Mag-log incieee baikan cieee. Lanjutin gak nih?
Satu per satu peserta barbeque mulai membubarkan diri ketika jam mendekati pukul sepuluh malam. Yang tersisa hanya Hanum. Perempuan itu memilih menginap dan kini sudah terlelap di kamar tamu.Untuk kali ini, Tala tak perlu lagi berpura-pura sekamar dengan Geza demi menjaga sandiwara di depan Hanum. Keponakannya itu sudah tahu mereka sempat bertengkar, bahkan ikut menjadi saksi proses "gencatan senjata" sore tadi.Namun menjelang tengah malam, Tala justru belum juga bisa memejamkan mata. Efek tidur terlalu lama di sofa rupanya masih terasa. Tepat pukul dua belas, ia turun ke dapur dengan langkah pelan.Daripada terus berguling di atas kasur, lebih baik ia menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk rapat hari Senin. Dengan begitu, besok ia bisa benar-benar fokus menghabiskan waktu bersama Sansa. Besok siang ia harus mengantar keponakannya itu ke kelas renang. Jadwal latihan minggu ini terpaksa diundur karena mereka menghadiri market day di sekolah.Tala meraih hand grinder dan biji kopi dar
Tala tak ingat berapa lama mereka menonton kartun itu.Yang ia ingat terakhir kali, ia hanya membiarkan bocah dan omnya itu merebah di pangkuannya. Punggungnya bersandar ke sofa, kelopak matanya terasa semakin berat, lalu semuanya gelap sampai suara ramai perlahan mengusik tidurnya.Tala mengernyit pelan sebelum membuka mata. Pandangannya masih buram. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan fokus.Begitu penglihatannya mulai jelas...Ada banyak wajah sedang menatapnya.Meja ruang keluarga sudah bergeser ke samping. Di lantai terbentang karpet dengan camilan berserakan. Entah sejak kapan Bastian, Amika, Hanum, Sania, dan Rena sudah duduk lesehan sambil ikut menonton televisi.Dan...Sedang menonton mereka juga."Sore, Tante." Hanum melambaikan tangan sambil menahan tawa."Nyenyak bobonya?"Tala langsung terduduk tegak.Pinggangnya pegal luar biasa. Baru saat itulah ia sadar...Geza masih tidur.Bahkan kini pria itu sudah berbalik menghadap ke perutnya. Kepalanya bersandar di pah
Terhitung sudah dua malam ini Geza kembali menginap di rumah. Tempo hari pria itu hanya menemui Sansa lalu kembali ke apartemennya.Hari sabtu ini mereka punya agenda menghadiri Family Market Day di sekolah Sansa. Kehadiran orang tua atau wali sebenarnya tidak wajib berdua—salah satu pun diperbolehkan.Awalnya Tala berniat membiarkan Geza datang sendiri karena pria itu memang sudah antusias ingin datang. Namun Sansa menolak mentah-mentah."Sansa mau Om Eja sama Tata datang berdua."Alhasil, mereka berangkat bersama.Begitu memasuki area sekolah, suasana sudah dipenuhi tawa anak-anak dan obrolan para orang tua. Halaman sekolah yang biasanya digunakan untuk bermain kini berubah menjadi area penuh pernak pernik—spanduk Family Market Day terbentang di sana. Kanopi putih berjajar rapi, dihias rangkaian balon pastel, bunting berwarna-warni, dan papan nama kecil bertuliskan nama setiap kelas.Di depan setiap stan, beberapa anak sudah mengenakan celemek mungil dengan name tag masing-masing. D
Sepulang dari Janitra, Tala langsung meluncur ke apartemen Amika.Satu mug cokelat hangat membersamai sesi curhat mereka, setidaknya malam itu ia berhasil menukar kebiasaan menenggak kopi dengan sesuatu yang lebih ramah untuk lambungnya."Tala, lo gila?"Amika sampai menepuk meja kopi begitu mendengar seluruh cerita Tala. Mulai dari hubungannya dengan Geza yang semakin renggang, sampai bagaimana ia tanpa sadar membocorkan soal pernikahan kontraknya kepada Adrian.Tala menatap Amika datar."Iya. Gue udah gila sejak nerima tawaran FWB sialan itu, tahu nggak?"Amika memutar bola mata gemas."Please deh, Ta. Gue serius."“Gue apalagi.”Amika mendecak ”Maksud gue kenapa lo bisa sekeceplosan itu?””Ya mulut gue lebih cepet dari otak gue dan gue...ya gitu cerita yang sejujurnya.""Kok bisa? Nggak dialihin topiknya?"Tala menggeleng pelan."Refleks, Mik. Dia tuh... masih enak banget diajak ngobrol. Bahkan soal pemecatan itu, dia beneran kasih sudut pandang dari semua sisi."Amika mendecak. "I
Tala memiringkan kepala. "Ngejar Kak Sara? Karena Kak Sara karier di sini?"Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tala. Baginya, nama Ansara selalu menjadi jawaban paling masuk akal setiap kali Adrian terlihat begitu bersungguh-sungguh terhadap sesuatu.Adrian menggeleng pelan. "Bukan."Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat."Sejak malam perpisahan sama anak-anak dulu, hubungan kami emang mulai renggang. Mungkin karena jarak, mungkin juga karena sama-sama sibuk... ya akhirnya selesai gitu aja."Tala masih mengingat malam itu.Saat Adrian memutuskan menerima tawaran kerja di Singapura, Sara menjadi orang yang paling keras menentangnya. Pertengkaran kecil mereka bahkan sempat terjadi di tengah acara makan malam perpisahan. Circle kuliah Adrian masih lengkap malam itu, dan Tala—yang cukup akrab dengan lingkaran itu—juga ikut bergabung.Malam itu pula Tala memilih mengubur perasaannya sendiri. Ia berhenti mengejar Adrian. Berhenti mengagumi pria yang sejak awal kuliah diam-diam memenu
Tala segera kembali ke ruangannya.Begitu membuka pintu, aroma makanan langsung menyambutnya. Di atas meja dekat sofa sudah tersusun beberapa makanan jepang lengkap dengan minuman.Kening Tala langsung berkerut. Ia bahkan belum sempat memesan makan siang."Itu siapa yang pesan, San?"Sania menyeringai lebar. "Suami mbak Tala dong. Lengkap. Semua makanan favorit mbak.”Belum sempat ia berkata apa-apa, sosok pria itu muncul di ambang pintu."Kopi saya ada, San?"Pertanyaannya ditujukan pada Sania.Namun matanya sama sekali tidak lepas dari Tala."Aman, Pak. Sesuai pesanan.”"Oke, thanks."Tanpa merasa canggung, Geza melangkah masuk lalu duduk di sofa kecil di depan meja kerja Tala, seolah ruangan itu juga miliknya.Sania memandang keduanya bergantian sebelum menyeringai."Ini vibesnya kayak lagi ada di zona perang gitu gak sih pak?”Geza menoleh.”Perlu saya kunciin gak pak? Janji deh kali ini gak asal nyelonong masuk. Nggak bakal ada drama live streaming lagi." Sania menyeringai lebar.
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh







