Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 110- Rencana Dinner

Share

110- Rencana Dinner

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-07-25 19:58:09

Dua hari setelah perdebatan malam itu, pembicaraan mereka benar-benar berhenti di sana. Geza menepati ucapannya. Ia tak lagi mengungkit keputusan Tala, tak lagi memaksa penjelasan, seolah memilih memberi jarak yang diminta perempuan itu. Sikapnya kembali formal seperti sediakala—tenang, sopan, dan menjaga batas. Seakan pertengkaran di dalam mobil malam itu tak pernah benar-benar terjadi, meski keduanya sama-sama tahu belum ada satu pun yang selesai.

Pagi ini mereka kembali duduk di meja makan.

Sora Carita

Om Eja ngajak dinner guys. Tebaaak om Eja mau ngobrolin apa?

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
jumenah rahma
no ambigu, no drama ya za. capek juga ya jadi tala terus²an nebak²
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
harus lanjut nich thorr.....dinnernya ungkapin rasa sayang ke tala dong hehe
goodnovel comment avatar
evi erfika
Lanjut dong thor, semoga ajaaa dinnernya buat mrk jadian, capek banget liat mrk jauh2an hahahaaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   110- Rencana Dinner

    Dua hari setelah perdebatan malam itu, pembicaraan mereka benar-benar berhenti di sana. Geza menepati ucapannya. Ia tak lagi mengungkit keputusan Tala, tak lagi memaksa penjelasan, seolah memilih memberi jarak yang diminta perempuan itu. Sikapnya kembali formal seperti sediakala—tenang, sopan, dan menjaga batas. Seakan pertengkaran di dalam mobil malam itu tak pernah benar-benar terjadi, meski keduanya sama-sama tahu belum ada satu pun yang selesai.Pagi ini mereka kembali duduk di meja makan.Tala sedang menuang susu ke gelas Sansa ketika suara bocah itu memecah keheningan."Om Eja..." panggilnya sambil mengunyah pelan. "Yaya bentar lagi ulang tahun."Tangan Tala terhenti sesaat.Benar juga.Tak terasa tinggal satu setengah bulan lagi Sansa genap berusia empat tahun. Itu berarti... kontrak pernikahannya dengan Geza pun tinggal menyisakan satu tahun."Oh ya?" Geza tersenyum. "Yaya maunya ulang tahun kayak gimana?"Mata Sansa langsung berbinar."Mau tiup lilin!""Terus?""Pakai baju pr

  • Sebelum Tiga Tahun   109- Penjelasan Ambigu

    Sepanjang perjalanan pulang, hanya suara hujan yang sesekali menghantam kaca depan menemani mereka. Tak ada percakapan. Tak ada musik. Hanya keheningan yang terasa semakin berat setiap menitnya.Tala masih mengenakan windbreaker hitam itu. Geza sudah beberapa kali minta maaf atas sikapnya di Janitra tadi, tetapi perempuan di sampingnya hanya merespon seperlunya.Geza akhirnya menyerah pada sunyi. "Ta..."Tala tidak menoleh."Mau makan apa?""Apa aja." Jawabannya datar. Pandangannya tak pernah lepas dari deretan lampu jalan di balik jendela.Geza melirik sekilas. "Mau mampir ke tendaan Jepang di Jalan Kusuma?""Boleh."Jawaban singkat lagi.Dari sudut matanya, Tala sempat melihat Geza mengembuskan napas pelan sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya pria itu kembali membuka suara."Tala..."Tak ada respons."Belakangan kamu lagi menghindari saya?"Tala tetap memandang keluar. Jalanan malam yang padat dan gerimis tipis yang masih turun teras

  • Sebelum Tiga Tahun   108- Perihal Jaket

    Hujan yang mengguyur deras sejak mereka meninggalkan site membuat perjalanan kembali ke Janitra molor hampir dua jam. Genangan di beberapa ruas jalan, ditambah padatnya arus kendaraan saat jam pulang kantor, membuat mobil nyaris lebih banyak berhenti daripada bergerak.Tala bahkan tak sadar kapan ia tertidur."Ta..." Suara Adrian membangunkannya pelan."Udah sampe."Tala mengerjap beberapa kali sebelum menyadari mobil sudah terparkir di lobi Janitra.”Oh iya, sorry kak ketiduran.” kata Tala.Adrian melirik hujan yang masih turun. "Mau aku anter sekalian ke rumah? Kamu keliatan capek."Tala buru-buru menggeleng. "Nggak usah. Nanti ada yang jemput kok."Adrian mengangguk kecil. "Oke deh." Setelahnya ia turun membantu menurunkan beberapa dokumen proyek.Tala tak berniat meminta Geza menjemputnya. Perhatian pria itu sudah terlalu sering membuatnya lupa diri. Sementara setiap kali nama Kinan kembali muncul, Tala dipaksa mengingat bahwa ia tak seharusnya berharap lebih.Jadi, lebih baik ia

  • Sebelum Tiga Tahun   107- Hasil Keputusan

    Sejak tahu Kinan pernah menelepon Geza menjelang subuh, Tala tak lagi bisa benar-benar tenang.Berkali-kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah urusan pekerjaan. Toh, Kinan dan Geza memang berada di industri yang sama. Sangat mungkin mereka hanya membahas proyek atau bisnis.Namun semakin ia berusaha menepis pikiran itu, semakin sulit pula ia mengabaikannya. Lucunya, ia bahkan tidak punya keberanian untuk bertanya langsung.Pertama, ia merasa tak punya hak.Kedua, itu jelas ranah pribadi Geza.Dan ketiga—yang paling menyebalkan—setiap kali nama Kinan muncul, jawaban Geza selalu menggantung. Tidak pernah berbohong, tapi juga tidak pernah cukup jelas untuk membuat Tala berhenti bertanya-tanya.Akhirnya Tala memilih diam. Diam yang berubah menjadi rasa penasaran. Tanpa sadar ia mulai mencuri dengar setiap Geza menerima panggilan. Hampir semuanya memang soal pekerjaan, sampai suatu hari ia menangkap satu potong kalimat yang terdengar terlalu personal."Kalau kamu udah balik, kab

  • Sebelum Tiga Tahun   106- Panggilan Pagi Buta

    Malam ini Geza kembali datang ke kamarnya dan Tala dengan sukarela memberikan tempat. Tekad mengakhiri hubungan tak jelas ini sudah menguap begitu saja.Sejak mereka menghabiskan malam di apartemen itu, Geza memang lebih sering tidur di kamarnya. Benar-benar hanya tidur. Kadang mereka hanya berbagi beberapa kecupan singkat sebelum akhirnya terlelap. Kadang, ketika batas yang mereka sepakati perlahan memudar, malam berakhir dengan mereka saling menemukan satu sama lain.Malam ini Tala tak tahu Geza menginginkan yang mana.Pria itu hanya mendekat hingga dada mereka nyaris berhimpitan. Kepalanya kembali menemukan tempat di ceruk leher Tala, sementara sebelah lengannya melingkari pinggang perempuan itu dengan santai. Jemarinya bergerak pelan, mengusap sisi pinggang Tala, turun sebentar ke panggul, lalu kembali lagi dengan pijatan ringan yang membuat Tala tanpa sadar mengembuskan napas panjang. Efek baru selesai menstruasi benar-benar membuat hormonnya berada di titik puncak; sensasi yang m

  • Sebelum Tiga Tahun   105- Gadai Logika

    Mengakhiri kesepakatan FWB ini ternyata tak semudah yang ia ucapkan pada Amika kemarin sore. Saat Geza menatapnya, mendekatinya, lalu menyentuhnya dengan lembut, Tala selalu kehilangan akal. Kesepakatan itu sebenarnya belum berubah. Yang berubah adalah dirinya.Seperti malam ini.Tala bahkan tidak ingat sejak kapan ia membalas ciuman Geza di depan wastafel. Padahal beberapa menit sebelumnya ia hanya berniat membereskan piring bekas makan malam, lalu membuat secangkir cokelat panas. Setelah itu ia masih harus meninjau rekomendasi akhir dari tim konsultan sebelum proyek revitalisasi memasuki tahap redesign.Tidak ada dalam rencananya menghabiskan beberapa menit terjebak di antara tubuh Geza dan meja dapur.Bibir Geza terangkat tipis ketika ia menjauh sesaat. "I like this taste," gumamnya pelan di sela napas mereka.Tala mengerjap, masih mencoba mengatur napas. "Cokelat oleh-oleh dari Hanum.""Boleh saya coba lebih banyak?"Tala bahkan belum sempat menjawab.Geza kembali mendekat, mengec

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status