenapa? Ada masalah?”Hei, nggak setiap pelukan tandanya sedang ada masalah ya, Bapak. Aku hanya ingin bermanja-manja. Menikmati masa-masa tenang setelah semua badai yang berputar-putar tanpa henti.Kugelengkan kepala di punggungnya agar Nata bisa merasakan. “Empuk, nggak pa-pa







