LOGINThaïs n’était qu’une sculptrice qui voulait immortaliser la beauté dans le marbre. Mais lorsque son père la vendit pour rembourser une dette de jeu au célèbre clan mafieux Amaury, son destin bascula. Amaury est aveugle, froid, et trahi par son propre sang. Il a besoin d’une épouse comme façade politique, quelqu’un qui puisse devenir ses « yeux » en public afin que son trône mafieux ne soit pas renversé. Thaïs pensait avoir épousé un monstre faible… jusqu’à ce qu’elle réalise une chose : Amaury voit davantage avec ses oreilles que les autres avec leurs yeux. Et derrière ces bandages se cache un plan de vengeance capable d’embraser toute la ville.
View More"Berhenti natap aku kayak gitu."
Namira terlonjak di tempat. Kedua bola matanya mengerling ke kanan dan ke kiri. Mencoba menghindari tatapan pria yang kini sudah membuka mata sepenuhnya. Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi, Namira melakukan hal itu, memandangi sang suami yang tengah tertidur. Tampan dan menawan. Itu jawaban yang selalu ia sematkan setiap Arhan bertanya. Ah, rasanya ia tak ingin membiarkan sang suami untuk pergi keluar rumah. Ia ingin menikmati ketampanannya seorang diri. "Hei!" tegur Arhan disela lamunannya. Namira kembali terlonjak kaget. Namun tak lama ia mengulas senyum manis. "Ayo, bangun. Hari ini Mas ada rapat di kantor." "Tau banget, ya, jadwal suami sendiri." Arhan mencubit hidung Namira, sesekali menggoyangkannya perlahan karena gemas. Sedangkan Namira hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia membenarkan posisi duduknya, hendak turun dari ranjang untuk menyiapkan pakaian dan sarapan untuk sang suami. Belum kakinya menginjak lantai marmer, Arhan berhasil mencuri satu kecupan di bibir dengan secepat kilat. "Sarapan pagiku," ujarnya cepat setelah berdiri tepat di sisi ranjang. Mengantisipasi respon sang istri yang mungkin saja akan memukulnya. Namira melongo, kemudian bibirnya cemberut menatap sedih sang suami. "Eh? Kenapa, Ay?" Arhan segera menghampiri Namira dengan mata yang mengikuti gerak langkahnya. "Kenapa cuman kecupan?" Pertanyaan Namira berhasil membuat Arhan salah tingkah. Ia mengulum bibirnya malu-malu. Bagaimana bisa istrinya mengatakan hal semacam itu? Akan tetapi, seketika pandangannya berubah buas di mata Namira. Tubuh bagian atas pun condong ke depan dalam hitungan detik. "Kalau begitu, apa pagi ini kita akan bercumbu mesra hingga malam menjelang?" Namira mendorong dada Arhan dengan kedua tangan untuk menjauh. "Maaf, Tuan. Sepertinya pagi ini tidak bisa terlaksana, sebab ada bocah kecil yang sedang menyaksikan kita saat ini." Penuturan Namira persis seperti para pekerja yang diharuskan bersikap sopan dan santun dengan senyum yang harus selalu terpatri. Penolakan secara halus dengan menjelaskan situasi dan kondisinya pagi ini cukup membuat Arhan kesal. Terlebih kenyataan ia yang kini sudah memiliki anak laki-laki berusia satu tahun. Sialnya, benar saja apa yang dikatakan sang istri, bayi itu tengah mengamati mereka yang duduk di sisi ranjang. "Ay. Boleh gak, sih, dia dititipin dulu di rumah Ibu?" Kini Arhan merengek seraya menunjuk anak laki-lakinya yang tengah berdiri di sisi ranjang bayi. "Kayaknya, sih, Ibu bakal seneng, ya. Tapi ...," "Tapi apa?" Arhan tidak sabaran ingin mengetahui kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan sang istri. "Akunya yang gak mau." Namira tersenyum seolah tak ada yang serius dari hal itu. Ia berjalan mendekat ke arah anak laki-lakinya bernama Elio. "Ayo, Nak." Namira membawa Elio keluar dari kamar yang kini tengah penuh dengan segala amarah dan kekesalan yang menumpuk di dada pria terkasihnya. Sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Arhan, Namira menyembulkan kepalanya di daun pintu. "Aku tunggu di bawah, ya, Sayang. Inget hari ini kamu ada rapat, loh. Jadi jangan lama-lama di kamar mandinya." Berbeda dengan Namira yang berucap santai, Arhan justru menatap sengit wanita itu juga anak kecil di pangkuannya. --- Namira tersenyum kala aroma parfum suaminya sudah menguar menusuk hidung. Sorot matanya menangkap sosok tinggi atletis yang turun sembari mengancingkan lengan baju. Tak lupa jas yang tersampir di bahu. "Kayaknya aku gak sempet sarapan, deh, Ay." Ungkapan penyesalan yang sudah pasti mendapat respon sedih dari sang istri. Ia mencium dahi Namira dengan satu tangan bertengger di pinggang ramping wanita itu. "Maaf." "Kenapa?" Namira melirik jarum jam yang berdetak di dinding. "Masih sempat, kok, Mas." "Kliennya udah dateng katanya." Namira mengembuskan napasnya lelah. "Yaudah, deh. Ini kamu bekal aja, ya." Arhan mengangguk di bahu Namira. Saat ini posisinya tengah memeluk Namira dari belakang. "Maaf, ya, Ay. Tapi ini ...," Namira menengokkan kepalanya ke samping. Lagi, ia mengembuskan napas kala netranya menangkap kain panjang yang harus disimpul di leher. "Kalau gak ada aku, kamu bisa apa, sih, Mas?" Arhan menukik alisnya menatap Namira yang tengah fokus menyimpulkan dasi. "Emangnya kamu mau ke mana, Ay? Gak bakal aku izinin kamu pergi-pergian kalau gitu." "Kenapa?" "Takut kamu kabur." Namira mengulas senyum di sela kesibukan tangannya. Ia tak lagi menimpali ucapan Arhan yang kini tengah mengajak bicara Elio di kursi makan bayinya. "Oh iya, Ay. Kalau kamu mau ke kantor, agak siangan aja, ya." "Kenapa?" "Takutnya aku masih rapat sama klien. Kasian kamu kalau harus nunggu lama." Akhir-akhir ini Namira sering mengunjungi atau sekedar ingin makan siang bersama dengan sang suami. Entah apa alasannya. Tapi, meskipun begitu, Arhan senang karena waktu bertemu istri dan anaknya semakin banyak dengan inisiatif Namira yang repot-repot datang ke kantor. Wanita yang memiliki rambut panjang sebahu dengan menyanggulnya sembarang itu mengangguk. Tak ada lagi suara yang keluar. Tangan dan matanya masih fokus pada dasi yang hampir selesai. Arhan yang mengamati ekspresi Namira merasa bersalah karena pasti alasannya yaitu mereka tak bisa sarapan bersama di meja makan. Padahal sang istri sudah menyiapkan beberapa lauk yang akan menemani sarapan kali ini. Tidak hanya itu, Arhan juga memikirkan segala kemungkinan lain. Namira termasuk wanita yang selalu overthinking. Apakah kali ini Namira tengah memikirkan banyak hal tentang sesuatu yang baru saja ia ucapkan? Terlihat dari gerak-gerik Namira yang terkesan cuek. Saat ini ia tengah sibuk menyuapi Elio yang sudah mulai makan bubur bayi. "Ay," panggil Arhan lirih. "Apa?" "Liat aku dulu," pinta Arhan. Mengais fokus sang istri. Mata mereka beradu tatap. Tidak ada yang berbicara, Arhan sibuk mengamati ekspresi Namira yang kini pandangannya telah berpaling. "Gak ada apa-apa, Ay. Ini aku murni karena takut kamu bosen nunggu akunya lama. Jangan mikir yang aneh-aneh." Arhan mendekat, ia mengusap pucuk kepala Namira berulang. "Aku tau, banyak kekhawatiran dalam diri kamu. Tapi gak ada yang perlu kamu khawatirkan. Kita udah nikah bahkan udah punya Elio. Aku mohon percaya sama aku."POV DE THAÏSLa pâle lumière de l’aube parisienne s’infiltre à travers les rideaux de velours gris, illuminant les particules de poussière qui dansent au-dessus du parquet en chêne.Je me réveille avec une douleur inhabituelle, une pulsation sourde dans le bas de mon corps et dans mon dos, souvenir de l’intensité de la nuit passée.Je suis enveloppée dans des draps de soie froide, mais une odeur masculine s’est imprégnée sur ma peau, comme si Amaury avait marqué chacun de mes pores.À côté de moi, Amaury dort encore. Sans le bandeau de soie noire qui recouvre habituellement son visage, il paraît… humain.Je pose mon menton sur ma main et l’observe. Les cicatrices autour de ses yeux n’enlèvent rien à sa beauté ; au contraire, elles lui donnent une dureté presque sculpturale, comme une statue de guerrier antique remontée des profondeurs de la Méditerranée.Je me lève lentement, veillant à ne faire aucun bruit, et enfile un peignoir de satin léger qui dévoile la ligne de mon cou.Mes pen
POV de AMAURYLa porte de la chambre principale se referme dans un déclic métallique définitif. Dans cette pièce, il n’y a que moi, mon obscurité, et le parfum de jasmin qui se mêle désormais à l’odeur de peur et de désir contenu de ma nouvelle épouse.J’enlève ma veste de smoking et la laisse tomber au sol. J’entends le froissement de la robe de soie de Thaïs lorsqu’elle s’éloigne de moi. Elle se tient près de la fenêtre — je le sais au murmure du vent qui s’y engouffre.« Tu n’as pas à avoir peur, Thaïs, » dis-je d’une voix grave et rauque. « Je ne vais pas te dévorer… à moins que tu ne le demandes. »« Ne sois pas arrogant, Amaury, » réplique-t-elle sèchement. « Je n’ai pas peur de toi. Je suis seulement écœurée par la façon dont vous, les mafieux, traitez les femmes comme des trophées. »Je souris en coin en desserrant mon nœud papillon.« Un trophée ? Non. Tu vaux bien plus que ça. Tu es un investissement. Et ce soir, je veux voir le rendement de mon investissement. »Je fais un
POV DE THAÏSCette robe minimaliste qui épouse mon corps avec tant de rigidité me coupe presque la respiration. Cette robe… on dirait la main d’Amaury revendiquant chaque centimètre de ma peau.Je me tiens devant le grand miroir de la loge du château, fixant mon propre reflet. Mon visage est pâle, contrastant violemment avec le rouge sang du rouge à lèvres que la servante, Clotilde, m’a imposé.« Vous êtes très belle, Mademoiselle, » murmure Clotilde, les mains tremblantes en ajustant mes cheveux.« Ne mens pas, Clotilde, » répondis-je d’une voix plate. « J’ai l’air d’une offrande sacrificielle. »La porte s’ouvre. Odilon, le garde du corps gigantesque d’Amaury, apparaît avec un visage impassible.« C’est l’heure, Mademoiselle. Monsieur Amaury vous attend à la chapelle. »Je prends une profonde inspiration, sentant l’oppression dans ma poitrine. Je sors et traverse les longs couloirs froids du château, en direction de la chapelle privée du clan Montfort. Elle est située sous terre, co
POV de AMAURYL’obscurité n’est plus mon ennemie. Elle est devenue ma seconde peau.Pour mes yeux, le monde n’est qu’une toile noire infinie, mais pour mes oreilles, il est une symphonie de secrets.J’entends le battement de cœur du garde devant la porte, irrégulier — il est nerveux. J’entends le froissement délicat de la soie du domestique qui tremble en déposant un verre de whisky à côté de moi.Je déteste être pris en pitié, mais je déteste encore plus paraître faible.Un bandeau de soie noire enveloppe mes yeux, dissimulant les brûlures et les péchés que j’ai récoltés à Marseille le mois dernier. L’explosion aurait dû me tuer, mais Dieu a choisi de me laisser vivre dans une obscurité permanente.« Monsieur, » la voix de Cyprien, mon consigliere, brise le silence. « Elle est arrivée. »Je bois une gorgée de whisky. Le liquide ambré brûle ma gorge, me donnant une illusion de contrôle.« Combien de temps a-t-elle pleuré dans la voiture ? »« Elle n’a pas pleuré, Monsieur Amaury. Elle
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.