LOGIN
Langit sore di Sekte Awan Biru.
Ratusan murid berdiri mengelilingi arena batu, sebagian dengan ekspresi dingin, sebagian lagi tersenyum mengejek. Di tengah arena, seorang pemuda berlutut dengan napas terengah-engah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, menetes ke lantai batu yang dingin. Namanya Lin Yuan “Murid tanpa akar spiritual tetap saja murid tanpa akar,” suara seorang pemuda terdengar lantang dari atas arena. “Berapa tahun kau berlatih pun, hasilnya pasti tetap nol.” Suara tawa kecil terdengar di antara para murid. Lin Yuan mengepalkan tangannya. Kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, namun rasa sakit itu jauh lebih ringan dibandingkan rasa hina yang telah ia telan selama sepuluh tahun terakhir. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun bergabung dengan Sekte Awan Biru. Sepuluh tahun bermeditasi lebih lama dari siapa pun. Sepuluh tahun mencoba mengimbangi para murid berbakat. Namun hasilnya tetap sama. Tanpa akar spiritual. Tanpa masa depan. “Lin Yuan,” Tetua Aula Bela Diri berdiri dari kursinya. Suaranya dingin dan datar. “Kau menantang murid inti dalam duel hidup dan mati. Apakah kau menyesal?” Lin Yuan mengangkat kepalanya. Matanya hitam legam, dalam, dan tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang akan mati. “Tidak,” jawabnya pelan. Ia tahu. Duel ini tidak adil sejak awal. Murid inti itu sudah berada di Tingkat Penyempurnaan Qi lapis ketujuh. Sementara Lin Yuan… bahkan tidak diakui memiliki tingkat kultivasi. Namun ia tetap menantang. Karena jika ia tidak melakukannya, hidupnya juga akan berakhir perlahan-lahan sebagai sampah yang dilupakan. “Baik,” kata tetua itu. “Lanjutkan.” Murid inti itu tersenyum. Dalam sekejap, sosoknya menghilang. Bang! Sebuah tendangan menghantam dada Lin Yuan. Tulang retak terdengar jelas. Tubuhnya terlempar, menghantam pilar batu di pinggir arena. Darah muncrat. Lin Yuan merasakan organ dalamnya hancur. Napasnya tersendat-sendat.Dunia di sekelilingnya berputar. “Sudah cukup,” murid inti itu berkata dingin. “Mati saja kau.” Energi qi berkumpul di telapak tangannya—padat, tajam, dan mematikan. Lin Yuan memejamkan mata. Jadi… sampai di sini saja. Namun tepat saat telapak itu hendak menghantam kepalanya. DING! Sebuah suara asing bergema di dalam kesadarannya. 【Kondisi: Kematian Terdeteksi】 【Memenuhi syarat aktivasi】 【Sistem Seribu Tingkat Diaktifkan】 Lin Yuan membeku. Apa…? 【Pemilik terkonfirmasi: Lin Yuan】 【Status: Murid tanpa akar spiritual】 【Evaluasi: Fondasi rusak – Dapat diperbaiki】 Sebuah layar transparan berwarna biru pucat muncul di hadapannya. Ia hampir mengira ini halusinasi menjelang kematiannya. 【Fungsi Utama Tersedia】 【Satu Klik → Naik Seribu Tingkat】 Apakah Anda ingin mengaktifkan klik pertama? 【YA】 / 【TIDAK】 Waktu seolah berhenti. Telapak tangan musuhnya masih di udara. Sorakan penonton masih menggantung di kejauhan. Lin Yuan tertawa kecil dalam hati. Jika ini ilusi… maka biarlah aku mati sambil mencobanya. Dengan sisa kesadarannya, ia memilih— 【YA】 Rasa sakit yang luar biasa menghantam tubuhnya, jauh lebih parah dari tulang patah. Seolah setiap sel dihancurkan, lalu disusun ulang. Meridian yang selama ini tertutup dipaksa terbuka. Tulang-tulangnya bergetar, darahnya mendidih. Namun di balik rasa sakit itu… ada sesuatu yang lain. Kekuatan. 【Klik Pertama Berhasil】 【Naik 1.000 Tingkat Mikro】 【Fondasi Tubuh: Diperbaiki】 【Qi: Dimurnikan】 【Jiwa: Diperkuat】 Aura tak terlihat meledak dari tubuh Lin Yuan. BOOM! Tekanan kuat itu memaksa murid inti itu terpental mundur. Wajahnya berubah menjadi pucat. “A-apa—?!” Lin Yuan membuka matanya. Pandangan dunianya berbeda. Ia bisa merasakan aliran energi di udara, denyut kehidupan setiap orang di sekelilingnya. Tubuhnya terasa ringan—namun penuh dengan daya ledak. Ia berdiri perlahan tanpa satu luka pun tersisa di tubuhnya. Seluruh arena menjadi sunyi. Tetua Aula berdiri mendadak dan matanya membelalak. “Aura ini… bukan murid tanpa kultivasi!” Semua mata tertuju pada Lin Yuan—pemuda yang beberapa napas lalu sedang sekarat, kini berdiri tegak seolah tidak pernah terluka. Pakaian luarnya masih sobek dan bernoda darah, namun tubuh di baliknya memancarkan tekanan halus yang membuat kulit para murid lain merinding. Murid inti itu menelan ludah. “Ini… trik apa ini?” suaranya bergetar. “Kau jelas tidak punya akar spiritual!” Lin Yuan tidak langsung menjawab. Ia sedang menyesuaikan dirinya, sekarang ia bisa merasakan tubuhnya di penuhi dengan kekuatan. Bukan sekadar kuat—melainkan terstruktur. Setiap tulangnya terasa padat, setiap otot terjalin rapi, dan aliran energi hangat mengalir bebas di dalam meridiannya. Tidak liar. Tidak kacau. Seolah tubuh ini… memang sejak awal diciptakan untuk kultivasi. 【Analisis Tubuh】 Status: Fondasi Mortal – Disempurnakan Kapasitas Qi: 97% (Normal murid: 12–18%) Stabilitas: Sempurna Lin Yuan menghela napas perlahan. Jadi ini bedanya… Selama ini, ia seperti menuangkan air ke dalam wadah retak. Sekeras apa pun ia berusaha, hasilnya selalu bocor. Tapi sekarang—wadah itu telah diperbaiki. Tidak. Bukan diperbaiki tapi telah disempurnakan. “Kau masih ingin melanjutkan?” tanya Lin Yuan, menatap lawannya dengan tenang. Nada suaranya tidak sombong dan tidak menantang. Justru itu yang membuat murid inti tersebut semakin takut. “Aku—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tekanan aura Lin Yuan sedikit dilepaskan. Wuuung— Udara di arena bergetar. Batu di lantai arena retak halus. Beberapa murid di barisan belakang tanpa sadar mundur satu langkah. “Tekanan qi murni?” salah satu tetua berbisik kaget. “Tidak… ini bahkan belum qi sejati. Ini tekanan fondasi tubuh!” Tetua Aula Bela Diri mengerutkan kening. Ia telah hidup ratusan tahun, namun belum pernah melihat fondasi seperti ini pada kultivator pemula. “Lin Yuan,” katanya dengan suara berat. “Jelaskan. Apa yang terjadi padamu?” Lin Yuan melirik ke arah tetua itu, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Tetua. Bahkan aku sendiri… baru mulai memahaminya.” Itu bukan kebohongan. Ia tahu satu hal dengan pasti: klik tadi telah mengubah segalanya. Murid inti itu menggertakkan giginya. Rasa takut yang ia alami tadi berubah menjadi rasa malu dan marah. “Apa pun yang kau lakukan,” katanya sambil meraung, “aku tidak akan kalah pada sampah sepertimu!” Qi meledak dari tubuhnya. Pedang panjangnya terhunus, memancarkan cahaya biru pucat. “Teknik Pedang Awan Retak!” Ia kembali menyerang . Gerakannya cepat—jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ini adalah teknik pamungkasnya, jurus yang pernah melukai murid inti lain. Namun di mata Lin Yuan—gerakannya lambat. Sangat lambat. Ia bisa melihat jalur pedang itu. Bisa merasakan arah aliran qi lawannya. Bahkan bisa menebak ke mana langkah berikutnya akan jatuh. Tanpa teknik. Tanpa jurus. Lin Yuan hanya melangkah ke samping. Swish! Pedang itu menyapu udara kosong. “Apa—?!” Lin Yuan mengangkat tangannya. Satu pukulan sederhana. BOOM! Udara meledak. Tinju itu tidak menyentuh tubuh lawan, namun gelombang kekuatannya menghantam dada murid inti tersebut seperti palu raksasa. Tubuhnya terpental jauh, menghantam dinding arena dengan keras. Retak! Pedangnya patah. Tulangnya hancur. Ia jatuh tak bergerak. Hidup… namun tidak lagi utuh. Arena kembali menjadi sunyi. Lin Yuan menatap tangannya, sedikit terkejut. “Aku… bahkan tidak menggunakan teknik.” 【Evaluasi】 Perbedaan kekuatan terlalu besar. Pertarungan dianggap tidak seimbang. Tetua Aula menarik napas panjang. Matanya menatap Lin Yuan dengan campuran kewaspadaan dan keterkejutan. “Mulai hari ini,” katanya perlahan, “statusmu di Sekte Awan Biru… perlu ditinjau ulang.” Lin Yuan mengangkat kepalanya. Di balik ketenangannya, dadanya bergetar. Ini baru fondasi. Baru satu klik. Ia melirik layar sistem yang kembali muncul samar. 【Pengingat】 Kekuatan ini hanyalah awal. Dunia yang lebih besar sedang menunggu. Lin Yuan mengepalkan tangannya. Dalam hati, ia berjanji— Jika satu klik bisa membawaku sejauh ini… maka aku akan melihat, sampai sejauh mana dunia ini bisa kuguncang.Langit Sekte Awan Biru tetap sama—bintang- bintang bertaburan, angin gunung bertiup pelan—namun Lin Yuan bisa merasakannya dengan jelas. Ada sesuatu yang berubah. Bukan di sekelilingnya, melainkan cara dunia merespons keberadaannya. Ia berjalan perlahan menuju kediamannya. Setiap langkah terasa sedikit… berat. Bukan karena kelelahan, melainkan karena resistensi halus. Seolah tanah, udara, dan qi di sekitarnya tidak lagi sepenuhnya menyambutnya. 【Analisis Pasif】 Tekanan Dunia: Sedang → Mendekati Tinggi (Fluktuatif) Kondisi: Dunia mulai melakukan penyesuaian pasif Lin Yuan berhenti. “Jadi ini rasanya,” gumamnya pelan. “Ditolak tanpa diserang.” Ia menarik napas dalam-dalam dan menahan seluruh auranya ke dalam tubuh. Tekanan itu sedikit berkurang, namun tidak menghilang sepenuhnya. Arena mempercepat segalanya, pikirnya. Ia baru saja mencapai peringkat dua belas murid inti—sesuatu yang seharusnya mustahil dalam waktu sesingkat itu. Dunia mungkin belum “mengerti” apa
Arena Peringkat Murid Inti terletak di sisi timur Sekte Awan Biru. Arena itu bukan arena biasa. Dindingnya terbuat dari batu hitam yang diperkuat dengan formasi penahan. Tanahnya menyerap benturan. Udara di atasnya dilapisi lapisan hukum yang menekan kekuatan berlebihan. Arena ini tidak dibuat untuk tontonan—melainkan untuk menguji batas sejati para murid inti. Sejak pagi, ratusan murid telah berkumpul di sekelilingnya. Bisik-bisik menyebar seperti angin. “Lin Yuan benar-benar akan turun ke arena.” “Katanya tetua sendiri yang mengizinkan.” “Apa dia akan langsung naik peringkat?” Di tribun khusus, beberapa tetua duduk diam, mata mereka sesekali melihat arena. “Dia datang,” kata salah satu tetua pelan. Lin Yuan melangkah masuk ke arena dengan langkah tenang. Tidak ada aura yang meledak. Tidak ada tekanan yang sengaja ia lepaskan. Namun setiap langkahnya terasa padat, seolah tanah di bawah kakinya menyesuaikan diri. Ia berdiri di tengah arena. Nama Lin Yuan munc
Malam hari turun perlahan di Sekte Awan Biru. Lampu-lampu batu roh menyala satu per satu, menerangi jalur-jalur batu yang berkelok di antara paviliun dan aula. Di permukaan, sekte terlihat tenang seperti biasa. Namun di balik ketenangan itu, arus bawah mulai bergerak. Di Aula Tetua. Tiga sosok duduk melingkar di atas bantalan giok. Api roh biru menyala di tengah ruangan, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu. Tetua Aula Bela Diri membuka mata lebih dulu. “Fluktuasi hukum siang tadi,” katanya pelan, “bukan berasal dari formasi sekte.” Tetua beralis putih mengangguk. “Aku merasakannya juga.
Langit di atas Sekte Awan Biru cerah tanpa awan. Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma dedaunan basah dan qi alami yang tipis namun murni. Lin Yuan berdiri di tepi tebing belakang sekte—tempat yang jarang didatangi murid. Dari sini, ia bisa melihat lautan awan di bawah, seolah dunia berada beberapa lapis lebih rendah darinya. Tempat ini sunyi. Dan kesunyian adalah yang ia butuhkan. Ujian formasi kemarin telah mengukuhkan satu hal: fondasinya kini stabil. Tubuh, energi, dan kehendaknya telah mencapai keseimbangan yang jarang dimiliki kultivator seusianya. Namun sistem tidak diam. Sejak fajar, perasaan aneh terus menggelayuti dirinya—seperti dunia yang sedang mengamati. Lin Yuan duduk bersila di atas batu datar. Ia menenangkan napasnya, menutup mata, dan memanggil sistem. Layar biru pucat muncul dengan tenang. 【Status Pengguna: Lin Yuan】 Fondasi: Mantap Tahap Efektif: Pembentukan Dasar Awal (Stabil) Tekanan Dunia: Rendah–Sedang Klik Tersedia: 1 Rekomendasi
Fajar baru saja menyingsing ketika lonceng sekte berbunyi tiga kali. Suara itu menggema ke seluruh Sekte Awan Biru—bukan sebagai panggilan rutin, melainkan penanda ujian internal. Para murid berhenti berlatih. Para tetua membuka mata dari meditasi. Semua tahu, hari ini bukan hari biasa. Di pelataran Formasi Penguji, ratusan murid telah berkumpul. Formasi itu terletak di jantung sekte—sebuah lingkaran batu raksasa yang dipenuhi pola rune kuno. Setiap guratan mengandung hukum penilaian, tekanan energi, dan ilusi batin. Ia tidak mengukur seberapa besar ledakan qi seseorang, melainkan seberapa kuat fondasi sejatinya. Dan itulah yang paling ditakuti oleh para kultivator. Lin Yuan berdiri di barisan paling depan. Statusnya kini berbeda. Jubah murid luar telah diganti dengan jubah abu-abu gelap—tanda murid inti percobaan. Banyak tatapan yang tertuju padanya. Ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang menyembunyikan niat buruk. “Dia benar-benar naik status…” “Apakah kemarin hany
Keheningan di arena bertahan jauh lebih lama dari yang seharusnya. Bau darah, debu batu, dan sisa aura benturan masih menggantung di udara. Murid inti yang sebelumnya begitu angkuh kini tergeletak tak bergerak di kaki dinding arena, dadanya naik turun dengan susah payah. Pedang patahnya berserakan seperti simbol kehancuran harga diri. Tak satu pun murid berani bersuara. Semua mata tertuju pada satu orang. Lin Yuan. Pemuda yang selama ini mereka ejek sebagai murid sampah kini berdiri di tengah arena dengan ekspresi tenang. Tidak ada kesombongan. Tidak ada kepuasan berlebihan. Seolah apa yang baru saja terjadi…







