Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 115- Rencana Konsorsium

Share

115- Rencana Konsorsium

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-07-28 09:48:50
Tala baru kembali menjelang tengah malam.

Setelah membersihkan diri dan memastikan Sansa sudah tertidur pulas, ia turun ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat tiba di rumah tadi, ia tidak melihat mobil Geza di garasi, begitu pula sosok pria itu di dalam rumah. Entah sedang ke mana, tetapi ketidakhadirannya justru membuat dada Tala sedikit lebih ringan. Malam ini ia benar-benar tidak sanggup menghadapi Geza lagi.

Sejak keluar dari rumah sore tadi, Tala hanya ingin menjauh dari semuanya—dari p
Sora Carita

Tempat sembunyi yang cuma diketahui Amika katanya. Padahal ada yang ngintipin di balik pintu wkwkwk Masih mau nungguin kapal ini berlayar? Menurut kalian om Eja red flag gak sih?

| 4
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Hayoloh Tala siap2 Naluri biologismu bekerja wkkkkwkk GeZa paling bs bkin Tala gk berkutik
goodnovel comment avatar
naraaa
plis cepet berlayar capek berantem mulu......
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
lanjut thorr....ayo berlayar biar jelas hubungan tala dan geza
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   116- Boleh Pulang?

    Tala segera kembali ke ruangannya.Begitu membuka pintu, aroma makanan langsung menyambutnya. Di atas meja dekat sofa sudah tersusun beberapa makanan jepang lengkap dengan minuman.Kening Tala langsung berkerut. Ia bahkan belum sempat memesan makan siang."Itu siapa yang pesan, San?"Sania menyeringai lebar. "Suami mbak Tala dong. Lengkap. Semua makanan favorit mbak.”Belum sempat ia berkata apa-apa, sosok pria itu muncul di ambang pintu."Kopi saya ada, San?"Pertanyaannya ditujukan pada Sania.Namun matanya sama sekali tidak lepas dari Tala."Aman, Pak. Sesuai pesanan.”"Oke, thanks."Tanpa merasa canggung, Geza melangkah masuk lalu duduk di sofa kecil di depan meja kerja Tala, seolah ruangan itu juga miliknya.Sania memandang keduanya bergantian sebelum menyeringai."Ini vibesnya kayak lagi ada di zona perang gitu gak sih pak?”Geza menoleh.”Perlu saya kunciin gak pak? Janji deh kali ini gak asal nyelonong masuk. Nggak bakal ada drama live streaming lagi." Sania menyeringai lebar.

  • Sebelum Tiga Tahun   115- Rencana Konsorsium

    Tala baru kembali menjelang tengah malam.Setelah membersihkan diri dan memastikan Sansa sudah tertidur pulas, ia turun ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat tiba di rumah tadi, ia tidak melihat mobil Geza di garasi, begitu pula sosok pria itu di dalam rumah. Entah sedang ke mana, tetapi ketidakhadirannya justru membuat dada Tala sedikit lebih ringan. Malam ini ia benar-benar tidak sanggup menghadapi Geza lagi.Sejak keluar dari rumah sore tadi, Tala hanya ingin menjauh dari semuanya—dari pertengkaran itu, dari Geza, juga dari isi kepalanya sendiri yang tak berhenti berputar. Karena itulah ia pergi ke satu-satunya tempat yang selalu berhasil membuat kepalanya sedikit lebih tenang. Tempat sembunyinya, yang hanya diketahui Amika.Namun, begitu memasuki area dapur, Tala justru dibuat terkejut saat melihat Geza keluar dari ruang kerja dengan segelas wine di tangan. Refleks ia mempercepat langkah, mengambil gelas, menuangkan air, lalu berniat segera kembali ke kamar tanpa menoleh sedik

  • Sebelum Tiga Tahun   114- Tempat Sembunyi

    Geza masih terduduk di ruang kerjanya.Sejak Tala pergi, ia bahkan tak ingat sudah berapa lama hanya menatap kosong ke arah pintu yang tadi dibanting keras. Ketukan pelan akhirnya memecah keheningan."Om...boleh gue masuk?"Geza mengedip pelan, seolah baru sadar dari lamunannya, "Iya."Hanum mengintip dari balik pintu sebelum akhirnya masuk dan duduk di seberang Geza."Sansa mana?" tanya Geza."Lagi mandi sama Sus Lia."Geza mengangguk singkat.Hanum menggigit bibir bawahnya sesaat sebelum kembali membuka suara. "Om...""Tante Tala nggak ada di kamar. Tadi Sansa nyariin.""Iya, dia pergi."Ruangan kembali hening.Hanum mengamati wajah Geza beberapa saat. Ia sebenarnya sudah menduga akan ada pertengkaran sejak perjalanan pulang dari acara tadi. Tala terlalu diam, terlalu banyak menahan sesuatu. Hanya saja, Hanum tak menyangka semuanya akan meledak secepat ini."Kalian berantem?"Geza hanya mengangguk singkat.Hanum mengembuskan napas pelan. "Jujur aja ya, Om..."Ia berhenti sejenak, se

  • Sebelum Tiga Tahun   113- Merapikan Kekacauan

    "Tante, aku keluar bentar, ya. Mau beli kopi sekalian ajak Sansa beli es krim. Pinjem mobil."Hanum mengucapkannya sambil bangkit, seolah memberi mereka ruang tanpa perlu menjelaskan apa pun.Tala hanya mengangguk pelan.Geza sempat menatap Hanum sekilas, lalu berbalik menuju ruang kerjanya. Tala mengikuti beberapa langkah di belakang.Klik.Pintu kayu itu menutup pelan.Riuh tawa Sansa, suara televisi, dan percakapan di ruang keluarga seketika teredam, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih menyesakkan.Geza memutar badan menghadap Tala. "Sekarang bilang."Tatapannya masih dipenuhi kebingungan."Ada apa?" ia mengembuskan napas pelan. "Kenapa tiba-tiba nggak jadi pergi?"Nada suaranya masih sama seperti beberapa menit lalu. Seolah yang paling penting saat itu hanyalah makan malam yang sudah ia siapkan.Sementara bagi Tala...Makan malam itu bahkan sudah tidak lagi ada di kepalanya. Yang tersisa hanya satu pertanyaan yang sejak tadi menggerogoti dadanya.Tala menatap Geza lama. "

  • Sebelum Tiga Tahun   112- Dalang Pemecatan

    Tala pikir ia sudah selesai dengan masa lalu itu. Ternyata tidak.Pemecatan dari firma dulu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu adalah masa ketika Tala benar-benar kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Berbulan-bulan ia meyakini bahwa dirinya memang tidak cukup baik dan layak.Namun satu yang paling ia sesali—keberaniannya waktu itu.Ia terus menyalahkan diri karena pernah mempertahankan desainnya, karena berani menyanggah keputusan seniornya, dan karena memilih mengungkap kejanggalan di proyek Bhuwana. Berkali-kali ia berpikir, seandainya dulu ia tidak seidealis itu. Tidak seimpulsif itu saat membela apa yang menurutnya benar. Mungkin ia tidak akan kehilangan pekerjaannya.Dan sekarang, setelah sekian lama...Ia baru tahu ada nama lain di balik keputusan itu.Geza.Tala masih diam menatap keluar jendela. Hanum yang duduk di sebelahnya akhirnya membuka suara."Tan..."Tala menoleh pelan."Tante gak apa-apa?"Pertanyaan sederhana itu justru membuat Tala terdiam.Hanum bukan

  • Sebelum Tiga Tahun   111- Pertemuan Rekan Lama

    Tenant kopi di area festival semakin ramai menjelang jeda makan siang. Peserta yang baru keluar dari berbagai sesi diskusi memenuhi antrean kasir, sementara obrolan tentang desain, material, dan proyek terdengar bersahutan dari hampir setiap meja."Tala?"Tala refleks menoleh.Seorang perempuan berusia awal empat puluhan berdiri tak jauh dari meja mereka sambil tersenyum hangat."Mbak Mega?""Lama nggak ketemu. Boleh gabung? Mejanya pada penuh semua nih.""Oh, tentu, Mbak." jawab Tala.Mega pun menarik kursi kosong di sisi meja mereka."Udah pindah firma mbak?" tanya Tala ketika melihat nama firma di lanyard Mega berbeda dari tempat mereka dulu.Mega mengangguk sambil tersenyum. "Hampir setahun."Tala pun memperkenalkan teman-temannya."Ini Amika, teman kuliah aku."Amika mengangguk sopan."Dan ini Hanum." Tala mengusap pelan bahu gadis di sampingnya. "Keponakan aku.""Senang kenal kalian." Mega tersenyum ramah.Tak lama kemudian, barista mengantarkan pesanan mereka. Di tengah aroma ko

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status