LOGINBegitu hidangan tersaji di atas meja, Geza langsung membuka kotak makan tanpa banyak bicara. Suapan pertamanya bahkan belum benar-benar habis ketika ia mengambil suapan berikutnya."Masakan kamu enak." Ujarnya tiba-tiba.Tala berkedip. "Makasih... tumben amat muji langsung. Nggak pake sarkas."Geza mengusap sudut bibirnya dengan tisu. ”Gak boleh?”"Boleh.""Kalau gitu..." Geza menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bisa masakin saya tiap hari?"Tala menyuap makanannya dengan santai. "Nggak bisa.""Kenapa?""Nggak ada di kontrak."Geza mendengkus pelan. "Kontrak lagi.”Tala hanya terkekeh kecil.Setelah itu, obrolan mereka mengalir ringan. Dari menu makan siang, pekerjaan Tala di Janitra, sampai Sansa yang belakangan mulai hobi menggambar tembok rumah dengan krayon.Tanpa terasa, kotak-kotak makan di hadapan mereka pun kosong. Tala segera merapikan kotak makan beserta peralatan makannya. Ia berniat menitipkannya kepada Rena sebelum berangkat meeting.Hari ini ia tak boleh berlama-lama di
Entah dapat ilham dari mana, hari itu Tala memasak sendiri menu kesukaan Geza. Lalu, tanpa diminta, ia rela mengantarkannya ke Bhuwana. Kebetulan selepas makan siang ia memang ada agenda meeting di kawasan sekitar kantor Geza.Tapi... harusnya ia tidak se-effort ini, bukan?Pagi-pagi sekali Tala sudah mengabari Geza bahwa ia akan mampir membawa makan siang. Balasan pria itu datang singkat.Oke.Tak lama kemudian muncul pesan baru.Kesini jam berapa? Jangan terlalu siang.I need energy.Beberapa detik setelah terkirim, pesan terakhir itu dihapus kembali oleh Geza. Tala tak kuasa menahan tawa kecil.Setelahnya, Geza kembali menghilang. Mungkin sibuk dengan rapatnya. Menjelang tengah hari, barulah ponselnya kembali bergetar.Kalau udah berangkat kabarin saya.Tala baru saja menyalakan mesin mobil ketika pesan berikutnya masuk.Udah jalan?Disusul satu lagi.Hati-hati.Sekitar dua puluh menit kemudian...Sampai mana?Tala tak kuasa menahan tawa. Baru kali ini Geza terdengar setidak sabara
Geza menunjukkan layar ponselnya ke arah Tala. "Mau yang ini?"Tala hanya melirik sekilas sebelum menggeleng. "Bosen. Sansa keseringan makan itu.""Dia yang suka.""Suka bukan berarti tiap minggu harus ke situ kan Za?" Tala kembali fokus memperhatikan Sansa yang baru saja masuk ke dalam kolam."Fine. Kamu aja yang cari lah." Geza menyimpan ponselnya. Pandangannya kemudian jatuh pada baju renang Sansa yang dipenuhi ruffle kecil di bagian bahu."Ta.""Hm?""Bisa nggak sih lain kali baju renang Sansa jangan yang ribet-ribet begitu?"Tala menoleh sekilas. "Lucu, tahu.""Lucunya lima menit. Makenya dua puluh menit." Geza menunjuk pelampung di pinggir kolam. "Coachnya juga tadi nungguin kamu beresin pita itu."Les renang Sansa dijadwalkan setiap Rabu sore dan Sabtu pagi. Jika pekerjaan di Janitra sedang tidak terlalu padat, Tala akan mengantarnya sendiri di hari kerja. Sementara setiap akhir pekan, Geza hampir selalu ikut menemani.Tala terkekeh pelan."Terus kenapa sih hobi banget beliin d
"Pak... saya udah ajuin cuti buat awal bulan nanti. Di-ACC nggak, Pak?" tanya Rena hati-hati.Geza masih menunduk menelaah berkas yang baru saja disodorkan Rena. Setelah membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir, ia membuka laptop dan mengetik beberapa hal tanpa mengangkat kepala.Rena melirik Bastian sebentar, lalu kembali mencoba."Kalau nggak bisa empat hari... satu hari juga nggak apa-apa, Pak."Tetap tidak ada jawaban.Bastian yang sedang bersandar di sofa sambil menyeruput kopi akhirnya ikut menimpali, "Emang lo ngajuin berapa hari, Ren?""Empat."Bastian langsung mendengus. "Anjir, ngimpi. Sengaja ngepasin libur nasional, kan? Biar total seminggu."Rena nyengir tanpa rasa bersalah. "Nah."Baru setelah itu Geza menutup laptopnya, menyerahkan map yang sudah selesai ditinjau, lalu mengangkat pandangan ke arah Rena."Udah saya approve. Kamu bisa cuti," ujar Geza santai.Bastian nyaris menyemburkan kopi yang baru saja diteguknya.Rena pun terpaku beberapa detik. Matanya membulat
Jam dinding telah melewati pukul satu dini hari ketika riak itu akhirnya benar-benar reda, menyisakan keheningan yang begitu damai.Mereka masih terjaga.Berbalut selimut tebal yang menyelimuti tubuh keduanya, Geza menarik Tala semakin dekat ke dalam peluknya. Dagu pria itu bertumpu ringan di atas kepala Tala, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang perempuan itu, enggan memberi ruang sekecil apa pun.Tala membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Geza. Detak jantung pria itu berdetak pelan dan teratur di bawah telinganya, menghadirkan rasa yang tak pernah ia bayangkan bisa ditemukan pada pria itu. Tenang.Di hadapan mereka, jendela besar membingkai Jakarta yang masih terjaga. Cahaya gedung-gedung tinggi berpendar di kejauhan, berkilau seperti taburan bintang yang turun ke bumi. Tirai tipis bergoyang perlahan diterpa embusan pendingin ruangan, sementara apartemen itu tenggelam dalam sunyi yang untuk pertama kalinya tidak lagi terasa hampa."Kamu selalu sewan
Pertanyaan itu Tala jawab bukan dengan kata-kata. Ia hanya berjinjit sedikit, lalu mengecup bibir Geza dengan begitu pelan.Begitu lembut.Begitu hati-hati.Persis seperti kecupan yang pernah Geza bagi di depan pintu rumah saat mereka pulang naik busway dua bulan lalu.Astaga.Sudah dua bulan ternyata. Dua bulan tanpa saling menyentuh. Tanpa cumbu. Tanpa kecupan. Tak ada interaksi fisik sama sekali, yang perlahan tumbuh justru kebiasaan-kebiasaan kecil.Hampir setiap malam setelah Sansa tidur, Tala dan Geza akan duduk sejenak di kitchen island. Tala membereskan dapur, sementara Geza menemaninya dengan segelas kopi atau air putih sambil menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Mereka saling bertukar cerita tentang hari yang baru saja berlalu.Kalau Tala membawa pekerjaan Janitra ke rumah, Geza akan ikut bergabung begitu saja. Kadang mengoreksi, kadang menawarkan sudut pandang lain, meski sebenarnya semua itu sudah berkali-kali ia ajarkan sejak Tala pertama kali duduk di jajaran komisaris J
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







