LOGINThank you yang udah setia mantengin. Siap ketemu badai? Tebak-tebakan yok ngapain mereka telponan subuh-subuh?
Malam ini Geza kembali datang ke kamarnya dan Tala dengan sukarela memberikan tempat. Tekad mengakhiri hubungan tak jelas ini sudah menguap begitu saja.Sejak mereka menghabiskan malam di apartemen itu, Geza memang lebih sering tidur di kamarnya. Benar-benar hanya tidur. Kadang mereka hanya berbagi beberapa kecupan singkat sebelum akhirnya terlelap. Kadang, ketika batas yang mereka sepakati perlahan memudar, malam berakhir dengan mereka saling menemukan satu sama lain.Malam ini Tala tak tahu Geza menginginkan yang mana.Pria itu hanya mendekat hingga dada mereka nyaris berhimpitan. Kepalanya kembali menemukan tempat di ceruk leher Tala, sementara sebelah lengannya melingkari pinggang perempuan itu dengan santai. Jemarinya bergerak pelan, mengusap sisi pinggang Tala, turun sebentar ke panggul, lalu kembali lagi dengan pijatan ringan yang membuat Tala tanpa sadar mengembuskan napas panjang. Efek baru selesai menstruasi benar-benar membuat hormonnya berada di titik puncak; sensasi yang
Mengakhiri kesepakatan FWB ini ternyata tak semudah yang ia ucapkan pada Amika kemarin sore. Saat Geza menatapnya, mendekatinya, lalu menyentuhnya dengan lembut, Tala selalu kehilangan akal. Kesepakatan itu sebenarnya belum berubah. Yang berubah adalah dirinya.Seperti malam ini.Tala bahkan tidak ingat sejak kapan ia membalas ciuman Geza di depan wastafel. Padahal beberapa menit sebelumnya ia hanya berniat membereskan piring bekas makan malam, lalu membuat secangkir cokelat panas. Setelah itu ia masih harus meninjau rekomendasi akhir dari tim konsultan sebelum proyek revitalisasi memasuki tahap redesign.Tidak ada dalam rencananya menghabiskan beberapa menit terjebak di antara tubuh Geza dan meja dapur.Bibir Geza terangkat tipis ketika ia menjauh sesaat. "I like this taste," gumamnya pelan di sela napas mereka.Tala mengerjap, masih mencoba mengatur napas. "Cokelat oleh-oleh dari Hanum.""Boleh saya coba lebih banyak?"Tala bahkan belum sempat menjawab.Geza kembali mendekat, mengec
Begitu hidangan tersaji di atas meja, Geza langsung membuka kotak makan tanpa banyak bicara. Suapan pertamanya bahkan belum benar-benar habis ketika ia mengambil suapan berikutnya."Masakan kamu enak." Ujarnya tiba-tiba.Tala berkedip. "Makasih... tumben amat muji langsung. Nggak pake sarkas."Geza mengusap sudut bibirnya dengan tisu. ”Gak boleh?”"Boleh.""Kalau gitu..." Geza menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bisa masakin saya tiap hari?"Tala menyuap makanannya dengan santai. "Nggak bisa.""Kenapa?""Nggak ada di kontrak."Geza mendengkus pelan. "Kontrak lagi.”Tala hanya terkekeh kecil.Setelah itu, obrolan mereka mengalir ringan. Dari menu makan siang, pekerjaan Tala di Janitra, sampai Sansa yang belakangan mulai hobi menggambar tembok rumah dengan krayon.Tanpa terasa, kotak-kotak makan di hadapan mereka pun kosong. Tala segera merapikan kotak makan beserta peralatan makannya. Ia berniat menitipkannya kepada Rena sebelum berangkat meeting.Hari ini ia tak boleh berlama-lama di
Entah dapat ilham dari mana, hari itu Tala memasak sendiri menu kesukaan Geza. Lalu, tanpa diminta, ia rela mengantarkannya ke Bhuwana. Kebetulan selepas makan siang ia memang ada agenda meeting di kawasan sekitar kantor Geza.Tapi... harusnya ia tidak se-effort ini, bukan?Pagi-pagi sekali Tala sudah mengabari Geza bahwa ia akan mampir membawa makan siang. Balasan pria itu datang singkat.Oke.Tak lama kemudian muncul pesan baru.Kesini jam berapa? Jangan terlalu siang.I need energy.Beberapa detik setelah terkirim, pesan terakhir itu dihapus kembali oleh Geza. Tala tak kuasa menahan tawa kecil.Setelahnya, Geza kembali menghilang. Mungkin sibuk dengan rapatnya. Menjelang tengah hari, barulah ponselnya kembali bergetar.Kalau udah berangkat kabarin saya.Tala baru saja menyalakan mesin mobil ketika pesan berikutnya masuk.Udah jalan?Disusul satu lagi.Hati-hati.Sekitar dua puluh menit kemudian...Sampai mana?Tala tak kuasa menahan tawa. Baru kali ini Geza terdengar setidak sabara
Geza menunjukkan layar ponselnya ke arah Tala. "Mau yang ini?"Tala hanya melirik sekilas sebelum menggeleng. "Bosen. Sansa keseringan makan itu.""Dia yang suka.""Suka bukan berarti tiap minggu harus ke situ kan Za?" Tala kembali fokus memperhatikan Sansa yang baru saja masuk ke dalam kolam."Fine. Kamu aja yang cari lah." Geza menyimpan ponselnya. Pandangannya kemudian jatuh pada baju renang Sansa yang dipenuhi ruffle kecil di bagian bahu."Ta.""Hm?""Bisa nggak sih lain kali baju renang Sansa jangan yang ribet-ribet begitu?"Tala menoleh sekilas. "Lucu, tahu.""Lucunya lima menit. Makenya dua puluh menit." Geza menunjuk pelampung di pinggir kolam. "Coachnya juga tadi nungguin kamu beresin pita itu."Les renang Sansa dijadwalkan setiap Rabu sore dan Sabtu pagi. Jika pekerjaan di Janitra sedang tidak terlalu padat, Tala akan mengantarnya sendiri di hari kerja. Sementara setiap akhir pekan, Geza hampir selalu ikut menemani.Tala terkekeh pelan."Terus kenapa sih hobi banget beliin d
"Pak... saya udah ajuin cuti buat awal bulan nanti. Di-ACC nggak, Pak?" tanya Rena hati-hati.Geza masih menunduk menelaah berkas yang baru saja disodorkan Rena. Setelah membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir, ia membuka laptop dan mengetik beberapa hal tanpa mengangkat kepala.Rena melirik Bastian sebentar, lalu kembali mencoba."Kalau nggak bisa empat hari... satu hari juga nggak apa-apa, Pak."Tetap tidak ada jawaban.Bastian yang sedang bersandar di sofa sambil menyeruput kopi akhirnya ikut menimpali, "Emang lo ngajuin berapa hari, Ren?""Empat."Bastian langsung mendengus. "Anjir, ngimpi. Sengaja ngepasin libur nasional, kan? Biar total seminggu."Rena nyengir tanpa rasa bersalah. "Nah."Baru setelah itu Geza menutup laptopnya, menyerahkan map yang sudah selesai ditinjau, lalu mengangkat pandangan ke arah Rena."Udah saya approve. Kamu bisa cuti," ujar Geza santai.Bastian nyaris menyemburkan kopi yang baru saja diteguknya.Rena pun terpaku beberapa detik. Matanya membulat
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me







